Sore itu, langit masih cerah. namun, bitiran-butiran kecil turun dari sana dan mulai membasahi permukaan bumi. Seorang gadis belia bernama Jingga baru saja sampai di rumahnya saat gerimis melanda ibukota hari itu.
Jingga adalah tipikal seorang gadis yang pemalu dan pendiam. Ia termasuk seseorang yang baik dan tulus pada setiap orang yang membuatnya nyaman termasuk Rio, laki-laki yang sudah singgah di hatinya. Namun, sayangnya ia memiliki suatu kelemahan yaitu selalu mudah mempercayai setiap orang yang ada di sekitarnya tanpa mengetahui dengan pasti orang tersebut baik atau tidaknya.
Siang tadi ia menghabiskan waktunya untuk bermain bersama sahabatnya, Hani. kebetulan hari ini adalah hari libur. Saat sudah masuk ke dalam rumah ia langsung disambut oleh Ibu dan Ayahnya serta kedua Adiknya, Doni dan Sisil. mereka sedang asik menonton acara televisi selama Jingga keluar rumah.
Baru saja ia akan pergi mandi dan menganti bajunya, Sisil sudah merengek meminta Jingga untuk membantunya mengerjakan tugas sekolah.
"Kak, please nanti bantuin aku kerjain tugas sekolah ya," ucapnya dengan nada memohon.
"Loh kan ada Doni, lagian juga aku baru pulang, mau istirahat, cape tahu." Menghentikan langkahnya saat akan berjalan menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.
"Aku gak mau sama kak Doni, setiap aku ngerjain tugas sama dia, nilai tugasnya tuh selalu jelek, lagipula dari tadi dia selalu asik dengan game online-nya, plise ya, kak," Sisil mengikuti Jingga dan menunjuk pada Doni. kemudian ia sudah memakai senjata ampuh dengan memasang wajah memelas agar jingga luluh.
"iya deh nanti selesai mandi, kakak bantu ngerjain tugasnya," kata Jingga yang di sambut acunggan Jempol oleh adik perempuannya itu.
"Makasih ya, kak Jingga," ujar Sisil
"Iya sama-sama," sahut Jingga lalu melanjutkan langkahnya untuk menuju ke kamar.
Sisil adalah adik Jingga yang kedua. ia baru saja duduk di bangku sekolah menegah pertama. sifatnya memang manja, wajarlah dia adalah anak bungsu. Berbeda dengan Doni, ia adalah adik pertama Jingga yang sudah duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama. Sedangkan Jingga sendiri sudah duduk di bangku kelas dua belas sekolah menengah atas.
Setelah Jingga sampai di kamarnya, ponselnya berdering, menandakan ada sebuah pesan yang masuk. ia pun menghentikan langkahnya saat akan mandi dan mengambil telepon genggamnya yang berada di dalam tas yang tadi ia bawa.
Ternyata itu pesan dari Rio, sang kekasih yang hampir satu tahun ini ia kenal. Jingga memasang wajah yang sedikit tegang saat membalas pesan singkat tersebut.
Ia sadar beberapa hari ini hubunggannya dengan Rio sedikit renggang karena suatu kesalahpahaman.
Gadis itu awalnya selalu percaya bahwa sang kekasih tidak akan mengecewakannya. semoga Rio bisa menjadi orang yang selalu setia padanya sampai mereka sama-sama lulus sekolah dan memiliki suatu kehidupan yang lebih baik nantinya, begitu kira-kira harapan Jingga.
Namun apalah daya, sepertinya apa yang ia harapkan tidak bisa berjalan dengan semestinya. bagaimana tidak, saat ini ia merasa kecewa pada Rio karena laki-laki itu selalu menyalahkannya dalam hal apapun dan tidak berfikir secara dewasa untuk menyelesaikan segala masalah.
Akhirnya petang itu juga, Jingga mengambil keputusan. ia mau mengakhiri hubunggannya dengan Rio saat itu juga. keputusan ini sudah ia pikirkan masak-masak. gadis itu tahu perjalanan hidupnya masih panjang dan terus-menerus bertahan bersama Rio sama saja ia mengbuang-buang waktunya bersama orang yang tidak bisa membuatnya bahagia.
"Jingga, kamu yakin mau putus dari aku?" tanya Rio yang tiba-tiba menghubunggi Jingga
"Iya aku Yakin. aku udah pikirin ini mateng-mateng, aku juga gak bahagia kok sama kamu karena kamu gak pernah ngertiin aku. Dan satu lagi, aku kecewa sama kamu!" jelas Jingga seraya menahan butiran air yang hampir menetes dari matanya
Rio belum berbicara apa-apa.
"Udah ya kamu jangan ganggu aku lagi karena sekarang kita udah gak ada hubunggan apa-apa lagi," lanjut Jingga
***
Selesai mandi dan membantu Sisil mengerjakan tugas sekolahnya, Jingga kembali ke kamarnya.
Ia berdiri di dekat jendela kamarnya sambil menatap lurus pada langit yang semakin lama semakin gelap. ternyata gerimis sudah berhenti.
Jingga masih ingat saat pertama kali ia dan Rio pergi ke sebuah taman. Saat itu, Hari sudah hampir sore dan gerimis tiba-tiba datang begitu saja.
Di Saat itu pula, gadis belia itu sangat menyukai gerimis terutama ketika senja tiba karena saat itulah momen-momen indah dan senyuman kebahagian terlukis begitu sempurna.
Lamunannya terhenti ketika suara ketukan pintu terdengar. ia pun bergegas melangkah menuju pintu dan membukakanya.
Ibu sudah di depan pintu dan berniat memanggil Jingga untuk ikut makan malam bersama.
Saat sudah berada di meja makan, Jingga memasang raut wajah yang kurang bersahabat, pikirannya pun masih berlarian kemana-mana. tentu saja karena kekecewaan yang ia rasakan saat itu. Namun, ia berusaha menutupinya dengan senyuman.
Gadis itu tak ingin orang-orang yang di sekitarnya tahu kalau ia sedang merasa kecewa.
Selang beberapa menit kemudian, makan malam sudah selesai. Namun, mereka semua masih belum beranjak dari kursinya masing-masing karena Ibu berkata bahwa Ayah akan menyampaikan sesuatu.
"Minggu depan nenek dan kakek serta saudara-saudara dari Ayah akan berkunjung kemari, Ayah harap saat mereka datang nanti kalian bisa menjaga sikap kalian masing-masing," ujar Ayah
"Wah, apa itu benar, Yah?" tanya Sisil
"Iya bener. mereka pasti sudah merindukan kalian. apa kalian juga merindukan mereka?" Jingga dan kedua adiknya mengagguk sambil tersenyum.
"Berati di rumah kita bakal rame dong," timbring Doni
"Memangnya hari apa mereka mau datang kemari, Yah?" tanya Ibu
"Bilangnya sih hari libur, ya berati antara sabtu atau minggu," jawab Ayah
***
Satu minggu telah berlalu setelah Jingga mengakhiri hubunggannya dengan Rio. ia masih menjalankan aktivitasnya seperti biasa.
Rasa kecewa yang ia rasakan sejak beberapa hari sudah berkurang secara perlahan-lahan. itu semua karena ia sudah bisa memaafkan semua kesalahan Rio tanpa harus menunggu laki-laki itu minta maaf padanya.
Bel di sekolah Jingga sudah berbunyi. waktu sudah menunjukan pukul 09.25. itu artinya jam istirahat sudah dimulai. banyak siswa yang sudah berkerumun di luar kelas, terutama di kantin. saat itu juga, Hani menarik tangan Jingga menuju ke kantin karena ia sudah lapar.
Ketika Jingga dan Hany sudah duduk di meja kantin, mereka memutuskan untuk memesan makanan dan minuman yang sama.
Seperti biasa, mereka suka berbincang-bincang atau bahkan salah satunya terkadang curhat dan diselinggi dengan canda tawa seraya menunggu pesanan datang.
"Oh iya Jingga, sebenernya gimana sih reaksi si Rio pas kamu putusin dia?kamu belum ceritain itu ke aku," tanya Hani yang sepertinya masih dihantui rasa penasaran karena semenjak putus dari Rio Jingga tidak bercerita banyak tentang laki-laki itu pada Hani
"Reaksi dia...biasa aja sih, kaya gak ada rasa bersalah, minta maaf sama aku juga enggak." Jingga tergelak agar bisa menutupi rasa kecewanya.
"Ya kayanya saran aku waktu itu ada benernya ya, kamu gak seharusnya terus-terus pertahanin dia atau bahkan nerima dia. sekarang kan kamu jadi kecewa," imbuh Hany.
"kalau cuma kecewa kaya gini, aku udah terbiasa sih, menurut aku, awalnya terasa rapuh tapi perlahan namun pasti, semuanya akan hilang seiring dengan kita berusaha memaafkan dan melupakan dia," jelas Jingga
"Wah aku salut nih punya sahabat kaya kamu, selalu bisa tegar menghadapi cobaan kaya gini. kamu sabar ya, Jingga. suatu saat kamu pasti dapet pasanggan yang lebih baik dari dia." Hani menepuk punggung tangan Jingga, sedangkan sahabatnya itu hanya tersenyum seraya mengaggukan kepalanya.
Selang beberapa menit setelah itu, pesanan mereka datang.
***
Waktu menunjukan pukul 19.30 saat Jingga sudah kembali ke kamarnya setelah makan malam.
Ia mulai duduk di meja belajarnya. lalu mengambil sebuah buku catatan dan pena. gadis itu mempunyai sebuah hobi, yaitu menulis.
Menggigat kisahnya dengan Rio, Jingga menuliskan sebuah cerpen di atas kertas putih tersebut yang menceritakan kisah pribadinya bersama laki-laki itu.
Cerpen itu berjudul Gerimis di Waktu Senja.
Selesai...