Bagas kesal, beberapa hari ini dia melihat teras depan rumahnya kotor. Bukan oleh kotoran yang masuk atau sengaja dilempar orang tetapi karena tanah yang berasal dari taman dan pot bunga di sebelah teras berhamburan keluar.
Selidik punya selidik ternyata tanah tersebut berhamburan oleh karena adanya ulah 2 ekor oknum. Ekor??? Ya, karena penyebabnya adalah 2 ekor ayam kate yang dimiliki oleh tetangga sebelah rumah Bagas.
Sambil menyapu sisa-sisa tanah di teras dan lanjut dengan mengepelnya, Bagas berpikir-pikir bagaimana cara memberi tahu tetangganya itu tentang kelakuan 2 ekor ayam kepunyaan mereka. Maklumlah, tetangganya itu adalah seorang tentara.
Bagas pernah mendengar bagaimana si tentara mendisiplinkan anak-anaknya. Anak-anaknya berbaris dan diinterogasi satu per satu saat menemukan adanya lecet di salah satu bagian luar Kijang kebanggaan si tentara. Hii.... ngeri, Bagas cuma bisa membayangkan apa kira-kira reaksi si tentara saat Bagas memberitahukan ulah ayam-ayam yang dimiliki oleh si tentara itu.
Akhirnya Bagas mendapat ide. Diambilnya secari kertas yang cukup tebal. Bagas tampak menuliskan sesuatu pada kertas tebal itu. Setelah selesai menulis, dipasangnya tali rafia pada bagian atas kertas tebal itu dan menggantungnya di bagian depan pagar.
Besoknya saat membersihkan bagian jalan di depan rumahnya dari dedaunan yang berjatuhan, Bagas ditegur oleh tetangganya si tentara tadi.
"Mas, maksudnya tulisan itu apa ya? kan ayam nggak bisa baca Mas?" tanya si tentara.
"Iya Mas, memang maksudnya bukan untuk ayamnya, tapi untuk pemiliknya." Jawab Bagas sedikit takut si tentara marah. Si tentara ekspresi mukanya langsung berubah dan pergi tanpa sepatah katapun. Bagas pun menyelesaikan pekerjaannya membersihkan dedaunan yang masuk ke dalam rumahnya, dan bergegas untuk mandi dan bersiap siap ke kantor. Tulisan Bagas padahal bunyinya sederhana, ia hanya menulis beberapa kata "Ayam-Ayam Dilarang Masuk!"
Sore harinya ternyata Bagas menemukan hal yang sama. Tanah di terasnya kembali berantakan. Kali ini Bagas melihat sendiri ulah 2 ekor ayam itu dengan tenangnya mengais-ngais tanah dan membuat tanah itu berantakan menutupi teras berlapis keramik mengkilat yang langsung seketika itu kelihatan kotor. Karena kesal, dengan sigap Bagas mengambil sapu yang biasa dipakai untuk menyapu teras. Dikejarnya kedua ayam itu. Dipukulkannya sapu itu kuat-kuat. Takkk! Suara sapu keras menghantam lantai. Tak satu ayampun yang kena. Ayam-ayam itu dengan lincahnya kabur melalui celah-celah pagar.
Bagas kembali berpikir bagaimana cara menyadarkan si pemilik ayam agar ayam-ayamnya tidak masuk ke teras rumah Bagas dan membuat kotor teras dengan mengais-ngais tanah. Bagas kemudian tampak mengangguk-angguk sendiri. Rupanya sudah ada rencana yang akan dikerjakannya besok. Dibiarkannya saja tanah itu mengotori teras rumahnya.
Keesokan paginya saat yang ditunggu Bagas pun tiba. Biasanya pada pagi hari sudah terdengar aktifitas di rumah sebelah. Suara pagar terdengar diseret. Sebentar lagi pasti si tentara keluar rumah, pikirnya.
Ternyata setelah pagar dibuka bukan si tentara yang keluar melainkan 2 ekor ayam kate itu lagi. Bagas sengaja masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan. Ayam-ayam kate pun berada di teras depan rumah Bagas dan mulai mengais-ngais tanah. Dengan sabar Bagas tetap menunggu. Ternyata benar, seorang ibu agak tua tampak keluar. Segera Bagas menghampiri si ibu.
"Pagi Bu, ayam-ayam ini punya Ibuu ya? kalau bisa dikurung Bu. Teras saya jadi berantakan gara-gara ayamnya Ibu."Bagas menyampaikan maksudnya, si ibu kelihatan tampak merasa bersalah dan ikut masuk melihat teras rumah Bagas yang kotor.
"Wah, maaf ya Mas, nanti saya bilang sama mantu saya ya."Ibu itu meminta maaf kepada Bagas.
"Iya Bu, terimakasih ya Bu atas pengertiannya."Bagas pun lega mendengar perkataan ibu itu.
Setelah membersihkan teras yang kotor, Bagas langsung bersiap-siap untuk ke kantor. Dalam hati dia berharap kalau nanti sore, tidak akan lagi ditemuinya pemandangan teras kotor seperti yang sudah-sudah.
Ternyata Bagas salah! Sore itu ketika Bagas sudah pulang terlambat karena jalanan yang macet. Pemandangan teras kotor dengan tanah bercampur cipratan tai ayam masih juga ditemuinya. Bagas menggerutu, dia tak tahan lagi. Dengan langkah gagah penuh amarah Bagas menuju pagar rumah tetangganya. Karena tak ada bel, Bagas langsung mengetuk keras-keras pagar tetangganya. Seorang perempuan berumur tiga puluhan keluar dengan wajah kesal tak enak dipandang.
"Ada apa sih Mas?" tanya perempuan itu gusar.
"Kok ngetoknya keras-keras gitu?" lanjutnya.
"Ini lho mbak ayam-ayamnya ini lho... kemarin saya sudah bilang ke ibunya kalau bisa ayam-ayamnya dikurung biar nggak berantakin teras saya lagi."Jawab Bagas dengan suara agak keras.
"Loh, ayam-ayamnya di dalam kok Mas. Nggak mungkinlah ayam-ayam saya berantakin terasnya Mas. Tapi ya sudahlah saya minta maaf deh sama Masnya."Perempuan itu menjawab sekenanya sambil langsung menutup pintu pagar, dia masuk ke rumahnya, pintu di tutup dengan keras olehnya. Bagas hanya bisa melongo. Bagas kembali ke rumah dengan rasa kesal. Kemudian dibersihkannya teras itu.
Keesokan paginya, saat sedang berada di dapur, Bagas mendengar suara berkotek-kotek dari teras rumahnya. Segera diintipnya lewat jendela. Benar saja, ternyata 2 ekor ayam kate itu dengan santainya mengais-ngais tanah di taman sebelah teras. Terasnya pun sudah tampak kotor. Bagas tampak menggelengkan kepalanya. Dia tak mengerti sekaligus kesal dengan ulah tetangganya itu. Karena kesal dengan sigap Bagas keluar dari pintu dapur dan dengan cepat menyambar sapu. Dengan sigap Bagas mengejar kedua ayam itu. Rupanya ayam-ayam itu tak semua lincah. Ada satu ayam yang lebih kecil, sepertinya itu adalah ayam betina, ayam itu tidak terlalu cepat larinya.
Plakk! Pukulan sapu Bagas menghantam ayam itu pas kena di kakinya. Si ayam tampak masih berusaha kabur dengan berjalan terseok-seok. Bagas mengangkat sapunya lagi. Saat mau dipukulkannya, sejenak rasa iba hinggap dalam dirinya melihat ayam itu berjalan terseok-seok. Akhirnya tak jadi dipukulkan Bagas sapu itu pada ayam betina tersebut. Si ayam langsung lolos masuk lewat bawah pagar ke rumah tetangga menyusul si ayam jantan yang sudah duluan kabur meninggalkan si betina.
Perasaan Bagas campur aduk, antara puas dan kasihan melihat nasib si ayam yang dia pukul tadi. Sebenarnya bukan ayam itu yang salah, begitu pikir Bagas.
Malamnya bel pintu rumah Bagas berbunyi. Rupanya Pak RT datang. Paling-paling ada undangan acara RT nih, pikir Bagas. Ternyata bukan. Bagas ternyata diadukan oleh tetangga sebelah rumahnya karena ayam betina yang tadi dipukul Bagas ternyata akhirnya mati. Bagas bingung. Dia bertanya ke Pak RT dari mana Pak RT tau kalau Bagas yang memukul ayam itu.
Pak RT tau, karena tetangga Bagas melapor bahwa selama ini Bagas tampak tidak suka dengan kehadiran 2 ekor ayam itu. Bagas makin bingung. Dia mencoba menjelaskan peristiwa tadi pagi. Bagas menjelaskan bahwa setelah dia pukul, si ayam masih bisa berjalan walau terseok-seok. Pukulannya pun hanya mengenai bagian kaki si ayam, Bagas berupaya menjelaskan. Pak RT tampak mengangguk-angguk. Tapi kata-kata Pak RT kemudian malah membuat Bagas semakin bingung.
"Gini ya Mas, Masnya kan minoritas di sini. Tolonglah hargai yang mayoritas. Saya cuma mau bilang itu saja, kalau begitu saya permisi dulu. Kalau bisa besok pagi Mas datang minta maaf ke tetangga sebelah ya."Ucap Pak RT.
"Tapi Pak RT..."Bagas tak puas dengan ucapan Pak RT.
"Sudahlah, sampean ikuti saja omongan saya."Pak RT beranjak pergi.
Bagas bingung, apa hubungan mayoritas dan minoritas? Ini kan cuma masalah ayam yang membuat kotor terasnya?
Keesokan paginya dengan berbesar hati Bagas menemui istri si tentara. Saat itu istri si tentara sedang menyuapi anaknya. Si anak yang mengendarai sepeda roda tiga sesekali mendatangi ibunya untuk menerima suapan demi suapan. Dengan wajah datar Bagas menyampaikan permintaan maaf kerena telah melukai salah satu ayam tetangganya.
Bagas menerima saja disemprot kata-kata tajam bertubi-tubi dari tetangganya. Yang lucunya, sekilas Bagas sempat melihat makanan yang dimakan si anak. Tampak paha ayam ukuran kecil yang digoreng ada di situ. Tapi ya sudahlah Bagas tak mau berandai-andai.
Keesokan harinya Bagas membeli dua karung kerikil. Dihamparkannya kerikil itu merata pada bagian yang bertanah di taman dekat terasnya. Kerikil-kerikil juga disusun Bagas pada tiap pot bunga berisi tanaman yang masih menyisakan tanah yang bisa dikais-kais oleh si ayam. Paling tidak tanahnya tidak berantakan lagi, begitu pikir Bagas.
Ternyata ide Bagas cukup berhasil. Sore hari tak tampak tanah berserakan. Hanya dua gunduk kecil basah berlendir tai ayam yang ada di terasnya. Bagas tak mau kesal, dibiarkannya saja tai ayam itu. Bergegas Bagas masuk ke rumahnya. Banyak hal yang lebih penting sekedar mengurusi tai ayam, pikirnya. Tapi tetap Bagas tak habis pikir apa hubungan ayam, tanah yang berantakan, tai ayam dengan minoritas dan mayoritas, pikirnya.
Bagas menyeruput secangkir kopi panas, bersantai di sore hari membuat Bagas sejenak melupakan masalah ayam tadi.
"Terserah padamu lah ayam, paling paling nanti kau juga nanti akan digorengnya."Ucap Bagas tersenyum lebar.
~TAMAT~
~Jangan lupa like & komen!~