Kata: Kopi Senja Racun
Kopi di senja yang beracun
(Racun/
November/ ke 15)
C. Pratomo mati di racun. Pada waktu senja yang menyedihkan.
---------
“Cepat Cahyono!” ujar teman gendut itu yang biasa pakai celana cekak. “Siapa!”
”Mana gua tahu,” ujarku yang memang masih belum paham. Baru nyampe sudah di tanya. Dasar teman nggak ada akhlak.
”Yah, payah lu! Kagak usah ngaku detektif kalau gitu dah,” ujarnya sembari menonyor kepala gue.
-------
Ada tiga orang yang dituduh, Si Kate V, Dino, dan Trasi.
”Elu kan!”
Teman teman menginterogasi si Trasi sembari menonyor kepalanya dan menjungkir balikkan orang itu supaya mengaku.
“Ya bukan lah,” ujar Trasi berkilah.
”Kau disini dan kau main gila sama si Kate V kan?” tanya temanku yang rambutnya kriting itu. Dia paling demen kalau main tonyor begitu. Apalagi sampai menarik-narik rambut si tertuduh sampai kepalanya pusing seperti habis di pijat kretek-kretek.
”Tapi gue tak meracuni. Gue hanya main saja.”
”Ah mana mungkin, kalian main cinta segitiga begitu. Sering main bareng ke tempat –tempat indah dan juga beli HP bareng di tempat yang sangat jauh kan kau?”
”Tapi aku tak merasa. Aku hanya pergi biasa saja. Kita main ingin meluangkan waktu sembari santai. Dan kala dapat uang yang cukup, ya kita belikan ke tempat dimana yang harganya agak miring, tapi sangat bagus. Dengan kapasitas RAM ROM nya juga bisa dipakai untuk segala aplikasi.”
”Kalau bukan Trasi, pasti kamu kan?” ujar temanku yang senang berdaster itu. Langsung saja dia menjambak rambut Kate V yang panjang lalu ditanya-tanya. Karena tak mengaku di dorong sana tarik sini, supaya mengaku kebenaran.
”Ya bukan lah. Mana mungkin. Dia suamiku yang aku cintai.”
”Bohong lu. Kalau kau cinta, tak mungkin terlibat cinta sama si Trasi. ”
”Ya..ya... ” Kate V seperti kebingungan. Makanya bicara sedikit gelagapan.
”Karena kalian berdua menganggap dia itu cinta pertamanya kan. Sudah jelas ini. Kau akan menyingkirkan dia, untuk kembali ke cinta pertama mu itu. ”
”Dia memang cinta pertamaku. Dan aku mencintainya. Tapi aku tak merasa memberikan racun pada kopi di senja itu. Soalnya tiap senja aku juga selalu membuatkan kopi baginya.”
”Dino kalau begitu. Jika tak ada yang mengaku. Meskipun anak, tapi bisa juga dia jadi keparat. Karena sangat membenci orang tuanya yang pelit ngasih uang jajan sama buat beli paket data karena HP nya dua, kan? ”
”Mana mungkin, gua anaknya. Kalaupun aku tak dikasih uang, aku bisa meminta mama, atau menjual apapun, karena aku sudah bisa berbisnis.”
”Lalu kalau tak ada yang mengaku, siapa ini pelakunya?”
--------
Teman-temanku yang kacau itu memandangku.
Bahaya bakalan menonyor kepala gue mereka.
”Gimana Cahyono?” mereka bertiga sudah siaga hendak melakukan kekerasan kalau sampai gue belum tahu. Biasa orang-orang ini demikian ganas kalau sudah urusan demikian. Bisa-bisa langsung saja mereka akan menjungkir balikkan teman sendiri kalau sudah marah.
”Tenang saja gue sudah tahu,” ujarku beralasan. Daripada sih daripada. Aku bakalan kena imbas kemarahan mereka nanti. Sudah tak tahu apa-apa, tapi kena dupak juga nanti. Kan repot.
”Nah gitu dong.”
Mereka lalu mendekati gue dan duduk rapi di depan gue. Mau mendengarkan apa putusan gue.
”Tapi bohong . Gue kagak tahu....”
”Yah payah lu!”
”Pingin kita unyel unyel dia. ”
”Ya jangan gitu dong. Kan perlu diselidiki semuanya. ”
”Kagak ada yang ngaku! Sudah kita tanya mereka semua,” ujar temanku yang rambutnya poni tapi tak seperti kuda poni. Malahan sepeti kuda.
Aku hanya diam saja. Siapa dan bagaimana belum paham. Melihat cangkir yang penuh sidik jari itu. Melihat kopi bercampur racun. Dan mayat yang aneh.
-------
”Mungkin di HP mereka,” ujar ku kepikiran.
”Nah itu dia. Ayo kalaian berikan HP mu sekalian nomor nya ya. Biar tak lari kalian ya! ” teman-teman suka sekali. Langsung main rampas saja pokoknya. Apalagi HP jaman sekarang. Bagus-bagus. Tak seperti HP cliring milik mereka.
Lalu aku menyita HP mereka. Mengecek sosmed yang dimiliki. Dari WA hampir tak ada yang mencurigakan. Isinya yang paling berbahaya paling tentang rencana pertemuan mereka yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Atau pada gambar-gambar foto di sosial media milik mereka tak ada yang mencurigakan. Mallahan Kate V yang suka photo itu sering berdua dengan banyak orang. Dan itu wajar untuk orang yang cantik dan anggun seperti dia. HP Dino apalagi. Dia punya dua. Isinya macam-macam. Semua sosmed dia miliki. Dan suka sekali sama gambar artis cantik.
-----------
”Jadi siapa?”
”Si Dino.”
”Dia anaknya? Mana mungkin?” Teman teman pada nggak percaya meskipun sedikit lega.
”Ya mungkin lah.”
”Caranya bagaimana?”
”Ini terlihat dari pembicaraan dia dengan ayahnya yang kurang harmonis. Baik saat komunikasi langsung, maupun dengan sosmed yang biasa mereka lakukan. Dia menyukai mamanya. Dan berharap bisa melihat mamanya bahagia. Satu-satunya yang bisa diharapkan adalah cinta pertamanya yang kandas, karena mamanya menikah dengan Pratomo itu.”
”Lo....”
”Dia melihat emaknya si Kate V itu menyukai Trasi yang merupakan cinta pertama nya. Makanya dia meracuni dia,” ujarku menunjuk pada Dino lalu beralih ke Pratomo yang sudah tiada.
”Kate V yang memberi kopi. ”
”Dia hanya menyajikan saja. Saat dia meleng si Dino menaruh racun itu di minuman C. Pratomo. ”
”Apa buktinya?”
”Ada sidik jari. Tapi tentu saja sudah membaur dengan kedua orang itu. Kate dan Pratomo sendiri. Karena Kate yang menyajikan, serta Pratomo yang minum.”
”Wah mengerikan lu jadi anak.”
”Bagaimana lagi.”
---------