"Acara selanjutnya, kita akan mengundi secara acak. Dan yang namanya muncul, harus naik ke panggung dan menyanyikan satu lagu." ucap seorang laki-laki yang merupakan MC pada festival musim gugur ini.
"Syukurlah aku tidak ikutan, kalau ikutan bisa gawat jika terpilih." gumamku sembari memandang ke arah panggung itu, masih longgar. Di atas sana hanya ada seorang MC, dan beberapa orang pemain alat musik.
"Hmm iya, aku juga malu kalau naik ke atas panggung." Hanami menanggapi ucapanku. Dia memandang ke arah yang sama denganku.
"Dan nama yang terpilih adalah.. Nakayama-san! Ayo naik ke panggung." setelah membuka satu gulungan kertas, MC itu mengumumkan nama yang akan naik ke atas panggung.
"Tunggu, Nakayama? Jangan-jangan.. Tidak-tidak, Nakayama tidak hanya ada satu." aku menepis pikiran anehku. Nakayama, adalah nama marga dari seseorang yang saat ini sedang aku hindari. Aku merasa tidak enak karena kejadian tadi siang.
Tak lama setelah itu, seseorang pun naik ke atas panggung. Laki-laki memakai kimono warna biru dongker dan memakai topeng kucing putih.
Dia menerima mic yang diberikan oleh MC itu.
"Tuan, apakah aku boleh mengajak seseorang untuk berduet bersamaku?" tanyanya sebelum mulai bernyanyi. Tunggu, dari suaranya, terdengar tidak asing. Aku mengerutkan dahiku, bingung.
"Oh tentu. Jadi anda ingin berduet?"
"Iya,"
"Baiklah, silahkan pilih partner-mu."
"Hmm.. itu. Kamu, ayo ke sini." laki-laki itu menunjuk ke arahku. Tentu aku menjadi sedikit bingung. Aku menunjuk diriku sendiri untuk memastikan.
"Iya, kau. Ayo naik ke sini."
Ternyata benar, diriku yang dia minta untuk naik. Dia juga mengisyaratkan supaya aku bergerak agak cepat.
"Ayo, tidak usah takut-takut. Aku tidak akan memakanmu kok," dia membujukku. Dengan langkah ragu, aku pun berjalan ke arahnya. Aku risih sekali menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.
"Woah, jadi Nakayama-san akan bernyanyi dengan gadis itu?"
"Kalau dilihat-lihat, dia cukup cantik juga. Dan sepertinya tidak asing. Di mana aku pernah melihatnya?"
Begitulah tanggapan orang-orang yang dapat terdengar jelas olehku. Aku menundukkan pandanganku, dan sesekali mengangkat wajahnya untuk melihat jalan di depanku.
Setelah beberapa meter berjalan, akhirnya aku sampai tepat di depan panggung itu. Aku tidak langsung naik, aku menatap orang yang mengajakku berduet. Dan kebetulan, orang itu melepas topengnya sehingga wajahnya terlihat jelas.
"Hah Jinsei?! Bagaimana bisa?! Aku akan bernyanyi bersamanya?!" seketika, diriku jadi bertambah gugup, jantungku semakin berdebar-debar dan sepertinya tekanan darahku naik.
"Ayo," ajaknya yang membuat aku tersadar dari lamunan.
"H-haik!"
Aku memberanikan diri untuk naik ke atas panggung. Baru berhasil menaiki satu anak tangga, Jinsei meraih tanganku dan membantuku naik. Seketika wajahku memerah. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lakukan. Mana banyak orang yang menonton lagi..
"Terima kasih sudah mau naik. Lagu apa yang ingin kita nyanyikan?" tanyanya sambil menatapku dan tersenyum.
"T-terserah Anda.."
"Kalah 'Tenbyou no Uta', kau setuju?"
"H-haik.." balasku singkat. Tapi kebetulan lagu itu adalah lagu kesukaanku, pilihannya tepat sekali.
Dengan tangan yang agak gemetar, aku memegang mic. Kami akan menyanyikan lagi 'Tenbyou no Uta' karya band Mrs. GREEN APPLE.
*Disarankan sambil mendengarkan lagunya.
Musik mulai dimainkan, aku menarik napas pelan sebelum mulai bernyanyi.
Anata no koe de hogurete yuku..
(Aku merasa tenang saat mendengar suaramu)
Wasuretakunai to kokoro ga iu..
(Hatiku mengatakan tidak ingin melupakannya)
Omoide bakka fuete yuku..
(Hanya ingatan yang terus bertambah)
Zutto soba ni itai..
(Aku ingin berada di sisimu)
Nakimushi demo ii ka na..
(Cengeng pun tidak apa-apa ya?)"
Tsuyogaranai de ii yo..
(Tak perlu berlagak kuat)
Kagiri aru koi da to shitemo..
(Biarpun cinta ini memiliki batas)
Deaete shiawase desu
(Bertemu denganmu saja aku sudah bahagia)
Itsumademo
(Sampai kapanpun)
Itsumademo
(Sampai kapanpun)
Tsuzuite hoshii to
(Aku berharap)
Negaate iru..
(Terus berlanjut)
Te wo toru koto wa dekizu tomo
(Meskipun kita tidak bisa saling bergandengan)
Watashi wa anata wo
(Aku akan)
Tsuiteiru
(Mengikutimu)
Anata no yume de kokoro yasu ragu
(Karena mimpimu, hati ini menjadi tenang)
Mezametakunai to boku wa iuu..
(Aku mengatakan aku tidak mau menyadarkan diri)
Omoide bakka fuete yuku..
(Hanya kenangan yang terus berlanjut)
Ashita mo soba ni itai
(Besok pun aku ingin di sisimu)
Doko made mo
(Sampai manapun)
Doko made mo
(Sampai manapun)
Donkan na boku wo shikatte hoshii
(Aku mau kamu memarahi aku yang bebal ini)
Atari mae ga kowareru koto ni
(Seperti anak kecil)
Kidzukenai kurai ni kodomo dakedo
(Sampai aku tidak sadar hal yang sudah rusak)
Chanto Boku no anata wo tsuiteiru
(Aku akan dengan baik mengikutimu)
Watashi no
(Aku akan)
Boku no
(Aku akan)
Jikan ga tomareba ii noni
(Akan lebih baik jika waktu yang ku punya berhenti)
Hora ma ta kitai wo shite shimau
(Lihat aku telah berharap lagi)
Gu tto koatere miru kara sa Moshi
(Aku mencoba bersabar, kalau sudah meluap kesabaran ini)
Afuredashitara hitomi chanto mite yo mite, yo mite..
(Perhatikan baik-baik dengan matamu)
Anata no kage dake nobite yuku
(Bayanganmu mulai memanjang)
Kiete shimawanaide
(Mohon jangan menghilang selamanya)
Zutto..
(Perasaan)
Zutto..
(Perasaan)
Kono omoi wa kawaranai
(Ini tidak akan berubah)
Itsumademo
(Sampai kapanpun)
Itsumademo
(Sampai kapanpun)
Tsuzuite hoshii to Negatte iru
(Aku harap terus berlanjut)
Te wo toru koto wa dekizu tomo
(Meskipun kita tidak bisa saling bergandengan)
Sugite yuku ima ni dakishimerarete iru
(Aku terperangkap oleh masa lalu)
Watashi no
(Aku akan)
Boku no
(Aku akan)
Jikan ga tomareba ii noni
(Akan lebih baik jika waktu yang ku punya berhenti)
Kyou wo..
(Mari)
Kamishimeteiyou
(Menikmati hari ini)
Owaru na natsu yo owaru na
(Janganlah berakhir, janganlah berakhir musim panasku)
----------
"Nakayama-san, kenapa anda-"
"Tidak apa,"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah menyahut. Mungkin karena nada bicaraku terlalu lambat.
"Terima kasih sudah mau bernyanyi bersamaku," sembari tersenyum, dia berucap berterima kasih.
"Sama-sama.." balasku sambil menunduk. Kalau dia sudah tersenyum, aku jadi canggung untuk melihat wajahnya. Menurutku dia sangat tampan, tapi sayangnya ada kecanggungan di antara kami, yakni selisih usia. Kami berbeda lima melas tahun.
Tak ku sangka, malam ini aku bernyanyi bersamanya di hadapan semua orang. Termasuk teman-teman seperjuangan dia yang juga hadir di festival ini. Aku jadi takut untuk pergi ke sekolah besok, pasti besok aku akan menjadi bahan pembicaraan mereka semua.
"Baiklah Mirai, mungkin aku harus pergi, dan teman-temanmu sudah menunggumu." ucapnya, aku pun menatap ke arah yang agak berlawanan. Ada Natsuki dan Hanami yang sudah menungguku.
"H-haik, aku pergi dulu Nakayama-san.." baru saja aku membalikkan badan, dia langsung menarik tubuhku dalam pelukannya.
"Jangan lupakan pelukan hangat dariku ya," ucapnya masih sambil mendekap diriku. Tentu aku jadi gimana, gitu. Aku tak berani membalas pelukannya dan hanya diam saja.
Tidak lama kemudian, setelah dia melepaskan aku, aku berbalik menatapnya.
"Arigatou, Nakayama-san. Sayonara,"
-tamat-
----------
Bagi yang sudah baca chat story Nino yang berjudul 'Mirai Kara no Ai' pasti tau siapa mereka dan apa yang terjadi sebenarnya. Bagi yang berminat, yuk mampir. Nino tunggu!
Terima kasih bagi yang sudah membaca sampai selesai. Jangan lupa like dan komentarnya ya!