Karya Cerpen Buatan Candra Selamat! membaca!
Note: "karya ini seratus persen orisinil.
Semua nama tokoh, karakter benar-benar hanyalah imajinasi dari penulis saja. Adapun kesamaan alur atau plot itu semua saya dapat dari referensi beberapa novel ataupun cerpen.
(Senja, Kopi, Iblis, Racun, Cinta Pertama, Dinosaurus, Pantai, Lotere.)
"Selamat pagi tuan, sarapan sudah saya hidangkan di meja makan." Pelayan itu berjalan menghampiri sudut kamar untuk membuka sedikit tirai agar cahaya matahari bisa masuk.
"Huaammm.... ngantuk sekali, akhir-akhir ini pekerjaan di istana bertambah banyak, aku tak bisa merasakan sedikit pun kedamaian.
"Baiklah tunggu di bawah, aku mau cuci muka dulu."
"Siap, tuan muda."
Tibalah ia dikamar mandi menatap di depan kaca dan melihat kedua kelopak matanya berwarna hitam.
"Ahhh... dimana pesonaku yang dulu sebelum menjadi Raja Iblis, ketampananku dan kharismaku sudah lenyap," keluhnya.
Krrruyukk.....
"Sudah cukup lama aku berdiam diri disini lebih baik aku segera turun untuk mengisi perutku yang keroncongan."
Satu persatu anak tangga berhasil ia turuni, tibalah ia di ruang perjamuan istana, dan di sambut hangat oleh para pelayan.
"Silahkan duduk tuan, kami sudah menyiapkan makanan favorit dan beberapa surat untuk anda baca."
"Apa kau tak melihat situasinya, aku ini mau makan kenapa kau sodorkan surat-surat yang membuat kepalaku pusing, apa belum cukup membuatku menderita?."
"Maaf, tuan mungkin salah paham mengenai surat ini, yang mengirim bukanlah dari kerajaan lain atau faksi perdagangan melainkan dari sahabat anda."
"Haaa...?, apa maksudmu itu adalah Diablo, sahabat masa kecilku yang ada jauh di luar perbatasan kerajaan ini, apa yang ia tulis di suratnya?, tolong bacakan aku mau mendengarkanmu sambil makan."
...
"𝘏𝘦𝘪𝘪𝘪𝘪 𝘭𝘶𝘤𝘪𝘧𝘦𝘳, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨?, 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘐𝘣𝘭𝘪𝘴 𝘬𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘮𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘪 𝘤𝘰𝘧𝘦𝘦 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘶𝘴𝘢𝘵 𝘪𝘣𝘶𝘬𝘰𝘵𝘢, 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘱𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪. 𝘋𝘪𝘢𝘣𝘭𝘰."
~~~
"Terimakasih telah membacakan isi suratnya, cepat kau pergi atur jadwal akhir pekanku. Cancel semua yang bersangkutan dengan pekerjaan. aku tak mau buat sahabatku kecewa."
"Baik tuan."
Satu persatu pelayan pergi meninggalkan ruang perjamuan untuk mengatur agenda dan mempersiapkan kepergian tuanya.
"Aku tak sabar menunggu hari esok, lebih baik aku segera menghabiskan makanannya dan pergi menyelesaikan beberapa tugas yang masih tersisa."
Pagi menjelang petang, Lucifer terus menerus mengerjakan beberapa sisa dokumenya sampai tak terasa raungan serigala menyadarkannya kalau hari sudah gelap.
"Aiihh... sudah malam saja, aku terlalu bersemangat sampai tanganku mulai mati rasa, lebih baik aku segera beranjak ke tempat tidur."
Waktu terus berjalan.., sinar rembulan yang menghias langit malam telah digantikan oleh hangatnya sinar mentari. Cahaya yang masuk ke sela-sela atap membuatnya tersadar bahwa hari telah berganti pagi, lekas ia bergegas bangun dan bersiap-siap untuk menuju ke ruang makan.
TOK-TOK -TOK
"Masuk!."
"Tuan kami sudah menyiapkan beberapa pakaian untuk anda pakai, silahkan pilih salah satunya."
"Hmmm.. pakaian ini terlalu mewah untukku, cepat kalian bawa pergi dan ganti dengan jubah hitam lengan panjang biasa tanpa ada kerlap-kelipnya."
"Baik, tuan."
Setelah memakai jubahnya, ia langsung segera turun ke ruang perjamuan untuk mengambil sarapan paginya. Sesampainya di ruang makan alangkah kagetnya ia melihat meja makan dipenuhi dengan daging Peterodactyl, sayuran, dan beberapa buah segar.
"APA-APAAN INI!, kenapa banyak sekali makanannya, apa kalian pikir aku bisa menghabiskan semua ini sendirian, cepat bungkus semua ini untuk kalian bawa pulang ke rumah, tapi sisahkan sedikit untukku makan."
"Ba..baik.., tuan."
"Apa ada hal lain yang tuan butuhkan, kalau tidak kami akan pergi menyiapkan kereta kuda dan beberapa prajurit pengawal untuk menemani kepergian anda."
"TIDAAKK!, itu semua tidak perlu kalian lakukan."
"Tapi tuan adalah Raja Iblis generasi ke 10 yang paling di hormati dan disegani di seluruh Negri Demonia, apa tuan tidak merasa malu berjalan kaki dan menemui orang yang mempunyai status lebih rendah daripada anda."
"Mungkin kau ada benarnya, tapi bagiku semua rakyatku sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Tak memandang status dan ras darimana mereka berasal, asalkan bersikap baik dan mematuhi perintah kerajaan maka aku siap menjabat tangan mereka."
Semua pelayan merasa tertegun setelah mendengar ucapan Raja lucifer, mereka merasa bangga bisa melayani Raja yang baik dan bijaksana seperti dirinya.
"Baik, aku akan segera pergi mengunjungi sahabat lamaku, aku minta tolong untuk kalian semua yang ada di istana ini untuk berjaga-jaga selagi aku pergi."
"Baik tuan, kami akan menjaga istana ini dengan segenap jiwa dan raga kami."
Setelah melangkahkan kaki di luar istana. Sejenak ia berhenti untuk menikmati aroma khas rumput di pagi hari, serta terpaan angin sepoi-sepoi yang di iringi dengan lantunan musik burung pipit yang membuatnya mengenang masa lalu saat bermain bersama sahabatnya. Lalu sampailah ia di perbatasan kota untuk menuju ke ibu kota dengan melewati sebuah gerbang, gerbang ini sangat tinggi dan di jaga oleh beberapa pasukan.
"EEHH SIAPA KAMU?, CEPAT PERGI DARI SINI DAN JANGAN MENGHALANGI JALAN ORANG LAIN MASUK."
Tanpa terucap satu katapun ia melemparkan sebuah lencana emas yang berukiran kerajaan Demonia ke salah satu penjaga.
"Maafkan kami Raja, mata kami sudah buta tak bisa melihat luasnya samudera dan tingginya gunung himalaya, silahkan lenyapkan kami jika tuan menginginkanya."
"Sudah kalian semua berdiri, aku justru merasa senang melihat sikap tegas kalian terhadap orang asing, aku tak punya waktu untuk memikirkan hukuman apa untuk kalian, tapi aku punya sebuah permintaan untuk menunjukan arah dimana letak posisi kedai kopi di sekitar sini."
"Ooh.. aku pernah melewati kedai itu." ucap salah satu penjaga.
"Dimana letaknya?."
"Setelah gerbang ini tuan akan menjumpai pasar buah, lalu lurus sampai nampak kolam air mancur tinggal belok ke kanan, posisi kedainya tepat di sebelah kiri yang ada symbol SatanBucks nya."
"Okee, sampai jumpa lagi kalian ber-dua."
Setelah melewati gerbang itu, ia melihat banyak sekali orang lalu-lalang serta terdengar suara nyaring orang menawarkan beberapa barang dagangannya, ia juga mencium aroma buah yang wangi dan segar.
Mari-mari mampir ke lapak kami, kami menjual beberapa buah segar yang baru dipanen dari kebun.
Maa.. beli itu ma...
Kamu kan tadi sudah mama belikan mainan, sudah ayo kita pulang.
Aahh.. mama.
"Ramai sekali tempat ini, sepertinya aku akan melihat-lihat dan membeli beberapa buah tangan untuk Diablo nanti."
"Permisi pak, barang apa yang anda tawarkan disini?"
"Oohh.. mari sini tuan, kami menjual beberapa macam buah seperti: buah malon, samangko, naga tak bersayap, bluesary, dan yang paling dicari serta yang paling manis diantara semuanya adalah mengkudu air, tuan mau yang mana?."
"Waahh... dari warna dan aromanya sudah membuatku menelan ludah, cepat bungkus semua buah yang kau sebutkan tadi."
"Apa tuan bercanda?, dari beberapa buah ini harga yang di patok sangatlah mahal. Apakah tuan punya banyak uang?
Pedagang tersebut belum menyadari bahwa yang berada di depannya adalah Raja. Karena nampak sekilas dari luar pakaiannya yang sederhana dan tidak membawa sekantong uang.
"Biar 5 koin emas ini yang berbicara apakah aku sedang bercanda atau tidak."
"Mataku tak salah lihat kan itu benar 5 koin emas yang ber-ukiran naga. Maafkan hamba tuan."
"Sudah tak perlu memohon, cepat bungkus semua yang ada disini dan hantarkan itu ke Kedai Satanbucks sebelum hari menjelang senja."
"Baikk!!, tuan."
Pasar sudah dilewatinya, lalu sampailah ia di kolam air mancur untuk berbelok ke-arah kanan, tampak dari kejauhan ada seorang yang berteriak memanggil namanya dan melambaikan tangannya.
"HEEEIIII LUCIII!!.... AKU DISINI..," teriak seorang yang tak lain itu adalah sahabat masa kecilnya.
"Sepertinya aku mengenal suara ini, apa itu memang dia?."
"Oohh... ternyata benar dugaanku, kau adalah sahabat karibku Diablo, lama tak jumpa bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku baik-baik saja, tapi aku sudah bosan menunggumu diluar kedai ini mari kita masuk kedalam."
"Waduh bagaimana ini, koin emas tadi sudah aku belanjakan untuk buah tangan, sekarang aku tak punya uang sepeser pun." Gumamnya
"Luci?, kenapa kau masih berdiri di situ cepat kita masuk kedalam."
"Hehehe sebenarnya tadi di perjalan aku sengaja membeli beberapa buah tangan untukmu dan sekarang aku tak punya uang sepeser pun."
"Sudah tak perlu dipikirkan lagi karena aku yang mengundangmu kemari maka aku yang mentraktirmu. Sebenarnya aku kemarin memenangkan dua lotere untuk menikmati kursi khusus vip di kedai Satanbucks, karena itu aku mengajakmu kemari."
"Dari dulu sampai sekarang keberuntunganmu masih saja bagus."
"Hehehe kau bisa aja, aku sudah tak sabar mengobrol banyak denganmu."
KLINTING-KLINTING...
"Selamat datang di kedai Satanbucks. Ruangan anda telah kami siapkan khusus di atas teras kedai, silahkan anda memilih beberapa minuman dan camilan untuk menemani waktu anda disini."
"Aku tak biasa memesan makanan disini, kau saja yang memesannya."
"Ternyata kau masih Luci yang aku kenal dulu. Baiklah, biar aku yang memesannya."
"Ettoo... maid, aku memesan dua gelas kopi beracun ditambah gula sedikit, dua bungkus kentang goreng busuk, dan dua porsi ayam bakar saus neraka tanpa mayo."
"Baik, untuk pesanannya akan segera kami antar. Silahkan tuan-tuan menuju ke teras atas untuk menikmati layanan spesial kami."
Satu per satu anak tangga berhasil di lalui. Tibalah mereka di teras atas yang mempunyai sudut pandang menuju ke-arah Pantai dengan suasana langit cerah berwarna merah jingga.
"Indah sekali pemandangannya. Rasanya semua beban pikiranku seperti tersapu ombak."
"Kau benar, mari kita cari tempat duduk yang pas untuk melihat matahari terbenam."
"Sambil menunggu pesanan datang bolehkah kita mengobrol sebentar."
"Kau tak perlu sungkan, di istana aku adalah Raja tapi saat ini kita adalah sahabat, kau boleh bertanya apa pun itu asalkan pertanyaan itu bisa ku jawab."
"Hahahha... kau memang sahabat terbaikku, pertanyaan ini mungkin agak sedikit membuatmu mengenang masa lalu."
"Apa itu?."
"Apa kau masih ingat dengan Margaret cinta pertamamu dulu?, sekarang kan kau sudah menjadi Raja apa kau tak berniat menjadikannya Premaisuri di istanamu?."
"Aku tak akan melupakan dia, dia yang membuatku bangkit dari keterpurukan dan membantuku saat sedang dalam masalah, tapi setelah aku terpilih menjadi Raja aku tak punya kesempatan untuk mengirimkannya surat. Karna yang ku lakukan setiap hari adalah kerja, kerja, kerja, dan kerja."
"Aku akui kerja kerasmu tapi ibarat sebuah pedang yang tajam tanpa ada yang merawatnya, maka pedang itu akan berkarat dimakan waktu."
"Aku paham apa yang kau maksud, aku akan menjemputnya sendiri nanti."
"Keputusan yang bijak dan kenapa aku bertanya soal ini, karena setiap hari aku melihat Margaret yang berdiri menatap pintu keluar desa dan memegang sehelai kain merah, aku merasakan apa yang dia rasakan menunggu kehadiran panggerannya menjemputnya, namun selalu saja tidak pernah datang."
"Ternyata ia masih menjaga kain merah itu yang aku berikan setelah berpisah dengannya. Aku merasa bersalah membuatnya menunggu lama tanpa kepastian. Aku akan pergi menjemputnya sekarang."
"Kamu duduk saja disini, aku sudah menyiapkan kado spesial untukmu sekarang kita menunggu makanannya dulu, mubazir kalau tidak dimakan."
Gredek-Gredek-Gredek suara roda kecil dari ujung pintu teras.
"Akhirnya sudah tiba makanan kita."
"Mohon maaf membuat kalian berdua menunggu lama."
"Ohh tidak apa-apa, sekarang tolong sajikan di meja."
"Baik."
"Heii Diablo, kenapa pelayan ini pakai topeng, apa ia sedang merayakan hallowen?."
"Sepertinya begitu."
"Sudah ayo kita makan, aku sudah lama menunggumu tadi membuat perutku sangat lapar."
"PELAYAN TUNGGGU!!..." teriak Luci
"Apa ada yang bisa saya bantu tuan?."
"Aku mau minta kain lap untuk sendokku yang terjatuh."
Pelayan itu mencoba mengambil dari sakunya lalu menyerahkanya ke Diablo.
"Ini tuan."
"Sepertinya kain ini tidak asing bagiku, tunggu ini....,,, ini memang kain merah ku, kenapa ini bisa ada padamu apa jangan-jangan kau seseorang yang aku kenal?."
Pelayan itu perlahan membuka topengnya, tampak wajah anggun dengan senyum manis di bibirnya.
"APA AKU SEDANG BERMIMPI... APA BENAR ITU KAU MARGARETT......."
Ia langsung berdiri dan memeluk erat sambil menangis dibahunya.
"Maafkan aku yang bodoh ini, belum bisa menepati janjiku padamu. Aku menyesal menjadi Raja, lebih baik aku menjadi orang biasa dan menemanimu sampai akhir hayatku."
"Hussttt... tutup mulutmu , menjadi Raja adalah impianmu. Aku tak ingin merusaknya meskipun kau pergi jauh pun aku tetap akan menunggu kepulanganmu, meski aku harus mengejarmu sampai ke ujung dunia pun aku akan melakukanya untukmu, karena aku cinta dan sangat menyayangimu, tetap menjadi Lucifer yang aku kenal dulu.
****
Selesai...
"𝘚𝘦𝘯𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘢𝘸𝘢𝘭." "𝘑𝘢𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘢𝘯."
Terimakasih banyak untuk kalian semua yang sudah membaca dari awal sampai akhir.
Silahkan like dan komen untuk mensupport saya agar bisa terus semangat dalam berkarya. Setyandra~~~