Hidup damai. Tidak hanya kamu dan mereka, bahkan ada orang yang tidak mau mengakui menginginkan kedamaian dalam hidup.
Yaitu mereka yang telah berusaha tetap berjalan di jalan yang sama namun, tidak mendapat kebahagiaan yang sebenarnya.
Sementara ada yang merasa tidak pantas untuk mendapat kedamaian itu sendiri.
Apakah... aku salah satunya...?
~~~
"Aku berangkat." Lalu ayah membanting pintu.
"Tunggu!" Ibuku membawa bekal siang ayah di tangan nya dan berusaha menyusulnya. Sayangnya, ibu kembali dengan benda yang masih di bawanya.
Aku yang menyaksikan itu, buru-buru menyelesaikan sarapanku dan hendak mendekat ke pintu.
"Cih! Semua ini salahmu." Gumam nya sembari menatapku.
Ya. Kehadiran yang tidak diinginkan. Dulu ibuku memiliki masalah 'uninteded pregnancy'.
Aku tidak diinginkan sama sekali.
Teman? Banyak orang yang selalu menemaniku di sekolah. Para guru tak memandang ku dengan ramah.
Tapi, tidak dengan teman-temanku.
Pertama bertemu, mereka menyambutku dengan teriakan dan sambutan panas. Lalu meminta bantuan ku dan aku menerimanya dengan baik sesuai janji. Hari-hari berikutnya, mereka memberi jejak pada buku milik ku.
Dan tahun berikutnya mereka menghadiahkan ku warna ungu di beberapa tempat yang sengaja aku sembunyikan sebaik mungkin.
Aku bahagia.
Asal aku dianggap ada bukan karena ke palsuan. Aku sangat bahagia.
Ibu yang hamil terlebih dahulu dan tidak mendapatkan kemewahan seperti keadaan sebelumnya. Warisan yang menjadi hak nya dicabut.
Hidup miskin dan tidak bahagia. Padahal ayah sangat ramah pada ibu, sampai ia melihat perlakuan nya padaku.
Jika saja semua ini tidak terjadi. Kuharap ibu bahagia. Kenapa aku harus merasakan kebahagiaan dari luar sementara ibu ku tidak bahagia?
Aku... tidak pantas untuk hidup.
~~
Prang...!
Piringnya pecah lagi. Ibu berteriak pada ayah dan ayah membalasnya dengan kepalan tangan yang di layangkan pada wajah cantik ibu. Meski tidak secantik dulu.
"Buang dia sekarang jika kau ingin aku tetap disini!" Teriak ibu.
Ayah hanya diam dan memukulnya di beberapa tempat lagi. Aku hanya bisa melirik lewat celah tangga. Dan ibu...
Dia hampir tersungkur.
Aku lari dan menghalangi tubuhnya menyentuh tanah. Saat itu tubuhku tambah lebih sakit karena teman di sekolah memberiku lebih banyak warna ungu.
"Ugh! Aku mendarat di tubuh menjijik kan ini!" Lalu ibu pergi.
Aku diam duduk di lantai. Mataku bertemu dengan ayah. Dingin. Aku lebih memilih mengabaikannya dan pergi naik ke atas lagi. Tidak ada yang ingin aku ucapkan padanya.
Sebagai anak, sebagai orang dekat, sebagai seseorang yang ia kenal atau bahkan orang asing. Tidak ada yang ingin aku keluhkan padanya.
Dan pada orang lain.
Karena dulu...
~~
Ibuku menarik lenganku dengan paksa, menjambak rambutku dan tak lupa meninggalkan bekas luka. Ia melakukan nya hampir setiap hari.
Sampai kakak ku datang dan melihat kami dengan pandangan terkejut.
"Ibu! Apa yang kau lakukan?!" Teriak kakak ku. Aku tersentak saat kakak mengeluarkan suara yang menggelegar. Ibu menjauh setelah melemparkanku ke sisi tembok.
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya dia padaku dengan memegang erat kedua bahuku.
"Ya!" Kataku dan menahan sakit.
Sakit. Karena tidak tahan, aku meringis. Saat itu aku melihat matanya lebih dekat. Ada sedikit air di sudut matanya.
Kakak memeluk erat tubuhku dan berkata "maaf." Aku tidak bisa merasakan apapun. Hanya bahuku yang kini basah karena air matanya dan cintanya padaku.
Aku memeluk lehernya dan berbisik di telinganya.
"Terimakasih."
Esoknya, kakak terluka parah di sekujur tubuhnya. Entah siapa yang melakukannya. Katanya hanya perampokan dan yang kulihat hanya kebohongan.
Itu dulu.
Esoknya, dia menghilang dan hanya meninggalkan pesan singkat.
'Jaga dirimu baik-baik.'
~~
Malamnya, aku tidak bisa tidur. Tubuhku serasa remuk di beberapa bagian. Ada yang bahkan nyaris mati rasa. Dalam sekejap aku tertidur.
"Nary! Waktunya sarapan!" Sebuah suara memanggilku.
Pagi datang. Malam yang singkat. Ibu memanggilku untuk sarapan.
Tunggu dulu. Dia tidak pernah melakukan hal itu.
Hal yang aneh terjadi. Ibu sangat ramah hari ini.
"Bagaimana? Sekarang berangkat sekolah! Cepat sebelum terlambat bus!" Lalu dia menyodorkan sebuah bekal.
Aku bertanya untuk apa. Senyumnya menjawab tanpa kata. Dengan gerak cepat, ia memasukkannya ke dalam tas ku. Dia tertawa kecil. Setelahnya mengelus kepalaku sebelum aku pergi ke sekolah.
Apakah dia benar-benar ibuku?
Tapi, aku bahagia. Tentunya. Tapi... apa aku harus bahagia...?
Aku tak ingin. Tapi, rasanya ibuku sudah baik-baik saja entah bagaimana caranya. Apa aku... boleh mendapatkan semua ini...?
Dunia seperti berubah saat ibu tersenyum. Ini membuat semuanya tampak berbeda.
Sampai...
Terik panas dari matahari menyengat kulit ku. Ombak sorak-sorai menemani telinga.
"Aku ada dimana? Aku tidak ingat." Kataku.
"Kita di pantai! Haha! Apa kau terlalu gembira sampai kau lupa kita dimana?" Kata ibu.
Ah... kupikir aku melewatkan banyak hal...?
Bingung. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya ikut ibu kemanapun ia pergi.
"Kau... pasti ini pertama kalinya 'kan? Aku lupa akan hal itu. Apa lau tidak ingin bertemu teman baru?" Tanya ibuku.
"Tidak." Jawabku.
"Baiklah..." lalu ibu melirik pada sekumpulan anak-anak yang terlihat seusiaku. "Hei! Ada yang mau mengajak nya bermain?" Teriak ibuku pada mereka.
Untung saat itu tak ada siapapun yang melihat kecuali kumpulan anak-anak itu. Aku gugup. Apa yang coba ibu lakukan sebenarnya?
"Ibu... itu memalukan!" Bisik ku.
"Sudah terlambat untuk mencegahnya." Katanya sambil mengangkat tangannya karena tidak tahu.
"Ibu...!"
Lalu mereka berlari dan menarik ku jauh dari sisi ibu. Aku hanya tersenyum dan terpaksa ikut apa yang mereka lakukan.
Sore nya, ibu duduk di tepi pantai.
"Ah, kau kembali." Katanya. Aku mengangguk dan duduk disampingnya. "Ada yang ingin ibu sampaikan padamu." Sambungnya.
Aku terkejut. Tentu setiap kali aku terkejut setiap apa yang ibu lakukan ibuku.
"Kau tahu? Ini hari ulang tahun mu yang ke enam, bukan? Ku pikir kau tahu. Jadi aku mengajakmu kesini dan membuatmu senang meski itu sedikit." Katanya. Lalu dia menghela nafas.
"Apa ibu baik-baik saja?" Tanyaku.
"Tak apa. Ibu baik. Bagaimana denganmu? Ibu memperlakukanmu dengan tidak bermartabat. Bahkan ibu sampai tidak menyusuimu. Ayahmu kerepotan saat itu. Ibu tahu ibu salah. Ibu hanya tidak ingin..."
Aku mengusap telapak tangannya.
"Ibu hanya tak ingin kau ada karena ibu takut kau tak bahagia... hiks..." katanya. Ibu mengeluarkan air matanya dan mengusap nya. "Ibu... ibu benar-benar minta maaf... dan... dan... kau tahu bahwa ibu tidak dalam keadaan baik... hiks..."
Seketika itu juga aku memeluk nya dan berkata,
"Ibu, aku bahagia kalau ibu merasa damai dan bahagia. Aku tidak perlu kebahagiaan karena aku sudah memiliki ibu. Ibu adalah kebahagiaan ku saat ibu merasa bahagia." Kataku padanya.
Walau aku tahu bahwa aku tetap tidak pantas bahagia.
Anak-anak itu memanggil ku.
"Pergilah. Kau harus ikut dengan mereka." Katanya melepas pelukan ku.
Aku tidak tahu apa maksud ibu tapi, aku menghampiri mereka merasakan ombak bersama.
Kami bersenang-senang. Kaki kami geli saat ada hewan laut berukuran kecil merayap di kaki kami. Tapi, kesenangan itu tak berselang lama.
"Mati kau!" Lalu suara bergema datang padaku dari dasar laut.
Suara ibu? Dan kapan aku di dasar laut?
"Kau bukan anak ku!" Teriaknya. Nafasku sesak. Sudah lama aku tenggelam, tapi baru kali ini aku merasakan sesak?
"Kau hanya setan kecil!" Lalu aku menyadari sesuatu.
Nafas ku tersengal-sengal. Aku mencengkram selimut ku agar aku tidak berteriak. Aku mencoba untuk tidak terganggu dengan bantal yang kini menghalangi wajah ku.
"Pergi kau!"
Jika semua otot ku menegang maka ibu akan disalahkan lagi seperti apa yang dialami kakak ku. Aku tak ingin ia masuk penjara.
"Mati kau bocah!"
Ah... bahkan ia lupa namaku.
Tak apa bu. Aku tahu bahwa aku seharusnya tidak disisimu untuk menghancurkan hidupmu. Aku tak ingin lagi mengacaukan kebahagiaanmu.
Aku hanya senang bila ibu senang. Jika aku senang sementara ibu bersedih di tiap harinya, maka untuk apa aku punya kebahagiaan?
Aku tidak pantas bahagia...