“xin jangan tidur?”
“ayah aku sudah tidak kuat lagi? Biarkan aku tidur sebentar!”
akhirnya aku pun terlelap di samping ayah ku sekitar 1 jam kemudian ayah pun membangunkan ku “wah tumben yah truk Cuma 1 biasanya rombongan?” Tanya ku heran.
"itu tidak penting. Ayo kita kesana dan ambil mobilnya!" ajak ayah penuh semangat "oke" jawabku singkat. Aku dan ayah langsung berlari menuju badan jalan.
"Wiu Wiu Toot toot!"
Tidak lama berselang, tiba tiba mobil polisi berdatangan. Kali ini jumlahnya tidak hanya satu tetapi ada lima atau lebih, sontak membuat ayah dan anak buahnya terkejut begitu pun denganku.
"xin gunakan ini" ayahku memberiku pistol, aku langsung memasukan tongkat bisbolku kedalam tas lalu aku bantu ayah dan anak buahnya berperang melawan polisi.
"Dorr Dor Dorr"
Satu persatu polisi mulai tergeletak di jalanan begitu pun dengan anak buah ayah, mereka sudah banyak yang tergeletak di jalan. Peluru kami maupun peluru polisi juga sudah tinggal beberapa biji.
Ayah sedang bertarung dengan polisi itu, ayah tidak bisa focus dalam dua hal sehingga saat ayah sedang bertarung ada salah satu polisi yang ingin membidiknya dan ayah tidak menyadarinya.
"Dorrr!" suara tembakan itu mengkagetkan semua orang yang ada di situ, aku menembak polisi yang ingin menembak ayah.
Ayah menoleh kearahku "xinran menghindar!"
"Dorrr!!" suara tembakan itu terdengar sangat jelas di telingaku, aku tidak sadar sejak kapan ayah mulai memeluk ku.
"hampir saja aku kehilangan putri kesayanganku!" aku terperanjat saat itu baru menyadari bahwa ayah tertembak "ayah, ayah!" air mataku mengalir saat itu juga, lalu ayah mendorong tubuhku sehingga aku lepas dari pelukannya.
"xinran lari"
"tapi bagaimana dengan ayah?"
"jangan hiruakan ayah, lari lah dan jangan pernah melihat ke belakang!"
"Dor!"
"Aaaahh. ." leherku terserempet oleh peluru yang di lesatkan oleh pistol polisi "apa yang kau tunggu, cepat lari xinran!" Saat ini tidak ada yang aku pikirkan kecuali berlari meninggalkan ayah.
"Huh Huh Huh" aku sudah tidak tahu berapa lama aku berlari. Hingga pada akhirnya aku merasakan kakiku mulai lemas, di tambah rasa perih yang ada di leherku dan darah yang tidak berhenti mengalir aku berusaha berjalan sekuat tenaga tetapi sayang aku tidak memiliki tujuan kemana aku harus pergi.
sampai aku merasakan tubuhku mulai sempoyongan dan terjatuh. "ayah" itulah kata terakhir yang aku ucapkan sebelum aku pingsan.
“Ayaaah!!” seketika itu aku langsung terbangun dari tidurku, napasku terengah engah, keringatku juga bercucuran. Aku pandangi sekitarku, ternyata aku sedang di kamar sesorang “kamar siapa ini?” tanyaku dalam hati.
Tidak lama kemudian aku mendengar suara pintu kamar di buka seseorang sehingga Aku pun langsung pura pura tertidur. “tap tap tap” Jantungku serasa mau copot ketika aku dengar suara langkah kaki seseorang yang menuju kearah ku.
“Aku tahu kau sudah bangun, aku bisa mendengar teriakanmu tadi dari luar!” mendengar yang kalimat yang di ucapkan oleh seorang itu aku pun langsung membuka mataku.
“Siapa kau?”
Tanya ku pada sosok perempuan yang berdiri di sampingku “Namaku laura zhao, aku dan ibuku menemukanmu pingsan di pinggir jalan dekat dengan rumahku jadi aku dan ibu membawamu kerumah kami?” Aku menatap wajah zhao lalu dia pun berbalik menatapku.
“Namaku xinran zang!” Aku tidak mengerti apa maksud dari senyuman zhao, tetapi yang aku tangkap dari wajahnya adalah raut wajah yang gembira. “oh jadi namamu xin, umur mu berapa?” Tanya zhao penuh semangat.
“17 tahun!”
“wah berarti tuaan kakak, aku baru berumur 16 tahun” sahut zhao memberitahu ku. Dan perkenalan singkat itu lah aku pun akhirnya aku menjadi anggota keluarga zhao.
Namun na as seperti halnya aku yang bernasib malang karena anak seorang begal zhao pun juga begitu karena ternyata zhao ternyata adalah seorang pelacur seperti ibunya.
Setelah 1 bulan berlalu kini aku sudah pindah sekolah dan setiap pulang sekolah aku dan zhao menunggu ibu datang namun mala mini sepertinya ibu tidak pulang karena aku yang sudah menunggunya hingga pukul 00:00 dini hari tidak ada suara ketukan pintu sehingga aku ikut tertidur di samping zhao.
Pagi pun tiba “Tok Tok Tok!” aku dan gahyeon terperanjat mendengar suara orang mengetuk pintu “ibu pulang” aku mengatakan itu sambil berlari menuju pintu di susul oleh zhao. Selesai membuka kunci aku langsung memegang gagang pintu dan membukanya.
“Ibu” suaraku tiba tiba hilang saat aku dapati keadaan wajah ibu penuh luka “Buggg!” suara tubuh ibu terjatuh di pelukanku “zhao tolong bantu angkat ibu!” zhao dan aku langsung mengangkat tubuh ibu ke kamarnya.
“tolong jaga ibu kak, aku mau panggil dokter” zhao langsung pergi, sama halnya dengan ku aku langsung berlari ke kamarku untuk mengambil kotak P3K lalu kembali lagi kekamar ibu.
“Huh Huh Huh!” suara napasku seperti di kejar anjing setelah berlari terus, aku langsung membuka kotak P3K aku ambil kapas lalu mengelap darah yang ada diwajah ibu mulai dari kening hingga bagian bibir ibu.
selesai itu aku membuka satu persatu kancing baju ibu aku menangis saat aku tahu bagian dada dan perut ibu penuh luka akibat puntung rokok yang sengaja di jatuhkan di bagian tubuh itu.
Tetesan air mataku tidak bisa aku bendung di pelupuk mataku dan tanganku gemetaran mengelap luka ibu di bagian dada dan perutnya dengan kapas. Ketika aku sudah selesai mengelap luka ibu aku langsung mengabil baju di lemari ibu lalu aku langsung menggantikan baju ibu.
Kini malam sudah kembali datang membuatku terhanyut dalam kepenatan yang membuat kepala ku berdenyut kesakitan.
“tubuh kurusku tidak akan mati walaupun aku jarang makan, mata besarku tidak akan kehilangan targetnya, kedua tangan dan kaki ku akan menjadi senjata yang selalu bersama tongkat bisbolku. Kalo dulu ayah adalah pelindungku sekarang aku adalah pelindung ibu dan zhao!”
janji sudah aku ikrarkan di dalam hatiku, tubuhku mulai hangat karena terbakar oleh semangat api yang menyala nyala, detak jantungku mulai memberi energy yang membuat diriku semakin bergairah untuk beraksi.
Aku menyadari apa yang aku lakukan sangat berbahaya, tetapi aku tidak perduli karena aku hanya mengikuti naluriku.
Dan malam ini juga akhirnya aku pergi kepusat hiburan malam tempat dimana zhao dan ibu berkerja menjadi seorang wanita malam yang di hinakan.
Kakiku sudah menginjak lantai gedung barr ini, mataku mulai berkliaran mencari tao, jinri, dan minho mereka bertiga adalah bos dan pelanggan zhao dan ibu tetapi di sudut sudut tempat itu tidak aku temukan tubuh mereka bahkan biasanya mereka ada di tempat permainan poker juga tidak ada sehingga aku pergi ketempat mereka beristirahat.
Wajahku tidak bisa menyembunyikan bahagia yang dirasakan oleh hatiku, bibirku tidak hentinya hentinya tersenyum ketika mataku melihat nama kim jinri tertempel di pintu “pak jinri malam ini kau adalah bonekahku” tanganku langsung memegang gagang pintu.
“oh dikunci tenang ada jepitan” aku menjongkokan tubuhku lalu tanganku mengambil jepitan di rambutku dan memasukannya kedalam wadah kunci pintu tidak butuh waktu lama untuk mengotak ngatik.
“Ceklekk!” aku langsung tersenyum saat telingaku mendengar kunci pintu terbuka tanganku pun langsung memasangkan jepitan ke rambutku lalu membuka pintunnya.
Mataku terpaku saat melihat jinri sedang fly lalu mataku menatap tabung hisap dan jarum suntikan yang ada di dekat tempat tidurnya.
“Tap Tap Tap” suara langkah kakiku menghampiri jinri “ternyata kau adalah pecandu putau dan ganja sekaligus tubuhmu hebat juga pak bisa bertahan” kataku kegirangan saat mataku melihat jinri wajahnya yang keriput mulai terlihat gembira.
“oh sulli andai kau ada di sini aku tidak akan merasakan kebagaian ini sendirian, sayang kau mulai berubah jadi aku menyiksamu karena kau tidak mau melayaniku!” mataku membelalak saat telingaku mendengar apa yang di ucapkan oleh jinri.
“oh seharusnya kalo kau mencintai ibuku kau menikahinya bukan menyiksanya” teriakku lalu tanganku mengambil tongkat bisbolku yang ada di tas pungung, kedua tanganku memegang tongkat bisbol lalu aku mengayunkannya kebelakang mataku menatap tajam kepala jinri.
“selamat tinggal bonekah tuaku” dengan sekuat tenaga tanganku memukulkan tongkat bisbol ke kepala jinri “Praakk” suara yang diakibatkan oleh benturan kepala jinri dan tongkat bisbolku darah memercik di tangan dan wajahku, mataku melihat kepala jinri yang hancur tulang tengkoraknya pecah dan matanya tertutup aku bisa merasakan kepuasan dalam hatiku ketika melihatnya mati.
“tinggal dua lagi” aku hendak akan pergi tetapi mataku melihat sebuah pistol yang tergletak di samping bantal pak “oh pak aku ambil ini ya” kataku sambil tanganku mengambil pistol lalu mengecek isi peluru “perfek penuh” aku pun langsung keluar dari kamar jinri.
“Sreeekkkk!” suara tongkat bisbolku di seret oleh tanganku, “oh ini kamar pak minho” langkah kakiku langsung terhenti di depan pintu kamar yang bertuliskan minho, aku langsung menghampiri pintu kamar tanganku langsung memegang gagang pintu “hmm di kunci lagi” aku meletakan tongkat bisbol kelantai lalu tanganku mengambil jepitan di rambutku dan memasukanya di wadah kunci.
“Ceklik” suara kunci pintu terbuka lalu tanganku memasangkan jepitan kerambutku dan membuka pintunya.
“oh jadi seperti ini kelakuan seorang polisi?” teriak ku pada minho yang sedang duduk diatas perut seorang wanita yang sedang mabuk, lalu minho menatap kearahku.
“kejutan!” aku langsung tersenyum pada minho yang terkejut “lihat apa yang aku bawa pak” tanganku mengambil pistol yang ada di saku tasku “turunlah dan borgol kedua tanganmu” tampa bicara minho langsung bangkit dari atas perut wanita itu dan dengan gemetar tangan kiriya memborgol tangan kanannya lalu sebaliknya.
“bagaimana kau bisa masuk?” Tanya minho “karena aku jenius” jawabku sambil tersenyum padanya “apa yang inginkan?” tanyanya kembali “Dor Dor” tanganku menembak kedua kaki minho sontak membuatnya terjatuh di lantai
“AhhRh” desis minho kesakitan, perlahan langkah kaki ku mulai mendekatinya “oh jadi dengan borgol ini kau menyiksa adik ku?” tanyaku saat aku sudah di hadapannya.
“aku mohon jangan bunuh aku, aku memiliki istri dan anak” pinta minho yang membuat aku tersenyum lalu aku menjongkokan kakiku “apa kau tahu, ayahku mati tertembak polisi dan adikku sekarat karena di disiksa polisi lalu siapa polisi itu sebenarnya? Jawablah pak jika kau bisa aku akan melepasmu!” mataku terus menatap tajam mata minho tubuhnya mulai gemetaran dan wajahnya pucat pasi.
“maafkan aku aku mohon jangan bunuh aku istriku sedang hamil dan anakku masih kecil” suara minho sangat datar aku bisa merasakan sorot matanya menunjukan ketakutan yang luar biasa
“kau tidak bisa menjawabnya, lalu kau menyuruhku melepasmu? Pak apa kau sadar harusnya kau berterimakasih kepadaku karena dengan membunuhmu kau tidak lagi berbohong pada istri dan anakmu lalu polisi yang lain juga akan bangga padamu!”
wajah minho sudah memperlihatkan ekspresi kepasrahan, tubuhnya seakan melemas karena rasa sakit yang ada di kedua kakinya dan tekanan dari diriku.
Aku langsung kembali berdiri “kau bisa pilih aku tembak atau pukul dengan tongkat bisbolku?” tanyaku tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut pak minho
“baiklah” tanganku lalu menodongkan pistol di kepala minho “Dorr!” peluru masuk ke kening minho dengan kecepatan yang tak terhingga “Buukk!” tubuh minho tergletak di lantai, darah mulai keluar dari keningnya yang tertembak air matanya mengalir di pipinya.
“paman tao sedang apa kau aku ingin berpesta denganmu!” bisik hatiku. Aku meninggalkan minho begitu saja, langkah kakiku menuju ke pintu kamar tao, “Na Na Na Naaa!” mulutku bersenandung, tanganku terus memegangi tongkat bisbol dan langkah kakiku berjalan senada dengan detak jantungku.
Kini aku sudah memukul tao dengan tongkat bisbolku lalu membawanya pergi menaiki mobil temanku “waktunya membakar bonekah” gumaku saat mataku melihat api menyala mulutku langsung meniup api itu lalu tanganku membuka pintu mobil dan mengambil jerigen bensin, kaki ku langsung melangkah kearah bagasi mobil lalu tanganku meletakan jerigen bensin ke aspal.
“tolong jangan bunuh aku” suara tao sangat serak aku tersenyum kembali saat melihat wajahnya pucat pasi “kau tidak kenal ampun pada ibu dan adikku lalu kenapa aku harus mengampunimu?” selesai mengatakan itu tanganku kembali menyiramkan bensin ke aspal dekat bagasi mobil lalu aku melangkah mundur hingga bensin yang ada di jerigen itu habis.
Mataku menatap tao yang ada di bagasi mobil, lalu tanganku menyalakan korek api yang ada di gantungan kunci mobil “api aku mohon bakar dia sampai hangus!” selesai mengatakan itu tanganku menjatuhkan korek api itu ke bensin dengan cepat api itu merambat di mobil.
“xinran aku mohon le!” aku tahu paman tao tidak akan menyelesaikan kalimatnya karena api mulai menyebar “DuArR!” suara mobil meledak mataku sama sekali tidak berkedip saat melihat tubuh paman tao melebur menjadi satu di ledakan mobil itu tidak ada yang tersisa dari tubuhnya.
Kakiku menyeret tubuhku yang bau amis karena darah yang menempel di jaket dan wajahku, kesunyian malam ini menjadi saksi bahwa aku telah menjadi pembunuh yang sadis. Malam yang penuh dengan bintang jalanku tidak gelap karena sinarnya sehingga mengantarkan aku kembali kerumah.
SELESAI
STAN talent STAN jiayou 🐼, Guys kalo ingin lihat aksi keren sebenarnya seorang xinran zang baca saja novelku yang berjudul Don't Call Me by My Name aku pastikan kalian gak akan menyesal karena aku membuka banyak kejutan di novel itu.
oke terimakasih atas kunjungan nya dan like ya😉, semangat nulis. . ingat aku adalah psikopat karena kebanyakan karya ku adalah karakter nya cewek keren tapi psikopat 😈.