Aku sering membayangkan bagaimana aku di masa depan. Apakah aku akan hidup sukses atau malah sebaliknya? Siapa suamiku kelak, juga berapa anak yang kulahirkan ke dunia. Bayangan-bayangan itu selalu mampir ke dalam kepalaku ketika aku sedang tidak dapat tidur atau jika ada masalah.
Aku bukan anak yang pintar di sekolah dan termasuk anak yang pemalas. Aku lebih senang memikirkan hal unfaedah seperti yang tadi kukatakan. Seperti hari ini, aku baru saja dimarahi Ibuku karena nilaiku yang jelek.
Ibu menemukan hasil ulanganku yang sengaja kusembunyikan di tumpukan buku-buku pelajaranku. Kulipat super kecil berharap Ibu tidak melihat dan menganggap itu kertas bekas.
Namun, aku lupa jika jiwa kepo Ibu sudah mendarah daging. Beliau membuka kertas itu dan membaca isinya. Melihat ada kursi terpampang di sana, Ibu langsung menyemburkan semua ceramahnya kepadaku.
Kepalaku terasa penuh saat ini dan seperti ada asap yang keluar dari kepala. Aku menatap langit-langit kamar, bayangan itu kembali muncul. Bayangan bagaimana masa depanku nanti.
"Sari! Cepat mandi dan makan!" teriak Ibu dari luar kamar.
Dengan malas aku bangkit dan menyeret langkahku menuju lemari pakaian. Huh, hari libur pun aku tetap harus mandi pagi. Ibu benar-benar tidak memperbolehkanku bersantai sedikit di hari libur ini.
Kubuka lemari pakaian. Namun, betapa terkejutnya aku saat lemari itu mengeluarkan cahaya. Seingatku di dalam lemari tidak ada lampu. Aku pun menyibak pakaian yang digantung.
"Hah? Ini benar lemariku," ucapku kembali memperhatikan bentuk lemari di depanku.
Di depanku ada sebuah ruangan yang terhubung. Ternyata jiwa kepo Ibu menurun padaku. Aku berjalan memasuki lemari itu.
Benar saja, setelah melewati lemari itu aku kini berada di sebuah ruangan yang entah milik siapa. Aku memperhatikan sekitar, raungan ini seperti kamar tidur. Namun, sangat sempit. Bahkan lebih sempit dari kamar tidurku yang sebenarnya tidak terlalu luas.
"Ini rumah siapa?" tanyaku bermonolog.
Aku berjalan mengelilingi ruangan ini untuk mencari tahu jawabannya. Ada sebuah meja di sudut ruangan, di meja itu ada sebuah figura foto. Aku mengambil figura itu dan memperhatikan siapa wajah-wajah di dalam foto.
Aku melihat ada wajahku di sana, tetapi wajahku terlihat sedikit berbeda. Walau begitu, aku masih mengenali wajah cantik ini. Namun, aku tidak kenal dengan tiga orang lainnya.
Satu orang pria yang tengah tersenyum dan pipi kami menempel, lalu ada dua anak kecil laki-laki dan perempuan yang sedang tersenyum lebar memperlihatkan gigi ompong mereka.
"Siapa mereka?"
"Emak! Jono mau makan!" Sebuah teriakan mengagetkanku.
Tiba-tiba pintu kamar menjeblak terbuka dan memperlihatkan anak laki-laki kurang lebih berumur enam tahun berdiri di sana. Hanya dengan memakai celana pendek tanpa baju. Aku mengernyit melihat anak itu.
"Kamu siapa?" tanyaku menujuk anak itu.
"Aku Jono, anakmu. Mana sarapannya, Mak?"
Aku masih bingung dengan jawaban anak itu. Kenapa bisa aku tiba-tiba punya anak? Lagi-lagi aku dibuat terkejut saat anak yang mengaku bernama Jono itu menarikku keluar dari kamar.
Aku memperhatikan rumah ini, benar-benar sempit. Itu yang langsung terpikir olehku. Kemudian pandanganku mengarah pada kursi yang ada di depan sebuah meja, seperti meja makan. Ada dua orang di sana. Satu pria yang sedang menjahit celana dan satu anak perempuan dengan rambut acak-acakan sedang menidurkan kepala di meja.
"Cepet, Mak! Jono udah lapar!" seru Jono.
Dua orang di meja makan menoleh dan menatapku. Kulihat pria yang sedang menjahit tadi menatapku kini. Aku terpana, dia pria tampan yang sering kubayangkan selama ini.
"Kamu nggak dengar? Anak-anak sudah kelaparan, cepat sana masak," ucap pria itu.
Ckck, ternyata wajah tampan itu hanya cover depan saja. Ucapannya sungguh tidak ramah di telingaku.
Aku menatap meja dapur, memang ada beberapa bahan masakan di sana. Namun, aku tidak bisa memasak. Aku masih berpikir keras harus masak apa sekarang. Memang aku sering menonton acara lomba masak di televisi, tapi aku tidak pernah mempraktekkan apa yang mereka masak.
Aku memejamkan mata dan menghembuskan napas dalam. Aku harus fokus untuk memasak. Aku mulai bereksperimen di dapur ini. Semoga saja masakanku tidak terlalu mengecewakan orang-orang itu.
Membutuhkan waktu selama kurang lebih satu jam untukku memasak telur goreng. Aku tersenyum puas melihat hasil masakanku. Aku menyajikan telur itu di atas meja.
"Silahkan dimakan," ucapku tersenyum dengan rasa percaya diri.
"Nasinya mana, Mak?" tanya anak perempuan menatapku.
Eh? Nasi? Jangan bilang aku juga harus masak nasi? Aku tidak pernah memasak nasi, jadi aku tidak tahu bagaimana caranya.
"Tadi aku sudah masak nasi, harusnya sudah matang sekarang," ucap pria itu yang telah selesai menjahit.
Aku menghembuskan napas lega. Segera kuambil nasi untuk mereka dan menyajikannya di meja. Mereka mulai mengambil telur goreng itu.
"Huek, gosong. Pahit!" pekik Jono dan memuntahkan makanannya.
"Punya Jeni nggak gosong," ucap anak perempuan yang ternyata bernama Jeni itu.
Kuperhatikan wajah mereka sedaritadi, mereka berdua sangat mirip. Sepertinya kembar.
"Mak, kenapa telur punya Jeni asin?" teriak Jeni yang juga memuntahkan makanannya.
Mendengar komentar dari dua anak kecil itu membuatku tertohok. Sebegitu tidak enakkah hasil masakanku? Lalu aku melirik pada pria yang sejak tadi diam. Aku melotot saat melihat dia hanya makan nasi dengan kecap dan kerupuk.
"Jono mau makan kayak Bapak aja!"
Pria itu mengangguk dan mengganti makanan anak-anak itu. Aku hanya menonton tingkah mereka dengan kepala masih banyak tanda tanya.
"Sari!"
"Hah? Ya?"
"Kenapa nggak makan?"
Aku menatap pria itu, dia tahu namaku. Namun, aku tidak mengenalnya. Siapa mereka sebenarnya?
Tiba-tiba saja kepalaku pusing. Aku masih belum paham apa yang terjadi padaku. Setelah mereka semua pergi bekerja dan sekolah. Mataku tidak sengaja melihat kalender yang ada di dinding. Hampir saja mataku keluar melihat tahun berapa yang tertulis di kalender itu.
"Ini kehidupan masa depanku?" gumamku.
Mendadak aku merasa takut. Jika benar ini kehidupanku di masa depan, benar-benar menakutkan. Hidupku sangat miskin dan seperti tidak ada harapan. Berharap hidup harmonis dan romantis harus pupus. Semuanya tidak sama dengan apa yang kubayangkan selama ini.
"Aku tidak mau kehidupan yang seperti ini."
Aku kembali masuk ke dalam kamar dan menghampiri lemari itu. Aku ingin kembali ke masa lalu dan segera memperbaiki hidupku agar tidak hidup seperti ini di masa depan. Kubuka lemari itu dan aku segera masuk ke sana.
BRUKK!
Aku jatuh tersungkur, kakiku terasa sakit. Aku menatap sekitar, lalu tiba-tiba pintu terbuka lebar. Ada Ibu berdiri berkacak pinggang di ambang pintu.
"Dasar, anak ini! Disuruh mandi malah rebahan terus."
Melihat Ibu, aku berlari dan memeluknya erat. Apa yang baru kualami sangat menakutkan dan aku bertekad untuk berusaha keras agar kehidupan di masa depanku cerah.
📆📆📆