Aku pergi ke pasar, sembari menggendong anakku yang sedang diam dan memperhatikan orang orang yang berlalu lalang. Aku berhenti di sebuah pedagang sayuran, memilih beberapa sayuran segar. Tetapi, pandanganku terhenti kepada anak kecil yang pandangannya kosong namun ia tersenyum lebar.
Aku dengan antusias, ingin memperkenalkan dengan anakku. Karena anakku suka sekali bertemu dengan anak seumurannya. Anakku berumur 6 tahun dan dia sepertinya seumurannya.
"Fia... Lihatlah, dia seumuranmu bukan? Kau tak ingin berkenalan dengan anak ini?" Tanyaku sembari mengusap pipi Fia.
Ibu pedagang itu, langsung menoleh ke arah anak itu. Ia sempat melototokan kedua bola matanya, lalu tubuhnya kaku tiba tiba.
"An—anakku!!" Teriak Ibu itu histeris, dia segera memeluk anak itu.
Aku mengerutkan dahiku, kukira anak ini di sini karena kehendak ibu pedagang itu. Ada sesuatu keanehan lagi yang ku tangkap. Ibu itu memeluk anaknya, tetapi anaknya masih saja berekspresi sama. Pandangan yang kosong dan senyum lebar. Ia seperti boneka bagiku.
"Ibu.... Apakah itu ibunya?" Tanya Fia, sembari menunjuk ke arah mereka berdua.
"Yaa... Ah! Iya Fia, jelas itu ibunya," Jawabku asal.
"Ini anakku, dia sudah hilang selama dua hari. Dan tiba tiba dia muncul di sampingku, adalah suatu keajaiban. Terimakasih ya Tuhann!!" Heboh Ibu itu, sembari memeluk erat Putrinya.
"Ibu..... Fia ingin sekali boneka itu." Anakku menunjuk ke arah Boneka, yang tergeletak di dekat tempat anak tadi itu duduk.
Tiba tiba saja, anak pedagang itu menangis kencang. Membuat orang orang di sekitar kami kaget, termasuk anakku yang langsung menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Ibu pedagang itu langsung berusaha menenangkannya, kemudian ibu pedagang itu menatapku.
"Aku mau segera pulang ke rumah, ambilah apapun yang kau mau. Kau bisa membayarnya, jika kau kembali lagi ke pasar," Ucap ibu pedagang itu, kemudian pergi meninggalkan pasar sembari menggendong putrinya yang masih menangis.
"Artinya, aku boleh membawa pulang boneka itu kan Bu?" Tanya anakku, sembari menatapku ceria.
"Iya, baiklah!" Aku menganggukan kepalaku.
Aku berpikir, nanti saat aku kembali. Aku akan mengembalikan boneka itu lagi, karena aku tak tega melihat putriku sedih.
***
Pada malam itu, aku membuatkan susu hangat untuk Fia sebelum tidur. Itu sudah kebiasaannya. Jika ia tak minum, ia tak akan bisa tidur.
Aku berjalan sembari bersenandung kecil. Tapi aku berhenti, ketika melihat boneka yang ku bawa pulang tergeletak di depan lemari es. Aku menggeleng gelengkkan kepalaku. Aku hanya berpikir, ini pasti ulah Fia.
Aku kemudian mengacuhkannya, lalu berjalab ke arah kamar Fia. Mengetuk pintunya terlebih dahulu, tetapi sama sekali tak ada sautan. Senyuman yang sedari tadi terulas, kini mulai memudar. Aku membuka pintu kamar Fia dan menemukannya sudah tertidur.
Aku hanya berpikir, pasti ia kelelahan sampai melupakan susu hangatnya.
***
Malam kedua. Sama saja, Fia tertidur lebih cepat. Membuatku mengerutkan dahiku. Lalu aku berjalan mendekat ke arah Fia dan memegang tubuhnya. Tubuhnya sangat berkeringat, lalu ku usap pipinya. Tiba tiba ia terbangun dan membuatku terkejut.
"Ibu!!" Panggilnya dengan ceria.
"Hei Fia!! Kau melupakan susu hangatmu hampir dua kali. Kau tak ingin meminumnya? Atau kau sudah dewasa?" Aku menunjukkan susu putihnya, sembari mengulas senyum.
"Aku sudah tak mau minum itu lagi Bu. Aku sudah besar." Fia mengulas senyum lebar.
"Iya, Ibu percaya. Baiklah, di mana bonekamu?" Tanyaku sembari celingak celinguk.
Tiba tiba Fia tertawa keras, membuatku mengerutkan dahiku. Fia sangat aneh belakangan ini.
"Boneka itu sangat lemah, Bu. Bagaimana bisa, Ibu melahirkan boneka seperti itu?" Tanya Fia.
Aku hanya menganggap itu omong kosong Fia. Karena aku tau, anak kecil memang suka berbicara ngawur.
***
Pagi hari ini, aku mendengar suara berisik dari arah dapur. Aku berjalan mendekat ke arah dapur dan menemukan Fia sedang memakan roti selai.
"Fia. Kau sudah bisa membuat roti selai?" Tanyaku, sembari berkacak pinggang.
"Sedikit berantakan, hehehe!!" Tawa Fia.
"Selai rasa strawberry?" Tanyaku, saat melihat banyaknya noda warna merah di lantai dan meja makan.
"Enak sekali Bu." Fia menunjukkan roti selainya, dengan mulutnya yang celemotan.
"Dari mana kau dapatkan selai Itu, Fia? Ibu tak pernah mengajarimu mencuri." Aku menatapnya marah.
Karena aku merasa sudah kehabisan selai strawberry, yang masih ada hanyalah selai rasa coklat kesukaan Fia. Dan ini, dari mana dia bisa mendapatkan selai rasa strawberry.
"Aku tak mencuri Bu." Fia menghadapkan tubuhnya ke arahku.
"Fi—Fia!!! Tanganmu kenapa? Apa kau habis terjatuh?" Tanyaku khawatir.
Aku langsung mendekat ke arah Fia dan melihat lekat luka di lengannya. Tapi alisku mengkerut, saat ku sadari ini bukan luka biasa. Aku langsung celingak celinguk mencari pisau dapur dan menemukannya dengan adanya bekas merah di sana.
"Kau menyayat lenganmu? Apakah tidak sakit Fi?" Tanyaku beruntun.
Tetapi reaksi Fia hanya biasa saja, ia tak nampak kesakitan.
"Jangan kau bilang, selai ini ialah darahmu?" Tanyaku.
"Tidak sakit Bu, tetapi rasa selai ini sangat enak." Ia semakin memakan lahap roti selainya.
***
Aku sudah memplester lengan Fia. Dia juga sudah ku tidurkan. Aku saat ini menunggu Fia, sembari berteleponan dengan suamiku. Menceritakan semua keanehan Fia belakangan ini. Suamiku sedang bekerja di luar kota, jadi hanya ada aku dan Fia saja di rumah untuk sementara.
"Dia sangat aneh dan aku sangat takut." Aku mengelus dahi Fia.
"Kau pasti kelelahan mengurus Fia. Lebih baik, kau ikut tidur saja dengan Fia. Maafkan aku, yang tidak bisa ikut mengurus Fia."
Aku menghela napas, "Kau sedang mencari sumber makanan untuk kami Sayang...." Aku berusaha berucap lembut.
Ketika aku hendak mengelus dahi Fia lagi, tiba tiba ia terbangun dan tertawa keras. Membuatku terkejut dan mungkin suamiku juga.
"Itu Fia?" Tanyanya di sebrang sana.
"Mungkin dia tadi bermimpi sesuatu yang lucu, hingga tertawa keras." Tenangku.
Padahal aku saat ini, sedang menenangkan Fia yang seperti kerasukan. Aku memilih mematikan teleponnya daripada suamiku semakin khawatir di sana.
"Aku dan Fia baik baik saja. Kumatikan dulu ya, mau tidur." Alibiku.
Tanpa mendengar jawabannya, langsung kumatikan sepihak. Aku mengembuskan napas lega, lalu berusaha menenangkan Fia kembali.
***
Pagi ini aku hendak ke pasar lagi, ingin membayar sayuran dari pedagang itu dan mengembalikan boneka itu. Aku sudah bersiap siap dan mencari Fia.
Ya, aku kembali membawa Fia. Kurasa mungkin dia kurang keluar, makanya dia sedikit aneh.
Aku berjalan mencari pedagang itu dan menemukannya. Ketika aku di sana, pandangan pedagang itu langsung ke arah anakku. Ia mengembuskan napasnya lega, lalu melirik boneka yang ku bawa.
Ia menariknya paksa. Membuatku merasa tak enak, mungkin ia marah. Ia kemduian seperti menjompa jampi boneka itu, lalu ia buang dan bakar. Aku melototkan kedua bola mataku. Tiba tiba Fia tertawa keras membuat pedagang itu dan aku kaget.
"Pergilah kau setan!!" Teriaknya ke arah Fia.
Aku hampir marah, tetapi ku hentikan saat Fia tiba tiba pingsan. Pedagang itu menoleh kembali ke arah Boneka itu yang masih terbakar. Lalu kemudian hujan, membuatku berteduh di sana. Aku melihat putri pedagang itu, sedang bernyanyi kecil.
Pedagang itu menunjukkan putrinya kepadaku, aku mengerutkan dahiku. Apa yang ia maksudkan?
Aku masih menggendong Fia yang pingsan dan berusaha memberinya kehangatan.
"Tante..." Panggil anak itu.
Aku menolehkan kepalaku dengan cepat ke arahnya. Pedagang itu melihat juga ke arah putrinya.
"Aku pernah dinyatakan hilang dua hari. Tetapi, aku merasa tak hilang. Aku merasa, aku ada di sekitar Ibu tetapi Ibu tak bisa melihatku. Tetapi, aku juga melihat diriku di sana. Dia selalu berjalan ke arah Ibu, ketika Ibu tertidur. Lalu esoknya, ia sudah tidak ada." Anak itu menatap ke arahku.
"Apakah, dia akhir akhir ini terasa aneh?" Tanyanya.
Aku melihat Fia, memudian menganggukan kepalaku.
"Itu bukan dia yang melakukannya. Arwah dari boneka itu, yang masuk ke dalam tubuhnya. Ku rasa, dia dulu sedang berada di dalam boneka itu. Tetapi, tenang saja. Dia sudah kembali ke tubuhnya seperti semula." Jelas anak itu.
"Berarti, apa yang Fia alami. Juga kau alami?" Tanyaku.
"Hampir sama, mungkin." Anak itu mengulas senyumnya.
"Oh Tuhan!! Terimakasih telah melindungi Fia." Aku mengecup dahi Fia.
"Putriku, sebelum menghilang. Dia suka bermain di taman kanak kanak saat malam malam, membuatku merasa khawatir. Tapi, aku tidak merasa curiga pada boneka itu. Saat putriku menghilang, yang ku pikirkan hanya. Ia diculik." Penjelasan dari pedagang itu.
Aku hanya mampu bersyukur lagi dan mengecup dahi putriku berulang kali.
***
Aku sudah berada di rumah dan betapa terkejutnya aku melihat pintu rumahku terbuka. Aku menggandeng tangan Fia dan5 mengendap endap ke arah kamarku. Dan betapa terkejutnya diriku saat melihat suamiku pulang.
Fia berhambur ke arah Ayahnya dan aku pun berjalan ke arah mereka berdua.
"Kenapa kau pulang?" Tanyaku.
Suamiku mencium dahiku, "Aku khawatir kepada kalian berdua," Jawabnya.
"Kau tak membawakanku mainan, Ayah?" Tanya Fia, membuatku dan suamiku tertawa keras.
***
"Ibu!! Lihatlah boneka yang tergeletak di jalan itu!!" Seorang anak perempuan menunjuk ke arah boneka itu.
"Itu sudah gosong nak," Jawab Ibu dari anak itu.
"Tidak tidak!! Aku mau boneka cantik itu!!" Teriak anak itu.
Ibu dari anak itu tak menghiraukan dan menggendong anak itu pergi.
[Tamat]