Hari ini, aku berkencan dengan pria yang kutemui di kantor. Dia adalah salah satu arsitek yang mengerjakan proyek pembangunan mall baru di salah satu pusat kota. Karena aku memegang design interior, kami pun sering berdiskusi.
Kami sudah berkencan beberapa kali. Memanggil nama kecil sudah familiar dan tidak lagi canggung. Setelah bekerja pun dia sering mengantarku pulang sampai apartemen. Kami juga sering makan bersama dan sudah mengenal keluarga masing-masing.
Hanya saja, ada yang berbeda di kencan kali ini. Adik laki-laki dan kakak perempuanku ikut serta bersama kami. Aku tidak tau apa motif mereka mengikuti kencan kami, tapi aku mencoba mengabaikannya dan fokus pada kencan hari ini saja.
"Nay, beli baju sana. Kenapa kamu malah pakai baju sederhana gitu buat kencan?" bisik Kakak perempuanku saat kami berjalan berdampingan.
Mendengar hal itu, aku refleks melihat penampilan ku di kaca salah satu toko yang kami lewati. Aku pikir ini pakaian yang nyaman, lalu apa masalahnya?
Aku melirik ke belakang dan disambut senyuman hangat dari pria yang berjalan bersama adik laki-laki ku.
Kemudian aku menatap kakak perempuanku lagi, "Emangnya kenapa? Aku juga pakai kemeja setiap kencan, Octa juga engga bilang apa-apa kok."
Aku merasakan sakit yang menyengat di bahuku saat kakak mencubitnya. "Ah! Sakit!" Tatapan kesal segera ku lempar padanya, cubitannya selalu menggunakan kuku-kuku jari. Aku sangat membencinya.
Bahkan mengusap bekas cubitan saja tidak cukup untuk menghilangkan rasa sakitnya.
"Dibilangin malah balik ngomong," mata kakak melirik seseorang di belakangku. "Octa, filmnya masih lama, kan?"
Sepertinya Octa ingin bertanya keadaanku, tapi ia segera membalas ucapan kakak. "Iya, Kak. Saya sengaja biar bisa makan siang--"
"--Nah, kakak sama Naya pergi beli baju dulu. Titip Leo, ya Octa. Kalian pergi duluan aja."
Tanpa menanyakan pendapatku ataupun Octa terlebih dahulu, kakak langsung menarik tanganku menjauhi mereka.
Aku menatap Octa dengan tatapan pasrah, sedangkan pria itu tersenyum lembut seraya mengangkat kepalan tangannya. Seolah memberikan semangat padaku.
Ah, firasat ku buruk karena hal ini.
Benar saja, aku kelelahan setelah mencari baju di berbagai toko. Ada baju yang kusukai, tetapi ukurannya terlalu besar. Ada baju yang tidak kusukai, tetapi kakak memaksaku untuk membelinya. Setelah hal-hal itu berulang beberapa kali, akhirnya aku mendapat satu baju yang kusukai dan ukurannya cocok denganku.
Memakai baju terusan selutut berwarna zaitun, aku mendekati Octa yang sudah duduk di salah satu meja restoran.
"Eum... Octa," ini pertama kalinya aku memakai baju dengan nuansa yang berbeda. Aku menyukainya karena kupikir warnanya hampir mirip dengan mata Octa.
Pria yang semula menatap buku menu kini mendongak menatapku, ia terdiam melihatku seolah terkejut.
Pipiku terasa memanas karena dia terdiam cukup lama. "Apa... bajunya bagus?"
Berkedip sekali, senyuman Octa mekar di wajahnya. Aku pikir itu hanya ilusi saat aku melihat warna pink di pipinya.
"Bajunya cantik karena dipakai kamu."
Pipiku semakin memanas mendengar pujiannya, "M-makasih."
Pria itu berdiri dan menarik salah satu kursi, ia menatapku seolah mempersilahkan aku duduk. Namun sebelum aku bergerak, kakak lebih dahulu mencegat dengan kata-kata.
"Langsung nonton film aja, engga usah makan. Leo bentar lagi mau les, udah sore soalnya."
Aku langsung menatap adikku, Leo. "Beneran? Seinget kakak hari ini kamu libur."
Aku masih ingat perkataan guru les Leo saat menelfon ku tadi pagi, beliau mengabarkan bahwa dia tidak bisa hadir hari ini karena ada urusan yang mendadak. Oleh karena itu, les hari ini ditiadakan.
Leo mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya, kemudian menatap kedua kakaknya bergantian.
"Kak Naya sok tau, hari ini aku masih ada les kok." Tentu saja kakakku lebih dipilih daripada aku.
Aku menghela napas panjang untuk menekan emosiku. Tidak, aku tidak boleh marah di tempat umum.
"Udah, buruan pergi. Malah ngobrol, masih belum mulai kan filmnya?" tanya kakak begitu saja pada Octa, seolah hal-hal menjengkelkan tadi berlalu begitu saja.
Aku membuang muka, tidak ingin melihat kedua saudaraku saat pikiranku sedang berusaha menekan emosi. Bahkan jawaban tidak pasti dari Octa lewat begitu saja dari pendengaranku.
"Kita liat dulu, kak."
Aku sudah kesal sehingga tidak memperhatikan bahwa salah satu staf yang berjaga di depan pintu bioskop mengatakan bahwa filmnya sudah berakhir.
Sepertinya terjadi sedikit cek-cok dengan kakak, tapi aku tidak peduli dan tenggelam dalam pikiranku.
Aku terkejut saat aroma makanan memasuki indra penciuman ku. "Apa... ini?"
Octa yang duduk di hadapanku tersenyum seraya mengusap kepalaku merasa gemas. "Makan dulu yuk. Kamu belum makan siang."
Aku yang masih belum memahami situasi pun mengedarkan pandangan ke sekitar. "Dimana kakak dan adikku?"
Seraya mencomot daging ikan dengan sumpit dan menaruhnya di atas mangkuk nasi milikku, Octa berkata dengan santai. "Supir aku nganterin mereka pulang dulu," matanya melirik daging ikan yang baru saja ia berikan, "enak loh ikannya, cobain deh."
Aku menunduk menatap mangkuk, lalu teringat sesuatu. "Filmnya? Kita engga jadi nonton?"
"Iyaa, udah selesai kata stafnya. Nanti lain waktu aja ya kita nontonnya."
"Tapi... kamu udah nungguin lama buat nonton film itu."
Aku menunduk merasa menyesal, kalau saja aku lebih berani menolak ajakan kakakku.
Usapan lembut terasa di tanganku yang mengepal, dengan hati-hati jari-jari lentik itu membuka kepalan tanganku kemudian menautkannya. Aku mendongak menatap mata hijau yang menatapku teduh.
"Engga papa Naya, aku seneng ngeliat kamu seneng jingkrak-jingkrak milih baju kesana-kemari."
Mataku melotot, merasa malu karena tingkah konyol ku saat memilih baju diketahui oleh Octa. "A-aku engga jingkrak-jingkrak kok."
Mendengar ucapanku, pria itu terkekeh pelan. "Kamu gemesin banget deh, calon istrinya siapa sih?"
Pipiku memanas saat mendengar ungkapan 'calon istri'.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku pun mulai memakan makananku dengan lahap.
**********
Hari ini, seminggu sebelum pernikahan kami tiba, aku dan Octa memutuskan pergi kencan dengan menyandang gelar pacar untuk terakhir kalinya.
Kakakku sangat menentang aku pergi. Aku meminta penjelasannya, tetapi kakak hanya memberikan kata-kata tidak jelas. Aku sudah muak dengannya. Oleh karena itu, untuk pertama kalinya, aku menentang kakak. Kami bertengkar hebat, aku dikunci di kamar. Namun menggunakan jendela aku bisa pergi keluar diam-diam.
Kakakku selalu menentang keinginanku. Bahkan keputusanku untuk menikah akan ditolak jika saja orang tuaku tidak mengizinkan.
Mungkin emosiku yang sudah terpendam telah tumpah sehingga aku memiliki keberanian untuk bertengkar dengan kakak.
Aku menyender pada tiang lampu jalan seraya menatap jalanan yang mulai sepi. Mungkin karena hari masih pagi, hanya terlihat orang-orang yang berolahraga.
Aku kangen Octa.
Aku menerima pesan dari Octa yang menyatakan dia akan sampai sebentar lagi.
Merapikan pakaianku, aku menatap ujung jalan dengan penuh harapan.
Aku memakai baju favoritku. Baju ini adalah salah satu baju yang tidak jadi kubeli di mall beberapa bulan yang lalu. Ternyata Octa terus mengamati ku saat berbelanja dan meminta pegawai toko untuk merombak ukuran semua baju-baju yang tidak jadi kubeli namun aku menyukai baju tersebut.
Pipiku memanas saat teringat betapa manisnya Octa. Aku berharap sikap manisnya akan tetap bertahan saat kami menikah nanti.
'Bugh!!!'
Tanpa sempat bereaksi, pandanganku tiba-tiba menggelap.
Apa yang sedang terjadi?
Sebelum kegelapan pekat menarik kesadaranku, aku melihat tongkat baseball dengan percikan darah terjatuh di sampingku.
**********
Pikiranku kosong.
Semuanya berlalu begitu cepat.
Jepretan kamera.
Para reporter yang mengarahkan micnya seolah menodongkan pistol.
Para polisi yang berjaga.
Cacian. Makian. Hinaan. Tatapan jijik.
Lemparan batu. Darah mengalir di dahiku.
Aku tidak mengerti.
Aku memohon. Menangis. Berlutut. Menginjak-injak harga diriku serendah mungkin.
Aku melakukan semuanya.
Semua orang menuduhku pembunuh berdarah dingin. Psikopat. Gila.
Aku tidak gila.
Aku tidak gila.
Aku tidak segila itu untuk membunuh keluargaku sendiri.
Aku tidak segila itu untuk membunuh calon keluargaku sendiri.
Aku... tidak segila itu untuk membunuh belahan jiwaku sendiri.
Namun, semua orang tidak percaya padaku.
Semua orang menujukkan jarinya padaku.
Semua orang menyalahkanku.
Aku tidak begitu...
Ku mohon, keluarkan aku dari penjara yang menyesakkan ini...
Ah, benar juga.
Aku tidak memiliki siapapun di luar sana.
Aku sendirian.
Bahkan belahan jiwaku telah pergi mendahuluiku.
Aku menyesal.
Aku tidak pernah mengatakan aku mencintainya.
Aku menyesal tidak menjawab bahwa aku juga mencintainya.
Baiklah, tidak apa-apa.
Hari ini, aku akan dieksekusi mati. Karena kejahatan ku yang telah merencanakan untuk membunuh orang-orang yang kucintai dengan kejam dan tanpa ampun.
Tidak apa-apa.
Aku yakin, hanya Octa yang percaya bahwa aku tidak membunuh siapapun.
Ya, ini kabar baik.
Aku akan segera bertemu dengannya lagi.
Hari-hari di penjara yang menyakitkan akan pergi dari diriku.
Ya, tidak apa-apa.
***
"--ya"
"Naya."
Sentuhan di bahuku membuatku membuka mata. Aroma laut yang terasa jelas. Hembusan angin dengan lembut membelai rambut hitamku.
Dan, senyuman hangat serta tatapan teduh yang terlihat jelas di depan wajahku.
"Naya, masuk yuk. Nanti kamu masuk angin kalau di luar terus."
Suara itu, suara lembut dan menenangkan itu.
Mataku terasa panas. Air mata jatuh begitu saja tanpa bisa dibendung lagi. "O...octa?"
Suaraku bergetar menyebut nama yang sudah lama tidak keluar dari bibirku.
"Ya ampun, Naya. Kenapa kamu nangis?"
Pelukan hangat segera melingkari tubuhku. Ragu-ragu, aku menyentuh punggungnya. Rasa takut bahwa ini hanyalah khayalan sebelum ajal menjemput terlintas di pikiranku.
"Octa?"
"Iya, Naya?"
"Octa?"
"Iya, istriku."
"Octa, apa aku sudah mati?"
"Sayang..."
"Apa ini di surga?"
"Naya, cintaku."
Pria itu melepas pelukan dan menatap wajahku yang sudah berantakan karena air mata. Sentuhan lembutnya menyeka air mata dan menyelipkan rambutku membuatku tersadar bahwa pria di hadapanku benar-benar nyata.
"Aku mencintaimu, Naya."
Aku tersentak, suara lembutnya mengalir masuk ke telingaku.
Octa... dia masih hidup. Aku dapat merasakan detak jantungnya berdebar di telapak tanganku.
Pandanganku mendongak menatapnya, "Aku juga mencintaimu, Octa."
Tangisanku pecah dan semakin menjadi. Aku tidak mengingat apa yang terjadi saat aku menangis di pelukannya. Hal yang kuingat hanyalah, Octa ku ada di dunia ini dan berada di pelukanku sampai akhir hayat tiba.
**********
"Terimakasih Naya, terimakasih sudah bertahan menggantikanku di penjara. Kini, hanya ada kita berdua di dunia ini. Kamu milikku seutuhnya. Dan aku milikmu seutuhnya. Aku tidak menyesal telah menyingkirkan hal-hal yang mengganggu itu dari kehidupan kita."
"Aku mencintaimu."