Atap sekolah tua menjadi awal cinta kami bersemi, kasta takkan menjadi penghalang dari kisah cinta yang baru saja kita lukisan dalam ronda sang takdir, hanya saja sebuah topeng menjadi penghalang akan identitas mu yang sebenarnya, hanya takdir yang menentukan, akan kah kita bersama ataukah takdir berkata lain untuk memisahkan kita selamanya.
Namaku Ai putri dari seorang rakyat biasa yang mendapat kehormatan untuk mengenyam pendidikan di sekolah keluarga bangsawan, aku selalu tertindas dan tertekan di sekolah ini, aku selalu berharap ada sebuah uluran tangan yang membawa ku menuju kebahagiaan tiada akhir.
Hari itu aku menangis dibawah sang hujan sembari berteriak aku mengatakan nya dengan lantang bahwa aku telah lelah aku telah menyerah dengan ujian yang Tuhan berikan, aku tidak dapat lagi berbuat apa-apa dan aku berfikir bahwa mati adalah hal terindah yang bisa aku dapatkan saat ini. Tubuhku yang penuh luka akibat bully an para putri bangsawan itu mulai terasa sakit kembali, perban putihku mulai basah terkena air, darah mulai mengalir turun bersama air hujan yang membasahi atap sekolah, rasanya aku tidak kuat lagi.
Hingga sebuah uluran tangan hangat datang tepat di depan mataku, tatapan matanya penuh akan kelembutan, tangannya yang hangat bagai membakar pergi segala lara " Nona jangan menangis di sini kau bisa sakit " nada bicaranya sangatlah lembut berbeda dari yang lain, " memangnya kenapa jika aku sakit!, Jika aku mati pun tidak akan ada yang peduli!, Aku tidak lagi memiliki siapa pun di dunia ini bila aku mati itupun tidak akan menjadi sebuah masalah! " Aku yang telah lelah akan derita malah membentak nya dengan lantang, mungkin ia akan menampar ku sekarang sama seperti mereka, tapi tidak ia mengendong ku menuju ruang UKS dengan tangan nya yang lembut ia mengobati lukaku Menganti setiap perban ku, dalam hati aku mulai bertanya siapa dia?.
Setengah wajahnya tertutup oleh topeng hitam berhias batik emas, siapa dia?, " Jangan begitu lagi ya, kau ini cantik dan pintar mengapa ada banyak luka yang memenuhi tubuh indah mu? " Tanya nya sembari membalut kan perban di kedua tangan ku, " mengapa kau baik kepadaku, aku hanyalah murid miskin yang beruntung bersekolah di sini, kenapa kau peduli pada rakyat hina seperti diriku? " Tanyaku dengan tatapan kosong, " aku tidak ingin mulut manis mu mengatakan nya, seberapa pun kau menderita jangan pernah mengatakan hal mengerikan seperti tadi, aku tau kau istimewa, tidak sembarang orang dapat bersekolah disini, aku yakin aku tidak sesederhana murid pindahan " katanya dengan lembut kepadaku, rasanya seperti ibu sedang memarahi ku.
Beberapa hari berselang setelah kejadian itu aku tidak lagi bertemu dengannya, aku mulai menjadi sedikit terbuka dan mendapatkan teman karna perkataan nya, dan aku menjauhi para gadis yang selalu membully ku, tapi tanpa alasan yang jelas kali ini mereka kembali datang dan menuangkan sub panas ke atas kepalaku, aku merasa kulitku mulai melepuh tapi aku tidak berdaya menghadapi mereka, " hei dengar ya dasar rakyat rendahan, jangan sekali-kali kau mendekati Hiro, ia adalah milikku! " Aku dibanting di injak dan di permalukan saat itu, tepat setelah beberapa saat mereka pergi aku mulai berlari menyusuri lorong menuju kamar, sesampainya di kamar aku telah mendapati kepala belakang hingga punggung ku telah melepuh, darah kulit dan baju ku bagai menyatu, rasa sakit nya tak tertahan, karna baju ku menempel pada luka aku jadi tidak bisa membersihkan nya, jadi ku sayat kulit ku dan menciptakan sebuah luka lain disana.
Setelah beberapa saat aku selesai membersihkan dan membalut luka, kuraih piano yang ada di kamar dan mulai memainkan nya tanpa rasa takut aku bermain piano sendirian, karena aku tahu mereka tidak akan datang kemari karena kamarku sangat terpencil, tapi ternyata ada seorang laki-laki yang mendengar nya, ia membuka pintu kamarku tapi aku tidak peduli dan terus bermain, nada yang ku mainkan makin lama makin cepat dan tegas, mataku terpejam menikmati indah nada yang ku buat, selesai, beberapa saat kemudian aku selesai memainkan nya, hatiku pun menjadi tenang, " No-nona na-nada itu bagaimana kau bisa memainkan nya " Tanya laki-laki itu, saat aku menoleh ke arahnya aku terkejut ternyata ia adalah laki-laki waktu itu, " mengapa apa aku tidak boleh memainkan nya?, Jika tidak boleh maka pergilah jangan mendengar nya " kataku menunduk ke arah nya, " tidak bukan begitu, hanya saja aku mengenali nada itu, darimana kau mempelajari nya nona? " Tanya nya dengan penuh rasa penasaran " namaku Ai Jagan panggil aku nona, dan mengenai nada ini ibuku yang mengajari nya, tapi ia telah mati dalam kecelakaan 10th yang lalu " jawabku, " apa kau tau siapa ibumu? " Tanya kembali, sebuah gelengan kepala menjadi jawaban Jika aku tidak mengetahui nya, "pada kecelakaan itu kepalaku terbentur dan aku tidak mengingat nya" jelas ku, " maaf menanyakan nya, namaku Hiro kau bisa mencariku Jika ingin belajar musik, aku akan membantu mu ".
Hiro?, " Ka-kau adalah penyebab semua ini!, Kau membuat mereka menguyur ku, semua ini karena kau! Pergilah aku tidak ingin melihat mu! " Kataku saat mengetahui ia bernama Hiro,
Hiro :" nona apa maksud mu? "
Ai. :" Mereka menuangkan air panas kepada ku, karena mereka pikir aku ingin merebut mu dari mereka!, Jadi pergilah agar kesalah pahaman ini tidak berlanjut, mungkin kau tidak menderita tapi aku-aku yang menderita karena semua perlakuan mereka ini! "
Hiro : " Ai "
Aku menangis tersedu-sedu di hadapan nya, aku pikir kali ini ia akan benar benar muak dan memukul ku tapi tidak, ia merangkul ku dan mendekap ku, dekapannya bagaikan matahari yang hangat, " Maafkan aku, dimasa depan aku akan melindungi mu dari mereka tenang saja jangan menangis " sekali lagi aku tenang berada di dekatnya.
Keesokan harinya, aku kembali melakukan segala kegiatan seperti biasa, ditengah lapangan luas aku melakukan pemanasan, matahari bersinar cerah langit biru yang indah bagai tersenyum kepadaku, sampai mereka datang dan meraih tanganku, sontak saja aku kesakitan dengan tarikan mereka, lalu Hiro datang dan mendorong mereka semua, " jangan sakiti dia! " Kata Hiro dengan lantang, " a-apa tu-tuan muda Hiro, jangan terpengaruh oleh rubah ini dia hanya memperdaya mu " kata mereka menjelek-jelekkan diriku di hadapan Hiro, " kau yang rubah dasar tidak tahu malu!, Awas saja jika aku melihat mu mengusiknya lagi, akan ku keluarkan kau! " Kata Hiro mengancam mereka , mereka pun pergi dengan tatapan mata yang tidak mengenakkan, aku yakin mereka akan datang balas dendam " terimakasih, Hiro " kataku sembari menunduk di hadapannya, " bukan masalah, tapi bukankah kau mengikuti kelas bela diri?, Mengapa tidak melawan mereka? ", " Jika aku melawan nya bukankah sama saja dengan bunuh diri, lagipula siapa diriku hingga melawan mereka, aku hanyalah seorang rakyat jelata yang menjadi pelampiasan mereka " aku tersenyum pahit kearah Hiro, " tidak kau bukan rakyat jelata, aku tahu kau juga seorang bangsawan " Hiro seperti mengelakkan semua kata-kata ku " terserah kau saja Hiro " aku berjalan pergi meninggalkan Hiro.
Aku beruntung mereka tidak datang ke kelas ku hari ini, jika tidak entah apa yang akan terjadi, tapi seusai pelajaran jam istirahat pun tiba, Hiro datang ke kelas ku dan mengajak ku kesebuah tempat, " hai Ai, kemari lah aku ingin membawa mu ke sebuah tempat " kata Hiro dengan bersemangat sembari menarik tanganku, aku ternganga melihat sebuah kelas dengan banyak alat musik di dalamnya, kelasnya pun 3x lebih besar dari kelasku, " Hiro dimana ini? " Tanyaku, " ini adalah kelas musik, tadinya aku ragu untuk mendaftar sendirian di sini, tapi karena aku teringat dengan permainan piano mu yang indah jadi aku sekalian mendaftar mu, kamu tidak keberatan kan? " Hiro berkata demikian sembari mengajakku melihat-lihat seisi ruangan " terimakasih aku sangat senang dengan hal ini " ini pertama kalinya aku tersenyum tanpa beban sejak memasuki sekolah ini, " kalau begitu mulai hari ini kita berteman ka " tanya Hiro, " ya tentu saja ".
Hubungan cinta ini kami mulai dari sebuah pertemanan yang kian erat setiap harinya, sejak berteman dengan Hiro aku selalu bahagian sepanjang waktu, hari-hari kelam yang aku lalui kini telah berubah menjadi hari-hari indah yang selalu ku nanti, kelas musik yang menunggu sepulang sekolah, kelas tewkondo yang menunggu di akhir Minggu aku menyukai semuanya, aku mulai kembali menjalani hidup dengan penuh tawa dan kebahagiaan.
Sampai suatu ketika, di hari Minggu pagi sebuah surat undangan datang, tertulis pesta dansa kelulusan, tidak disangka waktu kelulusan telah tiba, selama ini aku tidak pernah mengikuti pesta dansa, apa kali ini aku harus ikut?, Ditengah kebimbangan ini aku berjalan kembali ke kamar ku, disana nampak sebuah gaun indah berwarna biru laut kesukaan ku, terdapat pula perhiasan dan berbagai aksesoris lainnya, ada pula sebuah buku panduan tari dansa berpasangan, siapa yang mengirimkan nya kemari?, Dan terlihat sebuah topeng indah berwarna senada dengan gaun ku, apa artinya ini?, Masih ada satu Minggu sebelum acara itu, aku mulai berlatih dansa setiap memiliki waktu luang dimana pun itu.
Sampai saat nya tiba waktu yang ditunggu semua orang akhirnya tiba, aku tidak terbiasa dengan keramaian ini,aku tidak mengenal siapapun di sini karena ini pesta dansa dengan topeng, mencari waktu yang tepat aku pergi dari tempat itu menuju sebuah gazebo di sebelah timur sekolah, disana aku melihat sebuah piano putih yang indah, tanpa ragu aku memainkan nya, lantunan nada indah yang ku mainkan, menuntun ia datang kepadaku, bagai kisah negeri dongeng dimana sang pangeran datang untuk menari bersama sang putri, begitu pula dengan ini, aku tidak mengenali wajahnya yang tertutup rapat dengan topeng putih, ia mengulurkan tangannya " Nona maukah anda menari dengan ku? ", Anggukan kepala menjadi Jawaban dari ajakannya, kami menari ditengah malam bersama cahaya bulan yang mengiringi, setiap langkah memiliki makna tersendiri, bunga bunga indah bermekaran bagai menyambut tarian kami.
beberapa saat kemudian tarian selesai kami saling membungkuk satu sama lain, aku membuka topengku dan berkata " siapa kamu? ", ia mendekat dan membuka topeng tertutup nya " Ai aku mencintaimu, jadilah putri ku " , Hiro " baiklah selama bersama mu aku tidak keberatan " malam itu berakhir dengan sebuah ciuman hangat dari bibir ke bibir sungguh kebahagiaan yang takkan pernah terganti dengan apa pun.
Tamat