Gerimis itu romantis, ia menyirammu dalam rintik namun tidak membuatmu mandi. Gerimis itu halus, ia menyentuhmu lewat sapuan angin hingga terserap ke dalam kulit. Kadang, romantis itu membuatmu sakit. Jangan terlalu lama berkolaburasi dengan gerimis, nanti kamu sakit!
🌦️🌦️🌦️
Ada jarum besar dari langit, kusebut ia hujan. Hadir sesaat setelah gerimis, oh… kadang hujan nakal menendang si adik (gerimis) sehingga tersungkur dari langit. Hujan bisa membuatmu terluka bila terus bersetubuh dengannya. Kamu akan sakit, dan hanya kamu yang bisa menafsirkan kadar sakit itu.
Lihat! Bidadari langit datang dengan selendang pancawarna. Gemulai tubuhnya sanggup memukau setiap mata yang mengintipnya. Pelangi, itu namanya. Indah bukan? Bidadari mahaelok itu telah mencuri hati dua jejaka dalam bisu. Dua yang kutahu adalah si bersaudara pembawa rintik. Jangan bilang kalau kamu juga hendak bersaing dengan mereka! Memperebutkan hati bidadari yang terlukis di kanvas langit.
Jangan curi salah satu selendangnya! Atau kamu membuat sinarnya akan pudar dan lenyaplah satu warna di dunia.
Senja ini kulihat gerimis datang setelah meminta ijin kepada paman matahari. Jika gerimis yang datang, matahari masih menyungging senyum senang lewat pantulan teriknya. Gerimis bukan parasit, ia hanya senang memberi setetes kesejukan padamu di bawah terik memanggang yang menjadi tugas alam si matahari.
Matahari: “Kau datang lagi? Apa tak lelah menangis?”
Gerimis: “Lelahku terbayar dengan senyuman mereka. Terikmu membuat mereka dehidrasi batin, dan tangisku setara dengan air kayangan.”
Matahari: “Bukan itu saja maksudmu, kan? Aku mengerti, kau berniat mengundang pelangi. Ah… kenapa tidak kau katakan saja perasaanmu? Biar dia tahu, kau begitu mengagumi lengkungan selendang eloknya.”
Gerimis tersipu malu, percuma membohongi matahari yang kebal tipuan. Benar saja, matahari itu pemilik sinar yang meneropong ke dalam hati insan penikmat terang.
Gerimis: “Biarlah dia menunjukkan tarian warnanya. Kehadirannya berkah, mata mana yang acuh bila dia beraksi? Aku ingin dia datang menghibur manusia di bawah, para penggemar sejatinya.”
Matahari tersenyum, cara gerimis mencinta amatlah bijaksana. Bukan karena tak kuasa bertindak, gerimis telah bersikap dalam diam. Bukan pula ia tak mampu berucap hingga harus bungkam, gerimis hanya ingin pelangi tetap berwarna.
☀️☀️☀️
Tetes selembut jaring laba-laba berjatuhan tak beraturan, menerpa wajahmu, kulitmu, tubuhmu. Kau bersenandung menyambutnya meski percik mentari masih gencar membakar. Sebagian menggerutu karena benci gerimis yang membuat pakaian harus dientaskan sebelum kering. Kau pecinta gerimis, ada kenangan yang direkam dalam rintik halus itu. Ada seraut wajah tersenyum dalam rinai gerimis. Dan itu adalah wajah kekasihmu, aku.
Pelangi menyiapkan selendang lalu terbang menuju teras utara langit, di mana gerimis menangis dan matahari meringis. Keduanya adalah sahabat pelangi, karena mereka yang membantunya menari di panggung biru berumput putih. Sebuah pementasan yang mahal bagi pelangi yang selalu bersembunyi dari ganasnya hujan. Warnanya bisa luntur, hujan tak memberi ampun pada kesalahan yang tak pernah dibuatnya.
Dulu mereka sahabat, pelangi kecil adalah peri paling cantik di antara kerumunan cupid langit–gerimis, hujan, matahari. Persahabatan indah itu terjalin sebelum kau menyebut nama mereka. Pelangi sangat ingin seperti matahari yang rutin menyapa makhluk di bumi dan memberikan kehidupan.
Matahari: “Kau masih kecil, peri cantik, simpan dahulu kuasmu, kelak kuajarkan kau melukis dirimu dalam keutuhan. Kau pasti bersinar dan penggemarmu akan merindukan lukisanmu.”
Pelangi: “Tapi, di antara kita berempat, akulah yang paling tidak berarti. Jam terbangku tak mesti bisa hadir menghibur makhluk yang dikaruniai penglihatan. Warnaku terkubur, lama-lama aku bisa pudar dan luntur.”
Hujan menatap pelangi, peri kecil itu kebingungan mencari jati diri. Karakternya belum seterik matahari, belum sebasah hujan. Tidak. Hujan tidak hanya simpati, makna tatapan itu lebih dari sekedar kasihan. Sorot tajam itu mengalirkan satu kutub getaran magnetis yang tidak terhantar ke kutub pelangi.
Lain hal dengan gerimis, tatapan lembutnya tampak polos. Ia tak berbakat munafik, ada getar suka lewat pancaran matanya. Namun, gerimis sama seperti pelangi yang bimbang akan jati diri. Sering pula gerimis pesimis, riwayatnya singkat nyaris tak terekam film alam. Karakternya tak sekuat hujan, bahkan gerimis seperti penari latar pengiring pertunjukan hujan memandikan pelataran.
Matahari yang paling bijak berkata, “Baiklah peri cantik, kau senasib dengan pangeran gerimis. Kalian tercipta membawa keberuntungan dan keunikan tersendiri, hanya belum saatnya kalian menjadi pemain utama. Namun, kelak kalian akan punya penggemar, percayalah! Kuberi kalian kesempatan tampil, gerimis bisa menuang air meski aku masih bertugas, dan pelangi bisa menggambar langit ketika gerimis pergi.”
Keputusan yang adil, semua punya porsi dan bebas berimajinasi. Hujan turut bahagia melihat senyum pelangi yang mengembang indah. Gerimis tak kalah bahagia meski senyumnya tak selebar pelangi, setidaknya ia punya jatah bermain bersama si peri warna itu.
Kini, hujan bukan lagi sahabat berbagi suka duka. Ia telah berubah, wujudnya tetap cair namun hatinya telah membatu.
Sepele, keadaan yang lebih berpihak pada gerimis untuk mendekati pelangi telah memurkakan hujan. Ia semakin dingin bahkan bisa membunuh dengan nyawanya.
Hujan: “Pecundang! Kau tak pantas bersanding dengan pelangi. Karaktermu lemah, begitu pula dengannya. Bersamamu hanya akan menghancurkan dirinya. Aku tak rela kau mendekatinya, sekalipun menikmati kemolekan tubuhnya dengan mata hinamu.”
Perseteruan ini mengundang benih kebencian antara hujan dan matahari. Gerimis memang tak berdaya walau matahari di pihaknya, ia kalah kuat dengan hujan yang bisa membunuhnya kapan pun ia mau. Matahari tak tinggal diam, mereka dua sifat yang bertolak belakang. Cinta telah meruntuhkan persahabatan yang indah, hujan lupa bahwa mereka terbentuk dari sekelompok rasa yang disatukan dalam cinta pula.
Matahari: “gerimis memang lemah, tapi dia punya hak yang sama. Dia bebas menjatuhkan hati pada siapa pun, tiada yang berhak mengekang kebebasannya.
Hujan: “Pelangi milikku. Aku yang lebih dulu mencintinya, aku yang lebih pantas bersanding dengannya.”
Matahari: “kau sebut itu cinta? Dengan mengikatnya dalam keegoisanmu, kau pikir dia bahagia? Dia punya nyawa, dan nyawa itu membuatnya hidup seperti apa yang dia inginkan. Dia punya warna yang indah, tidak hanya kamu yang punya mata. Semua yang memiliki mata bebas mencintainya. Tapi jangan paksakan kehendak untuk mengikatnya.”
⛈️⛈️⛈️
Sejak itu, matahari dan hujan berseteru kian runyam. Kedua kubu sama kuatnya. Hujan bukan kekuatan yang boleh diremehkan, ia tak segan menyambar kuasa matahari ketika jam siang masih terjaga. Hujan berkhianat pada awan yang membantunya menciptakan gelap bernama mendung. Pun, kini hujan berhasil menarik simpati Guntur serta adiknya petir untuk berkolaburasi menciptakan tangisan melengking dari langit.
Pelangi masih bidadari polos yang buta akan cinta. Ia tak bisa menangis meski tahu persahabatan indah bersama hujan berubah benci. Hujan sangat keji, ia memburu pelangi tiap kali gerimis mengundangnya ikut andil. Hujan kan menyerobot kesempatan pelangi dan membunuh gerimis dengan tembakan tajam panah airnya.
Pelangi: “Ada apa denganmu, hujan? Mengapa kau begitu membenciku? Kesalahan apa yang telah kuperbuat?”
Hujan: “Kesalahanmu adalah membuatku jatuh cinta. Namun cinta itu enggan kau sambut. Kau malah dekat dengan si gerimis.”
Pelangi: “Gerimis adalah sahabatku, sama seperti aku padamu dan Matahari. Lalu cinta itu untuk apa jika hanya memusnahkan persahabatan kita?”
Gerimis adalah jodoh pelangi, hanya itu yang diketahui Matahari. Gerimis selalu menjaga Pelangi lewat diam, bukan karena tak mau menyikapi namun ia telah bersikap lewat sorot teduh mata airnya. Terkadang mereka bercengkerama saat Matahari berbaik hati mengusir awan pembentuk Mendung yang bersekutu dengan Hujan. Biarlah sesekali merek bertemu walau rindu hanya sebatas roda yang pasti memutar arah hingga mereka berpisah kembali.
🌈🌈🌈
Senja nyaris berakhir, gerimis masih setia menari di hadapanku. Cerita pendek ini berhasil kulumat sekali duduk, cerita cinta antara Gerimis, hujan, dan pelangi. Aku tak ingin seperti gerimis yang mencintai dalam diam, pula tak ingin seperti hujan yang naïf karena penolakan. Aku bukan pelangi yang polos akan keberadaan cinta sehingga hancur segala euphoria. Aku adalah aku. Caraku mencinta adalah bebas, membebaskanmu terdiam dalam hitam. Agar tiada yang terluka oleh rasa sepihakku, meski kutahu terjatuh itu sakit. Kau adalah gerimis, sikap diam menjadi perisaimu bertahan. Namun, hendak sampai kapan?
Namamu serupa mantera
Kurapalkan hingga tak bernyawa
Hingga penghujung pertikaian rasa
Terpatri sudah gumpalan asa
Untukmu semata
Gerimis telah pergi mengundang pelangi keluar dari persembunyian, biarkan ia melukis. Dan aku akan seperti merpati, menunggumu kembali ke sarang abadi.
TAMAT