#KTV, Lotere, Racun
Benar-benar cerpen ini adalah khayalan penulis. Semoga terhibur..
Happy reading.💐
"Lynn! Ibu sakit sekarang. Tolong gantikan tempatku. Ma'afkan aku Lynn. Tolong."
Jessy memegang tangan Lynn mengharapkan pengertian Lynn. Lynn termangu.
"Apa?? Aku off Jess. Ke sini cuma mau main."
Malam ini tak ada jadwal Lynn bekerja.
"Ruangan telah dipesan Lynn. Jauh-jauh dia datang dari luar kota. Siapa yg tidak tahu dia. Bisa diporakporandakan tempat ini Lynn. Tolong aku ya?!" Wajah Jessy benar-benar memelas.
"Sudah ada orangnya?" Lynn tetap santai.
"Tapi.. pakaianku seperti ini." Kata Lynn lagi.
Lynn tidak yakin tamu yang dimaksud Jessy berkenan ditemani Lynn. Pakaian Lynn saja seperti lelaki. Berkesan sportif. Jauh dari kesan feminin.
"Tidak apa yang penting kau tunggui saja."
"Sedang di jalan. Room 2 ya Lynn. Terima kasih. Dadaaa.."
Lynn bersiap diri ke ruangan nomor dua. Ruangan yang telah dipesan. Dua ruangan menjadi langganan tamu tersohor dan berduit. Salah satunya yang didatangi Lynn.
KTV room dua..
"Silahkan tuan." Lynn membukakan pintu. Si tamu tak bereaksi. Entah menjaga wibawa atau memang
sikapnya begitu. Seorang temannya menemani.
Lynn memberikan pelayanan sesuai ketentuan di tempatnya bekerja. Pelanggan jangan sampai kecewa. Hal itu yang selalu Lynn dengar.
Lynn menuangkan air minuman ke dalam gelas mereka. Dua orang itu bernyanyi menghibur diri. Sesekali tawa mereka berderai. Lynn menjalankan tugas dan kewajibannya demi hidup yang harus berlanjut. Dia tak lagi perduli apa kata orang. Bekerja di tempat ini menuai tudingan miring orang
kepada dirinya. Dia tidak perduli. Dia merasa tingkah lakunya tidak menyimpang dari kebaikan.
"Silahkan tuan-tuan."
"Hei kau menyanyilah." Kata si teman lelaki yang sepertinya si bos.
"Terima kasih tuan. Apa ada yang perlu dipesan lagi tuan?"
"Satu steak." Ucap si tuan berparas tampan yang Lynn dengar namanya adalah Edward.
"Baik tuan." Lynn menghubungi bagian hidangan.
Si teman lelaki atau teman si bos berpamitan setelah berkata kepada si bos. Lynn tidak berani memandang mereka. Gaya mereka seperti mafia-mafia muda menurut Lynn.
"Kau kemarilah. Mengapa kau di ujung sana?" Lynn tersentak. Suara lelaki itu mengejutkan Lynn. Dia melamun.
"Ba..baik tuan." Jantung Lynn berdegup lebih cepat. Merubah posisi duduknya menjadi di sebelah Edward. Sudah sepuluh tamu yang ditemani Lynn tetapi jantungnya tidak seperti ini. Tidak juga saat menemani Luke, saudagar kaya di kota ini.
Edward memperhatikan Lynn. Di matanya Lynn tampak lain dari semua waitress di KTV ini.
Walaupun Lynn tak menggunakan pakaian wanita seksi Lynn tetap terlihat seksi. Bibirnya penuh dan ranum dengan olesan lipstik yang tidak terlalu terang. Edward terkesima. Dia ingin mengulum bibir itu.
Tapi Lynn tidak duduk dekat dengan Edward. Pandangan Edward melunak pada Lynn. Lynn berbeda dengan yang lainnya. Edward memandang tanpa berkedip.
Steak datang. Lynn meletakkan di depan Edward.
"Silahkan tuan." Lynn berusaha bersikap wajar. Jantungnya bertalu-talu.
"Kau yang makan?"
"Saya tuan??"
"Ya benar. Aku pesan untukmu."
"Aku tidak memberimu tips karena memberikanmu steak. Mungkin lain kali kuberi tips."
Dasar pelit batin Lynn. Dompet tebal isinya apa.
"Mengapa kau bekerja di sini? Kau sepertinya gadis baik-baik."
Siapa bilang di sini bukan tempat baik-baik. Lynn protes dalam hati.
"Cari pengalaman tuan."
Edward lelaki itu datang lagi keesokan hari. Lynn bekerja. Dia harus melayani saudagar paling kaya di kota ini-Luke. Luke tidak kalah tampan dan banyak uang. Menurut orang-orang Luke berani melakukan apa saja demi keuntungan.
Luke ditemani Lynn. Selalu begitu setiap berkunjung ke tempat hiburan itu. Luke memesan Lynn untuk menemaninya. Lynn terpaksa demi sebuah pekerjaan.
"Bodoh! Siapkan dia untukku setiap hari. Mengerti?" Luke menghentak meja pengawas.
"Mengerti tuan. Maafkan kami." Suara pengawas tersendat.
"Siapa yang berani memesannya?!" Sorot mata kemarahan seolah siap menerkam.
"Tuan dari luar kota tuan."
"Suatu saat aku melawannya. Atur harinya."
Edward datang malam ini tak menemukan Lynn. Bertanya pada resepsionis Lynn selalu bersama Luke saudagar kaya. Rahang Edward mengeras. Tatapan menyimpan amarah. Tangannya menggenggam.
Berkat kerja pengawas KTV, dua orang itu akhirnya bertemu. Luke dengan algojonya dan Edward dengan pengawalnya.
"Satu milyar." Praaak. Luke setengah membanting uang di tangannya ke meja. Kaca mata hitam bertengger di hidungnya.
"Satu milyar." Balas Edward. Meletakkan uangnya di atas meja. Kacamata biru menutup wajahnya.
"Tanpa kecurangan." Tambah Edward.
"Siap tuan-tuan. Ada dua nama, Jessy dan Lynn. Tuan yang mengambil kertas bernama mendapatkan gadis yang tertulis di dalam kertas beserta uang satu milyar. Setuju tuan?"
"Setuju!"
Pengawas mengocok dua gulungan kertas kecil untuk lotere yang telah direncanakan. Luke telah mengambil satu gulungan kertas lalu Edward melakukan hal yang sama.
"Shiiiit!!" Teriaknya .
"Aku menang."
Edward menyambar uang di depannya. Uang milik Luke. Uangnya sendiri diambil pengawal dengan cepat.
"Dia milikku. Ingat!"
Edward menjentikkan dua jari kepada pengawal. Mengajaknya keluar dari ruangan itu.
Lynn menutup pintu ruangan nomor satu. Malam ini harus menunggu di ruangan dua. Dia terbebas dari Luke. Berharap si tamu ruangan dua tidak sama wataknya dengan Luke.
Barista meracik kopi. Kopi termahal dengan rasa istimewa. Hanya bisa ditemukan di sana.
"Lynn untuk bos kamu. Antarkan ini ke ruangan dua." Ruangan dua selalu dipesan oleh Edward.
"Oya? Tunggu." Lynn mencari Jessy membelakangi barista.
Belum terlalu ramai pengunjung. Di sebelah Lynn berdiri lelaki memandang barista. Meminta satu gelas minuman. Minuman selesai dibuat. Sebuah plastik kecil ia keluarkan dari saku. Menuang isinya ke dalam gelas pertama.
"Tuangkan racun ini sampai habis. Biar mampus dia! Hahaa!" Si lelaki teringat ucapan bos yang memberi perintah kepadanya. Tugas selesai. Lelaki pergi. Sebuah amplop berisi uang menunggu di tempat lain.
"Lynn! Kau mendapat majikan yang baru sekarang. Lynn dia adalah lelaki yang harus kau temani saat aku ijin pulang waktu itu." Kata Jessy.
"Benarkah? Siapa namanya? Kalau tidak salah Edy.."
"Huuuh Edward tahu!!"
"Oh Edward. Lumayan."
"Dasar. Kau tertarik?"
"Belum tahu."
"Kau jangan takut. Dia tak sekejam Luke."
"Sok tahu!" Bibir Lynn maju ke depan. Berganti lidah Lynn menjulur mengejek Jessy.
Pengawas menghadapi Edward di ruangan kerjanya. Mengapa orang-orang ini menyusahkan sekali, pikirnya.
"Mulai sekarang room satu milikku."
"Tapi tuan itu kepunyaan tuan Luke."
"Aku tidak mau tahu. Berapa untuk menggantikan ruangan itu? Katakan!" Garis wajah Edward begitu tegas.
"Dua kali lipat tuan."
"Dua M cukup??"
"Dua milyar saja tuan. Terima kasih."
"Suruh gadis itu, siapa namanya?"
"Lynn tuan?"
"Ya suruh Lynn ke room satu. Aku ke sana. Aku mau kopi yang baru diracik diantar ke sana oleh Lynn."
"Baik tuan."
Tugas Lynn selesai di room dua. Ia mendapat perintah lagi untuk ke room satu karena Edward menunggu di sana.
"Sialan kau. Dibayar berapa kau heeh??"
Luke menarik kerah baju pengawas. Sebuah pukulan hinggap di pipinya. Dia mengaduh kesakitan. Room satu berpindah ke tangan Lynn.
Luke ke bartender. Menenggak minuman di sana. Selanjutnya mengajak algojo ke room dua. Langkahnya sempoyongan. Satu milyar dan Lynn berpindah tangan. Dia mendorong pintu room dua. Duduk dan minum kopi yang ada di sana. Hanya ada satu kopi yang Lynn sediakan tadi. Luke mengerang kesakitan, memegang leher dan diam di tempat. Tubuhnya kaku. Algojo memanggil namanya berulang kali dan menepuk-nepuk wajah Luke. Luke diam.
~the end~