“PLAK! TAK! PLAK! TAK! PLAK!”
Pukulan, tamparan, dan cambukan beberapa kali dilayangkan kepada anak laki-laki berambut putih yang hanya bisa pasrah menerima perlakuan tersebut.
“Tenn, kami melakukannya karena sayang padamu, puff, hihi,” kata sang ayah.
Sedangkan sang ibu tersenyum sebelum menyiraminya dengan air panas.
“Ahhhhhhhh!” ringis Tenn, anak laki-laki berambut putih itu menangis.
Ya, bisa dibilang kedua orang tuanya sakit mental, karena itulah mereka sekeluarga pindah ke pantai di sebuah pulau yang sudah tidak berpenghuni lagi.
Umur Tenn sudah menginjak usia 8 tahun, dan sudah 8 tahun juga ia menerima siksaan di atas dari orang tuanya, yang dianggap sebagai bentuk kasih sayang. Bagi Tenn, ia sudah tidak kuat menahan siksaan tersebut, tapi karena mereka orang tuanya, membuatnya diam tak berdaya. Walaupun ingin melawan, kurasa tanpa diberitahupun hasilnya sudah dipastikan, saat anak usia 8 tahun berhadapan dengan orang dewasa.
Dengan sekujur tubuh yang dipenuhi bekas pukulan dan cambukan, wajahnya yang bengkak karena tamparan, sudut bibir dan keningnya yang berdarah, serta lebam luar biasa akibat air panas, Tenn berjalan ke tepi pantai.
Terlihat laut yang membentang, mengingat sebelumnya ia tinggal di kota, tapi karena penyakit mental orang tuanya mereka terpaksa pindah. Tenn ingin menyebrangi lautan itu, dan meninggalkan neraka tersebut.
Hidup di pulau yang besar tanpa penghuni sama sekali dan siksaan setiap hari membuat Tenn muak.
Tiba-tiba, ia melihat sebuah benda terapung dari jauh mendekat ke arahnya.
“Bingkai?” tatap Tenn melihat foto seorang anak perempuan berambut panjang seumurannya bergaun putih dalam bingkai itu, namun hanya setengah.
“Deg!”
“Eh? Apa itu?” layaknya dirasuki, Tenn merasa mata anak perempuan dalam bingkai tadi terbuka dan menatapnya.
Namun, setelah dilihat-lihat tidak ada keanehan, “Mungkin aku salah lihat, karena terlalu capek disiksa,".
Tenn berpikir, siapa yang tega membuang foto secantik ini ditengah laut, membuatnya membawa bingkai itu pulang. Tanpa sadar, air laut yang dilewati bingkai itu hanyut seketika berubah menjadi hitam.
Begitu Tenn pulang, kedua orang tuanya menanyainya dari mana ia mendapatkan bingkai itu. Tenn memberi tahu mereka kalau bingkainya terhanyut, mungkin seseorang membuangnya.
Ayahnya merebut bingkai itu, dan menatapnya sejenak.
“Bugh!”
Tenn melotot karena ayahnya membanting bingkai itu, tapi untunglah bingkainya tidak rusak sama sekali. Aneh, padahal bingkai kaca, itulah yang dipikiran Tenn.
“Kalau ingin mengambil bingkai itu, temani kami bermain dulu,” kata sang ibu.
Yang benar saja, bukankah beberapa menit yang lalu, dirinya sudah disiksa? Lalu sekarang hanya demi mengambil bingkai, Tenn harus meladeni orang tuanya lagi.
“Baiklah, Ayah, Ibu,”
Tenn terkejut karena kedua orang tuanya memecahkan belasan keramik dilantai, sehingga membentuk jalan ke arah bingkai tadi.
“Tenn sayang, berjalanlah di atas keramik ini, maka Ayah dan Ibu mengizinkanmu menyimpan bingkai itu,” kata sang ayah.
Tenn menelan saliva membayangkan betapa sakitnya jika berjalan di atas pecahan keramik dengan kaki telanjang. Tapi, demi bingkai itu Tenn rela.
“Akh! Ssttt, hikss…hikss,” ringis Tenn gemetar menangis merasakan rasa sakit luar biasa di kakinya.
Malamnya, Tenn meringis mengobati kakinya yang terluka parah sambil memandang bingkai di depannya yang berhasil ia ambil.
“Hei, namaku Tenn Amano, salam kenal, namamu siapa?” tanyanya mengajak bingkai itu bicara.
“Kalau begitu, aku memanggilmu Juu-chan saja, yang merupakan nihongo dari namaku, maukah kau menjadi sahabatku?”
“Menjadi psikopat adalah impianku untuk membunuh Ayah dan Ibu,”
“Iblis di dalam tubuhku seperti ingin bangun, dan langsung membunuh mereka berdua,”
Meskipun tahu bingkai itu tidak berbicara, Tenn tetap meluapkan semua curhatannya kepada Juu.
Paginya seperti biasa, Tenn mendapat siksaan dulu, sebelum dirinya menyiapkan sarapan pagi.
“Ayah, Ibu, aku mengembangkan masakan baru, pasti enak,”
Akan tetapi sang ayah malah menjambak rambut Tenn lalu membenturkannya ke meja makan.
“Akh!” teriak sang ayah merasa kesakitan.
Tenn menusuk tangan ayahnya yang sebelah dengan garpu, membuat sang ibu melotot.
“Tenn!” seru sang ibu hendak menampar, namun niatnya terhenti saat Tenn melemparinya dengan gelas kaca ke arah kening.
Kedua orang tuanya bingung, ini pertama kalinya Tenn melawan, seolah-olah anak laki-laki di hadapannya itu bukan Tenn.
“Tolong, bisakah sesuatu yang ingin kukembangkan diberikan sebuah motivasi sedikit? Huh, rumah ini dipenuhi orang-orang yang tidak tahu memotivasi,” kata Tenn.
Ia mengisyaratkan kepada kedua orang tuanya sambil menodongkan pisau agar mencicipi masakannya.
“Apa yang kalian tunggu? Aku mendedikasikan semua rasa cinta dan kasih sayangku terhadap masakan ini,” kata Tenn menyeringai membuat kedua orang tuanya gemetar.
Pisau di tangan ayah Tenn masih menancap, sedangkan kening ibunya juga keluar darah yang begitu banyak akibat gelas kaca tadi.
Sambil pasutri itu makan, Tenn mengetukkan pisau berulang kali di meja dengan jeda 2 detik setiap ketukan, hingga akhirnya pasutri itu panik sambil memegangi lehernya. Keluar busa sedikit demi sedikit dari mulut mereka.
“Tenn! Apa yang kau masukkan ke dalam makanan ini?!” seru sang ayah.
“Benar! Akh! Tenggorokanku rasanya sangat sakit!” seru sang ibu.
Tenn masih mengetukkan pisau dan santainya memandangi 2 orang itu tanpa merasa panik sedikitpun. Sampai kedua orang itu terjatuh, ketukan pisau masih dimainkan Tenn.
“Ah, sepertinya aku menambahkan racun ke dalam masakanku? Maaf, lain kali, akan kucoba resep baru,”
Masih mengetukkan pisau, Tenn memandang tanah di luar rumahnya sambil bergumam dalam hati, “Mereka berdua akan kutanam di sana saja,”.
Seketika ketukan pisau berhenti. Tenn menghampiri mayat kedua orang tuanya. Semua perlakukan yang ia terima selama 8 tahun muncul, membuatnya menusuk-nusuk tubuh 2 orang tersebut.
Tidak peduli bercak darah memenuhi wajah dan tubuhnya. Ia hanya menyeringai sambil melakukan hal itu.
“Hmph…hehe…hahaha…AHAHAHA…BAHAHAHAHA!!!” Tenn tertawa menyeringai.
Tenn berdiri dengan sekujur tubuh dipenuhi darah. Ia mendongakkan kepala dan melihat anak perempuan berambut panjang dengan gaun indah putih tersenyum ke arahnya.
“Tenn, sekarang kau yang akan membunuh demi diriku, tidak akan pernah aku lepaskan, selamat datang di dunia iblis,” kata anak perempuan itu dengan mata merah menyala.
Foto bingkai yang ada di dalam kamar Tenn juga sudah kosong.