"Aunty!"
Gia menghapus air matanya ketika seorang anak laki-laki memanggilnya. Berusaha menghilangkan kesedihannya, dia membalikkan badannya berjalan menuju anak laki-laki itu yang ternyata tidak sendirian tetapi bersama mertuanya.
"Kenapa Sayang?" tanya Gia, ketika sudah sampai di hadapan kedua insan berbeda generasi itu.
"Aunty malam ini tidur sama Miko ya," jawab anak laki-laki itu dengan wajah imutnya memegang tangan Gia.
"Miko jangan manggil Aunty dong, panggil Bunda, sekarang Aunty Gia kan bundanya Miko." Mama mertuanya mengusap kepala cucunya itu dengan sayang.
Gia tersenyum mendengar perkataan mertuanya. Beberapa jam yang lalu gadis itu sudah menikah dengan seorang duda beranak satu. Duda yang ditinggal meninggal oleh istrinya karena sebuah kecelakaan.
Sebelum mamahnya Miko meninggal Gia memang sudah dekat dengan keluarganya, sehingga setelah satu tahun meninggalnya Bunga yang tak lain adalah mamanya Miko. Sena, papanya Miko dan keluarga pria itu melamarnya.
Gia sempat ragu karena pria itu sangat mencintai mendiang istrinya sehingga Gia berfikir apakah mungkin dia bisa menggantikan posisi Bunga di hati pria itu.
"Bunda!" panggil Miko, yang sukses membuat lamunannya buyar seketika.
"Iya Sayang, kita masuk ke dalem yuk," ajak Gia yang dibalas anggukan kepala oleh Miko.
Sebelum Gia melangkah kedalam menyusul Miko yang berlari, mama mertuanya menahan tangannya. Memeluk tubuh Gia dengan erat.
"Apapun yang terjadi tolong tetap di samping anak Mama ya, dia butuh kamu." Gia mengangguk mengelus punggung mama mertuanya dengan sayang.
"Iyaa Ma"
***
Gia menatap punggung Sena yang semakin menjauh keluar dari ruang makan. Sejak mereka menikah Sena yang Seulgi tahu humoris berubah menjadi dingin.
Sena hanya berbicara jika Gia yang memulai berbicara. Pria itu akan berbicara lembut kepada Gia jika berada di hadapan keluarga mereka dan si kecil Miko.
Sudah dua bulan pernikahan mereka, pria itu masih dengan sifat dinginnya. Tidak mau jika Gia membantunya memasangkan dasi, menyiapkan baju. Pria itu hanya mengizinkan Gia menyiapkan makanan untuknya selebihnya biar menjadi urusan pria itu.
Bahkan sejak mereka menikah Gia tidur dengan Miko, karena pria itu tidak mengizinkan Gia masuk kedalam kamar pria itu. Mungkin suaminya itu tidak mau Gia mengganggu momen ketika suaminya itu sedang rindu dengan mendiang Bunga.
Atau mungkin suaminya itu hanya menganggap Gia sebagai babysitter untuk Miko. Umur Miko yang menginjak empat tahun masih membutuhkan sosok ibu sehingga Sena menikahinya agar Miko tidak kehilangan figur seorang ibu.
"Bunda, Ayook berangkat sekolah." Miko meletakkan gelas susunya di meja. Gia menoleh menatap Miko yang baru dia ingat jika anaknya itu berada di ruangan yang sama dengannya.
"Iyaa Sayang. Bunda ngambil tas bunda dulu. Miko ke depan duluan ya, udah ada pak Jojo yang nunggu, jangan lupa bawa tasnya," seru Gia yang dibalas hormat ala tentara oleh Miko.
"Siap Bunda." Miko berjalan meninggalkan Gia yang menatap haru kepadanya.
Gia beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Membenarkan sedikit riasannya. Setelah merasa cukup wanita itu berjalan menuju lemari yang berisi tas-tas miliknya, mengambilnya satu yang sesuai dengan pakaian yang dia gunakan hari ini.
Jojo menunggu Gia, ketika majikannya sudah keluar dari rumah, pria itu membukakan pintu penumpang untuk majikannya. Gia masuk kedalam mobil setelah mengucapkan terimakasih kepada supir kepercayaan suaminya itu.
Gia mendengus melihat Miko yang sedang menonton kartun kesukaannya di ponselnya. Gia tak habis pikir dengan suaminya itu kenapa anak sekecil Miko diberikan ponsel. Anak kecil itu tidak membutuhkan ponsel, jika ingin menonton video, suaminya itu 'kan bisa meminjamkan ponselnya tanpa harus membelikan Miko ponsel.
"Miko mau gak dengerin Bunda?" tanya Gia menutupi layar ponsel Miko dengan tangannya.
"Mau, Bunda mau ngomong apa?" Fokusnya yang tadi ke layar ponsel sudah sepenuhnya ke bunda cantiknya itu.
"Kalau ponsel Miko untuk uncle Gara boleh gak? Ponsel uncle rusak." Gia meminta maaf dalam hati kepada adiknya karena dia sudah membawa adiknya yang tidak bersalah dalam masalah ini.
Gia memperhatikan Miko dengan seksama. Miko mengetukkan telunjuknya di dagunya yang terlihat menggemaskan di mata Gia.
"Yaudah gak papa. Nanti Miko bisa minta lagi sama papah." Miko memberikan ponselnya kepada Gia membuat wanita itu tersenyum senang.
"Jangan minta lagi sama papah ya Nak, papah lagi gak punya uang. Kalo Miko mau nonton video pinjam ponsel Bunda aja." Tanpa membantah Miko mengangguk menyetujui semua perkataan bundanya.
Jojo yang sedari tadi fokus mengemudi, sesekali mendengar percakapan Miko dan Gia pun tersenyum dengan Miko yang begitu menurut dengan semua perkataan Gia.
Selama dia menjadi supir, baru kali ini dia melihat Miko yang langsung menurut kepada lawan bicaranya, bahkan dulu kedua orangtuanya akan membujuk Miko jika anak laki-laki itu tidak mau menyetujui perkataan mereka.
"Goodboy." Gia mengecup kening Miko dengan sayang.
***
Gia berjalan memasuki perusahaan milik Sena dengan menggandeng tangan Miko. Ini kali pertama Gia datang ke perusahaan Sena. Para karyawan yang berpapasan dengan keduanya memberi salam dan tak sedikit yang mencubit dengan gemas pipi Miko.
Pernikahan mereka memang tidak ditutupi sehingga para karyawan Sena tahu jika dia adalah istri dari bos mereka.
Gia memasuki lift bersama Miko menuju lantai paling atas yang mana ruangan suaminya berada. Miko berlari ketika pintu lift terbuka, anak laki-laki itu berlari menuju ruangan papanya. Gia berjalan menyusul Miko.
Matanya menatap sedih ketika dia berpapasan di pintu ruangan suaminya. Sekretaris Sena itu keluar dengan penampilan dua kancing kemeja terbuka. Gia bukan anak kecil lagi, dia tahu apa yang terjadi beberapa menit yang lalu sebelum kedatangannya.
Ayu, sekretaris Sena itu tersenyum sinis ketika melewati Gia. Gia menahan air matanya yang siap keluar, jadi ini alasan kenapa suaminya itu tidak pernah menyentuhnya. Suaminya itu sudah punya wanita yang siap membagi kehangatan dengannya.
"Bunda kok gak masuk?!" Teriakan Miko sukses membuat lamunan Gia buyar.
Gia berjalan menuju sofa yang sudah di duduki suaminya dan Miko yang berada di pangkuannya.
"Jagoan Papah udah makan belum?" tanya Sena mengusap keringat di pelipis Miko.
"Belum, Miko mau makan sama Papah dan Bunda, makanya Miko ajak Bunda kesini. Iyakan Bunda?" Miko menatap Gia dengan senang.
Gia menoleh menatap Miko. Dari jarak sedekat ini wanita itu melirik suaminya yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu. Gia bahkan tidak mengerti dengan arti tatapan itu.
"Iya Sayang. Setelah ini kita pulang ya, Bunda pusing." Gia mengusap pipi Miko dengan sayang.
"Bunda sakit?"
Gia menelan ludahnya dengan susah ketika ingin menjawab pertanyaan yang terlontar dari suaminya. Gia menoleh, menatap suaminya. Detik berikutnya dia menyesali perbuatannya. Dia melihat ada bekas lipstik di kerah kemeja suaminya.
"Enggak, cuma sedikit pusing."
***
Karya pertama aku, semoga kalian berminat yaa😊 ini cerpennya terlalu panjang jadi aku buat menjadi dua part yaa
like dan komentar kalau kalian suka🤗