Musik adalah hidupku. Aku tak akan bisa hidup tanpa musik. Namaku Vita dan aku sekarang duduk di kelas dua SMA. Di sekolah aku selalu mengikuti ekstrakulikuler musik.
Aku menyukai musik dan seni sejak kecil, mungkin saat itu aku berusia lima tahun. Hobiku menyanyi dan bermain beberapa alat musik. Aku menguasai permainan piano dan gitar.
Namun, itu dulu. Sekarang ini aku telah berhenti. Musik dan menyanyi sudah kupendam sejak aku kelas tiga SMP. Semua itu karena kecelakaan yang merenggut nyawa Ayah. Sosok yang sangat kubanggakan kini sudah tidak di sisiku lagi. Aku memutuskan mengubur semua yang berhubungan dengan musik.
"Vita," panggil salah satu teman sekelasku.
Aku yang sedang mencatat menoleh dan menatap temanku itu dengan dahi mengernyit.
"Ada yang cari lo tuh."
"Siapa?"
"Anak kelas sebelah kayaknya."
Aku bangkit dari dudukku dan berjalan keluar dari kelas untuk menemui anak itu. Ternyata anak yang mencariku adalah Amel, kami dulu pernah satu sekolah saat SMP.
"Kenapa, Mel?" tanyaku.
"Vit, gue mau kasih ini ke lo," ucap Amel memberikan sebuah kertas yang lebih seperti brosur.
"Apa ini?"
"Itu brosur lomba, Vit. Gue harap lo mau ikut lomba itu."
"Kenapa gue?"
"Karena gue yakin lo pasti bisa menang."
Aku menggelengkan kepala dan mengembalikan brosur itu. "Gue udah nggak main musik."
Namun, Amel memberikan lagi brosur itu. Dia menyuruhku menyimpan brosur itu, Amel berharap jika suatu saat nanti aku berubah pikiran.
Aku menghembuskan napas pasrah. Kusimpan brosur itu di dalam tas dan aku kembali melanjutkan aktivitas yang tadi sempat tertunda. Kebetulan hari ini tidak ada pembelajaran karena para guru sedang ada rapat. Suara bel tanda istirahat berbunyi, para teman sekelasku sudah menuju ke kantin.
"Vit, ayo ke kantin," ajak salah satu temanku.
"Gue mau ke perpustakaan dulu, kembaliin buku."
"Ketemu di kantin aja, ya?"
Aku hanya mengangguk dan keluar dari kelas untuk ke perpustakaan, mengembalikan buku yang kemarin kupinjam.
Langkahku terhenti saat melewati ruang musik. Aku mendengar suara dari dalam sana. Entah dorongan dari mana, aku mengintip masuk ke dalam ruang musik itu.
Di dalam sana aku melihat seseorang sedang memainkan gitar. Dahiku berkerut saat mendengar suara senar gitar yang dipetik. Jujur saja, suara yang dihasilkan sangat sumbang.
"Vita?"
Aku terkejut dan spontan menoleh. Dibelakangku sudah ada Amel dan seorang anak laki-laki yang entah siapa. Aku merasa seperti pencuri yang ketahuan.
"Kenapa nggak masuk aja?" tanya Amel.
"Gue cuma lewat, mau ke perpus," jawabku.
Aku segera pergi dari sana. Mengambil langkah seribu. Namun, sayup-sayup aku masih mendengar percakapan dua orang di belakangku itu.
"Dia siapa, Mel?"
"Temen gue pas SMP."
"Dia yang mau lo ajak gabung?"
Setelahnya, aku tidak mendengar percakapan mereka. Aku juga tidak paham ke mana arah pembicaraan dua orang itu.
Buku yang kupinjam sudah dikembalikan dan aku berniat ke kantin untuk bertemu dengan temanku tadi. Kami sudah janjian untuk bertemu di kantin. Namun saat keluar dari perpustakaan, aku dikejutkan oleh tiga orang yang berdiri di depan pintu. Salah satu di antara mereka adalah Amel. Aku menyapa Amel sebagai bentuk basa-basi.
"Vit, tunggu." Amel menahan langkahku.
Aku berhenti dan berbalik, lalu menatap Amel dengan tatapan bertanya.
"Lo bisa ajarin Jimy main gitar?" tanya Amel.
"Maaf, tapi gue udah nggak main gitar."
Aku benar-benar pergi dari sana tanpa mempedulikan panggilan Amel. Aku sudah tidak memiliki mood untuk ke kantin, jadi kuputuskan untuk kembali ke kelas. Lagipula sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
🎶🎶🎶
Lagi-lagi telingaku merasa terganggu dengan suara sumbang petikan gitar dari seorang anak yang berada di ruang musik. Tiap aku pergi ke perpustakaan, telingaku harus tercemar dengan permainan gitarnya. Ya, kini untuk mengisi waktu luangku, aku memilih untuk menghabiskan waktu dengan membaca.
"Astaga, cara mainnya bener-bener jelek," ceplosku tanpa sadar.
Aku segera menutup mulut yang tidak bisa di rem ini. Aku khawatir jika perkataanku tadi terdengar oleh anak itu, ternyata benar. Anak itu berhenti bermain dan membalikkan tubuhnya.
Aku membeku di tempat, ingin kabur tetapi rasanya ada yang menahan kakiku. Anak itu menatapku, berjalan ke arahku dengan gitarnya.
"Tunjukin gue gimana cara mainnya," ucapnya mengulurkan gitar itu kepadaku.
"Gue ...."
"Jangan sok komentar kalo lo sendiri juga nggak bisa main," potongnya.
Mendengar ucapannya itu membuatku kesal, kurebut gitar itu dari tangannya.
Aku masih nenatapnya dengan tatapan kesal, lalu kumainkan sebuah lagu untuknya. Biar kutunjukkan bagaimana cara bermain gitar dengan benar. Aku memetik gitar sembari berjalan masuk ke ruang musik.
Lima hari sudah kurindu
Tak bisa ku menghubungimu
Kau sedang dengan dirinya
Sedang kita rahasia
Kapankah kau ada waktu
Sembunyi untuk bertemu?
Tanpa sadar aku juga bersenandung dengan tangan masih memetik senar gitar itu. Hanya sebentar saja, karena aku segera tersadar. Suara tepuk tangan mengagetkanku. Aku menoleh ke sumber suara, di sana ada Amel dan temannya.
"Vita keren," puji Amel dengan tatapan kagum.
"Nih gitar lo," kataku mengembalikan gitar itu.
"Lo mau ajari gue main gitar?"
Aku terdiam melihat anak itu menatapku dengan pandangan penuh harap yang membuatku tanpa sadar mengangguk. Ada suara heboh setelahnya.
"Kalo gini kita bisa buat grup dan ikut lomba itu," ucap Amel.
Entah bagaimana jadinya, kini aku kembali ke dunia yang sempat kutinggalkan itu. Kembali bermusik dan menyanyikan lagu-lagu kesukaanku dulu. Aku, Amel, Jimy, dan Reon membuat grup pada akhirnya. Grup musik dengan aku sebagai vokalis. Ternyata Amel jago memainkan keyboard, aku baru tahu setelah melihatnya bermain.
Kami memutuskan untuk mengikuti lomba. Tiap hari kami berlatih di ruang musik atau terkadang nenyewa studio musik. Ada kalanya juga kami berlatih di rumahku. Di rumah aku memiliki studio musik yang sengaja di bangun Ayah untukku berlatih.
🎶🎶🎶
Hari yang sudah dinantikan pun tiba. Kami sudah berada di sebuah Mall tempat diselenggarakannya lomba itu. Banyak peserta yang mengikuti. Aku menatap semua peserta itu, sudah sangat lama aku tidak merasakan perasaan gugup hendak tampil.
Kini waktunya tampil, kami naik ke atas panggung. Kutatap semua penonton di bawah panggung, termasuk para juri. Aku menatap teman-temanku dan memberi mereka kode untuk memiankan intro lagu. Suara riuh tepuk tangan menggema ketika intro itu dimainkan.
I can't throw away the pieces that you gave
Betrayed in a way
Of a knife stuck on my back
How could you do this, we've been through this for a while
Once a cure
Now's a scar
Hold me not
Give me back my mind
My thoughts that you've taken
Starve me to care
Could the night help me shut you out?
You gave me a lesson
Not to go and dive
But i already dive
I will try to latch myself out of your space
Far away
Untill the distance passed its line
Its a new journey, my heart has had enough of pain
Once a fool
Now i'm awake
Hold me not
Give me back my mind
My thoughts that you've taken
Starve me to care
Could the night help me shut you out?
You gave me a lesson
Not to go and dive
Not to go and dive
Not to go and dive
Not to go and dive
Not to go and dive
But i already dive
But i already dive
You between the dawn and blackest sky
Could the night help me shut you out?
A lesson
Not to go and dive
But i already dive
But i already dive
Lagu Sweet Cars oleh Weird Genius yang kami mainkan saat ini. Suara tepuk tangan sangat meriah ketika penampilan kami sudah selesai. Kulihat di bawah sana ada Bunda yang ternyata juga menonton penampilan kami.
Ada senyum puas dari wajah kami. Kami segera turun dari panggung untuk menunggu hasil lomba hari ini.
"Good job, kalian," ucap Amel heboh. "Ayo, biar semangat kita teriakkan jargon."
"Avior!"
"We are a star!" Teriak kami semua dengan semangat.
🎶🎶🎶