Aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita. Karena seberjuangnya aku untuk selalu memprioritaskan dirimu tetaplah salah menurutmu.
Itu adalah sebagian ungkapan kata hatiku untuk dirimu yang lebih memilih orang lain daripada aku.
Aku adalah Zidan. Seorang anak perantau yang melanjutkan pendidikan SMA di kota mu. Sejak kedatangan ku di kota ini ada banyak hal yang telah mengukir indah momen dalam kehidupan ku. Salah satunya adalah Tinggal di kos-kosan tepat di sebelah rumahmu merupakan kebahagiaan tersendiri untukku.
Aku selalu melihat dirimu setiap kali aku duduk di teras depan kos-kosan. Sambil memetikkan senar gitar dan mengalunkan melodi adalah suatu isyarat perasaanku untuk di pahami olehmu. Namun kau selalu mengabaikannya. Yah aku pahami itu karena aku belum mengungkapkannya secara langsung.
Hingga suatu saat kau datang bersama Elsa yang merupakan pemilik kos-kosan itu memasuki rumah. Dengan beraninya aku menatap mu tanpa berkedip, hingga aku bisa melihat dihadapan ku kau terlihat sangat gugup.
"Vir apa kamu bisa membaca tulisan ini?", tanya ku sambil menyodorkan handphone yang di belakangnya tertulis I Love You.
"I Love You", kata Vira dan aku menjawabnya "I Love You Too". Seketika suasana berubah, dan kau terlihat lebih gugup dari sebelumnya.
"Apa an sih....", kata Vira
"Aku serius sangat mencintaimu", kata ku sekali lagi untuk meyakinkan. Karena selalu memperhatikan dia selama aku disini
"Aku masih sekolah dilarang mama papa untuk pacaran", jawab mu yang membuatku ciut kala itu dan berusaha menerimanya sambil terus memainkan nada demi nada hingga menjadi suatu lagu untuk ku nyanyikan demi menutupi kecewanya hati mendapatkan penolakan.
Seiring waktu berlalu aku telah menjalani suatu hubungan dengan teman SMA ku. Namun hubungan itu kandas karena kehadiran orang ketiga. Lagi-lagi aku di kecewakan. Saat kegalauan hati ku kamu selalu ada untukku.
"Kak setiap menyanyikan lagu kok selalu lagu-lagu galau?", tanya kamu waktu itu.
"Jika bersamamu aku pasti hanya akan menyanyikan lagu bahagia di setiap petikan gitarku,".
"Kenapa lagi sih kak?", tanya kamu
"Aku putus sama dia", jawab aku
"Makanya sekolah aja dulu kak, gak usah pacaran ntar sakit hati. Kalau sekolah Kakak terganggu, kasihan orang tua di kampung yang selalu berusaha untuk kakak disini", katamu yang menjadi tamparan hebat untukku.
Sejak saat itupun aku terbiasa dengan kehadiran mu yang terus memberikan support untukku. Tanpa melihat mu sehari saja terasa aneh bagiku. Ada perasaan yang tidak biasa. Aku gelisah, resah jadinya. Sejak saat itupun Aku menjadi terbiasa berbagi kisah mencurahkan segala unek-unek di hatiku padamu. Dengan kebersamaan yang kita lalui di setiap momen, seakan terus memupuk rasa ini lebih indah bermekaran.
Kasih sayang dan kehangatan yang diberikan oleh orang tuamu seakan menjadi magnet untukku tidak ingin melepaskan dirimu. Sampai aku berusaha lagi untuk mengungkapkan perasaan ku di Tahun ke-3.
Di suatu acara pagelaran musik yang di adakan di pusat kota. Kita berdiri melihat acara demi acara. Sampai di suatu momen yang di dukung oleh musik-musik yang romantis, aku memberanikan lagi untuk mengungkapkan perasaan ku.
"Vira...aku rasa kau bisa memahami perasaan ku. Jujur setiap dekat dengan dirimu perasaan ku semakin lama semakin bertambah, dan kenapa aku memberanikan lagi untuk mengungkapkan semua ini karena aku yakin kamu pun punya perasaan yang sama terhadap ku", kata ku terbata-bata.
Vira hanya tersenyum. Yang membuat ku bertanya-tanya, apakah ini pertanda dia menerima ku?
"Jika kehadiran mu akan memberi dampak positif dalam pendidikan ku aku akan menerima mu, jadi untuk sekarang kita jalani aja dulu", kata Vira
"Alhamdulillah, ucap syukurku dalam hati".
Ditengah hubungan yang semakin lama semakin terjalin nyaman antara satu sama lain, Ujian Nasional Sekolah datang berbarengan dengan berita duka atas kematian dari ibunya Zidan. Ujian-ujian itu Seakan menambah kekuatan tersendiri untuk Zidan. Karena dia pun menyadari bahwa terkadang kehilangan orang terdekat adalah merupakan kekuatan yang harus dia ciptakan untuk bisa melewati proses kehidupan. Yaaa aku harus bangkit dan terus berusaha. Erat genggaman tangan Vira seakan merupakan energi baru untuk ku bisa menghadapinya.
"Kamu pasti bisa menghadapi ujian sekolah ini Zid, tapi kamu harus pulang dulu untuk melihat ibu mu terakhir kalinya, hati-hati selama di jalan yaa, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu", kata Vira lagi. Genggaman tangan Zidan pun basah dengan airmata yang terus berharap ada penguatan selalu untuk dirinya bisa menghadapi situasi ini.
Seiring berjalannya waktu, jalinan asmara kita pun indah terasa. Kehadiran mu seakan telah menjelma takdir di kehidupan ku yang terus aku syukuri. Bahagia, suka duka selalu kita lewati bersama. Menciptakan momen indah, menautkan rasa dan terus berusaha untuk saling menjaga hubungan ini.
Hingga akhirnya momen kelulusan itu datang. Aku harus meninggalkan kota mu.
"Selamat yaa... akhirnya kamu lulus dengan segala usaha yang telah kau jalani", kata Vira.
"Alhamdulillah..aku berterima kasih padamu juga sayang yang selalu mensupport aku", kata Zidan
"Bolehkan aku mencium mu?", tanya Zidan untuk bisa mengekspresikan rasa sayangnya.
Melihat Vira hanya terdiam, Zidan mendaratkan sebuah ciuman di kening Vira. Keduanya seakan tenggelam merasakan setiap getaran yang menjalari sekujur tubuh masing-masing. Terlebih bagi Vira yang baru pertama kali di cium oleh seorang laki-laki.
Setelah Zidan melepaskan ciumannya, Vira buru-buru masuk ke dalam kamarnya sambil terus memandangi wajahnya dan mengelus perutnya. "Apakah aku akan hamil?", tanya Vira dengan kepolosannya.
Sepuluh menit kemudian Vira keluar dari kamarnya dan menyapa kembali Zidan yang sedang duduk di ruang tamu.
"Vira aku nanti akan selalu berkunjung kesini, aku akan memberikan kabar selalu untukmu, kita harus saling menjaga, aku harap kita bisa setia selamanya", kata Zidan
"Aamiin.... laki-laki itu yang dipegang komitmennya, semoga kamu bisa menjaga itu", pinta Vira.
"Kalau begitu aku pamit dulu ya, persiapan packing", kata Zidan dengan sangat berat yang tidak ingin meninggalkan Vira.
Vira kembali ke kamar. Sambil terus bertanya-tanya, berbaring dengan terus mengusap kening dan perutnya. (Vira dengan kepolosannya yang terus menganggap bahwa hamil bisa terjadi hanya dengan sebuah kecupan 😄🤭)
Setahun telah berlalu, kesetiaan itu masih terjaga. Komunikasi terus ada demi mempertahankan hubungan itu. Sampai suatu ketika sosok Arnold muncul di kehidupan Vira.
"Aku mengenal sosok Zidan, karena dia adalah kakak kelas ku dulu, namun hubungan LDR itu tidak akan baik-baik saja karena godaan orang yang terdekat kita akan menjadi ujian bagi kita sendiri, aku mencintaimu Vira...aku tidak bisa memungkiri perasaan ku padamu. Aku akan memberikan kebahagiaan lebih untuk mu, bukan hanya sekedar janji seperti yang sering di ucapkan Zidan padamu".
"Arnold...disini adalah tempat yang sama aku dan Zidan membuat komitmen itu. Dan hari ini aku pun akan menjawab pertanyaan kamu". jawab Vira.
"Aku ingin kamu berfikir dengan baik, aku bisa menunggu sampai Minggu depan", saran Zidan kepada Vira.
Vira lalu mengurungkan apa yang akan di katakan.
Sabtu...pukul 20.09 WITA
Dengan percaya dirinya Arnold menghampiri Vira. Basa-basi dalam membuka percakapan.
"Apa kabarmu hari ini?", tanya Arnold
Degupan hati seorang Vira bergetar hebat meluluhkan kesetiaan yang selama ini dia jaga.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja", jawab Vira sambil tersenyum
"Arnold kamu tampan, sederet gigi putihmu menambah aura ketampanan itu, tapi maaf aku tidak bisa menerima mu karena aku masih mencintai Zidan", gumam Vira
Seketika Vira seakan di paksa bergelut dengan pertentangan hatinya yang memilih untuk tinggal dan bertahan atau melepaskan dan memulai hubungan baru. Namun handphone nya seketika itu berbunyi dan ternyata adalah panggilan dari Zidan.
"Apa kabar Vir....aku kangen", kata Zidan
"Maaf Zidan, aku tidak bisa melanjutkan hubungan LDR ini lagi", kata Vira yang membuat Zidan kaget.
"Ada apa Vira?", tanya Zidan ingin tahu
"Kamu terlalu egois Zid meninggalkan aku yang masih membutuhkan kasih sayang serta perhatian darimu, di tengah masa-masa seperti ini, aku tahu kamu setia tapi maaf aku luluh dengan keadaan, mudah percaya atas apa yang di katakan orang-orang tentang LDR, harapanku hilang, aku berhenti Zidan, maafkan aku...", keluh Vira sambil menutup telepon lalu kembali ke Arnold yang sedang menanti jawaban darinya.
"Bagaimana Vira?", tanya Arnold ketika Vira duduk lagi di sebelah nya.
"Maaf Ar...aku tidak bisa menerima mu?", jawab Vira tegas
"Apa.......???!!! tanya Arnold dengan memastikan lagi saking kagetnya mendengar jawaban Vira
"Iya Arnold...maafkan aku", jawab Vira lagi
"Kamu adalah perempuan pertama yang menolak cintaku Vira", geram Arnold sambil menghembuskan asap rokok ke atas melepaskan kegusarannya.
"Aku tahu kamu tampan, tapi maaf aku tidak sama dengan perempuan lain yang menerima pasangan hanya dengan mengandalkan tampang doang, maafkan aku. Aku yakin dengan ketampanan yang kamu miliki pasti diluar sana kau memiliki banyak pacar", kata Vira.
"Sudahlah tidak usah terlalu memikirkan tentang diriku, aku pergi...", pamit Arnold dan lalu meninggalkan Vira.
Terkadang cinta datang dan pergi sesuka hati. Menetap dengan segala rasa dan di uji dengan kesetiaan. Hebatnya cinta adalah ketika dia mampu bertahan tanpa harus tergoda dengan hadirnya rasa yang lain. Karena yang hadir hanya sekedar menyapa tidak akan menjadi pilihan seperti yang bertahan dan lalu menetap. Karena cinta sejati adalah dia yang setia dan lalu menyadari keberadaan rasa yang timbul kepada orang lain, hanyalah bagian dari ujian yang harus di lewati. Jika mampu bertahan kamu adalah cinta sejati itu. (Inka24_Quotes)