Hidup itu apa? Tidak ada satu orang pun yang bisa menjawab raguku hingga saat ini. Semua orang menganggapku aneh karena terlalu mempertanyakan hal-hal bersifat filsafat. Padahal aku sendiri pun tidak pernah mempelajari filsafat. Aku hanya mempertanyakan kehidupan untuk diriku sendiri.
Selama 27 tahun aku hidup, aku telah mendapatkan banyak penghargaan, lulus dari universitas terbaik, hingga menjadi seorang direktur perusahaan berskala internasional, perempuan pun datang tanpa kuminta.
Kehidupanku seolah sangat bahagia, tapi aku tidak merasakan apa pun. Ada kehampaan yang selalu mengiringi kemana pun aku melangkah. Mengapa hidupku selalu seperti ini? Entahlah... Aku hanya berusaha melakukan segala hal yang diinginkan oleh kedua orang tuaku.
Ya, katanya aku adalah anak berbakti yang selalu mengikuti semua yang diminta oleh ayah dan ibuku. Aku melakukannya dengan sangat baik dan sempurna. Namun, aku merasa hampa.
"Justin, kau memang yang terbaik. Tidak sia-sia aku melahirkanmu." Wanita paruh baya itu tersenyum. Dia tersenyum setelah mendapatkan laporan profit keuntungan yang berlipat ganda dari project yang aku lakukan untuknya.
"Aku akan pergi sebentar. Tolong jangan mencariku," ujarku sambil mengenakan sebuah syal berwarna abu di leherku.
"Baiklah, kau memang perlu beristirahat. Pergilah, tapi jaga sikapmu. Aku tidak ingin mendengar kabar kalau kau pergi ke mabuk di bar."
"..." Aku tidak menjawab. Aku hanya pergi meninggalkannya begitu saja.Dia pikir aku ini anak-anak? Aku membencinya, tapi aku tidak bisa benar-benar membencinya karena dari rahimnya aku bisa lahir ke dunia.
Hidup memang terasa hampa, tapi setidaknya aku bisa menghargai segala hal yang aku punya. Ya, aku bisa mensyukurinya meski aku tidak benar-benar merasa senang. Apa yang terlihat di luar tidak sama seperti apa yang ada di dalamnya.
Malam ini aku pergi bermain bilyard seorang diri. Beberapa orang datang silih berganti mengajakku bicara, tapi aku mengabaikannya. Begitu pula saat diriku sedang duduk di bar.
Seorang perempuan berambut ungu tiba-tiba saja duduk di sebelahku saat diriku sedang memperhatikan gelas berisi Screwdriver Vodka yang ada di hadapanku.Warna airnya yang kuning pekat dengat irisan jeruk sudah jelas menunjukkan kalau ini adalah segelas vodka dengan campuran jus jeruk.
"Hai tampan, apa kau butuh teman malam ini?" Perempuan itu mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku tidak bisa membantah kalau perempuan itu cantik dan memiliki proporsi badan yang ideal. Kau bisa mengetahuinya tanpa perlu membuatnya melucuti bajunya. Meski begitu, aku tidak tertarik padanya.
"Apa kau sedang butuh sandaran?" Perempuan itu masih terus mencari perhatianku meski aku tidak menanggapinya sama sekali. Ada sedikit getar resah di nada suaranya.
Beberapa saat berlalu dan aku masih tidak menanggapinya. Meliriknya saja aku enggan.
"....." Dia terdiam, tapi tidak beranjak pergi sama sekali. Rupanya dia perempuan yang gigih juga.
"Aku bisa menemanimu sepanjang malam kalau kau mau," ujarnya. Ada sedikit resah yang bisa aku tangkap darinya.
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku tepat pada intinya.
"....." Perempuan itu terdiam.
"Apa 10 juta cukup? Aku bisa memberikannya asal kau berhenti menggangguku," ucapku jelas.
Perempuan itu menggigit bibirnya sebelum kemudian melingkarkan lengannya di tanganku. Dia kemudian berbisik padaku.
"Aku mohon bawa aku pergi ke hotel. Kau mau menyentuhku atau tidak itu terserah dirimu."
Bisikannya ini membuat keningku mengkerut. Apa yang sedang direncanakan perempuan ini? Sangat mencurigakan dan tentunya merepotkan.
"Aku mohon." Dia masih berbisik di telingaku.
Aku menghela napas panjang sebelum kemudian membuangnya dengan kasar. Aku teguk Screwdriver milikku yang masih tersisa. Perempuan ini sangat merepotkan, aku dapat menebak kalau dia akan terus menggangguku dan tidak akan membiarkanku pergi begitu saja.
"Baiklah," ucapku malas.
Perempuan itu tersenyum. Lekukan bibir tipisnya yang bergincu merah delima cukup membuatnya terlihat manis. "Kau pasti akan sangat senang bersamaku, sayang."
Sudah kuduga. Dia pasti punya rencana. Entah apa pun itu, aku akan membiarkannya untuk saat ini.
Perempuan itu menempeliku bagaikan lem dan bertingkah bagaikan seorang perempuan nakal yang manja. Harus aku akui kalau dia cukup menarik meski mencurigakan.
Hingga akhirnya aku dan dia berada di dalam kamar hotel bintang 5 yang tidak berada jauh dari bar. Aku memesan kamar VIP. Bukan untuknya, tapi untukku sendiri karena malam ini aku tidak ingin pulang ke rumah.
"Aku akan berada di sini sampai matahari terbit. Kau boleh melakukan apa pun yang kau inginkan." Perempuan itu bicara tanpa memandangku. Tatapannya tertuju pada lantai di bawah kakinya.
Aku mengabaikannya. Aku melepaskan syal, jaket, dan kemeja yang melekat di badanku. Aku dapat melihat perempuan itu semakin menunduk saat aku menaruh bajuku di atas sofa.
"Pergilah," ucapku sambil mengambil sebungkus rokok dan sebuah pematik yang ada di saku jaketku.
Aku membakar ujung rokok sebelum kemudian menyesap dan menghembuskan asapnya. Bagiku hal ini cukup untuk mengalihkan pikiranku dari perempuan berambut ungu ini.
"Aku serius." Perempuan itu berdiri dan menatapku dengan lekat.
"Aku pun serius. Kau bisa pergi. Lagipula aku memesan kamar ini untuk diriku sendiri." Aku membuka jendela hotel dan menghembuskan asap rokok ke luar.
"Kalau aku tidak ingin pergi bagaimana?" tanyanya masih dengan tatapannya yang mengarah padaku.
Aku menoleh padanya dengan tatapan mata yang sedikit meruncing. "Terserah kau saja."
Dia terlihat kaget mendengar perkataanku. Kedua tangannya mengepal seolah menyimpan emosi yang tidak bisa dia utarakan pada orang lain.
"Apa yang kau inginkan? Kau melakukan semua ini pasti punya alasan, bukan?" tanyaku sambil menatapnya dengan lekat.
Perempuan itu terdiam dan menunduk selama beberapa saat.
"Tolong..."
Lirihannya ini sedikit membuatku penasaran.
Perempuan itu tiba-tiba saja bersujud padaku. Dia seolah membanting semua harga diri dan idealismenya demi meminta pertolongan padaku.
"Tolong beri aku uang sebanyak yang kau bisa untuk keperluan hidupku selama tiga bulan dan izinkan aku berada di sini hingga pagi. Aku tidak masalah bila tidur di sofa. Kau pun boleh melakukan apa pun yang kau mau padaku."
Aku terdiam mendengar segala permintaannya. Ada apa dengannya? Apa dia kabur dari rumahnya? Apa dia terlilit hutang? Entahlah, aku tidak mengerti.
"Aku mohon," pintanya lagi yang masih tidak bangkit dari sujudnya.
Aku menghela napas. "Memangnya kau pikir aku apa? Aku bukanlah Tuhan yang pantas untuk disembah sujud."
"Ta-tapi..." Perempuan itu sedikit mengangkat kepalanya.
Aku mematikan rokokku di asbak yang ada di atas nakas sebelum kemudian mengeluarkan kertas cek yang ada di dompetku dan menulis nominal.
"Kau ingin aku memberimu uang? Baiklah, aku kabulkan." Aku berjalan ke arahnya yang kini terduduk di lantai.
"Kau ingin berada di sini sampai pagi? Tentu, tapi kau harus tidur di kasur dan jangan berkata hal-hal aneh. Aku tidak ingin menyentuhmu," tandasku sambil memberinya kertas cek senilai 50 juta.
"I-ini..." Perempuan itu terkejut melihat nominal yang tertera.
"Apa yang kau inginkan? Kau pasti tidak akan memberikannya secara cuma-cuma, bukan?" Perempuan itu kini menatapku penuh tanya.
"Aku akan memutuskannya nanti," ucapku yang membuatnya kembali menggigit bibirnya.
"Atau mungkin aku tidak akan pernah memberi keputusan," lanjutku yang kemudian berjalan menjauh darinya dan pergi ke kamar mandi.
**
Pagi hari telah datang. Aku hanya sedikit tidur di sofa. Perempuan itu kini sudah bersiap untuk pergi tanpa berhias. Mandi pun tidak.
"Aku akan pergi," katanya.
"Ya, pergilah," jawabku malas.
"Pembayarannya?" Dia bermaksud mengungkit keputusanku padanya.
"Lupakan saja. Aku akan menganggap kalau dompetku sedikit tercuri oleh berandalan malang," jawabku sekenanya.
"Baiklah aku pergi." Perempuan itu pamit dan berjalan keluar melewati pintu kamar. Aku melihatnya hingga dia menutup rapat daun pintu.
"Akhirnya tenang juga," ucapku yang kemudian menghamburkan diriku di atas kasur. Aku menutup kedua mataku dan mencoba untuk terlelap. Dan berhasil.
**
Ketika matahari sudah berada di sepenggalah yang teriknya bisa membangunkan seekor unta, aku telah ada di depan sebuah cafe yang ada di samping bar.
Aku sebenarnya berniat untuk pergi ke bar demi minuman pagi hariku yang eksotis, tapi langkahku terhenti karena melihat sesosok perempuan berambut ungu di dalam cafe.
"Dia..." Aku bisa melihat perempuan itu baru saja ditampar oleh seorang laki-laki seusiaku yang memakai barang branded dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Meski aku tidak mendengar suaranya, tapi aku bisa membaca pergerakan bibirnya. Laki-laki itu menghina si perempuan berambut ungu dan mengutuknya mati kelaparan di kamar kost yang lusuh.
Waw, ini terlihat sangat menarik.
Kakiku berjalan dengan sendirinya memasuki cafe. Aku bahkan meninju laki-laki berengsek itu sebelum dia menuangkan sebotol soda pada si perempuan berambut ungu.
"K-kau?" Perempuan berambut ungu itu kaget.
"Kurang ajar?! Jangan bilang kalau kau adalah laki-laki yang telah menidurinya semalam." Pria itu mencecar sambil mengelus pipi kirinya yang telah aku tinju.
Ternyata seperti itu.
"Aku sudah memutuskannya," ucapku jelas. Membuat perempuan berambut ungu menatapku bingung.
Tanpa aba-aba, aku menarik bahu perempuan berambut ungu dan mendaratkan bibirku pada bibirnya. Mengulumnya tepat di hadapan pria yang telah menampar perempuan ini.
"Kau lunas. Pergilah yang jauh darinya." Aku berbisik sambil menariknya keluar dari cafe.
Laki-laki itu terlihat murka melihat kepergianku dengannya. Melihatnya sungguh membuatku sangat senang. Perasaan hampa yang selama ini mengiringiku itu kini terisi.
"Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi," ucapku setelah berjalan memasuki gang yang berada cukup jauh dari cafe.
"Terima kasih." Perempuan itu tersenyum. Kali ini terlihat lebih bebas dari sebelumnya. Dia mengangguk sebelum kemudian pergi berlari meninggalkanku.
Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih karena dia membuatku terisi meski hanya sebentar.
SELESAI
Terima kasih telah membaca. Dukung aku selalu ya!
IG: @ilmalaila22