3 kata yang dipilih adalah transmigrasi, pantai dan iblis.
~~~~
Aku adalah seorang putri mahkota yang meninggal di hari pernikahanku setelah aku meminum segelas air dari kakakku.
Mengapa aku mengetahui bahwa aku telah meninggal? Karena setelah meminum itu aku merasakan sakit luar biasa pada dadaku dan kemudian aku melupakan cara bernapas juga menutup mataku.
Kala berikutnya aku membuka mata, aku melihat tubuhku menjadi transparan dan di hadapanku ada seorang pria yang duduk di singgasana dengan sebelah tangan yang menopang dagunya. Tatapan matanya juga sangat malas.
"Putri Mahkota Dian, meninggal karena diracun oleh kakak kandung sendiri yang iri pada dirimu do hari pernikahanmu. Hm, menarik sekali ya. Mati karena dibunuh kakak kandung sendiri dengan alasan iri? Terlebih di hari pernikahan pula. Haha." Ekspresinya berubah sedikit tertarik ketika membacakan alasan kematianku itu.
Karena itu pula aku yakin bahwa aku telah meninggal.
Aku hanya diam menatap ke arahnya tanpa menjawab sepatah kata pun. Ia juga tak mempermasalahkannya. Bahkan ia melanjutkan berbicara.
"Baiklah karena kamu menyedihkan menurutku, aku akan memberikanmu kesempatan untuk hidup kedua dan bertransmigrasi ke dunia lain." Ujarnya seraya mengarahkan telunjuknya ke arahku.
Seketika cahaya putih dan biru keluar dari tangannya dan membalut tubuhku dengan silau membuatku mau tak mau memejamkan mataku.
Detik berikutnya aku membuka mata, aku dapat merasakan sakit di seluruh tubuhku. Remuk redam, terbaring tak berdaya. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur dan beristirahat saja.
Ketika aku terbangun berikutnya, ingatan pemilik tubuh telah kudapatkan dan aku memandangi tempat yang kuduga adalah pantai ini.
Ah ternyata aku bertransmigrasi ke pantai pikirku.
Aku hanya diam dan menggerakkan kepalaku sedikit demi sedikit untuk mengawasi sekitarku yang ternyata sepi seakan tak berpenghuni pantai ini.
Aku masih mengumpulkan tenagaku, dan masih belum bisa terlalu banyak menggerakkan badan makanya aku memilih untuk kembali tidur dan beristirahat.
Hingga aku dibangunkan oleh tepukan di pipiku. Ketika aku membuka mata lagi, aku dapat melihat sosoknya. Sosok iblis yang amat menawan.
Ya iris matanya yg berwarna merah darah. Senyumnya yang memikat layaknya iblis dengan sejuta pesona memikat para manusia, juga tangannya yang menepukku itu seputih salju dan amat dingin seakan tak memiliki hawa kehidupan.
Melihat diriku yang terperanjat kaget namun tak banyak menggerakkan anggota badanku kecuali mataku, membuat dirinya menarik tangannya yang tadinya digunakan untuk menepukku itu.
Setelah itu dia mengarahkan jari telunjuknya ke arahku dan memejamkan matanya. Dari mulutnya terdengar kata-kata yang sangat asing di telingaku. Sepertinya bukan bahasa dari dunia ini seperti yang ada di ingatan tubuh ini, apalagi bahasa di duniaku sebelumnya.
Ketika membaca mantra itu dapat kulihat perlahan sayap hitam dari balik punggungnya mulai menampakkan dirinya. Juga cahaya hijau yang muncul dari telunjuknya dan langsung mengarah dengan cepat ke arahku.
Bersamaan dengan cahaya hijau itu yang datang ke tubuhku, bagian tubuhku yang terkena cahaya hijau itu pun perlahan berangsur-angsur membaik bahkan bisa dikatakan pulih.
Hanya dalam beberapa menit kemudian aku merasakan seluruh tubuh ini sangat sehat. Bahkan udara yang kuhirup pun menjadi segar.
Ketika akhirnya aku menggerakkan tubuhku hingga bisa mencoba duduk, aku menyadari bahwa lelaki tadi sudah tak berdiri lagi di tempat tadi.
Bukan, bukan dia tiba-tiba saja pergi meninggalkan diriku. Tetapi dia jatuh pingsan dan tergeletak begitu saja tepat di hadapanku.
Mungkinkah dia begitu kelelahan setelah menggunakan sihir di hadapanku?
Ah bagaimanapun juga yang paling utama adalah aku harus berterimakasih padanya dan menunggu dia bangun. Untuk sementara ini biarlah aku yang mencari segala yang bisa dimakan untuk mengganjal perutku yang kosong sejak tiba disini.
~~~
Aku sedang membakar ikan hasil tangkapanku hari ini. Untunglah sebagai putri mahkota aku bisa mempelajari bagaimana cara bertahan hidup di tengah hutan atau saat dalam keadaan genting. Selain mempelajari bagaimana mendampingi seseorang mengurusi atau mengurusi langsung urusan kerajaan.
Entah karena memang asap pembakaran aroma ikan yang kubakar telah menyadarkannya atau memang dia telah sadar daritadi, aku tak tahu pasti.
Namun tiba-tiba saja dirinya telah berada di depanku dengan sosok awalnya tanpa adanya sayap hitam di balik punggungnya.
Kulirik dirinya sekilas kemudian menyapanya dengan acuh tak acuh, "Hallo Tuan Iblis. Apakah anda berminat memakan makanan manusia jelata seperti saya ini? Ngomong-ngomong terimakasih sebelumnya telah menyembuhkanku."
Kulihat lewat ekor mataku, matanya memicing dan mulutnya mengerecut mendengar ucapanku barusan.
"Hei, Nona! Mengapa kau memanggilku Tuan Iblis?" katanya.
"Karena kau memang iblis bukan? Lihatlah dirimu yang begitu mempesona melebihi manusia biasa. Jangan lupakan sihirmu dan juga sayap hitammu itu!" Tunjukku ke dadanya dengan mata yang menajam.
Akhirnya kulihat juga seringai miliknya. "Haha, Nona kau sungguh pintar dan to the point sekali ya? Lalu kalau kau tahu aku iblis, kau mau apa? Melenyapkanku?" Ucapnya dengan suara dan intimidasi yang menakutkan.
Tapi aku tak gentar. Aku masih menatapnya lurus dan seakan berbalik menantang dirinya. "Tuan Iblis yang terhormat, aku ini manusia rendahan yang tahu terimakasih. Tentu aku tak mungkin melenyapkanmu hanya karena itu dan bahkan aku tak memiliki kekuatan untuk melenyapkanmu."
Mendengar jawabanku dan sikapku yang kembali acuh tak acuh pada dirinya, ia pun perlahan menghilangkan aura intimidasinya itu dan menyambar seekor ikan yang sudah kubakar dan sekarang mulai mendingin.
"Hahaha, kau manusia berjenis kelamin wanita pertama yang berhasil menarik minatku." Katanya ditengah-tengah kunyahannya memakan ikan itu.
Aku sendiri hanya mengedikkan bahu tanda tak peduli pada ucapannya dan kembali fokus memakan makananku.
~~~
Pada akhirnya dia bercerita, dia adalah iblis sombong dan ceroboh dulu. Hingga suatu saat ia membuat kesalahan dan menyebabkannya terkurung disini dengan separuh kekuatannya tersegel.
Sebelumnya ia bisa dengan bebas memasuki dunia manapun dan kapanpun akibat besarnya kekuatan sihirnya, namun sekarang hanya untuk sihir penyembuhan seperti yang ia lakukan padaku tadi, sudah menghabiskan begitu banyak kekuatan sihir yang ada pada dirinya dan menyebabkannya jatuh pingsan seperti tadi.
Tak mengherankan memang. Pada akhirnya aku memilih untuk menetap disana dan membangun kebahagianku sendiri bersamanya.
Rasa yang tumbuh setelah melalui banyak waktu bersama. Rasa yang digantikan oleh dewa dengan memberikanku kesempatan berikutnya sehingga bisa merasakannya.
Ah, Tuan Iblisku.
FIN~~
A/N : Sesungguhnya aku ini bingung untuk mengakhiri cerita ini bagaimana wkwkwk...