Kopi, Racun, Senja. Entah kenapa saat menulis itu saya merasa seperti orang jahat yang ingin membunuh orang.
Ayahku memang orang idiot yang pernah aku lihat, dia diracuni tapi malah bahagia.
.
.
.
Jadi awalnya, kami adalah keluarga yang bahagia, yang tak pernah berkelahi dan selalu memberi kasih sayang kepada satu sama lain. Kita bahagia seperti keluarga yang perfect dan tidak mengalami kekurangan.
"yah, nanti pagi bangunin jan setengah enam ya, jangan sampe kelupaan" kataku kepada ayah dengan rjang seperti biasa.
"iya nak, nanti ayah bangunin kok kalau ayah punya waktu luang" kata ayahku tidak pasti.
"kok gitu sih yah? kalau aku terlambat ke sekolah gimana? " tanyaku yang mulai manyun karena sedikit kesal itu.
"maap ya nak, ayah nanti pagi ada urusan juga, coba kamu tanya bunda" kata ayahku yang berusaha menghiburku. "gak masalah kan bun? bunda kan besok cuti" lanjut ayahku.
" gak masalah kok yah" kata bundaku yang selalu tersenyum itu.
"janji ya bun? " kataku yang agak gembura.
" iya nak" jawab bundaku lagu. "sana gih tidur, nanti gak bisa bangun loh" lanjut bundaku yang senyumnya belum hilang itu.
Itulah pembukaan cerita dari aku, terlihat harmonis banget bukan. Yah, kita terlihat harmonis karena kita memang sudah terbiasa seperti ini, sampai keluarga kita jadi gosipan kecil.
.
.
.
Pada pagi harinya, seperti yang bundaku omongin, dia membangunkanku jam setengah enam. Tapi karena aku sering males malesan, aku pun ngaret sampai jam setengah tujuh, padahal sekolahku mulai jam tujuh.
"bunda, kok aku gak dibangunin" kataku yang setengah merengek. " bunda kan dah janji" tambah ku lagi.
"sudahlah nak, kamu masih punya 30 menit lagi, siap siap gih sana" kata ayahku tenang sambil meminum kopinya itu.
"bukan itu masalahnya yah, pelajaran pertama nanti guru killer" kataku masih merengek itu. " kalau aku dimarahin gimana" kataku sambil buru buru memakai seragam sekolah.
"tenang aja nak, kamu tinggal jelasin kenapa telat saja" kata ayahku sambil meminum kopi lagi.
" iya yah, nanti aku usahain" kataku agak mereda. "yok yah" lanjut ku sambil memakai sepatu.
.
.
.
Akhirnya aku dan ayahku kesekolah dengan ngebut, karena takut terlambat. Untungnya, saat aku masuk ke area sekolah, gerbangnya sedang ditutup, jadi masih ada waktu beberapa detik lagi.
Aku pun masuk ke kelas dengan perasaan setengah takut, karena takut dimarahi guru. Tapi untunglahguru itu tidak memarahiku, karena sebenarnya aku disekolah menjadi anak kesayangan para guru. Meski begitu aku tidak pernah melaporkan teman temanku.
Sebenarnya aku disekolah termasuk anak yang ramah terhadap siapapun, jadi jangan heran kalau aku selalu dikelilingi orang yang agak terobsesi dengan keramahan ku. Aku tak akan pernah menolak permintaan mereka.
.
.
.
Sampailah pada waktu saat aku pulang, akupun menelepon orang tuaku supaya menjemputku. Orang tuaku mengiyakan dan mulai menjemputku dengan mobil. Aku sebenarnya cukup kaya dan terpenuhi, tapi aku tak akan pernah sombong.
Sesampainya dirumah, aku mulai berdiskusi tentang apa saja yang kupelajari disekolah, sambil membaca buku yang lain agar mendapatkan ilmu yang baru lagi. Aku memang sering penasaran dan suka menambah wawasan baru.
Aku dan ayah pun bertukar pendapat dan terus bertukar pendapat dan datanglah senja, yang dimana itu juga waktu ayahku untuk menyeduh kopi yang baru lagi.
.
.
.
Hari hari kun pun terus berlanjut dan aku harus memainkan peran ku lagi dan lagi, tak akan pernah berhenti sampai ada yang menghentikan. Sebenarnya aku tidak keberatan dan senang senang aja, aku bahagia hidup seperti ini. Awalnya, aku juga tidak ingin seperti ini, tapi entah kenapa aku menjadi ketagihan.
Aku tersenyum, aku bahagia, dan yang lainnya itu adalah keputusanku sendiri, dan aku tak ingin ada orang yang ikut campur.
Tapi itu semua berubah saat bundaku sakit, entah kenapa dia mulai berubah dan suka marah marah tidak jelas, bahkan ia pun sempat menyumpahi ku dan ayak ayahku untuk mati. Bahkan dia sempat menodongkan pistol ke arahku.
Yang paling parah, suatu hari saat senja mulai datang. Ayahku yang sedang meracik kopi buatannya itu tidak tahu bahwa ibu telah memasukkan racun ke kopinya. Aku yang melihat itu pun agak syok dan ingin memberitahu ayahku.
Aku pun ingin memberi tahu ayahku, tapi aku memikirkan itu tak mungkin ayah lebih memercayai ku dari pada ibu. Maka dari itu aku pun mulai merencanakan akan memulai obrolan terlebih dahulu
.
.
.
Dan tibalah saat ayahku meminum kopinya. Aku sebenarnya takut tapi aku memaksakan diriku.
"ayah, aku ingin berbicara dengan ayah" kataku yang setengah takut itu.
"iya, boleh kok nak" kata ayahku lembut. "ada apa? " lanjut ayahku sambil bertanya.
"ayah cinta sama bunda karena apa yah? " tanyaku balik.
" oh, itu karena ibumu cantik banget dulu" kata ayahku sambil tersenyum. "cerita cinta kita saat kita SMP dan malah terus berlanjut" lanjut ayah.
"yah, kalau aku bilang bunda ngeracuni ayah ayah percaya gak? " kataku takut.
"itu mustahil" kata ayahku yang tak percaya.
Aku pun cuma mengangguk dan ayahku mulai menghabisi kopinya. Disitu perasaanku sangat takut banget, tak bisa terbendung lagi. Walaupun aku tahu ayah tak akan percaya, tapi tetap aja aku takut.
"huk" ayahku pun muntah darah dan tidak berhenti.
"kenapa yah?" tanyaku panik.
"tidak tahu nak, ayah muntah darah sehabis minum kopi." kata ayahku sedikit heran, keheranannya bisa terlihat dari wajahnya.
"racunnya sudah bereaksi" kataku panik saat melihat ayah terkulai lemah.
Aku pun segera memanggil ambulans dan ayah segera dibawa kerumah sakit. Aku yang ada di posisi itu pun hanya bisa berdoa. Tapi takdir tidak seenak itu, ayahku meninggal. Entah aku akan mengobrol dengan siapa lagi.
Setelah kematian ayah aku pun mengacak acak isi dalam kamarnya dan menemukan sebuah buku cantik bersampul merah dan bertuliskan:
"aku tahu aku salah, jadi maafkan aku. kalau aku meninggal, lupakan aku dan jangan terlarut dalam kesedihan, karena kesedihan itu akhirnya akan membawa petaka kepada diri kalian sendiri. Maafkan aku anakku, bunda. aku cinta kalian berdua"
Aku yang membaca itupun langsung menangis kencang dan membatin"bodoh"