Malam yang sunyi, sebagai hari dimana puluhan nyawa hilang, mati tenggelam. Hari yang selalu menghantui Desa Bunga. Bukan karena hantu atau hal sejenisnya, hati mereka dihantui rasa bersalah yang amat dalam dari mereka yang masih hidup.
Hari itu, tepat malam hari di jam 22:42. Banyak orang yang tengah berkumpul di tempat pemberhentian bus.
"Mbok, hati-hati ya!" ucap seorang wanita pada bibinya.
"Iya neng, jaga diri baik-baik yah disini neng Fanih!" sahut si mbok.
Disisi lain, ada seorang pria dan anak perempuan yang juga berpamitan pada ibunya.
"Buk, Emo doain ibuk sehat-sehat ya! Hati-hati lho di jalan ya buk" ucap pria itu
"Iya nak, anak laki-laki ibuk lagi khawatir banget nih sama ibu?" Ucap si ibu.
Anak perempuan yang lebih pendek dari pria tadi mendekati ibunya, yang juga ibu pria tadi. Anak itu bersaudara dengan pria bernama Lero, dan anak itu bernama Saza. Lero dan Saza sudah lama ditinggal sang ayah karena meninggal, mereka hanya mempunyai ibu.
"Bu, ibu masa cuma perhatiin Abang? Ibu gak sayang sama aku?" ucap Saza cemberut.
Sang ibu menggendong anak perempuan nya itu keatas, "mana mungkin ibu gak sayang sama kamu!! Kalian itu sama di mata ibu, kalian adalah permata bagi ibu!" ucap Syariah.
"Hiks, Bu... Ibu cepet-cepet pulang ya! Nanti kalau lebih 2 hari ibu gak pulang Saza marah sama ibuk!" jelas Saza.
"Iya sayang," Syariah menyunggingkan senyuman indah di bibirnya.
"Janji ya buk!" Ucap Saza.
"Dek, jangan gitu! Ibu pasti pulang, jangan janji-janjian ah! Ya kan Bu?" Lero menatap ibunya.
Entah kenapa, Syariah meneteskan air matanya. Padahal dirinya tadi baik-baik saja.
"Buk, ibu kenapa nangis Bu?" tanya Lero cemas.
"Eng-enggak tahu Le, ibu tiba-tiba ngeluarin air mata. Mungkin, mata ibuk kena nebu kali le, hehe" jawab sang ibu tertawa.
Syariah beserta rombongan warga lainnya menaiki bus berwarna biru, mereka hendak pergi untuk mengunjungi pengajian bersama.
Bus melaju kencang, dua supir telah siap di tempatnya sambil mengemudi.
"Dek, dah yuk masuk. Udah malem banget ini, adek kan harus sekolah besok" ajak Lero.
"Tapi bang, perasaan adek kok buruk ya?" tanya Saza.
"Ah dek, pasti habis nonton yang sedih-sedih nih ya? Udah jangan dipikirin, yok masuk" ucap sang kakak kembali mengajak. Saza pun mengiyakan hal itu.
"Kenapa ya? Perasaan ku juga buruk? Semoga gak ada kejadian tidak enak hati. buk'e, semoga baik-baik aja ya buk!" batin Lero sedih.
Semua warga yang tersisa di desa pun kembali ke rumahnya masing-masing. Sama seperti Lero dan Saza, hati mereka yang cemas membuat mereka sholat hajat dan berdzikir terlebih dahulu lalu tidur. Entah apa yang dimaksud dengan perasaan ini, semoga bukan sesuatu yang buruk!
Tak terasa, sudah dua hari banyak warga yang meninggalkan desa. Hari ini semua orang bersiap-siap menyambut keluarganya di tempat pemberhentian bus.
Pagi hari, ada beberapa anak yang bersiap berangkat sekolah. Lero hari ini libur karena sekolahnya baru selesai ujian akhir semester.
"Dek, adek ga libur?" tanya Lero lembut.
"Nggak bang, gak libur.. padahal kan adek mau nyambut ibu!" ucap Saza sedikit mengeluh.
"Udah udah, makanya belajar yang rajin, kan besok hari terakhir ujiannya kan?!" nasehat sang kakak.
"Iya iya bang, tenang aja! Hehe" tawa sang adik.
Saza pun pergi ke sekolah nya, dan Lero menyetel televisi karena bosan.
Tanpa sengaja, ada berita yang ditontonnya, Lero yang penasaran langsung menonton berita itu. Padahal, ia tidak terlalu suka nonton berita. Tapi sepertinya hari ini tidak ada tontonan bagus, jadi ia memilih menonton berita.
"Bus dengan angkutan sebanyak 25 orang, berwarna biru ditemukan di lautan oleh nelayan yang hendak mencari ikan. Setelah di otopsi ternyata bus ini sudah tenggelam sejak kemarin, perkiraannya sejak kemarin siang dari hasil kerusakan bus." Jelas wanita di berita.
Prakk... Lero menjatuhkan remote televisi nya.
"Buk.. buk'e kan.." Lero menghentikan kata-katanya, ia menangis. Namun, ia masih berpikir positif
"Enggak! Buk'e pasti baik-baik aja! Kenapa aku harus sedih? Ibuk pasti baik-baik aja kan, hehe" ucap Lero dengan senyum memaksa.
Tok...tok..tok...suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Eh siapa? Oh aku tahu, itu pasti buk'e! Eh..gimana sih? Kan harusnya aku masakin buat ibuk. Ish bener-bener deh, malah nonton tv disini!"Ucap Lero seperti orang hilang akal itu.
Lero membukakan pintu rumahnya, "Buk, ibuk!! Lero kangen!" Lero tersenyum.
Bukannya seorang wanita paruh baya yang muncul, malah dua orang polisi dan Saza adiknya yang ia lihat.
"Lho? Kenapa? Eh dek, cepet banget pulang? Ini siapa dek?" Tanya Lero
"Abang!" panggil sang adik sambil menangis.
"Bang... Ibu... Ibu... Dia...hiks hiks..." tangis Saza tak henti-hentinya.
"Ibu? Ibu kenapa? Ibu udah dateng?" Lero menoleh ke segala arah.
"Mbak dan mas ini siapa ya? Ibu saya mana?" Tanya Lero yang tidak terima kenyataan, padahal ia sudah tahu bahwa bus itu adalah bus yang ibunya tumpangi.
Kedua polisi dengan jenis kelamin berbeda itu menyuruh Lero masuk, ia menjelaskan segalanya sampai Lero syok dan hampir pingsan.
"Bang, bang bangun! Jangan tinggalkan adek! Cuma Abang yang adek punya sekarang, hikss...Abang!!" Saza terus memanggil kakaknya itu dan membuat Lero tersadar. Lero segera memeluk adiknya.
"Iya dek, iya! Kakak gak bakal ninggalin kamu! Kamu jangan nangis ya, masih ada abang" ucapnya tersadar.
"Enggak! Aku gak boleh nangis kayak gini, aku masih punya Saza! Aku masih punya Saza!" Batinnya lirih.
Duka yang mendalam, menghiasi desa itu. Seperti ada aura hitam, mereka syok sampai pingsan dan tidak sedikit dari mereka yang dilarikan ke rumah sakit.
End...