"Kan, gue bilang juga apa! Orion tuh lebih pinter dari Arisha,"
"Hooh, gue aja curiga dia pake cara curang selama ini,"
"Kasian Arisha dia pasti udah belajar mati-matian buat tes kali ini,"
"Udah gak bisa sombong lagi dia sekarang,"
Bisikan bisikan itu tidak dihiraukan oleh seorang gadis yang tetap berjalan melewati siswa/i yang terus mengoceh tentang dirinya.
Namanya Arisha. Arisha Reese Quella. Seorang gadis pintar yang cukup cantik di sekolahnya. Selalu menempati peringkat 1 di semester sebelumnya, namun harus gagal di semester ini dan menempati peringkat 2 di paralel.
Ambisius, ramah, dan murah senyum.
Itu sifat Arisha yang di kenal semua orang.
Namun, tidak ada yang tahu perihal gadis itu yang sebenarnya.
Arisha diam-diam mengulas senyum sinis.
Padahal baru kemarin orang-orang itu memujinya bahkan memberinya ucapan selamat. Tapi, hanya karena peringkatnya turun satu mereka sudah berbalik mengolok-ngolok dirinya.
Jadi, sudah tidak berpura-pura lagi kah?
Setidaknya, Arisha tidak akan lelah lagi menghadapi jilatan-jilatan memuakkan mereka.
"Risha!" Dari kejauhan seorang lelaki memanggil Arisha. Namun, karena jarak yang cukup jauh Arisha hanya mendengarnya samar.
Gadis itu mengabaikan panggilan lelaki itu. Dia sudah tahu siapa yang memanggilnya dari kejauhan. Pasti lelaki itu. Lelaki yang paling dia benci karena pernah melihat dirinya yang ada di balik topeng yang selalu ia kenakan.
Arisha dengan sengaja mempercepat langkahnya. Dia sedang tidak ingin bertemu lelaki itu. Setidaknya untuk hari ini.
Arisha mengedarkan pandangannya setelah keluar dari gerbang sekolah. Dia segera menaiki taxi online yang sudah ia pesan sedari tadi dan pergi meninggalkan sekolah.
15 menit kemudian, taxi itu berhenti di depan sebuah rumah mewah bercat putih. Arisha turun dari taxi dan berjalan memasuki pekarangan rumah. Sebuah mobil berwarna hitam terparkir di garasi.
Tubuh Arisha bergetar tanpa sadar. Dia mengepalkan tangannya kuat, mencoba memberanikan diri dan mengatasi ketakutannya.
Arisha melangkah pelan menuju pintu. Dia membukanya perrlahan. Lalu masuk dengan kaki gemetar.
"Masih punya keberanian buat pulang kamu?" suara sedingin es itu membuat Arisha mematung.
Seorang lelaki paruh baya bangkit dari sofa dan menghampiri putrinya. Dia Rio, ayah kandung Arisha.
Plakkk
Arisha meringis merasakan pipinya memanas. Itu sakit namun hatinya jauh lebih sakit.
"Dasar tidak berguna! Mendapatkan peringkat 1 saja tidak bisa. Sudah saya katakan berapa kali, belajar dengan benar Arisha!" bentak Rio marah.
"Maaf," kata Arisha lirih.
"Maaf?! Kau pikir permintaan maaf dapat mengembalikan peringkatmu!"
Plakk
Sekali lagi tamparan mendarat di pipi Arisha. Arisha hanya diam. Apa pun yang dia katakan akan selalu salah dimata ayahnya. Jadi, lebih baik ia diam saja dan berharap waktu segera berlalu dan dia bisa segera mengurung diri di kamar.
"Kenapa dia harus memilih menyelamatkan anak tidak berguna seperti dirimu?! Harusnya kau yang mati waktu itu!"
Dada Arisha semakin terasa sesak. Lagi-lagi, dia yang disalahkan atas kematian ibunya. Padahal dia juga tidak ingin dilahirkan dalam kondisi seperti itu.
"Maaf, Pa,"
Namun, apapun keluh kesahnya Arisha hanya bisa memendamnya dalam hati. Karena Arisha juga menyalahkan dirinya sendiri terkait kematian ibunya. Walau, dia tahu kalau dirinya tidak sepenuhnya salah. Rasa bersalah itu sudah mengakar di dalam hatinya. Dia merasa pantas untuk dibenci. Karena jika seandainya dia tidak ada, mungkin keluarganya akan merasa bahagia.
Andai, andai dia tidak lahir ke dunia.
"Papa? Arisha, sepertinya saya harus mengingatkanmu sekali lagi. Sampai kapanpun kamu tidak akan saya anggap sebagai anak. Jadi, jangan pernah memanggil saya dengan sebutan 'Papa',"
Arisha tercekat. Benar, ayahnya tidak akan pernah menganggapnya. Kau tidak pantas Arisha. Kau tidak pantas! KAU ADALAH SEORANG PEMBUNUH! KAU TIDAK PANTAS UNTUK MENDAPATKAN KEBAHAGIAN ATAU SEKEDAR DIANGGAP! Kau tidak pantas.. Jadi berhenti berharap! Berhenti berharap seseorang akan mengerti dirimu atau pun mengasihanimu.
Mata Arisha memerah menahan tangis. Dia tahu! Dia tahu itu! Tapi, kenapa rasanya begitu sakit?
Prang
Rio memecahkan vas di dekat mereka. Pecahannya jatuh berserakan. Dia berkata dengan dingin, "Kalau sekali lagi nilaimu mengecewakan saya, bukan hanya tamparan yang akan kamu terima,"
Rio berbalik pergi, meninggalkan Arisha yang terisak diam-diam.
Arisha mengelap air matanya. Tidak! Dia tidak boleh menangis! Kau bukan gadis lemah Arisha! Ini sudah biasa terjadi. Ayahmu akan selalu mencari-cari kesalahanmu lalu memukulmu sebagai hukuman. Ya, Rio hanya ingin memukulnya dan akan mencari berbagai alasan untuk memenuhi keinginannya.
Arisha berjongkok, memungut pecahan vas dan membersihkan lantainya.
Ting tong
Suara bel rumah menghentikan kegiatannya. Dia menatap pintu yang tertutup itu dengan pandangan rumit. Dia tahu lelaki itu pasti akan mengunjunginya. Tapi, kenapa begitu cepat?! Arisha belum siap berpura-pura lagi di depannya.
Arisha menenangkan dirinya. Dia merapikan seragamnya yang cukup berantakan.
Ceklekk
"Rion, kamu kok udah pulang? Emang gak kumpul dulu sama temen-temen kamu?" tanya Arisha sembari tersenyum manis.
Ya, dia Orion. Rivalnya dalam pelajaran sekaligus ... Satu-satunya orang yang tahu tentang lukanya. Sosok yang ia benci karena melihat sesuatu di balik topengnya. Tetangganya juga teman masa kecilnya.
"Sha," Orion berkata lembut. Dia tahu senyum manis gadisnya hanyalah sebuah topeng untuk menutupi lukanya. Dia tahu gadisnya begitu rapuh.
"Lo gak kenapa-napa kan?"
Tatapan khawatir Orion membuat Arisha mengalihkan pandangannya. "Emangnya aku kenapa Yon? Aku gak kenapa-napa,"
Orion membelalak melihat pipi Arisha yang memerah bekas tamparan Rio. Dia meringis seakan ikut merasakan luka Arisha. "Pasti sakit ya?" Orion hendak mengelus pipi Arisha namun langsung ditepis oleh Arisha. "Aku gak kenapa napa, Orion,"
"Berhenti bersikap seolah lo baik-baik aja Arisha," Orion tanpa sadar menaikan nada suaranya.
Arisha terkejut saat Orion membentaknya. Dia menatap Orion tajam, "Lo yang harus berhenti Orion. BERHENTI BERTINGKAH SEOLAH LO TAU SEMUA TENTANG GUE?!!"
"Gue emang gak tahu semua tentang lo, Sha. Gue juga gak tahu perasaan lo karena gue belum pernah ngalamin itu. Tapi, gue cuman mau lo tau Sha. Lo gak sendiri, ada gue disamping lo," Orion menggenggam tangan Arisha lembut. Dia tersenyum, "Jadi, jangan pernah ngerasa sendiri, Sha. Gue siap kok dengerin semua keluh kesah lo dan jadi tempat buat lo bersandar,"
Mata Arisha memanas. Runtuh sudah tembok yang ia bangun mati-matian untuk semua orang di sekitarnya. Air mata perlahan mulai merembes melalui pelupuk matanya.
Orion menarik Arisha ke dalam dekapannya. Dia semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar isakan pilu Arisha. Bukankah Arisha terlalu kuat? Dia berhasil memendam semuanya sendiri dan memakai topeng untuk menutupi lukanya. Padahal gadis ini sangat rapuh. Bagaimana bisa tubuh mungil ini memikul banyak sekali beban?
'Maaf, Sha. Maaf selama ini gue tertipu sama topeng lo. Maaf karena baru sekarang gue ada di samping lo, Arisha,'
'Tapi gue janji. Gue bakal selalu ada di samping lo dan buat lo tersenyum tulus tanpa kepura-puraan lagi,'
'Gue janji, Sha,'