Setiap hari, aku selalu memakai topeng di wajahku. Sampai, semua teman-temanku mengganggap topeng itu adalah wajah asliku.
Bukan hanya menggunakan topeng, tapi aku juga menggunakan sesuatu untuk menutupi identitasku yang sebenarnya. Kalau sampai identitasku terbongkar, tamatlah riwayatku. Aku pasti akan kembali dibully habis-habisan oleh mereka seperti masa-masa sekolah dasar dulu.
Aku sangat membenci kegiatan yang berhubungan dengan air. Kenapa? Karena air bisa melunturkan topengku. Ketika di luar rumah, aku selalu menjauhi air maupun benda cair lainnya. Bahkan air minum sekalipun.
Hari ini, hujan turun dengan deras. Di saat jam pulang sekolah, aku masih setia berdiri di teras sekolah ketika sekolah sudah sangat sepi. Tapi, ada seseorang yang masih setia menemaniku.
"Ody, kau yakin masih mau menunggu sampai hujan berhenti?" tanya Vany, sahabatku sejak masih SMP.
Namaku Melody, seperti yang kalian tau, Vany memanggilku Ody sebagai panggilan bestie.
"Amega furi ya mu made wa kaerenai.." balasku dengan nada bernyanyi, kalimat tersebut berarti 'aku tidak akan pulang sebelum hujan berhenti'. Ya, itu adalah penggalan lagu Jepang berjudul 'Lemon' yang sempat populer beberapa waktu lalu.
"Kenapa? Sedari tadi kau hanya menjawab seperti itu terus ketika ku tanya." ucap Vany sembari melipat kedua lengannya. Kurasa dia mulai merasakan dingin. Memandang butiran-butiran air hujan yang menyentuh permukaan lapangan sekolah.
"Akh! Aku tidak tahan lagi! Maaf Ody, aku pulang duluan ya. Kalau mau ikut, ayo cepat!" sembari mengacak singkat rambut pendeknya, Vany mulai melepas sepatunya, kemudian berlari kecil dan berdiri di depanku yang terkena banyak tetesan air hujan.
"O-okey.. Kamu duluan aja.." balasku singkat. Kemudian, dia berlari sembari menenteng sepatunya menerjang guyuran air hujan. Daripada kedinginan di sini, lebih baik basah kuyup sekalian.
Sedangkan aku, masih di sini. Menunggu hujan yang berangsur mereda. Tidak lama kemudian,
"Hey kamu!" terdengar suara berat seorang laki-laki dari arah belakangku. Sontak, aku berbalik. Menatap orang yang memanggilku tadi.
"Kok belum pulang?" belum sempat aku menanyakan alasannya dia memanggilku, dia sudah bertanya lebih dulu. Orang itu bukan guru, tapi Henry, adik kelasku yang masih kelas 10. Yah, dia memang sedikit tidak sopan dengan kakak kelas, dia bahkan sering menggodaku, terutama kalau aku sedang sendirian dan kebetulan bertemu dengannya.
"Menunggu hujan berhenti." jawabku sembari membalikkan badanku, tak peduli dengan tatapannya yang tampak sangat senang karena jarang bisa bertemu dengan tanpa diganggu orang lain.
"Mau kutemani?" tanyanya lagi sambil berdiri tepat di sampingku. Aku tak menghiraukannya.
"Tidak,"
"Ayolah kak Ody, aku temenin tunggu hujan berhenti." ucapnya dengan wajah penuh harap. Matanya berbinar menatapku, sedangkan aku hanya tersenyum miring.
"Siapa kamu panggil-panggil aku Ody? Kamu kan bukan bestie-ku." balasku acuh sembari mengalihkan pandanganku.
"Kalau begitu, kamu jadi pacarku ya? Mau kan?" tanyanya lagi. Aku memasang wajah heran. Dasar adik kelas, entah sejak kapan dan bagaimana bisa dia terkagum-kagum begitu denganku. Tentu aku tidak mengetahui dengan sendirinya, tapi berdasarkan pengamatan dari Vany yang sering mengawasiku. Meskipun begitu, dia masih belum tau rahasia terbesarku.
"Kakak terima kan? Kak Ody.."
"Ehem! Nggak tau, bye aku mau pulang." aku sengaja melakukannya untuk menghindarinya, aku mulai melangkahkan kakiku setelah hujan benar-benar berhenti.
Dalam perjalanan, aku agak mempercepat langkahku. Langit masih mendung, aku tau hujan akan turun lagi.
Tap! Tap! Tap!
Aku menolehkan kepalaku ke belakang setelah mendengar suara seseorang yang mengikuti langkahku. Dan aku memergokinya.
"Heh, kamu mau jadi mata-mata ya? Gak sopan, tau?" ucapku setelah melihat siapa orangnya. Dia Henry.
"Hehe, maaf kak. Kakak sih, nggak mau jawab pertanyaan aku tadi, mau apa nggak?" sembari memanyunkan bibirnya, dia melipat lengannya. Aku memasang wajah datar.
"Jadi gini, aku itu-" belum selesai aku berucap, angin berhembus. Dan kebetulan saat ini kami berdua berada di bawah pohon rindang.
Karena habis hujan, alhasil banyak tetesan air yang turun dari dedaunan pohon itu dan mengenai diriku. Gawat!
Aku langsung berbalik dan lari meninggalkannya begitu saja. Aku jadi merasa tidak enak, seperti sudah memberi harapan palsu padanya.
Sembari memanggil-manggil namaku, dia masih mengerjarku. Setelah berlari sejauh dua ratus meter, aku memutuskan untuk berhenti karena hampir kehabisan napas. Tepat di gang sepi ini..
"Kenapa lari kak?" tanyanya sembari mendekat ke arahku. Dia menatap ke bagian bawah tubuhku, kaki kananku yang tidak tertutup rok dan kaus kaki yang tidak sampai menutupinya. Terdapat bekas luka bakar di lututku.
"Jadi, kak Melody kabur karena itu?" tanyanya menatapku dengan tatapan khawatir. Aku menundukkan pandanganku.
"Pada akhirnya, rahasia terbesarku terungkap sama adik kelas." ucapku pelan, tapi dapat kupastikan dia bisa mendengar ucapanku.
"Kamu pasti akan membocorkannya pada semua orang.. Mulai besok, aku tak akan pergi sekolah lagi, hiks hiks.." sembari memejamkan mataku dan membiarkan air mataku merembes. Dia berjalan semakin mendekatiku.
Tanpa kuduga, dia malah memelukku dari depan. Mengusap lembut punggungku untuk menenangkan aku. Sedangkan aku masih terdiam tak percaya. Kukira dia akan langsung mengejekku seperti mereka pada umumnya.
"Semua orang pasti punya rahasia. Dan rahasia jangan sampai orang lain tau. Jangan khawatir kak, aku nggak akan membeberkannya pada siapapun." ucapnya dengan percaya diri.
Aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya yang begitu dekat dengan wajahku. Setelah itu, aku sedikit memalingkan wajah, menghela nafas pelan.
"Jadi, gimana aku pulangnya? Pasti nanti dilihat orang.." ucapku dengan nada putus asa. Meskipun Henry berjanji tidak akan membeberkan rahasiaku, tapi sama saja bohong kalau ada orang lain yang melihat ini.
"Hmm kamu pakai celana training aku aja." Henry berinisiatif sambil membuka tasnya mencari celana olahraga yang dia maksud. Setelah ketemu, dia pun menyodorkan celana training panjang berwarna biru tua miliknya padaku.
"Cepetan dipakai kak, nanti keburu dilihat orang." ucap Henry dengan seringai jahilnya.
"Awas kamu kalau ngintip. Ngadep sana!" aku berucap sembari menunjuk ke arah yang berlawanan.
"Kalau ngintip kenapa memangnya?"
"Nanti aku buka baju kamu."
"Ooh silahkan kak, aku bersedia."
"Ya ampun, anak ini.." menghembuskan nafas pelan, aku tak habis pikir dengan adik kelas yang satu ini.
----------
Dan begitu akhir dari cerita ini, dia memang merahasiakan hal ini, tapi dengan satu syarat. Syaratnya adalah, dia akan selalu memanggilku dengan sebutan 'Ody' dan bertukar nomor ponselku dengannya. Yah, aku hanya pasrah, dan berusaha mempercayainya. Jikalau dia ingkar, tinggal buat konsekuensi saja dengannya.
Tapi sejauh ini, dia masih setia dengan janjinya. Aku pun bisa sedikit tenang dan jangan sampai lengah dengan sesuatu yang terjadi.
Dia sudah tau rahasiaku, tentang topengku. Topeng yang kugunakan untuk menutupi wajah yang terdapat luka robek. Di wajah ada, di lutut juga ada. Diriku penuh luka, tapi aku bersyukur hatiku masih utuh tanpa luka.
-Tamat-
--------------
Terima kasih sudah membaca cerpen Nino. Jangan lupa like kalau suka. Komen kalau berkenan. Mampir ke chat story Nino kalau tertarik. Sekian dari Nino..