Aku berjalan menelusuri jalan setapak, aku memandang langit ke atas, matahari mulai tenggelam dan malam akan segera datang, hari sudah mulai sore, aku melanjutkan perjalananku.
Masih menelusuri jalan setapak ini, ku pandang ke bawah penuh dengan dedaunan kering, sudah memasuki musim kemarau, sebentar lagi musim dingin.
Aku sampai di sebuah jalan yang berpondasi beton, di sekelilingnya dipenuhi oleh pohon maple yang daunnya sudah menguning.
Aku terus berjalan, aku lihat di sekelilingnya ada beberapa kursi duduk, lampu yang berjejer di samping jalanan mulai bercahaya ketika hari menjalang malam.
Aku melihat sebuah pondok, aku berhenti sejenak karena kelelahan berjalan, aku telah menelusuri jalan penuh dengan pepohonan maple yang daunnya menguning di masim kemarau ini.
Aku duduk dan meminum persediaan air yang aku bawa lalu aku memandangi jam di tanganku dan melihat waktu menunjukan jam 4 sore.
Sebentar lagi musim dingin dan salju akan berjatuhan, mungkin tinggal beberapa hari untuk memasuki musim dingin.
Aku segera bergegas sebelum malam tiba karena hari sudah semakin sore, hakhirnya aku sampai di sebuah jalan beraspal dan aku melihat pondok dengan tulisan antrian bus lalu aku segera kesana untuk beristirahat.
Aku membawa beberapa uang untuk menaiki bus menuju kota, persedianku setidaknya cukup untuk beberapa hari.
Jam enam sore tidak ada lagi bus yang lewat di sekitar pedesaan, untungnya aku melihat bus yang pergi ke sebuah kota kecil, aku memutuskan untuk mencoba menyambung hidup disana.
Aku mulai menaiki bus itu dan duduk di pojok, sekitar dua jam hakhirnya aku sampai dan lalu turun dari bus itu, lalu aku membayar biaya perjalannya.
Aku kembali berjalan, kali ini aku mencoba untuk menemukan sebuah penginapan, mungkin aku bisa tinggal disana beberapa bulan.
Aku memandangi jam tanganku, waktu sudah menunjukan jam enam sore dan sebentar lagi malam.
Aku memandingi langit, aku lihat awan berwarna kelabu dan mulai menghitam, nampaknya hari ini akan turun hujan deras.
Angin mulai bertiup ketika malam mulai datang, aku segera mengambil jaket dari tasku dan lalu segera memakainya agar tubuhku tidak kedinginan.
Aku duduk di sebuah kursi taman kerena kelelahan berjalan, aku merasa kakiku mulai pegal, aku haus dan lapar, persedian airku mulai habis, aku harus membeli air mineral untuk menghilangkan hausku.
Persedian air minerelku yang tersisa sedikit aku habiskan untuk menghilangkan dahaga hausku namun aku lapar.
Aku mengambil roti di tasku dan segera membukanya lalu memakan roti itu sambil sedikit air menerel yang tersisa aku minum.
Hari sudah mulai malam, waktu sudah menunjukan jam 7 malam, aku terus berjalan dan belum menemukan penginapan lalu aku melihat sebuah kedai makanan di pinggir jalan dan aku kesana untuk mengisi perutku.
Setelah aku lihat dari dekat, sebuah kedai ramen, aku mulai masuk dan memesan satu porsi ramen besar lengkap dengan daging dan isiannya.
Aku mulai memakan ramen yang mulai hangat itu dan disana aku juga membeli satu botol air mineral besar. Aku mengambil sumpit dan mulai memakannya.
Setalah selesai makan aku segera membayar ramen yang aku pesan berserta air meneralnya, persedian uangku mulai menipis.
Aku keluar dari kedai itu dan melihat ke atas langit, tidak terasa hari sudah malam, aku tidak tau harus berteduh di mana malam ini karena hujan akan segera datang.
Malam ini tidak ada bintang di langit, langit ditutupi awan hitam lalu setetes demi setetes air hujan malai berjatuhan dan aku segera berlari mencari tempat berteduh.
Hujan mulai turun dengan deras, aku segera berlari dengan cepat, tergesa-gesa berlari di bawah derasnya hujan, pakaianku mulai basah kuyup lalu aku temukan sebuah pondok kecil dan aku mulai kesana dan berteduh disana.
Aku memasuki sebuah pondok, aku berteduh dari derasnya hujan di malam hari, semakin malam hujannya semakin menderas, aku kira malam ini tidak akan turun hujan namun apa daya malam ini turun hujan deras.
Hari sudah malam, hujan semakin deras dan tidak berhenti selama dua jam, aku mendengar sebuah suara, derasnya hujan menghantam atap seng, suara seperti atap yang sedang di jatuhi oleh hujan batu.
Aku mengambil selimut dan menutupi tubuhku yang mulai mengigil kedinginan, aku memandangi malam yang sungi dengan rintikan air hujan yang berjatuhan.
Perjalananku tertunda, aku harus menginap malam ini disini, di sebuah pondok kecil sambil menunggu hujan deras ini berhenti dan menunggu pagi menjalang tiba.
Apa yang telah aku rencanakan, aku mencoba untuk mencari penghidupan yang baru, aku merantau, ya merantau membawa diri, perjalananku bahkan tidak pasti, entah kemana aku pergi, aku tidak tahu, aku seperti orang hilang yang kebingungan akan diri sendiri.
Aku berencana mencari penginapan untuk tinggal selama sebulan dan mencari perkerjaan, namun malam ini tertunda karna aku tidak bisa menemukan sebuah penginapan, bahkan memulai mencoba merantau selama satu bulan penuh saja susah.
Mataku mulai mengantuk dan akhirnya aku tertidur sambari memeluk tasku, lain kali aku akan menceritakan diriku, yang asalnya tidak pasti.
Hari sudah pagi, aku mulai membuka mataku dan memandangi matahari sudah mulai terbit di arah timur, aku mendengar suara burung-burung mulai berkicau dengan merdunya.
Aku mencuci wajahku sebuah tempat yang dekat dengan lapangan terbuka, di sana aku melihat sebuah kran air lalu aku mulai membasuh wajahku di sana lalu ku lanjutkan perjalanannya.
Aku berjalan selama beberapa menit, ini daerah yang di penuhi oleh perumahan tradisional, aku mencari sebuah penginapan, tidak lama kemudian aku menemukan penginapan yang harganya murah, cuma lima ribu yen selama sebulan, cukup dengan uang yang ku bawa untuk membayar sewa penginapan selama sebulan.
Aku bertemu dengan ladyland pemilik penginapan tersebut, untungnya masih tersisa beberapa kamar yang bisa aku sewa, ladyland itu sangat ramah dan baik pada semua orang yang ada di penginapan. Uang untuk membayar sewa penginaphan sebulan, untuk membayar pada bulan depan masih aku simpan baik-baik. Hari ini aku kelelahan dan istirahat lebih awal.
Esok hari aku memutuskan mencari pekerjaan, sangat sulit mencari pekerjaan baru di daerah ini, untung saja ada seseorang yang menawarkan aku perkerjaan baru. Aku menerimanya begitu saja, walaupun itu hanya perkerjaan kecil, tapi cukup untuk menyambung hidup.
Ini adalah kisahku, ya kisahku, dari hal yang tidak pasti menjadi pasti, perjalanan merantau, menemukan tempat untuk bernaung dan sebuah perkerjaan untuk menyambung hidup, alangkah tidak pastinya, lain kali aku akan menceritakan bagaimana kehidupanku di masa lalu, bagaimana asal usulku yang tidak pasti, ah semuanya tidak pasti, ya kerena tidak pasti, aku tidak tahu harus berbuat apa, hanya mengandalkan takdir dan usaha.