Siapa sangka orang yang sering ditindas karena dikira lemah ternyata adalah seseorang yang sedang dalam tahap pemulihan untuk menghindari dirinya berbuat hal-hal yang gila.
Di sekolah sebelumnya, Loza terkenal menjadi anak yang nakal dan kejam. Ia selalu menyayat kulit temannya tanpa alasan. Bahkan Loza pernah mendorong temannya ke rel kereta api saat kereta akan lewat.
Jika ditanya mengapa, dia akan menjawab bahwa dia tidak sadar saat melakukan itu.
Dan sekarang di sekolahnya yang baru, Loza mencoba untuk merubah dirinya agar menjadi anak yang baik. Dia selalu diam saja saat temannya menindasnya.
Tidak, sebenarnya tidak semudah itu dia menahan hawa nafsu yang membuatnya ingin membunuh temannya.
Seringkali setiap habis ditindas, dia akan pulang dan membunuh, dengan mencabik-cabik hewan yang ditemuinya dijalan, menuntaskan rasa kesalnya karena teman-temannya.
Dia selalu melewati jalan yang sama, jalan yang sepi.
Suatu hari dia keluar dari toilet sekolah, hendak kembali ke kelas. Tapi dia dihadang oleh beberapa anak yang memandangnya dengan tatapan seperti seekor serigala yang kelaparan.
Loza mendongak, menatap mereka satu persatu.
"Apa yang kau lihat, anak aneh?" ucap salah satu dari mereka, yang bernama Rayan.
Lantas, rambut Loza ditarik dan diseret ke gudang sekolah. Mereka memukulinya menggunakan segala peralatan yang ada didalamnya.
"Jangan pasrah, cobalah untuk melawan. Aishh kau sangat tidak asik!" sinis Rayan.
Wajah Loza terdapat lebam dimana-mana, darah pun keluar dari mulutnya saking kerasnya pukulan yang ia terima.
Dan selalu di akhir permainan itu, Loza diikat tangan dan kakinya. Kemudian menimbunnya dengan tumpukan barang yang ada di gudang sekolah tersebut.
Sampai-sampai lemari pun mereka robohkan untuk menindihnya.
"Ha-ha-ha," tawa mereka terdengar semakin lirih, seiring Loza mendengarkan. Tanda mereka sudah meninggalkan tempat itu.
Loza segera merogoh sakunya dengan susah payah untuk mengeluarkan sebuah cutter. Ia gunakan untuk memotong ikatan pada tangan dan kakinya.
Lalu, Loza mencoba mencari celah untuknya agar bisa keluar dari timbunan barang-barang itu. Tak lama kemudian dia keluar dari gudang dengan langkah yang tergopoh-gopoh.
Dia segera pergi dari sekolah, pulang kerumahnya. Dan lagi-lagi melewati jalan yang sepi itu.
Dilihatnya sekeliling, tak ada hewan liar yang lewat kala itu. Dia sudah mencarinya kesana kemari tak kunjung menemukan hewan apapun.
Dia panik, stress, dan kesal.
"AH SIAL!" Desisnya.
Sembari masih mengedarkan pandangan, dia menangkap sosok yang dia kenal. Loza tersenyum miring, lalu menghampirinya dari belakang.
"Surprise!!" orang yang dihampirinya menoleh dengan terkejut. Dia adalah Rayan.
Dengan cepat Loza menusukkan cutter nya tepat ke arah jantung Rayan. Lalu menggeseknya ke bawah ke arah perut sehingga luka nya semakin lebar dan memanjang.
"AHHH!!" Teriak Rayan spontan, matanya melotot menahan rasa sakit nya. Dia mulai jatuh berlutut sembari memegang tangan Loza yang masih menancapkan cutter nya.
Tak selesai sampai disitu, Loza menginjak-injak wajah Rayan, menendangnya, menyayat nya, hingga hancur, bahkan sudah tidak bisa dikenali.
Setelah puas menyiksa tubuh Rayan yang tanpa nyawa itu, dia menguburnya didasar sungai terdekat.
"Rasa sakit yang kau berikan untukku, aku kembalikan dua kali lipat untukmu."
Dan kini dendamnya sudah terbalaskan, dan lagi-lagi tahap pemulihannya pun gagal. Dia tidak bisa menjadi manusia pada umumnya.
"Selamat Jalan, Rayan."
TAMAT!!
Serem gasii??
anyway..mampir ke cerita ku yg lain juga yukk