-DUA HARI BERSAMAMU-
.
𝑺𝒆𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 6 𝒕𝒂𝒉𝒖𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒍𝒂𝒍𝒖, 𝒂𝒑𝒂 𝒌𝒂𝒃𝒂𝒓 𝒌𝒂𝒎𝒖? 𝑺𝒆𝒎𝒐𝒈𝒂 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒌𝒖 𝒕𝒖𝒋𝒖𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒎𝒖. 𝑫𝒖𝒍𝒖, 𝒂𝒌𝒖 𝒕𝒂𝒌 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒈𝒖𝒑 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒕𝒂𝒑, 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂𝒌𝒖 𝒕𝒂𝒌 𝒔𝒆𝒊𝒏𝒅𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒓𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒊𝒎𝒂𝒏𝒌𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒃𝒆𝒅𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏𝒎𝒖. 𝑲𝒂𝒎𝒖 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒂𝒊𝒌, 𝒑𝒂𝒔𝒕𝒊 𝑻𝒖𝒉𝒂𝒏𝒎𝒖 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒔𝒊𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒑𝒂𝒕 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌𝒎𝒖. 𝑻𝒂𝒑𝒊 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒌𝒖.
Jualan milk shake di rumah dengan akun sosial media yang followernya hanya 50 sambil mempromosikannya di aplikasi ojek delivery online. Ya, itu lah aku. Namaku Sakinah, dan teman-teman biasa memanggilku Saki. Aku berusia 25 tahun, dan sekarang sedang single. 6 tahun lalu setelah putus aku belum membuka hati lagi untuk orang lain.
“Ki, milk tea original satu,ya,” kata Nina, memesan.
Dia adalah sahabatku.
“Siap,” jawabku.
“Ki, Angga hari ini datang, lo.”
Aku hanya tersenyum, tak menanggapi.
“Kamu nggak kangen sama dia?” Tanyanya.
Lagi-lagi aku pura-pura tak mendengar. Setelah minuman pesanannya jadi, aku pun duduk di sampingnya.
“Kamu ngomong apa tadi?” tanyaku.
“Pura-pura budek lagi.” Ucapnya. “Angga pengen ketemu kamu. Nanti sore dia tungguin kamu di alun-alun.” Lanjutnya sembari mengirimkan nomor ponsel Angga padaku.
***
“Saki...” Seorang pria menyapaku dari arah belakang, sambil membawa dua gelas es teh.
“Segelas Es teh tanpa gula,” ucapnya sambil memberikan segelas padaku.
“Masih ingat aja,” balasku.
“Masih dong...” ucapnya. “Eh, kita jalan sekarang nggak ada yang marah kan?”
“Terima kasih sudah menemuiku tanpa ingin bersentuhan fisik,” ucapku sambil tersenyum.
“Jadi, bersalaman pun tidak?”
Aku hanya mengangguk . “Oh iya, kamu pasti belum makan, mau makan berat apa ringan-ringan saja?” Tanyaku.
“Makan berat sih, kayanya.”
Dan kami pun berjalan kaki mencari warung terdekat untuk makan sore. Lalu langkah kami terhenti pada sebuah warung nasi soto Madura.
“Jadi gimana, rasanya keliling dunia?” Tanyaku, saat kami sudah duduk.
“Menyenangkan. Melihat banyak hal di seluruh penjuru bumi Tuhan yang luas,” jawabnya.
“Kalau kamu, sejak kapan menjadi seperti sekarang?” Tanyanya. Aku tahu, yang dia maksud adalah penampilanku.
“Maksud kamu berhijab dan pakai gamis, kaya emak-emak?” gurauku.
“Masa seperti bapak-bapak... serem, dong,” balasnya.
𝑺𝒆𝒏𝒚𝒖𝒎𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒔𝒆𝒊𝒏𝒅𝒂𝒉 𝒅𝒖𝒍𝒖, 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒂𝒚𝒂 𝒓𝒆𝒔𝒑𝒐𝒏𝒌𝒖 𝒔𝒂𝒋𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒔𝒂𝒎𝒂, 𝒆𝒏𝒕𝒂𝒉𝒍𝒂𝒉, 𝒂𝒌𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒌𝒎𝒂𝒕𝒊 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒐𝒃𝒓𝒐𝒍𝒂𝒏 𝒔𝒐𝒓𝒆 𝒊𝒏𝒊.
“Mbak maaf bisa minta straw?” Tanya Agga pada penjaga warung.
“Maaf, mas, di sini juga ikut gerakan mengurangi penggunaan sedotan plastik,” jawab mbak-mbak tersebut.
“Oh, gitu,” balas Angga, lalu dia pun kembali makan.
“Nih,” kupinjamkan sebuah sedotan berbahan alumunium yang biasa kubawa ke mana pun aku pergi.
“Kamu?” Tanyanya.
“Aku selalu bawa dua,” jawabku.
“Selalu, atau sengaja, untuk hari ini saja?” Katanya.
Aku hanya tersenyum, tak berani membalas tatapannya. Bukan enggan, tapi takut terjebak dalam mata indah itu.
Selanjutnya kami pergi ke sebuah restoran ice cream yang cukup legend di kota ini.
“Kenapa harus tempat ini?” Tanyaku.
“Dulu, saat kita masih jalan bareng, kamu kan pengen banget ke sini, tapi harga ice cream nya mahal,” kisahnya.
“Ih, malu-malu in banget, ya. Uang saku tidak mendukung hawa nafsu,” celotehku. “Kenapa harus yang kaya gitu, sih, yang kamu inget?” Lanjutku.
“Kali ini kamu bisa makan sepuasnya, aku traktir,” ucapnya, manis.
“Eh, Ki,” panggilnya.
“Iya,”
“Sekarang sibuk apa?” Tanyanya.
“Jualan milk shake di depan rumah, berkebun di belakang rumah. Itu aja sih,” jawabku, tanpa beban.
“Masih sering main gitar?”
“Jarang,” jawabku singkat.
“Berarti bisa dipastikan kalau sekarang aku lebih jago main gitarnya dari kamu,” guraunya.
“Nggak mungkin, aku tetep lebih jago, ya,” balasku, tak terima.
“Buktiin, dong...!”
“Ok, lain waktu akan kubuktikan,” ucapku.
“Lain waktu? Itu artinya kita bisa bertemu lagi setelah hari ini?”
Aku terjebak lagi dengan ucapanku. Kutundukkan wajahku, karena lagi-lagi aku tak ingin berbalas pandang dengannya. Beberapa saat terdiam, terdengar suara adzan maghrib dari ponselku. Segera kupalingkan obrolan kami, aku meminta izin padanya untuk melaksanakan salat maghrib, lalu aku harus pulang.
***
Pagi ini aku sudah menyibukkan diri dengan kebun di belakang rumah, berbicara dengan sawi dan kangkung yang kami tanam untuk konsumsi kami sendiri. Tak hanya dua sayuran itu, masih ada lagi tomat, cabai, dan lain-lain.
“Nduk... ada teman kamu, ibu suruh ke belakang saja, ya,” teriak ibu dari dalam rumah.
“Iya, bu,” jawabku tanpa beban. Kalau bukan Nina, siapa lagi.
Dan beberapa saat kemudian seseorang lmenyapaku.
“Jadi, ini toh, yang memalingkan mimpi kamu untuk keliling dunia dengan bermusik?”
“Angga, kenapa nggak bilang, sih, kalau kamu mau mampir ke sini?” Ucapku, malu.
Tentu saja wajahku kusam sekali, dengan pakaian kebun, kemeja kotak-kotak kedodoran dengan bawahan celana hitam bahan kanvas yang juga longgar.
“Mau dibantuin, ngga?” Tanyanya.
“Boleh. Eh tapi nanti baju kamu kotor, lagi,” ucapku.
Dia hanya tersenyum lalu mendekat ke arahku.
“Ini tinggal dicuci saja, habis itu nanti dipack, buat dibagi ke tetangga-tetangga,” jelasku.
“Nggak dijual?”
“Kami menjual bibit saja. Untuk hasilnya memang dibagi-bagi sekalian mengedukasi.”
“Emang keren sih, kerjaan kamu ini,” ucapnya, memuji.
“Iya, dong. Emang kamu pernah lihat aku nggak keren?” celetukku.
“Ih, narsis,” balasnya.
.
Sambil proses mengemasi sayuran terjalin obrolan ringan di antara kami.
“Sekarang, kamu lagi jalan sama siapa, Ki? Siapa tahu aku kenal juga sama cowok kamu,”
“Orang lagi duduk, ditanyain jalan,” jawabku, asal. “Nggak ada, sih. Nanti tunggu dapat yang pas,” lanjutku. “Kalau kamu?” Tanyaku,
“Ada sih, beberapa kali jalan. Emmm sebenarnya aku baru putus tiga bulan lalu,” jawabnya.
“Kenapa? Nggak ada yang kaya aku ya?” Gurauku, sedikit berani.
“Susah lah cari yang kaya kamu. Cewek suka berkebun dan rajin menabung,” ucapnya.
“Nduk,” ibu memanggil sambil membuka pintu belakang. “Kalo kamu masih lama, ibu order ojek saja, buat pergi belanja,” kata Ibu.
“Kalau tidak keberatan saya bisa antar tante,” kata Angga, mengejutkanku.
“Boleh banget...” Sahut Ibu, tanpa pikir panjang.
Aku hanya diam, tanpa komentar.
Entah apa tujuan Angga datang lagi, bukankah dia masih dengan imannya, dan aku telah semakin yakin dengan agamaku. Tetiba aku merasa begitu khawatir akan hatiku sendiri. Aku takut jatuh hati lagi.
“Ki, nanti sore aku tunggu kamu di sini,” pesan itu Angga kirimkan padaku setelah dia pergi menemani Ibu.
Aku tak ingin membalasnya. Sebenarnya aku juga tak ingin menemuinya lagi. Bukankah sudah cukup beberapa topik yang kami obrolkan kemarin dan pagi ini? Tapi hari ini dia sudah berbaik hati membantuku dan menemani Ibuku belanja. Ah, atau anggap saja aku membalas kebaikannya, dan setelah itu selesai hutangku.
Iya, aku pergi menemuinya, di lokasi yang dia kirimkan padaku.
“Terima kasih sudah datang,” ucapnya.
Kami bertemu di sebuah kafe yang baru buka, milik temannya.
“Ini kafe temanku. Baru buka dan belum promosi. Jadi masih belum ada pengunjung,” jelasnya.
“Aku, mau datang, karena merasa berhutang untuk dua hari ini,” kataku.
“Besok aku harus kembali, jadi ini hari terakhirku di sini,” ucapnya, biasa saja. Tapi entah kenapa terdengar menusuk sekali bagiku.
“Kalau hanya datang untuk pergi lagi, buat apa menemuiku?” Ucapku, kesal. Sebenarnya aku sendiri tak mengerti, kenapa aku harus marah?
“Maaf kalau sudah mengganggu waktu kamu. Lain kali aku tidak akan mengulangnya,” jawabnya, enteng. Seolah dia juga menyesal menemuiku.
Hilang selera makan dan minumku dengan semua menu yang sudah tersuguhkan. Tentu saja aku menutupi kemarahanku dan tetap memotong-motong makananku dengan sendok dan garpu. Tapi rasanya air mata di leherku tak tertahan. Kuarahkan pandanganku ke atas, untuk menahan agar tak ada air yang tumpah dari kedua mataku.
“Terima kasih,” Ucapnya sambil meletakkan sedotan yang kemarin kupinjamkan padanya.
“Lain kali aku akan ingat soal ini saat pergi ke Surabaya,” lanjutnya.
Aku pun tersadar kalau baru saja aku terbawa perasaan, dan itu membuatku tertawa sendiri.
“Angga... pernah, tidak, kamu berpikir tentang sebuah tujuan hidup?” Tanyaku, sedikit serius.
“Pernah,” jawabnya.
“Tentang apa?”
“Tentang pasangan yang menetap,” jawabnya, serius.
“Semoga kamu segera menemukannya,” ucapku, dengan perasaan campur aduk.
“Kalau kamu?” Tanyanya.
“Aku selalu berpikir tentang memantaskan diri dengan pasangan yang baik untuk membimbingku dalam iman,” jawabku, berat dan cukup jujur.
“Aku yakin Tuhanmu sudah siapkan. Kamu muslim yang taat.” Ucap Angga, dalam.
Untuk detik yang cukup lama kami hanya saling diam, sampai saat suara sound system kafe memecah keheningan di meja kami.
“Eh, kamu bilang, kamu masih jago main gitar, kan?” Tanya Angga.
“Emang kenapa?”
“Main dong. Satu lagu aja,” pintanya.
Berpikir sejenak, lalu kusetujui saja.
“Ok, deh. Tapi ini aku main karena tadi pagi kamu sudah berbaik hati membantuku.”
“Harus, dong... jadi impas, kan.”
Kebetulan saat itu ada band yang bermain di kafe ttersebut, dan aku diizinkan untuk mengiringi sebuah lagu dengan gitar akustik, kuminta sebuah lagu lama milik Marcell dengan judul Peri Cintaku. Dulu aku belajar kunci lagu ini, karena merasakan isi dan makna liriknya.
𝑨𝒌𝒖 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒌𝒂𝒎𝒖.
𝑲𝒂𝒎𝒖 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒂𝒌𝒖.
𝑵𝒂𝒎𝒖𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒂𝒑𝒂 𝒎𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏, 𝒊𝒎𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒃𝒆𝒅𝒂...
Bagian kalimat itu, terasa sakit sekali menusukku.
***
𝑫𝒆𝒎𝒊𝒌𝒊𝒂𝒏 𝒅𝒖𝒂 𝒉𝒂𝒓𝒊 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂𝒎𝒖 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓.
𝑫𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓.
𝑺𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒍𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒉 𝒈𝒐𝒏𝒕𝒂𝒊 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒓𝒂𝒑𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒖𝒑𝒖𝒔.
𝑺𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒌𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈𝒎𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒆𝒏𝒈𝒈𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒉𝒂𝒑𝒖𝒔.
𝑺𝒆𝒈𝒂𝒍𝒂 𝒅𝒐𝒂 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒕𝒆𝒓𝒕𝒖𝒋𝒖 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒎𝒂.
𝑨𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒎𝒂𝒄𝒂𝒎 𝒓𝒊𝒏𝒅𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒄𝒖𝒌𝒖𝒑 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒔𝒊 𝒊𝒏𝒅𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂 “𝑲𝒊𝒕𝒂.”
“𝑲𝒊𝒕𝒂...” 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒌 𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 “𝑺𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒏𝒚𝒂...”