#Pantai#Senja#Racun
==================================================================================
"Sampai kapan kita menyembunyikan ini darinya Aksa?" pertanyaan dari wanita disampinya memaksa Aksa untuk duduk, dari baringnya.
"Tidak kah kau capek menanyakan hal itu Yura?" Aksa balas bertanya.
"Aku hanya menanyakan kejelasannya Aksa, aku tak ingin hanya menjadi bayangan mu Aksa" ucap Yura, biarlah kali ini dia egois dengan keinginannya, ini menyangkut perasaannya, dia sudah mencoba untuk mengalah, namun rasa sakitnya teramat sakit dirasakan olehnya, dia tak kuat jika harus merasakan lebih lama lagi.
"Sudah ku katakan tak ada yang menjadi bayangan disini" ungkap Aksa tegas.
"Ku ingatkan kembali jika kau lupa Aksa, akulah bayangan mu, ada saat kau lihat dan tak ada saat kau acuhkan" sentak Yura, air matanya mulai turun berjatuhan.
"Kau tahu Aksa, kau bisa menutupi semuanya tapi tidak dengan ini" ungkap Yura sambil mengarahkan tangan Aksa keperut ramping gadis itu
"Dia sudah ada disini Aksa, umurnya baru dua bulan" ucapan Yura membuat mata Aksa melotot, namun senyum dibibirnya terkembang, rona bahagia terpancar diwajahnya saat ini.
"Benarkah itu?" Tanya Aksa meminta pembenaran yang dijawab oleh anggukan Yura.
"Apa aku akan menjadi seorang ayah?" tanya Aksa yang dijawab dengan anggukan pula
"Akhhhh .. akhirnya setelah sekian lama aku akan memilikinya juga" ucap Aksa.
"Dia akan menjadi penerus ku Yura" ucap Aksa, betapa bahagianya laki - laki itu mendengar kabar kehamilan kekasihnya itu, akhirnya yang ditunggu - tunggunya telah tiba, hampir 10tahun, Yura hamil.
"Ini kabar bahagia sayang" ucap Aksa.
"Hai, ada apa dengan wajahmu itu ? kenapa tampak sedih apa kau tidak bahagia telah mengandung anak kita?" tanya Aksa.
"Bagai mana aku akan bahagia jika nantinya anak ini akan dipanggil anak haram? bagai mana aku akan bahagia jika nantinya anak ini menanyakan siapa bapaknya?" air mata Yura semakin menderas, jujur saja Yura tidak menginginkan ini jika saja Aksa terlebih dahulu mencintainya.
Dia tak akan melakukan hal sekotor itu hanya untuk mendapatkan Aksa, tapi mau bagai mana lagi cintanya sudah buta kepada Aksa, maka dia melakukan berbagai macam cara agar dia mendapatkan Aksa walau harus mengorbankan harga dirinya.
"Tidak. Tidak akan ada yang mengatakan anak kita dengan sebutan itu Yura tidak akan pernah!" tandas Aksa.
"Aku ayahnya Yura, dia akan memanggilku papa!" tambah Aksa.
"Iya papa yang hanya bisa ditemui dalam mimpinya Aksa" jawab Yura lirih
"Apa maksud mu?" Tanya Aksa tak mengerti.
"Jika kau lupa akan ku ingatkan, Jingga Ayodya adalah istrimu Aksa dan bukan aku, jadi anak ini tetap tidak akan punya ayah Aksa, samapai kau menceraikan Jingga" tandas Yura, Aksa baru menyadari kesalahannya.
Ini tak semudah yang dia bayangkan, Jingga istrinya tak mungkin Aksa menceraikan wanita yang sudah hampir 10 tahun dinikahinya itu dia ceraikan begitu saja, walau dia dan Jingga belum dikaruniai seorang putra sekalipun, rumah tangganya dengan Jingga baik - baik saja, dan dia masih mencintai istri sahnya itu walau dia akui dia sudah terjerat cinta Yura.
Tapi tak pernah ada niatan untuknya menceraikan istrinya itu, tidak ada. "Aku tak mungkin menceraikan istri ku Yura" ucap Aksa.
"Lantas bagai mana dengan ku dan anak mu?" tanya Yura.
"Ingat Aksa tak ada seorang perempuan pun yang mau dimadu, begitupun dengan ku, jika kau tak memiliki keputusan, aku akan putuskan untuk menggugurkannya" ancam Yura
"Tidak jangan lakukan itu Yura, dia anak kita apa kau tega membuangnya?" tanya Aksa.
"Kau yang tega sebagai ayahnya Aksa, bukan aku" tegas Yura.
"Ku beri kesempatan untuk mu memikirkan hal itu Aksa, satu minggu cukup sepertinya untuk kau merenung Aksa" ucap Yura.
"Yura, itu tidak mungkin tidak mungkin aku mengambil keputusan besar dalam waktu satu minggu Yura" Aksa
"Lantas sampai kapa? sampai perutku membesar? tidak Aksa jika kau tidak memiliki keputusan aku akan tetap mengambil keputusan ku dengan menggugurkannya, aku tidak ingin menanggung malu ini sendirian" ketus Yura.
"Baiklah Yura, akan ku pikirkan, sekarang tersenyumlah jangan manyun seperti itu, kasihan anak kita kalau kau terus mengancam akan menggurkannya, itu seperti kau tak menerima kehadirannya" permintaan Aksa akhirnya dikabulkan Yura.
Yang mereka tidak ketahui adalah, seseorang yang tengah menangis dibalik pintu yang sedikit terbuka itu, dia tak pernah menyangka jika suami yang selama ini dipercayanya telah menusuknya hingga bagian terdalam hatinya.
'Aku tak menyangka kau setega ini mas' batin Jingga.
****
Niat hati ingin memberi kejutan Aksa dengan membawakannya makan siang kekantor sang suami, malah dirinya yang diberikan kejutan oleh sang suami, sungguh hatinya begitu hancur saat ini, 10 tahun dia mempercayai suaminya, dan suaminya membalas kepercayaannya dengan sebuah penghianatan.
Mungkin rasa sakitnya tidak akan terlalu tersayat walau pasti sakit jika wanita yang menjadi selingkuhan suaminya orang lain, tapi jika seperti ini manalah Jingga akan kuat, dia hanya seorang wanita biasa.
'Sungguh tega mereka, membohongiku, satu suami ku dan yang satu kakak ku sendri oh tuhan hikmah apa yang akan aku dapatkan dengan cobaan seberat itu, tolong Tuhan kuatkan aku' batin Jingga.
*****
Disisi lain dikota yang sama Yura dan Aksa tengah memadu kasih dengan berjalan - jalan dipinggir pantai, Aksa merasa bahagia karna kehamilan Yura, apa yang menjadi impiannya selama ini tercapai sudah, walau bukan dari rahim sang istri itu tidak apa - apa, dia tetap merasa senang karna akan hadir tangis dan tawa sikecil dalam hidupnya nanti.
Yang tidak dia ketahui jika ada kelahiran pasti ada kematian, jika ada yang datang pasti akan ada yang pergi, tanpa disadari olehnya, Aksa tengah menggali lubang kematiannya sediri, suatu hari Aska akan tahu dimana letak kebodohannya, dan saat itu tiba dia hanya akan mendapatkan penyesalannya saja.
sedang ditempat lain Jingga tampak sedang mengemasi pakaiannya, air matanya masih saja menetes membasahi pipinya, dia sudah mencoba untuk menghentikan tangisnya, karna percuma menangispun tak akan mengubah perasaannya yang sakit.
Pada akhirnya dia membiarkan tangisnya menguasai dirinya, dia sadar itu cara mata bekerja untuk mengatakan jika dirinya teramat terluka saat ini, karna kata sudah tak mampu keluar dari lisannya, tangannya memukul - mukul dadanya yang terasa amat sesak.
Biarlah hanya untuk kali ini biarlah dia menunjukan kerapuhannya, hanya untuk kali ini biarkan air matanya keluar sebelum dia menguatkan hatinya untuk belajar ikhlas dengan keadaan yang telah Tuhan gariskan untuknya.
"Bismillah, mulai dari sini hidup kita akan berat sayang tapi tenanglah ibu akan selalu ada untuk mu, jangan takut ya nak, kita akan lalui ini semua bersama, ibu harap kau tak membenci ayah mu nak" ucap Jingga sambil mengelus perutnya yang masih rata itu.
****
"Assalamualaikum" Aksa mengucapkan salamnya
"waalaikumssalam, mas sudah pulang" ucap Jingga, dirinya meraih tangan Aksa untuk disalimnya, seperti biasa Aksa selalu mengecup kening Jingga, kali ini lebih lama dari biasanya entah karna apa, tiba - tiba saja rasa bersalah itu muncul didirnya begitu saja, lantas memeluk istirnya itu begitu dalam.
Rasa sakit dihati Jingga muncul kembali kepermukaan manakala dirinya mencium bau parfum wanita yang sangat ia kenali, setitik air matanya menetes kembali, tanpa dapat dicegah air mata itu kembali menganak sungai.
"Hai sayang ada apa?" Tanya Aksa, Aksa merasakan kemejanya basah, dan tubuh sang istri bergetar hebat.
"Maafkan aku, entah mengapa aku menangis seperti ini, mungkin masih terbawa film yang aku tonton tadi mas" kilah Jingga, dia sendiri tak mengerti mengapa dia tak bisa menguasai diri, padahal selama ini Jingga paling bisa menguasai dirinya.
"Maaf mas" ucap Jingga.
"Hais ... ya ampun kamu ini ada - ada saja sayang, memangnya kamu menonton apa sampe menangis seperti ini?" tanya Aksa heran.
"Perselingkuhan, kasian sekali istrinya itu dibohongi suaminya, dan yang lebih parah lagi selingkuhannya adalah kakak kandung istrinya sendiri, menyakitkan bukan" Jingga.
Deg...
Jantung Aksa serasa ditimpa benda berat, baru menonton film perselingkuhan saja Jingga sudah menangis sesenggukan seperti itu, bagai mana jika Jingga tahu bahwa dirinya telah diselingkuhi bahkan Aksa berniat menceraikan wanita itu demi selingkuhannya.
'Kenapa alur film itu sama persis yang tengah kualami saat ini, ahhh film si*lan' kesal Aksa membatin.
"Sudahlah ayo masuk mas, ga baik ngobrol didepan pintu" ajak Jingga.
Setelahnya mereka masuk kedalam rumah, seperti biasa Jingga menyiapkan pakaian ganti suaminya, saat ini Aksa tengah mandi.
"Biarlah ini menjadi terakhir kalinya aku melayani mu sebagai suami ku mas" gumam Jingga.
****
Dering diponselnya menggangu tidur Aksa yang begitu lelap, Aksa masih membiarkan ponsel itu berdering hingga didering kelima barulah Aksa mengangkat telpon itu.
"Hal-"
"Tuan Aksa Prasetya sebenarnya anda niat untuk menjadi pemimpin atau tidak" setengah berteriak suara wanita diseberang telpon memotong sapaan Aksa.
"Tentu saja, ada apa sebenarnya dengan mu Helena? Sepagi buta ini sudah marah - marah saja" kesal Aksa pada sekretarisnya itu, berani sekali dia memarahinya, seharusnya yang marah disini adalah dirinya karna tidurnya terganggu.
"Pagi buta apanya, ini sudah waktunya makan siang itu artinya ini sudah jam 12 siang TUAN AKSA PRASETYA" Helena menyemburkan larvanya, mendengar ucapan Helena, Aksa terlonjak kaget
"APA!" Kaget Aksa.
"Kenapa kau tak bilang dari tadi, akhhh" kesal Aksa sambil menutup telponnya sepihak.
"Inga kemana lagi, kenapa dia tidak bangunkan aku sih" kesal Aksa, siang itu Aksa pergi kekantor dengan terburu - buru dan bersungut - sungut.
****
Sudah satu minggu Aksa kehilangan sang istri, ia tak menyangka jika Jingga pergi dari rumah dan hanya meninggalkan secarik kertas sebagai surat perpisahan untuknya.
🍁Assalamualaikum mas Aksa, jika mas membaca surat ini itu artinya Inga sudah tidak ada dirumah
Maafkan Inga yang pergi tanpa pamit, maafkan Inga yang belum bisa menjadi istri yang baik untuk mas.
Inga cuman mau bilang.
Terimakasih sudah memberikan kebahagiaan untuk Inga selama 10 tahun ini, tapi maaf Inga tak bisa melanjutkan pernikahan ini, sekali lagi maaf kan Inga yang tak bisa bertahan hidup dengan mas lagi.
Untuk terakhir kalinya jangan lupakan 5 waktunya mas, jangan begadang agar tidak susah saat bangun pagi, Inga tidak membawa apapun selain buku nikah kita.
Ah iya, Inga masih bawa satu lagi milikmu mas, tepatnya milik kita berdua untuk kali ini Inga tak akan meminta maaf, karena sepertinya walaupun mas tidak memilikinya mas tidak akan menyesal karena mas juga memilikinya dari bak Yura.
Inga mengijinkan mas menikahi bak Yura, buah hati kalian tidak salah mas, tolong tanggung jawab atas apa yang telah mas dan bak Yura lakukan, aku ikhlas dimadu, tapi tolong jatuhkan talak mu pada ku setelah aku melahirkan anak kita.
Maafkan Inga yang mengabarinya disurat ini, aku tengah mengandung! Usia anak kita baru 8 minggu, aku akan mengabari papa dan mama setelah aku melahirkan, setelah masa nifas ku selesai tolong jatuhkan talak untukku dihadapan orang tua ku, walau aku tak ada aku menerimanya dengan ikhlas, dan tolong segera urus surat cerai untuk kita.
Untuk terakhir kalinya terimakasih karna mas sudah memberikan racun yang paling mematikan dari racun kobra sekalipun.
wassalamu'alaikum Jingga 🍁
Kopi yang diteguk Aksa seperti bertransformasi menjadi sebuah ranting kayu ditenggorokannya, ia tercekat dengan rasa sakit yang tiba - tiba saja hadir itu, senja kali ini dihabiskannya dengan tangis tersayat seorang Aksa Prasetya, kini dirinya menyesali semua yang telah diperbuatnya.
Istri yang tercintanya telah pergi darinya, dia baru tahu bagai mana rasa sepi itu hadir saat orang terkasihnya itu pergi, menyesal tentu saja dirinya menyesal dengan semua yang telah dia lakukan.
Air mata yang keluar dari kelopak matanya tak bisa mengubah semua yang terjadi, kenyataannya Jingga sudah meninggalkannya.
"Dia pergi dengan membawa anak kami, begitu tega diri ini menghianati istri sepertinya" keluh Aksa.
"Apa yang harus hamba lakukan agar istri hamba kembali ya Allah" ratap Aksa.
Pada akhirnya Aksa hanya mendapatkan penyesalan yang tak berujung atas perbuatannya, kehilangan istri yang begitu mencintainya dan dicintai olehnya, serta buah hati yang selama ini ditunggunya....
.....