Di pantai ini, iblis merasuki jiwaku dan menjadi racun bagi ketulusan hatiku pada sahabatku sendiri.
Mungkin orang akan berpikir, aku si ratu tega. Tapi orang tidak tahu betapa menderitanya aku, betapa pahitnya kehidupan yang aku jalani selama ini.
Maafkan aku sahabatku. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan seperti yang engkau rasakan sekarang. dosakah jika aku menginginkannya?
…
Debur ombak menyapa diriingi semilir angin pantai yang menerpa. Suara burung laut bersahutan bercengkrama dengan indahnya alam.
Keindahan ini sungguh mengiris hatiku, bertolak belakang dengan suasana jiwaku yang sendu. Dari tempat dudukku kusaksikan sepasang suami istri yang sedang bercengkrama penuh mesra, berkasih sayang, mengobrol sambil tertawa-tawa. Mereka bahagia sekali.
Bagaimana bisa hidup mereka begitu bahagia sedangkan aku hidup dalam kepahitan.
Namaku Fani, sudah 2 tahun ini tinggal di Jakarta sebagai perantauan. Bekerja di sebuah toko sepatu sebagai pelayan, menjalani hidup yang pas-pasan dengan hutang ke sana-kemari.
Dan sepasang suami istri yang sekarang sedang bersenda gurau di sana itu, dia adalah teman masa kecilku dulu, Linda dan Ray suaminya.
…
Flashback 6 bulan yang lalu.
“Hai! Fani ‘kan?!” sapa seseorang membuyarkan lamunanku. Segera kualihkan pandanganku pada wanita cantik yang menyapaku.
“Eh… iya,” jawabku sambil memperhatikan wajahnya, “Linda?? Ini Linda?!” mataku membulat.
“Iya, aku Linda. Ya ampuuun…Fani apa kabar? Lama gak ketemu,” Linda berlonjak kegirangan, demikian pula aku.
Aku dan Linda bersahabat sejak kecil, selalu bersama tak pernah terpisahkan. Hingga takdir membawa kami pada kehidupan yang berbeda.
Selepas SMA, Linda melanjutkan kuliah ke kota, sedangkan aku harus bekerja membantu ekonomi keluarga yang pas-pasan. Ketika Linda masih berkutat dengan buku-buku kuliahnya, aku sudah memasuki jenjang pernikahan dan mencoba mencari penghidupan yang lebih layak dengan merantau.
Lelaki yang aku harapkan dapat membawaku pada kebahagiaan nyatanya hanya seorang lelaki pemalas yang suka memukul dan menghina. Hingga pada batas akhir kesabaranku aku pergi meninggalkannya.
Aku kembali ke pulau Jawa dan menjalani hidup seorang diri di ibukota. Dengan perjuangan yang berat ku lalui semuanya. Tanpa diduga, di sinilah aku bertemu dengan Linda sahabat masa kecilku.
…
“Ayo masuk, Fan!. Ini rumahku,” ucap Linda bersemangat, senyum manis selalu menghiasi wajahnya yang cantik.
Dengan perasaan terpana aku menyadari kehidupan Linda yang penuh kebahagiaan. Rumah besar dengan perabot lengkap, mobil, pembantu, dan harta.
“Mas, kenalkan ini Fani sahabat aku waktu di kampung dulu,” suara Linda terdengar halus dan manja.
“Oh, hai! Kenalkan aku Ray, suaminya Linda,” tangan kanan lelaki itu menjulur menyalamiku sementara tangan kirinya merangkul pinggang Linda dengan mesra. Lelaki yang tampan dan romantis. Jujur, aku jatuh hati padanya pada pandangan pertama.
…
Tokk…!! tokk…!! tok….!!
Suara pintu kamar kosanku diketuk dengan keras.
“Hei!! Mbak… bangun… Mbak!!” suara khas pemilik kamar berteriak-teriak berdengung di telingaku.
Dengan enggan aku beranjak membuka pintu, belum sempat aku berkata apa-apa, dia sudah teriak, “Mana katanya mau bayar kosan hari ini?! ini bulan ke 4 kamu belum bayar!”
Dih suaranya menyakiti gendang telingaku.
“Iya Bu, mudah-mudahan nanti sore ya bu,” jawabku mengkerut.
“Awas ya kalau nanti sore gak ada! Kamu pindah aja dari sini!” ucapnya lagi sambil pergi berlalu meninggalkanku dalam diam. Dia tidak tahu betapa menyakitkan ucapannya itu bagi orang miskin seperti aku.
Aku sungguh sudah lelah dengan kehidupan yang sulit ini. Aku harus mencari cara agar aku bisa hidup bahagia. Bagaimana cara aku mendapat uang? Pinjam lagi ke Linda? Mungkin dia sudah bosan. Dia sering sekali mengajak aku makan, memberi aku uang, tapi itu semua selalu saja kurang. Hutangku memang banyak.
….
“Fan, besok aku sama Mas Ray mau liburan ke pantai, ikut yuk!” ajak Linda melalui saluran telepon.
“Ah gak ah! Ntar aku malah mengganggu,” jawabku datar. Tapi hatiku senang.
“Ya, gaklah! Masa mengganggu,” Linda tersenyum.
Di pantai ini, kami bertiga melepas penat dari kesibukan pekerjaan sehari-hari. Sering sekali aku harus membuang pandangan ketika mereka mengumbar kemesraan. Hatiku diliputi rasa cemburu yang bergejolak sekalipun mereka hanya saling berpegangan tangan.
Malam sudah larut, tapi mataku tidak mau terpejam. Tidak enak libur sendirian seperti ini. walaupun Linda dan Ray sangat ramah dan baik, tetap saja hatiku tidak suka melihat kemesraan mereka.
Aku keluar kamar villa untuk sekedar mencari udara segar. Angin laut berhembus kencang menerbangkan gaun malam dan anak-anak rambutku. Memandang laut yang hitam dan mendengarkan deburan ombak sedikit memberi rasa tenang.
“Sedang apa di sini?” suara seseorang menyapa dari belakang.
Reflek aku balikkan tubuh, “Eh… Mas Ray! Lagi cari angin Mas,” jawabku sekenanya.
Dia melangkah mendekat dan berdiri di sampingku. Wangi aroma tubuhnya sungguh membangkitkan gairahku.
“Susah tidur ya?” tanyanya.
“Hm… iya,” jawabku sambil memalingkan wajah.
“Aku dengar dari Linda, kamu sudah tidak bersuami,” tanyanya lagi.
“Hm… iya,” jawabku kikuk.
“Kenapa?”
“Ah… sudah tidak berjodoh saja mungkin Mas,” jawabku asal.
Hening sejenak.
“Padahal kamu cantik,” ucapnya pelan hampir tak terdengar, “Lebih cantik dari Linda,” lanjutnya.
Deg! Jantungku seketika seperti berhenti berdetak. Dia memujiku. Tuluskah atau hanya sekedar basa basi?
“Aku suka sama kamu,” dan kata-kata itu membuat aku melayang.
Siapa yang bisa menolak seorang lelaki tampan dan tajir seperti dia. Apalagi dengan keadaanku yang sedang kesulitan hidup.
Wajahku seketika memerah ketika tangannya menyentuh pundakku.
“Tapi Linda…” ucapku terbata.
“Tidak usah khawatir, kita sudah sama-sama dewasa. Kita tahu apa yang harus kita lakukan,” matanya menatap lembut menembus jantungku.
….
Kehidupanku sekarang jauh lebih baik. Ray menyewakan sebuah apartment untukku. Dia juga memberi uang bulanan sehingga aku tidak perlu bersusah payah bekerja sebagai penjaga toko. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya menjadi wanita yang bergelimang harta. Mau apa tinggal beli, mau kemana tinggal pergi.
Aku mengerti, Linda pasti sangat sakit hati kalau dia tahu apa yang telah terjadi antara aku dan Ray. Tapi aku dan Ray telah sepakat untuk menyimpan ini rapat-rapat.
…..
Nopember 2021
Simple Hayati