Tadi malam aku bertemu seorang laki-laki berjubah hitam, yang membawa senter dikepalanya. Sepanjang perjalanan senter itu terus dinyalakannya, tanpa melihat jalanan tersebut terang atau tidak. Ketika itu aku memberanikan diri untuk bertanya, “Hendak kemana bapak gerangan?”
Sambil menatap mataku dengan tajam, dia menjawab, “Menuju ujung timur, untuk menggantikan matahari bersinar dengan cahaya senterku ini”
Aku terdiam sejenak, mencoba untuk mengerti maksud dari perkataan laki-laki tersebut. Dan melihat pakaian nya yang lusuh, menyatu dengan tubuhnya yang sudah digerogoti usia.
“Matahari akan selalu terbit pak, kecuali tuhan menghendakinya untuk tidak terbit” tanyaku kembali kepada laki-laki itu.
Namun kau tahu apa jawabannya?
“Ya benar sekali perkataanmu itu anak muda, makanya sebelum hal itu terjadi aku akan berdiskusi dulu kepada tuhan” jawabannya sambil menatap gemerlap bintang
Aku mulai pusing dengan jawabannya yang semakin ngalur ngidul. “Lantas apa tujuan bapak dengan semua hal ini, bukankah itu akan merepotkan anda”
“Kalau akan memikirkan perkataan anda tersebut, mungkin kakiku ini tak akan melangkah menelusuri jalan ribuan kilometer” jawabnya dengan tegas
“Jika senterku ini daya mulai habis, aku akan melihat bagaimana manusia bersyukur atas cahaya yang diberikan” tambahnya lagi.
“Pak, akulah yang ada didalam dirimu, mengetahui apa yang tak tampak oleh penglihatan dan alam pikiranmu. Dan aku juga mengetahui siapa yang bersyukur atas cahaya yang diberikan.”
Laki-laki itu terdiam lama, memikirkan siapa yang berbicara kepadanya tadi.