Terkadang bukan orang yang berubah, melainkan topeng yang terjatuh.
...
"Telah terjadi penculikan di daerah X, dengan korban seorang remaja laki-laki berusia 18 tahun. Menurut laporan, remaja tersebut sudah dua hari tidak kembali.. "
"Hey Marr, lihatlah beritanya sudah menyebar.. " Teriak seorang wanita berambut pirang, yang kini duduk mengangkang di sofa sambil menghisap rokok.
"Oh, baguslah.." Ucap wanita yang dipanggil Mar, atau Margaretha tepatnya. Ia tersenyum tipis, dan itu sangat cantik.
Matanya berbinar menatap televisi yang sedang menyiarkan berita penculikan, dengan foto korban yang juga dipajang disana.
"Clara kemarilah, pegang tangannya. Kau ini kenapa malah menonton tv dan enak merokok sih." Satu lagi wanita berambut coklat pendek, dengan style Bob mengeluh.
"Oh apakah akan sekarang? Ini baru dua hari, biasanya tunggu sampai tujuh hari bukan?" Tanya Clara.
"Aku sudah bosan, cepat bantu Tiffany. Aku akan cari benangnya." Jawab Margaretha.
Tunggu sebenarnya apa yang mereka bahas dan yang akan mereka lakukan?
"Dapat." Seru Margaretha setelah beberapa saat mengobrak-abrik laci kecil di sudut ruangan.
"Tunggu siapkan kamera juga.." Sahut Tiffany. "Aish bocah ini sudah sekarat masih juga memberontak, tidak tau diri sekali." Sungut Tiffany.
"Aku.. ampuni aku.." Rintihan parau dari seorang remaja laki-laki, yang kini kedua tangan dan kakinya sudah terikat tambang.
Ya, remaja laki-laki itu adalah korban penculikan yang sedang di siarkan di televisi saat ini. Ia di culik, ketika pulang sekolah.
Dan kini kondisinya sudah sangat mengenaskan, wajahnya terlihat bengkak dengan beberapa goresan luka, juga beberapa gigi yang patah, akibat pukulan yang keras. Juga bagian kelaminnya yang terluka parah, setelah diperkosa habis-habisan oleh ketiga wanita itu. Dan lagi sekarang masih dalam keadaan telanjang.
Crek..
Tiffany memotret wajah bengkak remaja itu, kemudian tersenyum puas.
"Eyy, kau mengikat kakinya kurang lebar." Keluh Margaretha. "Ah, sudahlah.."
"Ah kau ingin melakukan itu?" Tanya Clara sedikit terkejut.
"Hmm kondisi ku sekarang cukup bagus, mood ku juga sedang bagus." Jawab Margaretha.
"Aha, akan ku ambilkan tongkatnya." Seru Tiffany.
Tiffany ini memiliki hobi yang cukup ekstrem, ia suka memfoto orang dalam kondisi telanjang dan terluka parah.
Sedangkan Margaretha, ia lebih suka menyiksa orang hingga membunuhnya lalu mengambil beberapa bagian tubuhnya untuk koleksi, seperti bola mata atau rambut.
Dan untuk Clara, dia ini agak lain. Setelah membunuh korbannya, dia akan memotong dan membersihkan dagingnya. Kemudian pergi ke dapur untuk memasak. Ya memasak daging korbannya tersebut.
Mengerikan sekali.. Tiga orang monster dalam satu aliansi.
"Mar, ini.. " Seru Tiffany, "Tapi tunggu dulu, aku ingin merekamkannya, ini akan seru"
Klik..
"Oke mulai.." Seru Tiffany.
Margaretha mendekati meja yang dilapisi plastik super besar itu, yang diatasnya tentu saja remaja malang yang mereka culik.
"Ampuni aku.. kakak.." Rintih remaja itu, tubuhnya sudah bergetar ketakutan. Rasa takutnya seakan sudah mengalahkan rasa sakitnya, ia mencoba bergerak.
"Ckck.. hm.." Margaretha membelai paha dalam remaja itu, kemudian naik ke atas meja, duduk diantara dua kaki remaja itu yang dibuat mengangkang.
"Akhhhhh..." Teriakan nyaring terdengar membelah ruangan suram itu, ketika Margaretha menusukan sebuah tongkat besi, yang seukuran jari orang dewasa ke dalam anus remaja itu.
Ini adalah teknik pembunuhan kejam yang pernah dipakai orang dulu, namanya penyulaan. Menusukan tongkat kedalam anus hingga mati.
"Hahaha..." Tiffany tertawa gembira, sambil terus memotret korbannya.
"Ah ini benar-benar.." Gumam Clara.
Remaja laki-laki itu berteriak hingga suaranya hilang, mulutnya menganga dengan kepala yang mendongak ke atas. Perlahan mata sayu nya bergulir, manatap ketiga wanita yang menculik dan menganiaya nya.
Bibirnya bergerak perlahan, meski tak bersuara tapi ketiga wanita itu faham maksudnya.
"Apa salahku?.."
Margaretha hanya diam melihat hal itu.
"Kamarikan benangnya.." Pinta Margaretha.
Clara memberikan seutas benang itu, sekilas benang itu seperti tali biasa. Tapi ini agak lain, benang ini sangat kuat, mampu untuk sekadar memutuskan leher manusia.
"Oke pegang tangannya.." Seru Margaretha. Tangannya dengan lihai melilitkan benang itu ke leher remaja tersebut.
Sedang remaja laki-laki itu hanya tergolek pasrah, setelah Margaretha menusuk anusnya dengan sebatang besi tadi, ia sudah sangat yakin. Ia dirinya tak mungkin bisa pulang dalam keadaan hidup.
Perlahan air mata remaja laki-laki itu menetes, ia benar-benar takut juga sakit.
"Namamu, Marchel bukan?" Tanya Margaretha.
Sedangkan Marchel yang merasa namanya dipanggil, hanya mengangguk lemas.
"Kamu tidak punya salah apa-apa padaku." Kata Margaretha. "Tapi orang-orang dewasa yang sejenis dengan mu yang membuatku seperti ini.."
Tepat ketika bibir Marchel berhenti bergerak, seperti membisikan kata. Margaretha menarik benang itu dengan kuat, Marchel bergerak brutal, tubuhnya mengejang. Hingga darah terciprat ke wajah Margaretha, baru tubuh itu berhenti. Diam tak bernyawa, dengan luka yang menganga lebar hingga membuat lehernya nyaris putus.
"Jangan minta maaf padaku bocah, aku akan senang ketika kamu justru marah dan memaki ku." Ucap Margaretha, memandang tubuh kaku yang mengenaskan milik Marchel.
"Uhh ini adalah korban terimut ku.." Gumam Tiffany. "Dia sangat lucu.."
"Clara, tugas akhir milik mu.." Ucap Margaretha. Berlalu dari sana, mengambil kotak rokok di depan televisi dan menyulutnya.
"Kau ingin bagian mana Mar?" Tanya Clara.
"Ku rasa bola matanya cukup indah. Aku ingin itu." Jawab Margaretha.
"Akan aku abadikan momen kau memotong dan memasak bocah imut dan lucu ini.." Seru Tiffany.
"Oh, kirimkan paket special untuk keluarganya." Seru Margaretha.
Clara hanya mengangguk, tangannya sibuk memotong dan menguliti tubuh Marchel.
...
Dua hari kemudian, di sore hari yang cukup mendung. Sebuah keluarga mendapat kiriman paket, tak ada nama pengirim.
Saat paket di buka, kengerian langsung menerjang keluar. Sebuah jantung manusia yang berlumuran darah dengan secarik kertas terselip disana.
'Ini jantung putra mu, Marchel. Terima kasih kami sangat menikmati waktu bersama putra mu.
Love from Three Psyche'
"Akh.. " Sang nyonya, atau ibu Marchel syok hingga meninggal akibat serangan jantung.
Beberapa bulan setelah itu Ayah Marchel pun meninggal, pada saat di kejar dan di keroyok segerombolan gengster, akibat berhutang untuk mabuk-mabukan dan berjudi.
Sedang sang kakak ia tewas bunuh diri, dengan menjatuhkan dirinya dari jembatan tepat ketika kereta api sedang melaju.
...
"Itulah tragedy mengerikan yang pernah terjadi delapan tahun lalu." Margaretha sedang menceritakan sebuah kisah dengan seorang anak laki-laki dipangkuannya sore itu.
"Wah ibu hebat.. " Pekik si anak.
Ya setelah delapan tahun tragedy memilukan itu, Margaretha mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dari Marchel.
Kisah itu kini ia ceritakan pada putranya itu.
...
End