Hai, Gaes. Bantu like, komen, dan love-nya, ya! Bila perlu follow pemilik akunnya. Terima kasih!
"Om badutnya, jelek. Mukanya, busuk!"
____________
Prang!
Gubrak!
Arya berlari mendekati sumber suara. Ketika sampai di dapur dia terkejut melihat pemandangan seisi dapur yang tumpah. Banyak pecahan piring dan gelas ada dimana-mana.
"Ada apa ini, Ya?!" tanya Arya geram.
Perempuan bernama Aya itu Tengah mengamuk. Rambut acak-acakan juga kedua matanya, tersirat kemarahan.
"Mas pikir sendiri!" bentak Aya sengit.
Pria 30 tahun itu tidak mengerti apa maksud Aya---istrinya.
"Mas tidak tahu, Sayang." Arya menghampiri istrinya. Ia ingin merengkuh pundaknya.
Namun, tangan lembut itu ditepis kasar oleh Aya.
"Makanya, mikir! Kerjaannya tiduran, aja. Emangnya, rezeki datang sendiri gitu, hah?!"
Oh, itu rupanya yang membuat Aya marah. Selama ini bukan Arya tak mau berusaha. Tetapi, puluhan tempat kerja menolaknya.
"Adik kan, tahu sendiri. Mas tidak diterima kerja di manapun. Karena wajah Mas yang cacat." Mata teduhnya berkaca-kaca.
"Alah, alasan. Malas ya, tetap malas! Kan bisa ngemis gitu? Aku mau dikasih makan apa, hah?"
Aya memalingkan wajahnya ke arah pintu dapur yang sedang terbuka. Untungnya, ketika dia ngamuk tetangganya tidak ada. Kedua bola mata coklat itu menahan air mata.
"Sabar, Dik. Nanti, Mas cari kerjaan."
"Ya sekarang! Kok, tunggu nanti? Nggak lihat apa, dapur nggak ngebul?!"
Arya tak bisa berbuat banyak. Ia bukan pemalas, hanya saja setiap melamar pekerjaan selalu ditolak. Lantaran wajahnya cacat.
Dulu Arya adalah seorang pekerja pabrik. Karena kecelakaan kerja menyebabkan separuh wajahnya rusak. Maka ia di PHK.
*
*
*
Terik matahari membakar kulit putih Arya. Sepanjang jalan ia lalui tanpa alas kaki, tak perduli terik dan lelah.
Arya menggunakan masker sebagai penutup wajahnya. Hal ini agar semua orang yang melihatnya tidak jijik.
Wajah sebelah kanan hingga batas lehernya rusak parah. Bagi siapa saja yang melihat akan terkejut ataupun ketakutan.
Ia menyandang gelar baru panggilan untuk dirinya, yang diberikan oleh orang-orang. 'Si Buruk Rupa'. Begitu, panggilannya.
Ketika hampir putus asa ia berteduh di bawah pohon. Matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang tertempel di pohon.
Arya menghampiri dan memeriksanya.
"Lowongan! Dibutuhkan segera seorang pria untuk menjadi badut. Bersedia tampil di acara pesta ulangtahun, anak-anak." Arya membaca selebaran di kertas itu.
"Alhamdulillah ... Aku harus coba,"
Arya tak membuang-buang waktu. Segera ia mendatangi alamat yang tertera. Dengan mantap ia melangkah. Demi istri tercinta apapun ia lakukan.
Alamat menunjukkan ke arah perkebunan kemiri. Tak ada yang patut dicurigai. Arya terus saja melangkah agar besok bisa bekerja.
Jalan setapak berkerikil itu Arya lalu dengan rasa nyeri pada telapak kakinya yang berdarah. Perih dan sakit ia tahan. Di benaknya, hanya ada Aya.
Setelah 1 jam menempuh perjalanan, Arya melihat satu buah rumah di tengah-tengah hutan kemiri.
Sepuluh meter lagi Arya sampai.
Arya terheran-heran. Mengapa rumah sebesar ini berada di dalam hutan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi!" sapa Arya di luar.
Rumah berdinding bata itu tampak asri. Namun, tampak gelap. Apa karena pohon-pohon besar dan juga tinggi?
Tok!
Tok!
Tok!
Arya mengetuk kembali pintu yang terbuat kayu jati itu.
Ceklek!
Laki-laki tua sekitar 90 tahun berdiri di balik pintu. Pakaiannya serba hitam. Di kepalanya ia memakai belangkon. Janggut putih hingga di bawah dagu.
"Permisi, Mbah. Apa betul ini Jl. Kantil nomor 04?" tanya Arya.
"Iya, betul. Ada perlu apa?"
"Saya mau ngelamar kerjaan. Saya lihat di selebaran ini." Arya memperlihatkan kertas di tangannya.
"Silakan, masuk!"
"Baik, Mbah."
Arya duduk di bangku yang terbuat dari anyaman rotan. Wangi kemenyan dan bunga kantil menyeruak di indra penciumannya. Bulu-bulu halus pada tangannya berdiri meremang.
"Panggil saya Mbah Surip," ucapnya memperkenalkan diri.
"Saya, Arya."
Mbah Surip menghisap dalam-dalam rokok tembakaunya. Asap itu pun beterbangan di udara.
"Kamu benar mau kerja?"
"Iya, Mbah. Mau," jawab Arya dengan mengangguk.
"Kerjanya menjadi badut---,"
"Saya mau, Mbah!"
"Ada syaratnya ...,"
"Apa itu, Mbah?"
Mbah Surip berdiri ia berjalan ke arah meja kayu, yang ada di sudut pojokan. Di atasnya ada sebuah kotak yang kusam dan berdebu.
Dibawanya dan diletakkan di hadapan Arya. Kemudian Mbah Surip membuka kotak tersebut. Diambilnya sebuah topeng badut yang mengerikan.
"Syaratnya, sebelum malam satu suro kamu harus membawa anak kecil. Dan bawa ke mari."
"Loh, untuk apa, Mbah?"
Arya kebingungan.
"Mbah kasih tahu. Ini topeng bukan sembarang topeng. Kalau kamu bersedia dan memakainya, kamu akan menjadi kaya. Hahaha!" Mbah Surip tertawa terbahak-bahak.
"Lalu, hubungannya dengan anak kecil?"
"Bawa saja! Jangan banyak tanya. Mau kaya tidak?!" Mbah Surip membentaknya.
"M--mau, Mbah." Aryo tergagap.
"Perlu diingat. Setelah dipakai, simpan topeng ini ditempat tersembunyi. Tidak boleh orang lain menyentuhnya. Maka, dia akan mati. Dan yang satu lagi ...,"
"Apa itu, Mbah?
"Ketika malam satu suro bawa satu anak kecil kemari. Paling lambat jam 3 pagi."
Arya meneguk salivanya. Terasa sulit rasanya.
"Bagaimana, kau sanggup?"
"S--sanggup, Mbah."
"Bagus!"
Mbah Surip mengambil kemenyan lalu, ditaburkan ke atas cawan berisi bara yang berasap. Mulutnya membaca mantra sambil komat-kamit.
"Mana jarimu?"
"Ini, Mbah." Arya mengacungkan jari telunjuknya.
Mbah Surip mengambil keris kecil. Kemudian ditusuk sedikit ke ujung jari Arya.
Darah itu Mbah Surip teteskan di atas topeng badut.
Setelah selesai membaca mantra dan ritual. Mbah Surip meletakkan kembali ke dalam kotak. Dan menyerahkan topeng badut dengan hati-hati.
"Ingat, pesan, Mbah." Ia sembari melinting tembakau.
"Iya, Mbah. Kalau gitu, saya pamit undur diri," ucap Arya berpamitan. Diraihnya kotak kusam itu.
"Ya. Setelah ke luar dari pintu. Jangan nengok ke belakang. Kalau kamu melanggarnya. Kamu gagal bekerja di sini!"
"Siap, Mbah!"
Arya pun beranjak dan cepat-cepat ia ke luar.
Bum!
Pintu terbanting keras.
Arya melangkah beberapa meter. Dan teringat pesan Mbah Surip.
Slurrp!
Arya sudah di depan pintu rumahnya.
"Apa aku bermimpi?" Batin Arya. Ia tak percaya.
Bagaimana bisa?
Tok!
Tok!
Tok!
Krieet ...
Pintu terbuka sendiri.
"Aya!"
Aya sudah tertidur pulas.
Kesempatan untuk dirinya. Ia bisa menyimpan kotak tadi. Sebelum disimpan ia kembali membukanya.
Alangkah terkejutnya ....
"Uang?!"
Di dalam kotak terdapat satu ikat uang bewarna merah.
Ia bergegas menyimpan kotaknya.
"Dik, bangun. Lihat, Mas punya apa?"
Arya menggoyangkan tubuh Aya.
"Apaan sih, Mas?"
Kedua matanya melotot sempurna!
"Uang dari mana, Mas? Banyak banget!" Uang itu dirampas serakah.
Arya duduk di pinggir ranjang.
"Besok, Mas mulai kerja."
"Kerja apa?"
"Ada deh. Pokoknya, kita bisa makan."
"Bagus kalau gitu!"
Arya merasa bahagia karena sudah menyenangkan hati Aya.
*
*
*
Tiga bulan berlalu ....
Arya dan Aya kehidupannya berubah drastis. Mereka menjadi kaya raya. Bahkan, Arya melakukan operasi plastik.
Dan esoknya akan tiba di mana malam sakral bagi Mbah Surip. Yaitu malam satu suro.
Arya mencari anak kecil yang akan diculiknya. Sebelum pergi ia berpesan kepada Aya.
"Jangan tunggu, Mas pulang ya. Mas lembur dapat tawaran banyak."
"Siap, Mas!"
Arya pun berangkat. Ia melihat gerombolan anak kecil sedang mandi di sungai. Arya menghampiri mereka.
"Ih, ada om badut!"
"Horeee!"
Dengan sigap Arya menggendong satu anak kecil berusia 3 tahun. Sedangkan, yang lain tengah bermain di air.
Tak sengaja anak kecil tersebut menyenggol topeng Arya. Anak kecil itu ketakutan.
"Om badutnya, jelek. Mukanya, busuk!" teriaknya.
"Lari!" perintah anak lainnya.
Arya berlari membawa anak kecil dalam gendongannya.
Satu jam kemudian ....
Arya sudah di tempat Mbah Surip. Ia menyerahkan anak kecil itu. Mbah Surip menyuruhnya pulang.
*
*
*
*Di rumah Arya*
Arya kelelahan ia sudah lelap dalam mimpinya. Ia lupa menaruh kotak topeng di tempat semula.
Aya masuk dan menemukan kotak lusuh di samping sisi ranjang.
Kotak itu dibuka ada tumpukan uang dan topeng badut.
Tak disangka Aya memegang topeng badut milik Arya.
Tiba-tiba Aya menggelepar.
"M--mas. Tolong ...,"
Darah mengalir dari hidung dan kedua telinganya.
Arya terkejut.
"Aya!" Ia terlonjak dan mendekati istrinya.
Aya menggelepar bagai ayam disembelih.
"Aya! Maafkan, Mas. Huhuhu!"
Dan Aya telah tiada.
"Ayaaa!" Arya memeluk tubuh istrinya.
"Bangun, Sayang! Bangun ...,"
Dipeluk erat tubuh Aya.
"Ya Tuhan. Percuma uang banyak tak membuatku bahagia!"
Tamat