Ketiga remaja dengan tas dan seragam sekolah yang mereka kenakan, berjalan melewati gang kecil sambil menggunakan ponselnya.
Meski ada tiga orang, mereka tetap sibuk sendiri dan hanya menatap layar ponselnya masing-masing.
Suatu kejanggalan terjadi, salah satu dari mereka yang bernama Rya merasa ada seseorang yang mengikuti mereka sedari tadi.
"Ehm, Lan, Zei, apa kalian merasa ada seseorang yang mengikuti kita?" bisik Rya agak takut.
"Apaan sih? Jangan aneh-aneh deh Lo, gue lagi sibuk tau!" ucap Lani.
"Iya nih, Rya penakut" ejek Zeifa.
Rya memilih diam, ia takut mereka bertiga akan bertengkar.
Tapi benar saja, beberapa menit kemudian..
Wushh wusshhh.... Angin kencang membuat ketiga gadis itu terkejut.
"A..ada apa ini?" Tanya mereka kompak.
Tidak tahu kenapa, mereka seperti terseret ke dalam tanah dan tidak sadarkan diri.
"Eumm, dimana aku?" gumam Rya.
Begitupun Lani dan Zeifa, mereka juga tampak kebingungan.
"Di-dimana ini?" Ucap mereka bertanya-tanya.
Cermin tampak dimana-mana, wajah mereka pun tertampak jelas di semua cermin ini.
"Kenapa banyak sekali cermin?" Tanya Zeifa.
"Tempat ini... seperti labirin yang pernah aku liat di film yang kutonton" ucap Lani.
"Lan, jangan bikin takut deh!" Ucap Zeifa.
"Iya Lan" sambar Rya.
Mereka mencoba berdiri dengan lemas.
"SIAPAPUN, TOLONG KAMI!" teriak Rya sampai-sampai tenggorokan nya sakit.
"HEI TOLONG KAMI!" teriak Zeifa.
"Hey, apa kalian bodoh? Kan ada handphone, kita coba hubungin seseorang aja dan share lock, siapa tahu ada yang mau nolong" ucap Lani tersenyum.
Zeifa dan Rya mengangguk. Mereka semua pun mencari ponselnya masing-masing.
"Lah? Ponsel gue mana?!" kaget Lani.
"Punya gue juga gak ada" sambar Rya.
"Hah? Punya gue kenapa ilang?" Kata Zeifa.
Mereka pun tampak panik mencari ponselnya.
"Apa kalian mencari handphone kalian?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul di salah satu cermin.
"Si-siapa kamu?" tanya ketiga gadis itu kompak.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku!" jelas pria di cermin itu.
"Siapa kamu? Dimana ini? Jangan macam-macam dan keluarkan kami!" marah Zeifa.
"Haha.. jangan terlalu panik dan emosi, aku tidak akan melakukan hal yang berbahaya pada kalian kok" ucap pria itu.
"Lalu, apa maumu?" tanya Lani.
"Aku hanya ingin kalian bekerja sama untuk bisa keluar dari labirin cermin ini. Jika kalian berhasil keluar, otomatis ponsel kalian juga akan aku kembalikan" ucap pria itu sambil memperlihatkan ponsel mereka.
Lani, Zeifa, dan Rya langsung menyetujui hal itu. Asalkan bisa mendapat handphone nya kembali, apapun akan mereka lakukan.
Cara pertama untuk keluar dari labirin adalah dengan menghitung setiap jumlah patung bunga yang berdiri disana
Cara kedua, yaitu menghitung matematika untuk membuka pintu dengan menulis di pintu menggunakan pensil jawaban hasil matematika, jika benar maka pintu akan terbuka dan menuju tantangan terakhir.
Dan cara terakhir, dengan beberapa tantangan fisik, seperti menaiki tangga kaca yang sangat tinggi, tapi, diantara tangga itu ada pintu keluarnya.
"Siap!" Ucap gadis-gadis itu semangat.
Tantangan pertama adalah hal yang paling mudah. Namun, karena keras kepala masing-masing anggota membuat pekerjaan itu menjadi susah. Ditambah, karena ada banyak cermin jadi mereka susah mengetahui apakah itu pantulan cermin atau memang benda asli.
"Huhhh sebenarnya berapa jumlah bola bekel ini?" tanya Rya kesal.
"Ini adalah nasehat terakhir ku, ingat... kerja sama dan kekompakan membuat pekerjaan lebih ringan. Dengan begitu, aku yakin semua tantangan ini mudah untuk kalian" ucap pria itu dan kemudian menghilang.
Rya, Lani, dan Zeifa akhirnya berkumpul dan berunding bersama. Mereka sepakat, Lani akan menghitung patung di sebelah kanan, Zeifa sebelah kiri, dan Rya di bagian tengah.
15 menit berlalu, akhirnya ada 63 patung yang mereka temui.
"Huft, karena pantulan cermin jadi agak susah. Tapi syukurlah, kita bisa menghitungnya" ucap Rya tersenyum.
Kini, tantangan kedua dimulai. Soal matematika yang diberikan mudah dan ada jawabannya di cermin, tapi sayangnya setiap angka hanya dibalik, dan karena pantulan cermin, itu sangat susah.
Namun, kerja sama dan kekompakan membuat pekerjaan itu lebih ringan. Walau tidak sedikit keluhan dari ketiga gadis itu yang mempermasalahkan "Jika ada handphone pasti lebih gampang, karena kan ada kalkulator" ucap mereka berkeluh.
Tantangan kedua selesai, pintu telah terbentuk. Mereka membuka pintu itu dan ada dua tangga kaca yang terlihat. Salah satu dari tangga itu adalah pantulan cermin.
"Huhh gimana ini?" panik Zeifa.
Lani menepuk bahu Zeifa dan mengingatkan bahwa masih ada temannya, ia tidak sendirian.
Alhasil, tangga yang asli dapat ditemukan, cara untuk naik tangganya pun tidaklah mudah karena begitu banyak cermin disana.
"Huft...huft... Sampai kapan kita terus naik dan tidak menemukan pintu keluar? Aku lelah..sangat lelah" lirih Rya sedih.
Zeifa memeluk Rya, "Rya..aku tahu ini sulit! Kita hadapi bersama ya.." ucap Zeifa tersenyum, begitupun dengan Lani.
Beberapa jam kemudian, mereka menyerah dan sudah tidak sanggup lagi. Pria yang membuat tantangan labirin cermin itu pun kembali muncul, tapi kali ini...ia muncul dengan bentuk tubuh yang nyata.
"Apa kalian menyerah?" Tanya pria itu.
Mereka bertiga pun mengangguk.
"Lalu, bagaimana dengan handphone kalian?" tanya pria itu lagi.
"Itu tidaklah berguna...temanku lebih baik dari ponsel itu!" Ucap Zeifa, Rya, dan Lani kompak.
Pria itu tersenyum manis, "kalian lolos!" Ucapnya.
Tanpa sadar, merekapun sudah berada di tempat gang tadi. Dengan Isak tangis, mereka saling memeluk dan berjanji akan menjadi teman yang baik, melebihi rasa sayang mereka pada ponselnya.