Hari ini menjadi hari paling sial bagiku. Hari terkahir bekerja dan besok libur, malah banyak sekali kejadian-kejadian yang membuatku kesal.
Hari Jumat yang biasanya selalu kutunggu karena bisa pulang lebih awal, ternyata hari ini aku harus lembur. Menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk dan harus selesai hari ini juga.
Belum lagi dengan tingkah sang atasan yang menyebalkan, menyuruh sesuka hati. Sungguh tingkahnya membuatku menggerutu seharian ini.
Tidak selesai sampai di sana kesialanku, mesin fotocopy di kantor rusak dan mengharuskanku menggandakan berkas yang jumlahnya tidak sedikit itu keluar.
Setelah menggandakan berkas itu, ketika hendak kembali ke kantor, tiba-tiba hujan turun. Menahanku berdiri kedinginan di depan tempat fotocopy.
Aku tidak membawa payung karena ramalan cuaca yang kulihat tadi pagi di berita mengatakan bahwa hari ini akan cerah. Sepertinya ramalan cuaca itu membohongiku.
Beruntung hujan reda dengan cepat. Begitu hujan reda, aku segera bergegas kembali ke kantor. Menyerahkan berkas itu dan kembali menyelesaikan pekerjaan yang tadi tertunda.
Hanya beberapa orang di bagianku saja yang lembur pada hari ini. Beberapa lainnya pulang karena memang pekerjaan mereka sudah selesai. Sungguh aku merasa iri pada mereka.
Kurang lebih pukul sembilan malam pekerjaanku baru selesai. Bersamaan dengan itu hujan kembali mengguyur. Aku harus kembali bertahan hingga hujan reda. Kantor sudah sangat sepi, bahkan tadi atasanku pulang terlebih dulu. Sungguh tidak perhatian pada para karyawannya.
Aku menatap langit, hujan sudah tersisa rintikan saja. Aku pun memutuskan untuk menerjangnya. Berlari menuju halte untuk naik bus yang entah masih ada atau tidak. Namun, keberuntungan sepertinya masih sedikit melekat padaku. Ada satu bus terakhir yang membawaku pulang ke rumah.
Kurang lebih selama setengah jam perjalanan dari kantor sampai rumah. Aku turun di halte yang tidak jauh dari rumah. Begitu turun dari halte, hujan kembali turun hingga membasahi tubuhku.
"Kenapa dari tadi langit sangat muram?" gumamku menatap langit.
Aku mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Ayah, meminta jemput di halte ini. Jarak halte untuk sampai ke rumah cukup jauh jika berjalan kaki. Namun, begitu melihat ponsel rasanya aku ingin menangis. Ponselku mati karena kehabisan daya.
Kuputuskan untuk menerjang hujan yang cukup lebat ini agar segera sampai rumah. Suasana jalanan sangat sepi. Jarum jam menunjukkan angka sepuluh. Belum lagi nanti aku harus melewati makam.
Belum lewat saja aku sudah merinding, bulu kudukku sudah meremang. Lampu makam sudah terlihat di depan sana. Aku berancang-ancang untuk lari sekencang mungkin saat tiba di depan makam.
"Neng, kenapa hujan-hujanan?" tanya seseorang.
"Iya, nggak bawa ...."
Aku tidak melanjutkan ucapanku, hal selanjutnya yang kulakukan adalah berlari sekencang mungkin. Tidak ada siapa pun di sana. Jadi siapa tadi yang bertanya? Jika aku ingat itu, bulu kudukku kembali meremang.
Hujan masih mengguyur dan aku masih terus lari. Jantungku bepacu sangat cepat, air mataku bahkan sudah mengalir keluar saking takutnya.
Sebenarnya bukan hanya rasa takut yang membuatku hingga menangis seperti ini, aku ingat betapa seharian ini sangat melelahkan dan membuatku benar-benar kesal.
Napasku sudah hampir habis. Akhirnya aku sudah sampai di rumah. Dengan tergesa-gesa aku membuka pagar dan segera masuk ke dalam rumah. Sementara itu, anggota keluargaku terheran-heran melihatku sangat berantakan.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Ibu.
"Maya dikejar setan," jawabku dengan tangis yang makin kencang.
🧞♀️🧞♀️🧞♀️