Kata yang dipilih: kopi, racun, cinta pertama
***
"Hai sweety, selamat pagi." wajah tampan seorang pria yang dihiasi senyuman manis adalah hal pertama yang kulihat setiap pagi selama 2 tahun terakhir.
"Selamat pagi hubby." jawabku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kopimu sudah siap." ujarnya lagi.
"Terima kasih sayang." aku kemudian bangun dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku. Sedangkan suamiku sudah lebih dulu kembali ke pantry.
Kami menikmati sarapan sambil membahas jadwal kegiatan kami sepanjang hari ini. Aku merasa, aku adalah wanita paling bahagia di dunia ini. Aku menduduki kabatan sebagai direktur eksekutif di sebuah perusahaan bertaraf internasional. Suamiku seorang pimpinan cabang perusahaan otomotif, dia adalah cinta pertamaku.
Kami sudah berteman sejak SMA, dan sejak awal bertemu di kelas 1, aku langsung jatuh cinta padanya. Lama kami tidak berjumpa karena kuliah di negara yang berbeda. 5 tahun yang lalu kami bertemu dalam acara reuni SMA dan menikah 3 tahun kemudian.
2 tahun pernikahan, kami belum dikaruniai buah hati. Tapi kami tidak berkecil hati, kami merasa mungkin Tuhan belum percaya pada kami. Setiap hari selama 2 tahun ia selalu bangun lebih awal dan membuatkan kopi untukku. Perlakuan kecil yang sangat manis menurutku. Karena menurutku, romantis itu tidak melulu soal hadiah atau kejutan.
***
Suatu hari, aku berjumpa teman saat SMA. Untuk melepas kerinduan kami makan bersama di kafe tak jauh dari kantorku. Obrolan ringan diselingi canda tawa, sungguh menyenangkan. Sampai akhirnya topik pembicaraan kami membahas rumah tangga.
"Aku nggak nyangka lho Tan, akhirnya kamu menikah sama Robi."
Aku tersenyum sambil menyesap kopiku. "Aku juga nggak nyangka. Namanya juga jodoh."
Temanku itu terdiam, wajahnya berubah serius. "Masalah keluarga kalian sama Robi sudah beres?"
"Masalah apa Sil?" aku benar-benar bingung.
"Bukannya 6 tahun lalu Kakakmu Andre memperkosa...."
Drrtt...Drrttt...Drrttt
"Eh, maaf Sil. Robi telepon nih. Bentar ya." aku kemudian menjawab telepon, namun jujur aku masih syok dengan ucapan Silfia. 6 tahun yang lalu Kak Andre memperkosa siapa? Aku kuliah di luar negeri dan tak ada yang memberitahuku.
"Halo Hubby."
"...."
"Iya, saya Tania, istri Robi."
"....."
"Ba-baiklah." aku memutus sambungan telepon dengan tubuh bergetar.
"Kenapa Tan?" Silfia khawatir.
"Ro-robi kecelakaan Sil. Aku harus ke RSUD sekarang." jawabku panik.
"Aku antar kamu." Silfia segera meminta bill dan membayar kemudian menggandengku ke mobil.
Sepanjang perjalanan aku terus menangis, Silfia terus menerus menguatkanku.
Sebelum mobil Silfia berhenti sepenuhnya, aku sudah melepas sabuk pengaman dan melompat keluar. Tindakan yang sangat berbahay, namun yang di pikiranku saat ini hanyalah suamiku.
Aku berlari menuju IGD dan langsung disambut dokter yang menangani.
"Kami perlu darah AB rhesus -." kata dokter itu.
"Saya saja dokter, kebetulan golongan darah kami sama." jawabku sambil menghapus air mata di pipiku.
"Baiklah kalau begitu." Dokter segera membawaku ke seorang perawat. "Bawa Nyonya ini ke lab. Periksa darahnya sebelum diambil untuk tranfusi."
"Sil, aku titip Robi ya." ucapku pada Silfia sebelum mengikuti perawat yang ditunjuk dokter.
"Iya Tan."
Dengan setengah berlari aku menyusul perawat menuju laboratorium. Mereka mengambil sampel darahku untuk diperiksa terlebih dahulu. Kemudian sambil menunggu hasil, aku kembali ke IGD untuk melihat kondisi Robi.
"Hubby, sayang, ini aku." aku tak mampu menahan air mata saat melihat suamiku yang sedang berbaring dengan tubuh penuh luka. Banyak selang dan entah apa nama benda yang ditempelkan pada tubuhnya.
"Kamu pasti kuat sayang, aku mencintaimu, aku mencintaimu." aku menutup wajah dengan kedua tanganku, air mataku semakin deras mengalir.
"Sabar ya Tan, sabar." Silfia merengkuh tubuhku, ia memelukku dengan hangat sambil mengusap kepalaku. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Silfia.
30 menit kemudian, dokter memanggilku ke ruangannya. Wajahnya terlihat begitu serius, aku semakin berdebar-debar.
"Nyonya, saya akan bertanya. Tolong jawab yang jujur."
"Iya dokter."
"Apakah anda mengonsumsi sebuah obat dalam jangka waktu lama?"
"Obat apa dokter?"
"Apa saja."
"Tidak ada dokter." jawabku tanpa berpikir, karena memang aku tak mengonsumsi obat-obatan sebab jarang sakit.
"Apakah ada makanan yang rutin anda konsumsi setiap hari?"
Aku mengernyit. "Ada apa dokter?" aku memilih bertanya karena menurutku obrolan ini sepertinya tidak penting.
Dokter di depanku menghela napas. "Dalam darah anda terkandung racun arsenik dalam kadar mengkhawatirkan, Nyonya. Untuk itu kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada anda."
"Ra-racun, dokter?" rasanya sebuah beban besar menghantam dadaku.
Dokter itu mengangguk. "Jadi, bisakah anda menjawab pertanyaan saya yang terakhir?"
"Sa-saya selalu berganti tempat makan dokter. Saya lebih banyak makan di luar rumah karena tuntutan pekerjaan. Tapi setiap pagi saya rutin minum ko...." sebuah kesadaran baru merasukiku. Aku terdiam, dadaku semakin berdebar.
"Minum apa Nyonya?"
"Mi-minum ko-kopi, dok-dokter." aku terbata berusaha menahan sakit di dadaku. "Setiap pagi selama 2 tahun ini suamiku selalu membuatkanku kopi."
Dokter itu terdiam, ia terkejut dengan ucapanku. Khirnya ia memilih untuk menulis memo agar aku dibawa untuk diperiksa lebih mendalam.
Aku keluar ruangannya dan menuju Silfia. Kini ucapan sahabatku itu terngiang kembali. Masalah keluargaku dan Robi.
"Si-sil."
"Tania, gimana?" Silfia meraih tanganku dan menggiringku duduk.
"Aku mau tanya sama kaku. Ada masalah apa antara keluargaku dan Robi?"
Silfia bingung. "Memangnya kamu nggak tahu?" aku menggeleng lemah.
"6 tahun lalu, Kak Andre memperkosa seorang gadis karena mabuk. Gadis itu adalah teman kostku, dan dia..." Silfia ragu meneruskan kalimatnya.
"Dia apa?" desakku.
"Calon istri Robi." ucapnya lirih. "2 bulan setelah kejadian itu dia bunuh diri dengan minum kopi dicampur arsenik yang sangat banyak."
Seolah petir menyambar tubuhku, aku lantas teringat lebih dari 2 tahun lalu bagaimana seluruh keluargaku habis-habisan menentang rencana pernikahan kami. Aku sampai mengancam akan bunuh diri jika keinginanku tak dituruti, bahkan mogok makan selama beberapa hari. Akhirnya orang tuaku menyerah dan menuruti keinginanku.
Pantas saja Kak Andre tidak ada di rumah saat aku kembali dari luar negeri, orang tuaku ternyata mengasingkannya. Bahkan saat aku menikah dia tidak datang dengan alasan sibuk.
"Ar-arsenik."
Rasa sakit mendera dadaku, aku menjerit histeris sambil menutup wajahku. Kemudian....
"Tan! Tania! Perawat tolong!!!
***