Ada sesuatu di dalam diriku, aku tidak yakin, aku juga tidak tau...
.
.
.
"Jean!!"
Dia memanggilku ketika aku berjalan di tengah keramaian, aku menoleh, mataku menangkap sosok gadis berambut pendek sebahu, tangan mungilnya melambai ke arahku sepertinya.
Namanya Aira, dia temanku, bukan...dia satu satunya temanku, karena hanya dia yang mau berteman dengan orang aneh sepertiku.
Aneh?...ya mereka selalu mengatakan itu kepadaku, aku tak pandai bersosialisasi dan juga tak berminat bersosialisasi dengan mereka, terlebih lagi topeng sialan yang harus selalu aku pakai ini, sangat cocok sepertinya jika disebut orang aneh.
Namun Aira berbeda, dia gadis yang dipenuhi rasa penasaran, walau aku tidak memperdulikannya, dia tetap berbicara kepadaku sampai aku menjawabnya, dan begitulah awal kami berteman, dan dia juga yang mengubah pikiranku bahwa bersosialisasi tidak seburuk yang kupikirkan.
"Mau kemana?"
"Nggak tau" jawabku yang membuat bibir tipisnya melengkung ke bawah.
"Gimana sih, kalo nggak tau mau pergi kemana, diam aja, duduk!" Aira terlihat kesal, sangat nampak dari tingkahnya, namun itu sangat lucu, aku menyukainya.
"Hemp...hemp... hemp"
Dia terlihat berfikir, mengangkat sebelah alisnya dan mengetukkan telunjuk di pipi bulatnya berkali kali, aku hanya menghadap ke arahnya dan berusaha menebak apa yang dia pikirkan.
"Kalo nggak lagi mau kemana kemana, ayo ikut aku"
Dengan bahasanya yang berbelit-belit, dia mengajakku ke suatu tempat, dan tanpa persetujuanku dia langsung menarik tanganku dan bergegas pergi.
Tentu saja ini tidak benar, kaki ku berusaha sangat keras untuk menyetarakan langkahku dengannya, badannya mungil namun larinya sangat cepat, aku harus bersusah payah untuk mengikutinya.
"Kemana?" Tanyaku singkat.
"Udah ikut aja" Teriaknya keras, padahal jarak kami tidak terlalu jauh, dia tidak perlu membuang tenaganya untuk berteriak sekeras itu.
Aira menuntunku berlari menyusuri jalan setapak dengan pohon wisteria di kanan dan kirinya, kukira aku sudah tau kita akan kemana, dia ingin mengajakku ke taman wisteria, di pohon yang paling besar dimana ada batang wisteria yang melengkung seperti sebuah pintu berhiaskan bunga bunga, aku tau itu tempat favorit Aira saat musim semi tiba.
Kami pun sampai, sudah kuduga dia akan berhenti di pohon itu, sejenak dia memandangku, melihatku diam seperti sebuah patung yang tak berguna disana, dia kemudian mengalihkan pandangannya ke tas kecilnya.
Dia meraba sesuatu di dalam tas, Aira mulai menarik pipinya, senyum manis terukir di wajahnya ketika dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Tadaa!!!!"
"Hari ini adalah hari ulang tahunku!! Aku membawa ini untuk kita berdua" dia berteriak girang, sembari memberikan salah satu pie apel yang dibawanya kepadaku.
"Oww selamat ulang tahun"
"Berapa usiamu sekarang?" tanyaku ketika menerima pie apel yang dia berikan.
"Emm tebaklah"
"70 abad?" tanyaku yang aku yakin akan membuatnya kesal
"Arghh mana mungkin aku setua itu!"
"Usiaku sekarang 16 tahun, keren kan aku sudah bertambah dewasa"
"Haha baiklah"
Aira dua tahun lebih muda dariku, hari ini ulang tahunnya yang ke 16 tahun, berarti umurku sudah 18 tahun, haha...aku tidak mengingat dengan jelas berapa usiaku, mungkin karena itu tidak begitu penting bagiku.
"Emm... Jean.." ucapnya sambil membuka kertas pie nya.
"Ya?"
"Apakah kau tidak ingin menunjukkan wajahmu kepadaku?"
"Sudah lama kita berteman, tapi kau tidak pernah membuka topeng anehmu itu"
"Apakah kau tidak ingin menunjukkan wajahmu sebagai hadiah ulangtahun ku?"
Entah apa yang dipikirkan gadis itu, tiba tiba rasa penasarannya bertambah, sebelumnya dia tidak pernah meminta sesuatu dariku, mungkin karena ini hari ulangtahunnya jadi dia memintanya, namun...apa yang akan aku katakan?
"Tidak bisa.."
"Kenapa?" Aku tau dia merasa kesal, namun dia sangat hebat menutupi perasaannya.
"Emm..."
"Kakekku bilang, aku tidak boleh membukanya, atau sesuatu yang buruk akan terjadi"
"Buruk? Seburuk itukah?" tanyanya penasaran, seolah meminta cerita lebih dariku.
"Ya.."
"Apa yang buruk? Ayo ceritakan!!"
"Hemp..." Aku menghela napas panjang, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan apa apa, namun gadis ini begitu penasaran, sangat tidak tega melihatnya pergi tanpa jawaban.
"Iblis.."
"Iblis? Kau iblis? Apakah kau akan memakanku? Apakah rasa daging manusia itu enak?" tanya nya yang tidak mengerti kata serius.
"Hemp.."
"Ayolah jangan marah, aku hanya bercanda"
"Sekarang aku serius, siapa yang kau sebut iblis?"
"Dia.."
"Dia? Kakekmu?"
"Seseorang yang ada di dalam diriku, ya...ini sangat tidak masuk akal, entah kau akan percaya atau tidak"
"Aku selalu percaya kepadamu" ucapnya dengan wajahnya yang serius.
"Hemp...aku membunuh ayah dan ibuku ketika berusia 7 tahun"
"Bukan aku! Tapi dia, iblis itu"
"Aku percaya, tidak mungkin orang baik sepertimu melahkukannya"
"Biar ku tebak, kakekmu seorang menyihir?" tanya nya yang kemudian mengigit pie apel ditangannya.
"Ya benar, topeng ini seperti sebuah segel, jika kulepas, maka dia akan mengambil alih tubih ini, mungkin wajah ini adalah iblis itu, atau justru badan ini milik iblis itu?"
"Andai aku bisa hidup tanpa kepala, akan kusingkirkan iblis ini dari dunia"
"Haha jangan berfikiran begitu, aku sudah tau alasannya, dan aku tidak akan memintamu untuk membukanya"
"Atau kau akan memakanku hahaha"
Dia tertawa, dan menggigit kembali pie nya, oh...aku sampai melupakan pie ini, sambil makan camilan, kami berbincang beberapa saat di taman itu.
.
.
.
"Ayo pulang.." ajaknya tiba tiba setelah berhenti berbicara.
"Baiklah.."
Aku menyusulnya yang sudah terlebih dahulu, melewati jalan setapak yang sama, mencium aroma yang sama dan suasana yang sama seperti tadi, sebenarnya ini agak membosankan karena semuanya sama saja, namun karena gadis itulah aku tidak pernah bosan walau berkali kali melewati jalan ini.
Ssrrtt!!
Tiba tiba saja seorang pria merebut tas kecil milik Aira, entah dari mana dia datang, tapi ini adalah tindak kejahatan, sejenak aku menengok gadis di sampingku itu, aku melihatnya memegang pergelangannya yang memerah, mungkin karena tergores tali tas yang ditarik paksa oleh pencuri itu.
"Hei!!"
Spontan saja aku berlari mengejar pria itu, tentu saja karena melihatnya, sebagai seorang pria aku tidak ingin diam saja ketika melihat ini terjadi.
Lariku lumayan cepat, hingga dalam sekejap saja aku dapat menyusul pencuri itu, dan dengan cepat merebut kembali tas hasil curiannya tadi.
Aku berhenti, namun kelihatannya dia tidak terima tasnya ku ambil, pria itu juga ikut berhenti, wajahnya kesal, napasnya memburu, seperti seekor banteng jantan di tengah arena.
Bughh!!
Dia memukul tepat di wajahku, tentu saja ini sakit, bukan karena pukulannya saja, tapi karena topeng kayu ini menekan batang hidungku, sialan kurasa satu pukulan saja membuat hidungku berdarah.
"Hahaha hanya seorang anak kecil berani sekali melawanku"
Krak!!
"Apa ini? Bunyi apa tadi? Sesuatu yang patah! Tidak, ini tidak boleh terjadi"
Setelah mendengar suara retakan yang begitu dekat, sontak saja aku meraba wajahku, pria itu masih memakiku, namun aku tidak memperdulikannya lagi, dan sialnya dia memukulku untuk yang kedua kalinya, tepat di wajahku...
Krak!!
Sudah terlambat....
Pandanganku menjadi kabur, badanku terasa panas, dan terasa sakit dimana mana, sudah lama aku tidak berada di posisi ini, rasanya seperti orang yang sedang sekarat, aku berharap aku segera tak sadarkan diri, namun tubuh ini seolah meronta-ronta dan bergerak dengan sendirinya.
"Arghhhhh!!!"
Pria itu berteriak, apa yang terjadi padanya?, aku melirik mencoba melihat, dia sudah berlumuran darah, dan lagi...aku melihat topeng yang terbelah, tergeletak di tanah tak jauh dari tempat aku berdiri.
Sial!! Sial!! Sial!! Aira tidak boleh melihat ini, aku tidak ingin melukainya, aku mencoba tenang, bernafas dan mencoba bergerak atas kemauanku, namun rasanya sangat sulit, saat aku mencoba mengendalikan tubuh ini rasanya sangat sakit, tulang tulangku serasa patah.
Sejenak aku merasa pasrah ketika pria itu sudah tidak bernapas, aku membunuhnya...tidak ini bukan aku, aku tidak akan melahkukannya, tidak akan pernah.
"Heii heii..yang melahkukannya adalah kau kan? Kau yang membunuh pria ini"
Aku mendengar seseorang berbicara, namun? Itu...itu suaraku? Seseorang meniru suaraku?...tidak tidak, aku sekarang sadar, Iblis ini yang berbicara, dia berbicara menggunakan suaraku.
Sangat menjijikkan, memakai tubuh orang lain untuk berbuat keji, ingin sekali aku memukuli wajahnya, aku benar benar sangat kesal, dadaku terasa sangat panas dan...
Bughh!!
"Hei bocah!!!"
Aku memukulnya?...tidak, ini seperti memukul wajahku dengan tanganku sendiri, walau aku juga merasakan sakitnya...tapi kabar baiknya adalah aku bisa menggerakkan tubuhku.
Aku merasa bahwa aku dapat mengambil alih tubuh ini sepenuhnya, ku kepalkan tanganku erat erat berniat untuk memukulnya sekali lagi.
"Apa yang kau rencanakan? Jika kau macam macam, maka aku akan berlari ke arah gadis itu!"
Gadis itu? Siapa?...dengan kesadaran yang tak sepenuhnya milikku, aku mencoba melihat sekeliling, di bawah sebuah pohon yang tak jauh dari ku, aku menangkap sosok gadis yang berdiri gemetar.
"Aira?"
"Ya...aku akan berlari kesana"
Tidak, aku tidak akan membiarkannya, aku mencoba merebut seluruh kendali tubuh ini, rasanya sangat sakit, kurasa semua tulangku akan hancur, namun aku tidak memperdulikannya, aku hanya harus menjauh dari Aira.
.
.
.
AIRA POV'S
Aku mengikuti Jean yang mengejar pencuri itu, tentu saja mereka berlari sangat cepat hingga aku tertinggal jauh, dengan sekuat tenaga aku berlari dan ingin segera memastikan keadaan Jean.
Namun...aku sangat terkejut ketika menemukan Jean dan pencuri itu, aku melihat seorang pria berbaring lemas di tanah yang berlumuran darah, tak jauh dari sana, aku melihat sesosok laki laki yang tubuhnya tak asing bagiku, ya benar...itu Jean, namun dia tidak memakai topeng.
Jean melihat ke arahku, baru kali ini aku melihat dia melepas topengnya, tidak...bukan melepas, tapi topengnya telah rusak dan terbelah, sebenarnya aku merasa takut saat itu, melihat ekspresi Jean yang sangat sulit diartikan, dan terlebih lagi tangannya berlumuran darah.
Apakah Jean semarah itu saat topengnya dirusak? Sampai sampai orang sebaik dia menjadi seorang pembunuh...ah aku ingat...dia baru bercerita tadi, dia membunuh orang tuanya...tidak bukan dia! Apakah iblis itu benar benar ada?
Jean berlari...entah mau kemana laki laki itu, dan tanpa sadar kakiku melangkah dan berlari mengejarnya, aku melihatnya sedang kesakitan, kurasa itu benar benar sakit hingga dia memukuli tubuhnya sendiri sambil berlari.
"Jeaann!!!!"
Aku mencoba memanggilnya, di menoleh sesaat dan kembali berlari, dia semakin mempercepat larinya, kurasa dia tidak ingin aku mendekatinya, namun aku begitu tidak tega melihatnya kesakitan seperti itu
"Jean!!!"
Aku memanggilnya sekali lagi, aku melihat dia berhenti, bersandar di batang pohon besar itu, aku mendekatinya dengan hati hati, dan kali ini dia tidak menghindar dariku.
Aku mendekatinya, deru napasnya terdengar jelas, dia terengah seperti seseorang yang tenggelam, keringatnya bercucuran deras hingga melunturkan darah di pergelangan tangannya.
"Jean...kau tak apa?"
"A...Aira...Airaa..."
Aku melihatnya begitu menderita, dia mengucapkan namaku, kelihatannya dengan sangat bersusah payah, suaranya serak seperti sedang tercekik, akupun mendekatinya.
Namun....
Tak kusangka, tangannya yang kuat mencengkeram leherku dengan cepat, aku mencoba melepaskannya namun badanku sudah terasa lemas, aku kesulitan bernapas.
Dia mencekik semakin keras, beberapa kali dia mengadukan kepalanya dengan kepalaku, rasanya sangat pusing, bau amis ini juga mengangguku, aku melihat ke arah Jean...dia menangis, air matanya mengalir deras dengan sedikit isakan yang terdengar.
Kurasa...apa yang dilakukannya bukan atas kehendakknya, sesuatu telah membuat dia melahkukan ini, bibir Jean bergetar, mengucapkan beberapa kalimat yang kudengar samar samar.
'Maafkan aku Aira' begitu ucapnya dengan terbata bata, hatinya bersedih namun tangannya terus menyiksaku, aku tidak tau harus berkata dan berfikir apa tentangnya.
Krakk!!!
Suara retakan, diiringi cairan yang kurasakan mengalir dari pelipis, wajah kemudian menuju leherku, rasa menyakitkan ini juga semakin menjadi, sampai sampai aku tidak tau bagian mana yang terasa sakit.
Sekali lagi, Jean mengambil ancang ancang dengan mendongakkan kepalanya, dan dengan cepat mengadunya dengan kepalaku, dan setelah itu semuanya menghilang....
---TAMAT---