Sudah dua bulan hujan turun teratur, setiap sore hujan sudah dipastikan akan turun, Ame gadis berparas manis itu tengah mengutak - atik ponselnya, sepertinya sedang mendengarkan musik dengan headset ditelinganya.
Tak berselang lama gadis itu mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas, sepertinya untuk mengusir kebosanan dan rasa jenuh menunggu bis yang tak kunjung datang itu.
Seharusnya sudah sejak 15 menit lalu ia berada didalam bisnya, sayang ia terlambat datang kehalte karna ada sedikit insiden ditempat kerjanya tadi, jadilah dia harus menunggu bis berikutnya.
Ame melirik jam dipergelangan tangannya, rasanya dia sudah menunggu hampir 30 menit, tapi bis itu tak kunjung datang juga, ahhh Ame paling tidak suka menunggu gadis itu tipikal orang yang merasa bosan jika tidak melakukan apa - apa dalam kurun waktu setengah jam, dan dia sudah merasa bosan saat ini, tapi sepertinya bis terakhir menuju kawasan rumahnya itu sedikit terlambat dari jamnya.
Hufffffff.....
Ame menghembuskan nafas beratnya, "Lima menit lagi mobil itu tidak datang Ame bisa berasap disini" gumamnya mengeluh kecil, dia masih punya otak waras untuk tidak mengeluh keras - keras karna disampingnya masih ada seseorang.
Saat tersadar jika dirinya hanya berdua dengan seorang pria dihalte bis itu, malah membuat rasa takut dalam diri Ame muncul entah karna apa? Jujur saja Ame itu orangnya pemberani saking beraninya dia beberapa minggu yang lalu Ame pernah pulang jam 3 malam karna sip 2nya, biasanya sih dia menginap dirumah temanya atau ibunya menjemputnya, tapi malam itu dia nekat pulang sendiri menggunakan ojol, ahhh dasar Ame.
Sekilas matanya melirik pria yang berada tiga kursi dari tempatnya duduk, awalnya hanya ingin memastikan saja jika lelaki itu tak mencurigakan atau tak akan berbuat macam - macam padanya, tapi setelah melihatnya jantung gadis itu malah berdebar tak karuan.
"Ya Tuhan, tampannya" gumam gadis itu tanpa sadar hingga membuat si pria menoleh kearahnya, merasa malu karena ketahuan mencuri pandang kearah pria asing itu Ame mengalihkan wajahnya kesebalah kanannya, agar si pria tak melihat wajahnya yang memerah karna malu.
"Astaga Ame, dasar bodoh" gumam gadis manis itu yang membuat si pria asing itu mengulum senyumnya, ahhh andai saja Ame melihat senyum itu, sudah dipastikan Ame akan meleleh, walau hanya sekilas dan dari samping saja Ame sudah bisa melihat ketampanan pria asing itu, apa lagi berhadapan langsung pasti tampannya lebih dari saat Ame meliriknya.
Ame terus saja mendumelkan kebodohannya yang tanpa sadar dia menggunakan isi hatinya tanpa sadar si pria itu tengah memperhatikannya sesekali senyumnya terkembang karna mendengar dumelan gadis itu, sayang saat ia hendak mendekati gadis yang baru pertama kali ditemuinya itu, bis yang akan mengantarkannya ketempat tujuan sudah datang, mau tak mau dia harus pergi karna itu bis terakhirnya.
Saat Ame menolehkan kepalanya kesamping kiri kembali si pria asing itu sudah melangkah menuju bisnya, ahhh hilang sudah kesempatannya untuk berkenalan, dasar Ame sedari tadi dia merasa malu karna ulahnya sendiri tapi kini dia malah kecewa karna tidak bisa berkenalan.
"Yah sudah pergi" keluh Ame, tak lama setelah bis si pria itu datang bus yang akan Ame naikipun datang.
"Mudah mudahan besok bisa ketemu deh" gumam Ame sambil melangkah menuju bisnya.
****
"Ame kamu dipanggil keruangan bos tu" ucap salah satu temannya memberitahukan jika Ame tengah dicari oleh bosnya.
"Oh, makasih ya Sil" jawab Ame yang mendapatkan anggukan dari temannya itu, tak mau membuat bosnya menunggu dan dia yang kena masalah akhirnya Ame segera membereskan pekerjaannya yang memang sudah selesai itu, dia melepas Apron dan viscose-nya, lantas menyimpan Apron dan topi itu ke lokernya setelahnya dia menuju ruang bosnya.
ketukan pintu terdengar dari luar, seseorang yang bisa dipastikan adalah bos dari Ame, mengatakan masuk, itu tanda jika Ame sudah ditunggu oleh sang bos.
"Mas Dimas panggil Ame?" Tanya gadis itu setelah mendekat kepada sang bos.
"Ah iya Me, duduklah dulu" pinta seorang pria yang dipanggil Dimas itu, Ame menurut saja untuk duduk.
"Emmm, begini bisa hari ini akan ada pengirim bahan - bahan dapur, bisakah kamu yang mengeceknya saya harus menghadiri sebuah rapat" pinta Dimas, Ame sebenarnya tidak mau tapi dia juga tidak bisa menolak, merasa kasihan sama bosnya itu, Dimas bos yang baik menurutnya dan tentunya karyawan yang lainnya.
"Emmm, memangnya jam berapa datang bahan - bahan itu?" Tanya Ame, dia harus menghitung waktu dia tak ingin kejar - kejaran dengan bisnya, lantas tertinggal kembali kaya kemarin.
"Masih 30 menit lagi, mau yah bantuin saya" pinta Dimas sedikit memelas, akhirnya Ame menganggukkan kepalanya pasrah, oklah masih ada bis terakhir pikirnya.
Bahan - bahan yang dimaksudkan bosnya itu telah sampai dan Ame benar - benar teliti saat mengecek barang, dia tak ingin ada yang kurang atau malah busuk atau tak layak untuk dikonsumsi, bukan karna dia diberi amanat saja tapi karna dialah yang akan mengolah bahan - bahan itu menjadi makanan nantinya, dia tak ingin meracuni pelanggannya jika masakannya bermasalah citranya pun akan jelek dan itu berpengaruh terhadap tempat kerjanya.
"Kalau begitu kami permisi" ucap dari sang kurir yang membantu menurunkan dan memasukan bahan - bahan baru itu.
"Iya terimakasih ya mas", ucap Ame sambil menyalami salah satu dari ketiga orang yang ada dihadapannya, menyelipkan beberapa lembar uang saat bersalaman tadi.
Sikurir merasa heran, ",Buat makan sore nanti mas bagi tiga ya, makasih udah bantuin saya" ucap Ame
"Sama - sama kami juga makasih loh bak", senang sekali rupanya kurir itu, jika biasanya dia tak mendapatkan upah membawakan barang - barang dari pelanggannya, kali ini mereka mendapatkannya tentu merasa senang.
"Semua sudah selesai, pintu gudang sudah dikunci, kuncinya juga sudah ku titip kasir, tinggal pulang" ungkapnya merasa senang.
****
"Aduh harus cepat 15 menit lagi bisnya datang" gumam Ame sambil bergegas menuju halte, hujan sudah turun sejak 5 menit lalu, sudah kebiasaan Ame tidak pernah membawa payung alhasil bajunya sedikit basah karna menerobos hujan saat akan kehalte tadi.
"Ahhh syukurlah masih belum sampe bisnya, Ame melihat layar plasma besar yang dipasang dipinggiran halte, menunjukan jadwal bis, dan bis yang akan membawanya pulang masih sekitar 15 menit lagi sampainya.
Kali ini Ame tak memiliki tempat untuk duduk karena sore ini halte itu ramai sekali, sesekali dia menyeka tetesan air dari rambutnya yang berjatuhan dipipi dan pelipisnya.
Ahhh hai, gadis itu melihat lagi pria yang kemarin ditemuinya, inginnya sih menyapa pria yang menatap balik dirinya itu tapi sayang halte tengah ramai, dia tak bisa menyapa pria asing itu.
'Ahhh.. dia tampan sekali, aku baru melihatnya sejelas ini, kemarin tak nampak jelas' batin Ame.
pria yang menatap Ame itu tersenyum kearahnya membuat jantung Ame berloncatan didalam sana, reflek Ame memegang dadanya sendri, sepertinya jantungnya akan jatuh jika tidak dipegangi, pria itu melebarkan senyumnya menahan tawa yang ingin sekali dikeluarkannya, tapi dia bukan orang gila yang tertawa sendiri bukan.
'Ahhh .. kenapa gadis itu imut sekali' batin si pria, sayang pria itu tak bisa memandang gadis manis itu lama karna bis yang dinaiki gadis itu telah tiba, kemarin dirinya kini giliran Ame yang naik duluan.
Ahhhh kalian belum ditakdirkan untuk mengobrol satu sama lain, tunggu saja mungkin akan ada kesempatan dimana kalian bisa berbicara.
****
Sudah hampir satu bulan Ame dan pria asing itu bertemu dihalte itu, tapi mereka tak memiliki waktu untuk saling mengobrol satu sama lain, hanya bahasa tubuh mereka saja yang menunjukan jika mereka tengah mengobrol hanya lewat tatap mata dan bahasa tubuh lainnya, ahhhh andai saja aku bisa mengerti bahasa tubuh yang mereka gunakan mungkin aku akan mengerti apa yang mereka katakan satu sama lain, sayang sekali.
"Sudah satu bulan kami bertemu, tapi aku tidak tahu siapa namanya!" keluh Ame
Kali ini Ame mencoba untuk mengejar waktu si pria asingnya itu saat dihalte, mungkin dengan begitu dia akan bisa berkenalan dengan pria asing itu, tapi sayang dia malah sudah tak melihat pria asing itu.
"Ahhh apa Ame telat" keluhnya, Ame akhirnya pulang dengan perasaan kesal karena tidak melihat pria asingnya itu.
Hal yang sama juga berlaku untuk si pria asing itu beberapa hari ini dia sengaja menelatkan dirinya untuk menuju halte itu hanya untuk bertemu dengan gadis haltenya.
Dia menyadari gadis itu selalu menaiki bis terakhir menuju rute rumahnya itu, maka dari itu pria itu sengaja memperlambat dirinya dari biasanya dia pulang, sayangnya dia malah tak menemukan Ame disana.
Bagaimana bisa menemui Ame, jika Ame saja memilih mempercepat waktu kepulangannya karna itu juga dia menaiki bis yang dulu biasa dia naiki.
Ahhhh... Hai kalin berdua bersabarlah tuhan pasti tahu yang terbaik untuk kalian jadi jangan mendahuluinya dengan membuat rencana kalian sendiri, itu tidak akan berarti apa - apa, malah kalian sendiri yang tidak bisa bertemu.
****
Satu minggu ame dan pria asingnya tidak bertemu karna kebodohan mereka berdua, Ame merasa ada yang aneh dengan hatinya, ada kekosongan disana dan kerinduan kepada pria asing itu, yang Ame sendiri tidak tahu siapa namanya, ahhh menyesal sudah dia saat pertama kali bertemu tidak menanyakan namanya.
"Ya ampun pria asing itu membuat ku gila" keluh Ame.
"Gadis manis itu, tidak terlihat sama sekali" kali ini yang mengeluh si pria asing itu.
"Sebenarnya siapa dia?" saking rindunya keduanya menggumamkan kalimat yang sama walau ditempat yang berbeda.
Sabarlah kalian jika suratan mentakdirkan kalian untuk bersama, waktu tak akan pernah bisa memisahkan kalian, sabarlah menunggu jangan berbust diluar kemampuan kalian karna itu akan semakin memper rumit pertemuan kalian kembali pada akhirnya.
Tamat...
🍁🍁🍁🍁