Namaku Zara. Aku bersekolah di SMK (sekolah menengah kejuruan) swasta di Jakarta. Sekarang aku duduk di kelas dua belas, jurusan Teknologi dan Informasi. Aku mempunyai banyak sahabat. Ada Putri, Novi, Uthri, Pipit, Gayan, Bobi, Panji, Mus, dan terakhir sahabat kesayanganku Ribka. Persahabatan kami tidak pernag terpisahkan sejak kami berkenalan pada saat MOS (masa orientasi siswa) di sekolah. Persahabatan kami pun tidak terasa kini telah berjalan selama tiga tahun lamanya.
Suatu hari aku sedang duduk di taman baca sekolah, aku sendirian di sana. Tiba-tiba Putri dan Novi datang menghampiriku. Berbicara sedikit mengenai masalah tugas, namun tiba-tiba Novi keceplosan memberitahuku bahwa Ribka dan Pipit sedang berantem karena suatu masalah yang sepele.
Novi awalnya tidak mau menceritakan penyebab mereka bertengkar, namun aku paksa untuk memberitahukannya kepadaku apa yang terjadi.
"Aku sih cuma dengar-dengar Ra, ada yang bilang penyebab mereka berantem itu adalah kamu," kata Novi.
"Ah, serius? Kenapa Aku? Aku saja baru tahu dari kalian kalau mereka bertengkar," jawab ku.
"Aku denger juga nih, kalau kamu suka ngomongin kita yang gak bener di belakang kita," sambung Putri.
"Terus kalian percaya?" tanya ku.
"Gak sih, tapi aku agak ragu," jawab Putri.
"Aku gak mungkin berbuat seperti itu di belakang kalian, aku adalah sahabat kalian, kalau aku seperti itu untuk apa aku bersama kalian?" jawab ku mulai kesal.
"Ya, kita percaya sama kamu. Tapi...," jawab Novi.
"Sudahlah, kalau kalian tidak percaya sama aku, terserah! Tapi asal kalian tahu aku tidak pernah melakukan itu kepada kalian. Cukup tahu aja kalian lebih percaya omongan di luar daripada aku," jawab ku. Lalu aku pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
Jam belajar telah berakhir. Aku melihat Ribka bersikap biasa saja, tidak tahu Pipit yang berbeda kelas dengan ku. Sesampainya aku di rumah, aku memikirkan mengapa mereka sampai bertengkar karena aku. Tak lama kemudian, aku membuka status whatsapp, dan di status Uthri dan Pipit penuh dengan perkataan saling singgung diantara mereka.
"Aku yang kenal Zara lebih dulu, namum kamu yang baru datang sudah mengambilnya dari aku," kata Ribka.
"Walau kamu lebih dulu mengenal Zara, tapi Zara lebih nyaman dengan aku, kamu orang yang kasar dan jahat," balas Pipit di statusnya.
"Gak sadar diri ya kamu, kamu baru di kenal Zara aja udah sombong, merasa paling hebat dan lebih baik," balas Ribka lagi.
"Kita lihat saja, siapa yang akan di pilih Zara!" balas Pipit.
Aku membaca status mereka seperti saling sambung-menyambung, balas-membalas. Aku terkejut.
"Mereka memperebutkan aku? Kenapa? Bukannya kita selalu bersama-sama?" gumam ku dalam hati.
Namun aku merasa ada yang janggal dengan masalah mereka. Tetapi aku tidak bisa menemukan kejanggalan ini.
"Mengapa pada saat dua hari lagi aku akan berulang tahun yang ketujuh belas? Aku kan akan mengundang mereka semua. Kalau seperti ini bagaimana? Tidak seru dong?", pikir ku.
Tak lama pun, teman sekelas maupun yang kenal dan tahu akan persahabatan kami pun menghubungiku. Apa yang terjadi pada Ribka dan Pipit. Apa maksud dari status mereka berdua.
Aku hanya bisa berkata, bahwa aku tidak mau banyak komentar karena aku pun tidak tahu titik permasalahan mereka.
Aku menghubungi Egi, teman serekan Mading (majalah dinding) sekolah, menanyakan pendapat dia tentang masalah ini. Egi membenarkan dan malah ikut merasa bahwa aku yang salah.
"Aku juga gak nyangka Ra. Sebenernya, aku juga ada dengar kalau kalau kamu ada ngomongin aku yang gak benar, di belakang aku. Aku kecewa Ra, cuma aku berusaha untuk percaya sama kamu dan berpihak sama kamu. Tapi, kalau seperti ini memang kamu yang salah. Kamu bukan sahabat atau teman yang baik," balas Egi.
"Siapa yang bilang itu ke kamu Gi?" tanya ku penasaran.
"Aku gak bisa bilang siapa yang kasih tau aku Ra, karena aku sudah janji sama dia, maaf," balas Egi.
"Tapi kamu percaya aku kan?" balasku.
"Ya, tapi gak 100% lagi Ra, aku percaya kamu tapi aku kecewa juga," balas Egi.
Aku benar-benar down. Apa yang sebenarnya terjadi mengapa semua mengira aku menjelekan mereka di belakang mereka. Siapa yang mengatakan hal ini. Harapan terakhirku Bobi, sahabat sekaligus pacarku. Kami adalah korban dari sahabat menjadi cinta.
Aku menghubungi Bobi via whatsapp.
"Beb, kamu udah tau masalah yang tersebar di sekolah?" tanya ku.
"Sudah baru aja mau nanya sama kamu beb. Ada apa sih? Kenapa Ribka dan Pipit? Kenapa bawa-bawa nama kamu beb?" tanya Bobi.
"Aku juga gak tahu beb. Aku saja terkejut dan baru tahu tadi siang di taman baca, Putri dan Novi memberitahuku," balas ku.
"Oke sebentar ya beb. Aku coba hubungi Ribka atau Pipit untuk mengetahui kebenarannya ya. Kamu jangan sedih beb. Kamu jelek kalau sedih," balas Bobi menghibur dan membantu ku.
"Kamu percaya sama aku?" balasku.
"Percaya dong. Kamu kan orang yang aku sayang. Aku yakin ada kesalahpahaman diantara kalian, dan aku akan menyelesaikannya untuk kamu," balas Bobi.
"Thank you, ya beb," balas ku.
Aku menunggu jawaban dari Bobi namun sampai malam tidak ada kabar.
"Apalagi sekarang? Bobi ikut tidak mempercayaiku juga?" gumam ku dalam hati.
Keesokan harinya di sekolah. Suasana seperti biasa bahkan Ribka, Uthri, Novi, Putri dan Gayan masih bersama ku. Hanya Pipit yang tidak mengunjungi ku pada saat jam istirahat, biasanya kami berkumpul di teras kelas.
Bobi, Panji dan Mus datang. Kalau Bobi ya udah taulah kan, dia datang untuk ngapel.
"Hai cewek- cewek," sapa Panji.
Aku menanyakan kepada Bobi, apa yang dia ketahui. Aku mengajak dia untuk mejauh dari mereka. Bobi menceritakan semuanya kepada ku.
"Mereka berdua memperebutkan kamu beb. Dan Ribka bilang ke Pipit kalau kamu pernah jelekin dia sama yang lain, bilang kalau Pipit itu dandan menor banget dan sok cantik," jawab Bobi.
"Kapan aku bilang gitu? Aku gak pernah jelekin siapa-siapa," jawab ku.
"Itu sih versi Ribka ya. Tapi Pipit gak percaya kalau kamu gitu. Pipit merasa kalau Ribka lah yang merupakan sahabat yang toxic selama ini. Karena terlihat dia selalu ingin menguasai kamu," jawab Bobi.
"Lalu Ribka?" tanya ku.
"Ribka juga sama beb. Dia merasa Pipit mengambil kamu, dan sekarang kamu lebih sering main dengan Pipit dari pada Ribka. Ya begitu deh," jawab Bobi.
"Tapi sebenernya Pipit mau temuin kamu dan minta penjelasan dari kamu. Mau yakinin diri dia kalau kamu gak gitu. Cuma kamu kan sekelas sama Ribka, jadi kamu nempel terus sama dia, dan Pipit malas buat ketemu sama Ribka", sambung Bobi.
Bel masuk berbunyi dan kami semua berpisah kekelas masing-masing.
Aku sudah mencetak undangan ulang tahun ku sendiri. Tahun ini aku sudah memasuki tujuh belas tahun. Dan aku merayakannya secara sederhana di rumah ku. Aku mengundang semua teman sekelas ku, terutama sahabatku, beberapa teman lain yang ku kenal dekat, termasuk mantan ku yang sekelas ku. Tapi Uthri yang membagikannya kepadanya.
"Datang ya! Mantan kamu sweet seventeen," begitulah kata Uthri yang aku dengar, Uthri memang lebih to the point orangnya.
Aku tertawa melihat Uthri.
Aku masih memikirkan Pipit. Lalu saat istirahat les komputer, aku menuju kelas Pipit dan memberikannya undangan.
"Hai, Pit," kata ku.
"Hai Ra, baru aja mau nemuin kamu," jawab Pipit.
"Kamu besok datang ya ke acara sweet seventeen aku," kata ku memberikan undangan.
"Hmm belum bisa pastiin ya Ra soalnya aku malas ketemu sama Ribka. Ya, sepertinya kamu sudah tau dari Bobi. Bobi menanyaiku semalam untuk kamu kan?" jawab Pipit.
"Iya. Sebenarnya ada masalah apa sih? Kalian kenapa? Dan aku gak pernah ngomongin kamu gitu Pit," jawab ku.
"Aku percaya sama kamu Ra, tenang aja. Bobi juga bilang kamu gak mungkin gitu. Beruntung kamu punya pacar seperti Bobi. Dia belain kamu banget. Tapi aku gak mau ketemu aja sama Ribka. Aku usahakan untuk datang ya Ra," jawab Pipit.
"Iya makasih ya Pit, masih percaya sama aku," jawabku.
"Iya sama-sama. Sudah jangan sedih masa besok mau ulang tahun matanya sembab, hahahaa," jawab Pipit menghiburku.
Aku langsung menuju ke kantin dan melihat Ribka bersama teman sekelas lainnya sedang tertawa bercanda. Aku mendatangi dia dan duduk di sebelahnya sambil membawa makan siangku.
Setelah semua selesai, tinggal Gayan dan Ribka bersama ku. Aku memulai obrolan.
"Ribka, apa sih maksud kamu bilang ke Pipit kalau aku ngomongin dia di belakang?" tanya ku.
Ribka terlihat terkejut. Begitu juga Gayan.
"Oh jadi si Pipit sudah ketemu kamu Ra. Bilang apa dia? Dia jelekin aku, bilang aku yang kasih tau dia, kalau kamu jelekin dia?" jawab Ribka.
"Ya, begitulah," jawabku.
"Kamu lebih percaya Pipit? Dia itu bermuka dua Ra, kamu harus sadar. Dia juga pernah jelekin kamu. Aku kecewa kamu lebih percaya dia dari pada aku, kita sudah bersama lama dari sejak awal sekolah disini dan kamu lebih percaya dengan Pipit yang baru kamu kenal di kelas sebelas?", jawab Ribka.
"Iya kamu kok gitu sih Ra, kamu gak percaya dengan Ribka, dia gak mungkinlah bilang gitu ke Pipit, Ribka gak pernah jelekin kamu malah dia lebih percaya dan bangga memiliki kamu di sampingnya," jawab Gayan.
"Bukan gitu, aku gak nuduh Ribka, cuma kalau bisa diselesaikan masalahnya kan lebih enak Yan, aku harus dengar dari dua sisi aku gak bisa percaya begitu aja," jawab ku.
"Ya sudah kalau kamu lebih percaya dengan Pipit, lebih baik kita pergi dari sini. Ayo Gayan," jawab Ribka meninggalkan ku.
"Tapi... Aku belum selesai...," jawab ku.
Aku di kantin sendirian. Aku tak bisa menahan tangis ku. Aku menangis dan tiba-tiba datang Egi dan Bobi menemui ku.
"Jangan nangis Ra," kata Egi.
"Bobi udah jelasin semua ke aku, kamu gak salah, maaf kemarin aku menyalahkanmu juga," sambung Egi.
"Makasih Gi udah percaya dengan aku," jawabku sambil memeluk Egi.
"Jangan nangis ya, besok kan ulang tahun kamu, nanti mata kamu sembab. Biar mereka meninggalkan kamu tapi masih ada aku dan Bobi di sini bersama kamu," jawab Egi.
Aku memeluk Egi lagi dan menatap Bobi yang berdiri di belakang Egi sambil tersenyum melihatku, agar aku ikut tersenyum. Aku merasa beruntung memilki Bobi.
Tak lama kemudian, aku kembali melihat perperangan di status whatsapp.
"Lihat, sekarang malah aku yang disalahkan, di bilang aku yang menyebarkan cerita bohong ke kalian semua," kata Ribka.
"Yang salah itu kamu, kamu sengaja memecahkan persahabatan kita, karena kamu merasa Zara lebih dekat dengan aku," kata Pipit.
"Cukup tahu aja punya sahabat seperti kamu!" kata Ribka
"Aku juga menyesal bisa kenal kamu, bersahabat sama kamu," kata Pipit.
"Ya, Tuhan. Apa yang terjadi sekarang? Aku memecahkan hubungan persahabatan kami?" kataku dalam hati.
Kembali ke tiga tahun yang lalu.
Aku berasal dari sekolah negeri dan aku tidak mengenal siapa pun di sekolah baru ku. Hanya mantan ku dan satu teman SMP (sekolah menengah pertama) ku, aku berkenalan dengan Ribka pada saat pembagian kelas. Kami sekelas sejak kelas sepuluh. Aku dan Ribka di kelas Unggul. Ribka mempunyai teman akrab sejak SMP, yaitu Putri, Uthri dan Novi mereka tidak sejurusan dengan kami. Karena aku dekat dengan Ribka, Uthri, Putri dan Novi juga jadi ikut dekat denganku.
Aku mengenal Pipit dari tim Mading sekolah. Kami adalah anggota dari tim mading tapi berbeda kelas. Di kelas sebelas, temannya Pipit pindah kelas ke kelasku, yaitu Gayan. Karena Gayan berprestasi, rangking tiga besar, sehingga dia di pindahkan ke kelasku. Dan aku duduk sebangku dengan Gayan. Akhirnya, kami semua pun saling dekat karena pertemuan ini, bersahabat sampai sekarang.
Keesokan harinya. Hari ulang tahun ku, aku tetap berusaha gembira, dan berharap di ulang tahunku ini, semua bisa kembali seperti dulu. Di kelas, Ribka dan Gayan tidak menghiraukan ku dan hanya Bobi yang datang ke kelas, mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan ku kado.
"Selamat Ulang Tahun beb," kata Bobi sambil memberikan kado untukku.
"Thankyou beb," jawab ku.
Tiba-tiba Egi datang.
"Ah, Bobi, kok kasih kadonya sekarang nanti ajalah di rumah," canda Egi.
"Ya sama ajalah, aku kasih dia sekarang supaya dia tersenyum. Aku gak suka lihat dia sedih," jawab Bobi.
"Ihh so sweet. Jangan sedih ya Ra," jawab Egi.
Sore harinya acara ulang tahun ku. Teman-teman mulai berdatangan, termasuk Bobi datang duluan bersama Mul. Aku menantikan kedatangan sahabat ku yang lain. Pipit datang, dan dia bersama salah satu teman sekelasnya karena aku juga mengundang dia.
"Thankyou Pit sudah datang," kata ku dengan perasaan sangat senang.
"Sama-sama Ra, Happy Birthday ya," jawab Pipit sambil memberikan ku kado.
Semua sudah berdatangan. Teman sekelas maupun teman dari kelas lain yang cukup dekat. Termasuk Putri, Uthri, Novi, Panji dan mantanku Ricky hahaha. Dia juga datang dan membawa kado untukku.
Tapi Gayan dan Ribka tidak datang. Apa Ribka benar-benar marah?
Mereka langsung menyantap makanan yang telah di sediakan karena untuk pemotongan kue aku harus menunggu papa ku pulang kerja. Aku masuk kebelakang, menuju dapur dan Bobi memanggilku.
"Beb kesini sebentar," kata Bobi.
"Ada apa?" tanyaku.
"Ayo ke keluar," jawabnya sambil menarik aku.
"Ada apa sih?" tanyaku penasaran
Sesampainya di luar.
"Ada apa?" tanya ku.
"Ini, Ryan nanya, rumah mu di mana dia bilang udah di gapura. Coba kamu lihat dari sini ada gak dia," jawab Bobi.
"Kan kamu bisa bantu aku, aku lagi sibuk," jawab ku agak kesal.
Aku keluar dari pagar dan melihat arah kanan karena gapura lorong rumahku ada di di sana.
"Suprise!!! Selamat Ulang Tahun Zara! Happy Sweet seventeen," kata sahabat-sahabatku mengejutkanku sambil membawa kue.
Aku melihat ada Ribka, Uthri, Gayan, Pipit, Novi, Putri, Egi, Mus, Panji dan Ribka, semuanya lengkap. Bahkan Ribka dan Pipit pun tertawa bersama.
Aku tidak menyadari bahwa semua sahabatku yang tadi sudah datang menghilang karena tidak fokus. Rupanya mereka mengerjaiku.
"Maaf ya Ra, udah buat kamu sedih," kata Ribka.
"Kalian keterlaluan ya ngerjainnya, sudah seperti beneran kalian lagi berantem," jawabku.
"Sebenarnya, panjang ceritanya ntar deh kita ceritain," jawab Ribka.
"Btw, thanks ya Bob, udah bantu kita. Awalnya rencana hampir gagal karena Bobi marah banget sama aku, karena aku nyebarin gosip gak benar tentang kamu. Tapi aku jelasin ke dia kalau ini sengaja untuk buat suprisein kamu Ra. Kamu beruntung punya Bobi," sambung Ribka.
"Ohh jadi kamu juga ikutan beb?", kata ku.
Bobi tersenyum.
"Jadi kalian semua berkerja sama ngerjain aku? Niat banget," kata ku.
Mereka semua mengangguk dan tertawa.
"Awalnya ngak, cuma karena Ribka kasih tahu mau ngerjain kamu, ya udah aku ikut asal gak terlalu menyakiti kamu. Makanya mereka juga ubah skenario, dan buat aku mendukung kamu, supaya kamu gak down banget," jawab Bobi.
"Uhh so sweet, eh sudah ah, capek aku dari tadi berdiri di sini tahu, nungguin kode dari kalian," potong Ribka.
"Eh iya, ayo masuk dan makan dulu, tiup dan potong kuenya terakhiran karena tunggu papaku pulang," jawabku.
Aku mengambil kue yang mereka bawakan dan meletakan di sebelah kue ku. Mereka menyantap makanan yang sudah di sediakan.
Papaku pulang. Dan acara tiup lilin dan kue pun di mulai. Kami pun saling menyuap kue dan mengabadikan moment hari ini dengan berfoto bersama.
"Thankyou Guys!" kataku lalu kami saling berpelukan.
Mereka adalah sahabat sejatiku. Aku sangat beruntung memiliki mereka.
Story By : Thankful Girl