Kata Yang Diambil : Senja, Cinta pertama, Lotere
***
Nadia hidup sendirian di kota perantauan. Dia berniat bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Namun ternyata nasib berkata lain. Nadia harus berhenti kuliah dan tak mampu lagi membayar uang kostan. Dia semakin terpuruk ketika kedua orang tuanya di kampung telah meninggal.
Suatu hari di kala Senja. Nadia berjalan dengan berat sambil membawa tas. Dia baru saja di usir dari kostan. Raut wajahnya terlihat sendu dan penuh akan penderitaan. Rasanya Nadia ingin mati saja.
Ketika berniat melangkah ke tengah jalan raya, sebuah kartu mendadak terjatuh di hadapannya. Kartu itu berbentuk persegi panjang, dan seperti lotere. Bagian berwarna silver dapat digosok dengan sebuah koin.
'Apa ini? Jatuh dari mana?' batin Nadia seraya mendongak ke atas langit. Tidak ada apapun di sana. Hanya ada awan senja dengan pendar jingga dari matahari.
Nadia kini merasa penasaran. Dalam sekejap dia langsung melupakan niat bunuh dirinya. Bergegas menggosok kartu lotere. Nadia berpikir, mungkin saja datangnya kartu itu adalah pertolongan dari Tuhan. Dia lekas-lekas menggosok kartu lotere dengan penuh semangat.
Mata Nadia membulat sempurna, saat melihat kalimat di kartu lotere yang sudah berhasil digosoknya.
'Sebutkan hal yang paling kamu inginkan saat ini!' Kira-kira begitulah bunyi kalimat dalam kartu lotere.
"Apa ini nyata? Atau ada seseorang yang mencoba mengerjaiku?" Nadia celingak-celingukan ke segala arah. Namun dia tidak menyaksikan siapapun disekitarnya. Gadis tersebut sendirian. Bahkan jalan raya tampak sepi seperti di kuburan.
'Ini aneh... tetapi apa salahnya mencoba,' gumam Nadia yang sekarang bersuara dalam hati.
"Baiklah, aku akan meminta satu permintaan." Nadia meletakkan kartu lotere kedadanya. Memejamkan mata, lalu berucap, "Aku harap, aku bisa menjadi orang kaya raya!"
Setelah mengungkapkan harapannya, Nadia membuka mata. Tidak ada apapun yang terjadi. Hanya ada angin senja yang berhasil meniup dedaunan kering di bawah pohon seberang jalan.
"Ah, sudah kuduga. Bodoh sekali aku mempercayainya!" Nadia melemparkan kartu lotere begitu saja ke tanah. Dia lantas melangkahkan kaki di pinggiran jalan.
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil mewah yang kian mendekat. Kemudian berhenti tepat di hadapan Nadia. Membuat dahi gadis berusia dua puluh dua tahun itu otomatis mengerut.
Sosok lelaki paruh baya keluar dari mobil. Dia menyapa dengan senyuman. "Halo Nona Nadia kan? Perkenalkan aku Dimas. Aku pengacara yang mengurus warisan kedua orang tuamu. Aku sudah mencari anda di kostan tadi, tetapi kata pemilik kost, anda baru saja pergi."
"Oh, iya saya Nadia. Ada keperluan apa Pak?" balas Nadia pelan. Dia masih dirundung rasa kebingungan.
"Begini, ayah anda telah mewariskan seluruh hartanya untuk anda. Sekarang kami akan mengantarkan anda ke rumah besar milik Tuan Eddy. Ayahmu!" Dimas membukakan pintu mobil untuk Nadia.
Sementara Nadia masih mematung di tempat. Dia masih tidak bisa mencerna semuanya. Apakah in benar-benar terjadi? Berarti keajaiban lotere tadi memanglah nyata!
"Tunggu sebentar Pak!" ujar Nadia. Dia bergegas berlari untuk kembali mengambil lotere yang tadi sempat dibuangnya. Untung saja, kartu itu masih ada di tempatnya. Nadia memasukkan kartu loterenya ke dalam saku celana.
***
Satu bulan berlalu. Nadia sudah menjadi gadis yang kaya raya. Dia bisa membeli barang bermerek ternama, merawat kecantikan, serta bolak-balik ke luar negeri. Dia memang bahagia dengan apa yang telah dimilikinya.
"Hanya satu yang tidak aku punya, yaitu Jerry Aditama. Cinta pertamaku sejak SMA. Aku harap loterenya bisa berfungsi lagi." Nadia menggigit bibir bawahnya. Menatap penuh harap pada kartu lotere yang dipegangnya. Sesekali dia juga menoleh ke arah televisi. Dimana sosok Jerry muncul di sana.
Jerry Aditama adalah teman SMA Nadia. Lelaki itu sangat tampan. Makanya dia kini telah menjadi aktor muda naik daun. Sudah banyak film yang dimainkannya.
"Jerry semakin tampan saja..." gumam Nadia sembari mendengus kasar. Dia bersandar pada kursi pesawat yang sedang didudukinya, lalu memejamkan mata. Tanpa sepengetahuannya, kartu lotere yang dipegangnya berubah menjadi baru. Bisa digosok lagi dengan koin untuk kedua kalinya.
Suara pemberitahuan dari pilot, berhasil membangunkan Nadia dari lelapnya. Dia bergegas mengencangkan sabuk pengaman, karena pesawat sebentar lagi akan mendarat. Saat itulah atensinya tertuju ke arah kartu lotere.
"YES!" pekik Nadia kegirangan. Teriakannya berhasil mengagetkan penumpang lain di kelas bisnis. Nadia lantas bergegas meminta maaf dengan pelan. Kemudian mengambil koin dari saku celana. Menggosokkannya ke kartu lotere.
Mulut Nadia langsung mengembangkan senyum, tatkala menyaksikan kalimat yang sama seperti sebelumnya di kartu lotere. Dia segera mengungkapkan harapannya. Yaitu membuat Jerry Aditama menjadi kekasihnya.
***
Nadia melangkah pelan sambil menarik kopernya. Penampilannya sangat modis dan cantik. Dia terlihat sibuk memainkan ponsel ketika berjalan. Hingga tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang dari depan.
"Maaf!" ucap orang itu. Ponselnya dan Nadia terjatuh ke lantai secara bersamaan.
"Tidak apa--" sahut Nadia yang tengah bergegas meraih ponsel di lantai. Ucapannya terhenti saat melihat sosok lelaki yang langsung membuat jantungnya berdebar. Siapa lagi kalau bukan Jerry Aditama.
Sementara Jerry tampak mengamati wajah Nadia. Sepertinya dia mencoba mengingat nama Nadia.
"Nadia?" tebak Jerry sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Nadia. Membuat pipi Nadia seketika memerah malu. Tangannya reflek mengaitkan rambut ke daun telinga.
"Kamu mengingatku?" respon Nadia pelan. Matanya memancarkan binar kekaguman.
"Tentu saja. Lama banget kita nggak ketemu ya!" ujar Jerry dengan senyuman yang menampakkan lesung pipitnya. "Kamu semakin cantik saja," tambahnya sambil menilik penampilan Nadia dari ujung kaki hingga kepala.
"Terima kasih. Tetapi penampilanmu le-lebih luar biasa...hehe," balas Nadia canggung. Mengusap tengkuknya tanpa alasan.
"Ponsel kamu nggak rusak kan? Punyaku agak hang nih!" ungkap Jerry yang baru saja memeriksa ponselnya. Tindakannya membuat Nadia ikut memastikan keadaan ponselnya. Ternyata nasib ponsel Nadia juga mengalami kerusakan seperti milik Jerry.
"Rusak juga? Ughh... bagaimana ya, aku harus memperbaikinya. Ponsel ini khusus untuk menelepon keluargaku. Jadi nomor-nomor didalamnya sangat penting." Jerry mengeluh dengan raut wajah yang ditekuk.
"Serahkan saja kepadaku. Aku akan membawakan ponselmu ke tukang servis. Sekalian memperbaiki punyaku juga. Kamu pasti sekarang sedang ada jadwal syuting kan?" tutur Nadia.
"Benarkah? Kau mau melakukannya untukku? Terima kasih, Nadia. Kau benar, sekarang aku ada jadwal mendesak." Jerry merogoh saku celana untuk mengambil dompet. Lalu memberikan kartu namanya kepada Nadia.
"Kau bisa menghubungi jika ada apa-apa," kata Jerry. "Sekali lagi terima kasih ya, senang berjumpa denganmu, Nad!" tambahnya. Kemudian berlari, karena harus mengejar pesawatnya yang sebentar lagi akan berangkat.
***
Satu minggu berlalu. Nadia dan Jerry sering bertemu. Pertemuan yang di awali karena ponsel rusak. Kini berubah menjadi lebih dalam. Keduanya tengah berada di rumah Nadia. Menikmati secangkir kopi dan sepotong kue tiramisu.
"Gimana kuliahmu Nad? Lancarkan?" tanya Jerry setelah menyeruput kopi hangatnya.
"Banget Jer. Bulan depan aku akan melakukan sidang skripsi," jawab Nadia.
"Ugh, irinya. Sampai sekarang aku masih belum bisa menyempatkan waktu untuk kuliah." Jerry menghela nafas panjang sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya. Dia menatap dalam ke manik hitam Nadia.
"Wa-wajar saja, jadwalmu sangat padat." Nadia berbicara gagap akibat salah tingkah dengan tatapan Jerry.
"Iya. Tetapi aku berusaha sebisa mungkin untuk meluangkan waktu untuk bertemu denganmu. Apa kau tahu kenapa?" Yudha mencondongkan wajahnya ke arah Nadia.
"A-apa?" Nadia semakin dilanda gugup, ketika wajah tampan Jerry tambah dekat. Jantungnya bergemuruh tidak karuan.
"Karena aku jatuh cinta kepadamu..." ungkap Jerry. Membuat tubuh Nadia seketika membeku. Apalagi saat Jerry bangkit dari tempat duduk dan berjalan menghampirinya.
Jerry menarik Nadia untuk mendekat. Kemudian memeluk erat gadis itu. Mereka saling mendekap cukup lama.
Ponsel Jerry mendadak berdering, menyebabkan pelukannya dan Nadia harus berakhir.
"Nadia, aku harus pergi sekarang. Ada jadwal jumpa fans hari ini. Aku akan menemuimu lagi," ujar Jerry, lalu mengecup kening Nadia. Selanjutnya dia segera beranjak pergi.
Nadia kegirangan setelah mendapatkan cinta Jerry. Hatinya serasa berbunga-bunga. Dia dan Jerry berpacaran semenjak itu.
***
Setelah memiliki Jerry, Nadia merasa hidupnya sekarang sempurna. Akan tetapi tidak ada yang abadi di dunia ini. Nadia terlalu terlena dengan kebahagiaan yang dimilikinya. Hingga dia tidak sempat memikirkan untuk mempertahankannya. Bekerja dan membangun bisnis pun tak terpikir olehnya.
Uang yang dimiliki Nadia hari demi hari kian menipis. Jerry juga sudah jarang menemuinya, karena jadwal syuting yang semakin padat.
Nadia tambah kesal, ketika melihat adegan mesra Jerry dengan lawan mainnya di film. Mereka sempat bertengkar akibat masalah tersebut.
"Nadia, harusnya kamu mengerti kalau itu semua cuma akting! AKTING!" jelas Jerry putus asa. Sebab Nadia tak kunjung memahaminya.
"Iya! Tetapi apa perlu sampai adegan ranjang segala! Itu keterlaluan kan!!" balas Nadia dengan tatapan sebalnya.
"Ya sudah, kalau kau terus saja begini. Aku pikir kita tidak akan bisa menjalani hubungan serius lagi." Itulah ucapan Jerry sebelum dia pergi meninggalkan Nadia.
Sekarang Nadia menangis sendirian di kamar. Puluhan surat tagihan kartu kredit berhamburan di hadapannya. Uangnya sudah tidak cukup untuk membayar semuanya.
Satu-satunya harapan Nadia adalah kartu lotere ajaib yang dimilikinya. Dia sedari tadi terus menatap kartu itu sambil merengek. Berharap kartu lotere-nya dapat menolongnya lagi. Namun seberapa lama dia menunggu, kartu lotere tetap tidak berubah menjadi baru. Perlahan Nadia pun tumbang di lantai dan tertidur.
Suara bel pintu membuat mata Nadia terbuka lebar. Pandangannya langsung tertuju kepada kartu lotere. Matanya terbelalak, karena kartu lotere-nya berubah menjadi baru lagi. Dia pun lekas-lekas menggosoknya dengan kuku. Kali ini Nadia tidak bisa menundanya lagi.
'Sebutkan hal yang paling kamu inginkan saat ini!' kalimat yang sama kembali muncul di kartu lotere.
Nadia yang tadinya putus asa, kini merasa bersemangat. Dia lantas malantunkan harapannya, "Aku harap, aku bisa menjadi pengusaha sukses yang uangnya tidak akan pernah habis!"
Bel terus saja berbunyi. Membuat Nadia bergegas membuka pintu. Mata gadis itu terbelalak ketika menyaksikan seorang pengusaha terkenal berdiri di hadapannya. Dia adalah lelaki paruh baya yang memiliki perusahaan teknologi.
"Halo Nadia. Dosenmu baru saja merekomendasikanmu kepadaku. Kalau kau sangat berbakat dibidang perangkat lunak komputer. Ikutlah denganku!" ucap si lelaki pengusaha ternama itu.
Nadia tersenyum simpul. Kemudian melangkah mengikuti lelaki paruh baya tersebut. Sementara itu, kartu lotere ajaibnya masih tergeletak di kamar. Hembusan angin tiba-tiba masuk dari jendela, menerbangkan kartu tersebut keluar dari kamar. Kartu lotere itu lantas menghilang ditelan oleh udara.
Mungkinkah kartu lotere itu sekarang ada di kamarmu?
~TAMAT~