Sebagai permulaan, ayo aku ceritakan sebuah cerita pilu nan romatis. Sebuah cerita yang dimulai dengan rahasia gelap seseorang.
.
.
.
Halo, aku Lala, aku adalah murid teladan di sekolah, aku juga ramah terhadap teman teman. Aku mempunyai satu sahabat cowok, bernama Mikhael. Tapi aku punya rahasia gelap, rahasia sebagai seseorang psikopat yang kejam.
"Lala, ayo ke kelas" kata Mikhael yang membuyarkan lamunanku.
"iya, ayo, sebelum bel kelas berbunyi" kataku yang sudah kembali dan segera menggandeng tangannya pergi.
Kita pun berjalan ke kelas dengan saling bergandengan tangan.
Sesampainya dikelas, aku dan Mikhael saling mengobrol dengan teman sekelas yang lain. Sebenarnya aku hanya berakting seperti ini.
Jam pertama pun berdering, membuatku dan yang lainnya terkejut dan terdiam menyesuaikan tempat duduk. Aku pun tidak ada yang aneh terhadap sekolah.
Sampai kita pulang sekolah pun tidak ada apa apa. Sampai malam tiba, pada saat jam 12, ku terbangun dan melaksanakan tugasku yang rahasia, membunuh orang. Pekerjaan yang sungguh aku cintai.
Aku pun berjalan keluar kamar dan mengambil pisau belati tumpul, keluar rumah dan berjalan ke tempat persembunyianku dan menunggu korban, begitulah cara kerjaku.
"ahhhhh...... menjauh dariku" kata orang yang lewat dan ku pojokkan memakai pisauku.
"korban pertama" kataku memulai penyiksaan yang aku sukai. Meminum darahnya. "cih, darahnya pahit"tambah ku dengan kecewa.
"ayo kita mencari korban yang baru"kataku yang mulai tersenyum. Aku mencari korban sampai pagi menjelang.
Saat pagi pun aku menjadi anak yang orang-orang bicarakan, anak yang ramah dan cantik. Akupun masih berteman baik dengan Mikhael, yang notabenenya pinter. Mengobrol bak tidak terjadi apa apa.
Hari hari pun terus berlanjut, membuatku terus menerus menderita karena harus menderita, karena ku harus tersenyum dan ramah. Hanya saat malam yang bisa membuatku senang, sebabnya sudah ku tulis diatas.
Tapi suatu hari, Mikhael menembak ku, dan tentu saja aku terima, karena sebenarnya aku juga suka dia, tapi ada syaratnya.
"maukah kau menjadi pacarku? " tanyanya yang sambil duduk bersimpuh sambil memegang bunga.
"kamu mau aku menerima" kataku yang mulai ngeblush.
"ya" katanya yakin.
"baiklah, aku terima, tapi ada hal penting yang harus kamu tahu" kataku yang mulai tak yakin. "kaamu beneran mau pacaran sama pembunuh? " lanjutku
"tak apa, aku bersedia menerima itu semua" katanya yang makin yakin.
Setelah itu aku melewati hari hari ku dengan sedikit kebahagiaan, karena kebahagiaan yang lain ada di keadaan malam. Tapi pada suatu hari rahasiaku terbongkar oleh pacarku. Dan tentu saja aku panik karena dia tahu.
Tapi yang aku kagetkan lagi, ternyata dia sudah tahu semuanya dari awal, bahkan dia tahu kalau aku sudah banyak membunuh yang tidak bersalah, dari anak kecil hingga yang tak berdaya lagi.
"hei" kata pacarku sambil berlari mengejar ku yang sedang berjalan ke kantin sekolah.
"ya, kenapa? " tanyaku berhenti berjalan.
"siapa kamu sebenernya" katanya sambil berjalan mendekat dan memojokkan ku ke dinding.
"sudah kubilang aku pembunuh" kataku sambil menundukkan muka, tidak berani melihat wajahnya.
"kau membunuh ibuku sialan" katanya bermuka marah dan memukul dinding.
"maaf, aku tidak tahu" ucapku dengan muka yang datar dan mengangkat kepalaku.
"hanya kali ini aku memaafkanmu" katanya beranjak pergi. "pembunuh" tambahnya lirih.
Sekolah pun berjalan seperti biasa, tapi dengan pacarku yang marah dan sebal. Sebenarnya aku mau berhenti membunuh, tapi itu mustahil. Karena aku sudah melakukannya sejak kecil dan aku sudah terlanjur jatuh cinta terhadap pembunuhan.
Malam pun tiba, aku yang selalu menunggu pun langsung mengambil pisau tumpul ku dan langsung keluar dari rumah. Namun berbeda dari biasanya yang aku asal-asalan membunuh orang, aku hari ini mempunyai target, pacarku. Aku pun berjalan kerumah pacarku dan menyulik dari rumahnya ke rumahku dan mengikatnya di ruang bawah tanahku.
Sambil menunggu dia sadar, aku membuat teh dan duduk di depannya. Ternyata duduk sambil minum teh didepan target itu seru, soalnya aku tidak pernah kayak gini. Kalau aku punya target pasti akan langsung ku bunuh tanpa harus menunggu. Tapi karena ini spesial makan aku menunggu.
Satu jam lamanya aku menunggu, akhirnya dia bangun dan terkejut, seperti dugaanku.
"kenapa aku disini? " katanya terkejut. "kamu?! " lanjutnya yang semakin terkejut.
"iya sayang, ini aku" kataku dengan senyuman aneh.
"kenapa kamu ngelakuin ini ke aku? " tanyanya lagi.
"kenapa ya"tanyaku juga. "mungkin karena kamu bilang aku bunuh ibu kamu, jadi aku kepikiran kenapa aku gak sekalian bunuh kamu aja, kan kasian kalau aku cuma bunuh ibu kamu" kataku sinis. Akupun mulai membunuhnya dan berakhir dengan tawa puas ku.