“JUNHO LU PIKIR OM BAKAL SENENG LIAT ANAKNYA BEGINI”
"bagaimana kamu bisa menyimpulkan aku Junho temanmu, saat aku..."
Bagaimana jika kebaikan dan penyamaran bertopeng di pertemukan. Apa kebaikan yang bertahan.
---------------------
Malam itu di gang kecil seorang remaja pria berusia 19 tahun lewat dengan santai dan sambil mendengarkan musik dari handphonenya menggunakan earphone. Tiba-tiba ia mendengar suara “krukkk” suara itu berasal dari perutnya yang belum makan dari tadi siang. “Aku lapar kupikir aku bisa membeli sesuatu dulu.” Ia pun terus jalan sampai berada di ujung gang dan sampai di jalan besar. Remaja tadi masuk ke salah satu minimarket disana.
“Taen kamu dari mana jam segini baru mau pulang” tanya penjaga minimarket yang mengenal remaja tadi.
“Les, latihan band, dan ngerjain tugas” jawab Taen€ dengan lelah.
“Hebat” ucap penjaga minimarket sambil mengacungkaan ibu jarinya.
Taen hanya berdehem sambil memakan mie yang di belinya. Sudah 10 menit Taen di sana, sekarang ia akan pulang mie juga sudah habis.
“Taen pulang dulu bye” teriaknya lalu membuka pintu.
“Taen bentar” tahan si penjaga minimarket tadi.
“Apa?” tanya Taen sambil membalikan badannya.
“Nanti kalo lewat gang kecil, hati-hati sekarang lagi banyak penjahat remaja yang juga ngincar remaja ” terang si penjaga minimarket.
“Iya tenang aja” kata Taen sambil menampilkan senyumnya dan tertawa pelan.
Taen keluar dari minimarket tersebut dan berjalan sambil tetap mendengarkan lagu namun ia hanya menggunakan earphonenya di satu lubang telinga. Saat sampai di pertigaan jalan Taen mendengar jeritan lirih yang meminta tolong. “Apa yang terjadi, apa aku kurang beruntung kali ini” pikir Taen. Taen yang penasaran pun menghampiri suara tersebut.
“Jun” seru Taen yang kaget melihat temannya sedang menyiksa seorang gadis muda. Si pria yang mendengar suara Taen pun kaget lalu ia berbalik badan.
“Kamu ngapain disini Taen?” tanya Junho yang masih kaget.
“Itu siapa” tanya Taen sambil melihat gadis tadi sudah mulai mengeluarkan banyak darah dari perutnya.
“Taen dengerin dulu” ucap Junho pasrah.
“Kamu gila ya, udah ayo bawa dia ke rumah sakit” ajak Taen yang panik.
“Ga, gabisa dia udah buat gw kehilangan papah” tolak Junho dengan cepat.
“Lu bisa kena pidana Jun” ucap Taen yang kesal.
“Sayangnya gw ga peduli Taen, gw bakal bikin dia nyusul papa” kata Junho dengan bibir yang tersenyum.
“JUNHO LU PIKIR OM BAKAL SENENG LIAT ANAKNYA BEGINI” teriak Taen.
“DAN LU PIKIR GW TERIMA LIAT PAPA SENDIRI DI BUNUH, HA ENGGAK KAN” balas Junho dengan teriak.
“KARENA DIA GW HARUS HIDUP SENDIRI DAN MAMA PERGI SAMA PRIA LAIN” lanjut Junho yang mulai terisak.
“DIA MATI AJA BELUM CUKUP TAEN” teriak Junho sambil meraba leher gadis tadi dan hendak mencekik nya.
Tanpa pikir panjang Taen langsung menyeret Junho menjauh dari situ, dan Junho tetap memberontak namun tiba-tiba pria tadi diam. Taen berpikir mungkin dia sudah lelah dan sadar.
“Jun kamu tunggu di sini dulu ya, aku mau telp ambulance kamu tenang aja” ucap Taen lembut.
“Tentu” jawab Junho.
Taen mendatangi gadis tadi yang sudah pingsan, dan menurut Taen gadis tadi sangat menyedihkan. “Tolong maafkan temanku gadis cantik” ucap Taen.
Prok, Prok
Terdengar suara tepuk tangan, Taen berbalik dan ia melihat Junho disana “Kenapa Jun” tanya Taen kebingungan melihat temannya tertawa.
“Taen oh Taen bagaimana kamu bisa menyimpulkan aku Junho temanmu, saat aku memakai masker dan aku tau namamu dari name tag di kemeja mu, jangan lupakan aku kakak Junho dari US” suara pria tadi mulai berubah.
Taen sadar dari tadi ia tidak melihat muka pria itu dan hanya melihat matanya.
“Kamu terlalu baik Taen, surga menunggu mu”
Itulah akhir kisah hidup Taen, mungkin benar orang baik selalu pulang lebih cepat.
-TAMAT-