Terbangun tengah malam karena mengalami mimpi buruk, Gil kemudian terduduk dan memandangi jendela kamar berayun terbuka ditengah hujan deras dengan keadaan lampu mati.
Ia kemudian beranjak dari tempat tidur dan mengambil sebatang rokok menghisapnya dan berjalan menuju jendela menekan kan kedua siku nya ke jendela sebelum kemudian membuang asap rokok di mulutnya. Dia memikirkan sesuatu, seperti bagaimana manusia bisa hidup tenang sesuka mereka sementara mereka mengetahui bahwa kematian bisa datang kapan saja...
Gil tersadar dari lamunannya ketika melihat potret seorang gadis disamping tempat tidurnya menyita perhatian. Dia memandangi gadis di potret itu lalu tak lama menutup jendela dan kembali tidur.
.....
Sore hari ditempat parkir mobil, Gil menggandeng tangan seorang gadis yang ada di foto yaitu Sofieta, kekasihnya. Mereka hendak pergi ke restaurant untuk makan setelah seharian menghabiskan waktu di kampus.
Setelah sampai di restaurant yang hendak mereka kunjungi dan menyelesaikan makan, Sofieta bermaksud merapikan riasannya di kamar mandi. Saat sedang asik berkaca, Sofieta mendengar suara keributan di seberang dinding kamar mandi yang mana merupakan kamar mandi pria. Karena suara keributan semakin terdengar jelas, Sofieta kemudian menuju pintu kamar mandi pria untuk mengecek keadaan dan mendapati sesuatu mengalir diantara sepatunya. Perlahan dia menurunkan pandangannya dan melihat sesuatu seperti genangan darah membasahi sepatunya. Karena ketakutan, Sofieta kembali ketempat makan dan melihat Gil sudah tak ada di kursinya.
Sofi mulai panik dan menelfon Gil berkali kali namun tidak tersambung. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang lebih dulu dengan taksi.
Sofi yang terus dibayang bayangi rasa takut mulai merasa tak nyaman dirumahnya sendirian dan memutuskan untuk datang ke tempat Gil tinggal.
Setelah sampai didepan pintu kediaman Gil, Sofi tanpa ragu langsung menekan tombol bel berkali kali sambil memanggil manggil kekasihnya itu.
Tak lama kemudian seseorang membukakan pintu dengan penampilan lusuh dan tatapan yang menusuk, itu Gil. Dia menyuruh Sofi masuk lalu menutup pintu dan langsung memeluk Sofi dari belakang tanpa berkata sepatah kata pun. Sofi yang sudah sedikit merasa lega kemudian tersenyum malu.
Sofi bertanya mengenai kemana pergi nya Gil tadi sore, namun Gil malah berpura pura tidak mendengar dan malah menawarkan teh hangat. Sofi kemudian mengurungkan niatnya untuk bertanya dan menunggu Gil kembali dari dapur dengan sabar untuk menceritakan apa yang ia lihat.
Selang beberapa menit berlalu, Gil tak kunjung kembali. Sofi lalu mengeceknya ke dapur dan dia tak melihat ada siapapun disana. Hanya setelah itu ia mendengar suara erangan kesakitan dari suatu tempat. Sofi mulai merasa panik lagi dan berseru memanggil manggil Gil.
Tak ada jawaban, hanya suara erangannya makin terdengar jelas dan suara pintu lemari terbuka. Sofi memberanikan diri melihat kedalam lemari itu dan melihat seorang pria seumurannya diikat dengan tali tambang dan mulutnya disumpal kain. Sofi lalu menolongnya, mengeluarkannya dari sana dan lampu dapur yang sedikit remang menyorot kearah luka luka sayatan yang ada pada pria itu. Sebelah matanya sepertinya hilang. Sofi terkaget namun tanpa pikir panjang langsung melepaskan tali tambang dan kainnya hendak menanyakan apa yang terjadi.
Pria malang itu dengan nafas terengah berusaha memberitahu Sofi untuk berbalik ke belakang. Saat hendak berbalik penglihatannya mulai kabur dan kesadarannya hilang.
.....
Suara burung berkicau membangunkannya. Terbangun tanpa mengetahui apapun, hanya beberapa orang berseragam polisi tengah berbincang disampingnya. Sofi menanyakan apa yang terjadi namun ketika menengok ke sebelah kirinya, dia melihat sesuatu ditutupi kertas koran membuat dia histeris. Polisi menenangkannya dan mengatakan apa yang terjadi semalam.
(semalam)
Setelah membuat Sofi pingsang dengan memukul belakang kepalanya, Gil kemudian menyerang pria itu dengan tongkat yang sama namun berhasil ditangkis dan terjadilah perkelahian yang melibatkan beberapa benda tajam dan berujung kematian pada salah satu pihak yaitu si Pria malang yang terikat dalam lemari.
Karena kesaksian tetangga sebelah rumah yang mengaku mendengar suara keributan hebat disamping rumahnya kemudian melapor polisi membuat Gil harus berurusan dengan polisi. Setelah bersikeras mengaku tidak bersalah, polisi menggeledah rumahnya dan menemukan seorang pria sudah tak bernyawa dan seorang gadis tergeletak di dapur. Polisi membongkar seluruh isi rumahnya dan menemukan beberapa mayat pria dengan bekas luka di leher, tangan dan kakinya.
Gil kemudian mengaku bahwa dia melakukan semua itu untuk melindungi kekasihnya, Sofieta dari bahaya.
Mayat para pria itu ternyata mayat mantan² kekasih Sofieta dan beberapa orang yang berusaha merayu Sofieta termasuk pria yang dia bunuh semalam yang katanya terus menerus memandangi Sofieta ketika sedang makan di restaurant.
Mendengar kenyataan itu, Sofi terdiam tanpa kata dan mengunjungi Gil di kantor polisi.
"Sofi..." lirih Gil ketika melihat Sofi mengunjunginya.
"Aku berhasil melindungimu. Aku melakukan semuanya untukmu. Sekarang kau aman, kau akan aman selama ada aku" Katanya sambil tersenyum bangga.
"Berisik!!!
Jangan bicara lagi padaku, dasar *****..." Sofi membalas perkataan Gil dengan ekspresi dingin membuat Gil sangat kaget dan langsung terdiam.
"Kau membuat aku jijik! kita putus... Aku tidak mencintaimu lagi" tegas Sofi lagi² dengan nada acuh tak acuh.
Gil masih terdiam tanpa kata hanya memandangi punggung Sofi yang kemudian hilang dibalik pintu.
.....
"Ayah, aku pulang!!!" Sofieta yang pulang dari kantor polisi meletakan tas nya sembarangan dan beranjak naik keatas tangga lantai 2 rumahnya.
"Ayah, maafkan aku, sepertinya aku memilih pria yang salah....
Aku selesai dengannya jadi ayah tidak perlu khawatir lagi" katanya dengan nada manja sambil menggenggam tangan ayahnya dibelakang lemari pakaian dengan leher tergantung, mata terbuka lebar dan lidahnya menjulur.
Fin
Catatan: Mohon maaf bila ada salah kata, persamaan nama tokoh atau kesalahan lainnya dalam penulisan, sebab An masih perlu banyak belajar, Te-hee☺️❤️