Hana melihat sangkar burung yang antik di rumah neneknya.
"Sangkar itu jangan disentuh. Barang siapa yang menyentuhnya, ia akan pindah ke dunia lain." Nenek Hana mengingatkan Hana.
Tapi Hana penasaran. Sejak kecil ia selalu dilarang untuk menyentuhnya. Semakin dilarang, bukankah kita akan semakin ingin menyentuhnya.
Hana menyentuh sangkar itu.
Tidak terjadi apa-apa.
Nenek boongin aku selama ini.
Saat Hana melihat sekitarnya, ia tahu neneknya tidak berbohong. Ia berada di tempat lain. Tempat yang menurutnya sangat indah.
Apa ini yang dimakan surga?
"Apa artinya aku sudah mati?" Hana melihat tubuhnya.
"Tidak. Kau belum mati." Suara seorang pria mengagetkan Hana.
"Aku sekarang di mana?"
"Kau berada di ... aku tidak boleh menyebut nama tempat ini. Nikmati saja selama kau berada di sini."
"Kalau aku ingin pulang bagaimana?"
"Tinggal bilang saja kau ingin pulang. Tetapi saat kau sudah pergi dari sini, kau tidak akan bisa kembali lagi."
Hana berusaha menikmati tempat itu. Tapi lama kelamaan ia bosan. Ia merindukan ibu dan ayahnya, juga neneknya.
"Terima kasih untuk mimpi indah ini. Aku ingin pulang sekarang."
Hana lalu kembali kembali ke tempat asalnya.