Hanya ketikan biasa yang tentu tidak ada yang istimewa.
Namanya Luna, tidak ada yang spesial dari gadis itu, tumbuh dari keluarga sederhana, memiliki paras yang ala kadarnya. Tak tahu kenapa, pembawaannya yang cenderung pemalu, asosial, atau lebih tepatnya introvert membuat banyak orang seperti tidak menyukainya.
Orang bilang, ada sebab pasti ada akibat, hal itu tentu ada alasannya, sejak kecil sudah sering mendapat ejekan, cacian, serta perlakuan yang tidak mengenakkan, tentunya sesuatu yang mengarah pada kondisi psikis gadis itu. Kisah bermula saat Luna mulai mengenyam pendidikan tingkat sekolah dasar, banyak yang mau berteman tetapi banyak juga yang memusuhinya, fisiknya sering dihina, dijadikan bahan candaan, bolehkah dia marah? Tapi kepada siapa? Kepada mereka yang mengejeknya? Atau dengan mereka yang memberikan julukan dan mengubah nama seenak jidat?
Hingga tak terasa, enam tahun itu telah usai. Dia-Luna melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, ada perasaan waswas saat bersekolah di sana. Mungkinkah kejadian itu akan kembali terulang? Dan ya! Semua itu benar, rasanya Luna ingin tertawa, mengapa dunia terlalu kejam? Harus kemana? Kemana melangkah membawa diri yang biasa itu agar bisa sekedar dihargai dan diperlakukan selayaknya?
Tapi sebisa mungkin Luna bersikap biasa saja, tetap tersenyum dan tertawa seolah tidak terjadi apa-apa. Sebagai manusia yang memiliki perasaan, bagaimana jika kalian berada di posisinya? Diejek adik kelas, dibully, mau melawan pun tiada guna. Bahkan tak jarang, gadis itu menangis, namun dia masih bersyukur karena masih banyak orang baik yang mau berada di sisinya.
Hingga saat menginjak usia remaja, gadis itu perlahan menutup diri, mencoba berdamai dengan masa lalu, menerima keadaan bahwa semua telah direncanakan oleh-Nya. Hari-hari silih berganti, warna biru menjadi abu, rintangan pun rasanya semakin berat. Ketika dipisahkan dengan orang-orang yang setia menemani semasa masih sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Kala itu, Luna benar-benar seperti orang linglung. Asing, itulah yang dia rasakan. Di saat sekolah mengadakan masa pengenalan lingkungan sekolah, ia selalu berkecil hati, melihat teman-temannya yang bersenda gurau dengan teman mereka, sedangkan dirinya hanya menjadi pendengar setia. Sehari, satu minggu, satu bulan, hanya ada satu orang yang benar-benar mau bersahabat dengannya.
Tapi itu tak bertahan lama, semua kembali seperti semula, sahabatnya itu putus sekolah saat merebaknya wabah virus Corona, di mana pada saat itu, kegiatan belajar mengajar diadakan secara daring. Huh! Bisakah protes dengan takdir? Kesepian, tidak ada teman, sudah biasa! Ralat, bukan tidak ada, mereka ada tapi tidak ada, ehh? Bah authornya ngelawak :p
Garis bawah tidak punya orang terdekat, apakah dia tidak punya orang tua? Saudara? Punya! Namun di saat dia akan berbagi cerita, hatinya selalu mengatakan 'gapapa' toh juga ibaratnya menabur garam di lautan.
Baginya, ceritanya itu tidak sepenting cerita orang lain. Itulah mengapa dia sering memendam sesuatu sendirian. Dan dari sinilah introvert itu bersumber, Luna si gadis banyak kurangnya itu menjadi penggila novel, terkadang dalam sehari dia hanya menghabiskan waktunya di kamar, baginya tubuh memang rebahan tapi pikiran sudah bertravelling ke mana-mana.
Dari pembaca, beralih menjadi penulis, kurang lebih selama satu tahun dia menggeluti dunia ilusi itu, dunianya mulai terasa berwarna, banyak memiliki teman meskipun hanya virtual, mengenal orang-orang yang tahu artinya menghargai, bukan seperti manusia kaleng-kaleng dengan mulut kaleng rombeng yang hanya tahu menghina tanpa berkaca.
Selama satu tahun itu, banyak yang berubah, bukan berubah jadi bidadari ya Guys, Luna mulai memperhatikan penampilannya, dia memanfaatkan waktu untuk bekerja minimal agar bisa membeli keperluan pribadi dengan uang sendiri. Dia sadar bahwa cantik itu perlu modal dan biaya skincare tidak ditanggung pemerintah. Dan mulai saat itu, Luna perlahan kembali membuka diri, namun sepertinya masih sama, tidak ada yang mau berteman dengannya, dan hal itu membuat Luna tidak mengerti.
Kini, Luna menanamkan sifat bodo amat dalam dirinya, tidak lagi mengemis teman, prinsipnya jika mau berteman silahkan, kalau engga ya gapapa. Tapi seiring berjalannya waktu, entah itu karena pengaruh dunia perhaluan, Luna menjadi sedikit barbar, tutur katanya yang awalnya sopan berubah menjadi kasar, dia juga memilih untuk berteman dengan laki-laki.
Hingga suatu hari, Luna memiliki pacar, bukan kali pertamanya Luna berpacaran, tapi kali ini terasa berbeda, satu hal yang membuat dirinya lupa akan kesedihan di masa lalu, tidak lagi merasa kesepian, hidupnya lebih berwarna, janji untuk bersama tapi ternyata omong kosong semata. Bagaimana tidak? Belum genap satu bulan pacaran, Luna kembali menyandang status jomblo lantaran sebuah kesalahpahaman yang memporakporandakan hubungan mereka, hadehh nasib!
Tuduhan keji yang mengatakan bahwa Luna selingkuh membuatnya geleng-geleng tak percaya, bagaimana bisa manusia spek setia dikatakan mendua? Bukan main! Dan hal itu hanya karena sebuah chat antara Luna dan teman lelakinya. Saat itu, Luna benar-benar mengalami patah hati terberat, sampai mogok makan seharian, nangis tiap malam, hanya karena seorang lelaki yang gantengnya seperti Lee Minus Banyak. Hendak move on tapi sang mantan selalu memberi perhatian, padahal pada saat itu Luna sudah jadian dengan laki-laki lain.
Tapi untung itu tak berjalan lama, karena sang mantan yang memilih mundur, memberi kesempatan pada pacar baru Luna untuk berjuang, eh tapi nyatanya yang dilakukan tak sesuai ekspektasi. Nyatanya, pacar baru itu malah lebih tak berakhlak, tidak pernah memberi kabar, dan egois tingkat tinggi. Sabar .... harus sabar .... dan huh ternyata sabar itu menjengkelkan, Luna memilih untuk mengakhiri hubungan yang baru berjalan beberapa hari itu.
Tapi sepertinya kesialan terus menghampiri Luna yang kini sedang dalam fase penyembuhan hati yang seringkali tersakiti, harus menghadapi cobaan lagi, lantaran banyak buaya yang sepertinya lepas dari kandangnya hanya datang untuk merayu atau sekedar memberikan gombal gembel yang entah memang serius atau hanya bercanda. Bercanda kali ya, kan dunia hobinya bercanda, engga kayak yang baca tulisan ini, serius aja hidupnye :p
Sembiran, 17 November 2021
________
Cerita tersebut hanya fiktif belaka, apabila ada persamaan nama tokoh ya maklum aja, namanya juga manusia.
Dan terima kasih buat yang udah baca, jika berkenan, kalian bisa bantu support karya aku baik itu yang berupa novel maupun chat story.
Salam, Ariny_