Kanaya berjalan bersama sahabatnya yaitu Andini. Mereka sudah bersahabat sejak SMP dulu, sekarang mereka bersekolah di SMA yang sama. Yaitu SMA Margabuana, sekolah yang terkenal di Kota Jakarta.
Mereka berdua memesan makanan di kantin, sambil sesekali melirik cowok yang terlihat mempesona. Maklum keduanya masih jomlo, belum mendapatkan seorang pasangan yang terbaik. Hingga mata Kanaya tertuju pada seorang cowok berambut keren, penampilannya sangat cool. Jaket yang dipakainya sangat mahal, barang-barangnya sangat berkelas.
"Lo ngelihatin apaan sih Nay? Dari tadi nggak konsen sama makanan lo," komentar Andini pada sahabatnya itu.
"Lo ganggu aja deh, lihat tuh ada cogan hehe!" jawab Kanaya sambil menunjuk cowok tampan itu singkat, ia takut jika ketahuan.
"Hemm, kalau urusan cogan aja cepet lo."
"Bukan gitu din, tapi kayaknya gue terpesona sama tuh cowok."
"Kalau gitu deketin sana!"
"Lo sudah gila, mana berani gue!"
"Gimana kalau gue bantuin?"
"Lo serius din?"
"Iya gue serius, lo tulis deh surat buat dia!"
"Oke bentar, makasih ya," kata Kanaya girang, ia mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan isi hatinya.
Andini memberikan surat itu pada cowok yang disukai Kanaya. Cowok bernama Bryan itu tersenyum geli, meskipun zaman sudah modern masih ada saja yang bermain surat-suratan. Setelah membayar di kantin, Bryan mencoba menemui gadis itu. Ia merasa penasaran dengan pengagum rahasianya.
"Lo yang beri surat tadi?" tanya Bryan dengan seulas senyuman di bibirnya.
"I-iya, lo sudah baca?"
"Sudah kok, kata-kata yang lo buat sangat indah."
"Makasih."
"Kenalin, gue Bryan Hadinata. Ikut ekstra band hehe." Bryan mengulurkan tangannya dengan malu-malu.
"Gue Kanaya Ekawati, ikut ekstra paduan suara."
"Wah, kalau gitu kapan-kapan kita duet yuk?"
"Boleh aja." Kanaya begitu senang, sekarang ia seperti terbang ke langit ketujuh.
Duet itupun terlaksana dengan baik, bahkan anggota dan pembina mereka sangat menyukai penampilan tersebut. Saat perpisahan sekolah, mereka akan menampilkan kolarobasi yang luar biasa kembali. Kanaya spontan memeluk Bryan, mereka lalu bercanda ria bagaikan dunia milik berdua.
"Sahabat gue kayaknya senang banget nih?" tanya Andini pada seseorang yang duduk di sampingnya.
"Iya din, habis ini gue sama Bryan disuruh mengisi perpisahan sekolah."
"Wah, gue ikut senang dengarnya." Andini tersenyum, lalu ia berlari ke arah kamar mandi.
"Din, lo nggak apa-apa kan?" tanya Kanaya dari luar pintu kamar mandi.
Andini keluar dengan wajah yang sedikit pucat. "Gue nggak apa-apa, hanya mimisan doang."
"Mending lo ke UKS deh! Gue anterin!"
"Nggak usah!" kata Andini mencoba kuat, tapi tubuhnya tiba-tiba pingsan.
"Andini, seseorang tolong gue!" teriak Kanaya dengan sangat keras, siswa yang lain berdatangan dan membantu Kanaya membawa Andini ke UKS.
Tak beberapa lama Andini siuman. "Gue ada dimana nih?"
"Lo ada di UKS, kepala lo pusing nggak?" tanya Kanaya khawatir.
"Sudah agak mendingan sih." Andini masih mencoba tersenyum. "Lo nggak akan pernah ninggalin gue kan?"
"Lo ngomong apaan sih? Gue akan selalu ada di samping lo!"
"Gue beruntung punya sahabat kayak lo."
"Gue juga din." Mereka berpelukan, mata keduanya menangis haru.
"Lo sudah enakan din?" tanya Bryan yang tiba-tiba muncul.
"Eh Bryan, gue sudah agak mendingan kok."
"Syukur deh, cepat sembuh ya!"
"Makasih."
***
Kanaya kembali ke kelas setelah meminjam buku dari perpus, tanpa sengaja matanya menangkap Bryan dan Andini yang berjalan bersama. Namun, ia mencoba untuk berpikir positif. Mungkin keduanya sedang ada urusan penting.
"Din, lo kok jalan berdua sama Bryan?" tanya Kanaya.
"Iya, gue tadi ada perlu sama Bryan."
"Iya Nay, betul apa yang diomongin Andini."
"Ya sudah, gue ke kelas duluan ya!"
"Oke Nay," jawab keduanya serempak.
Kanaya sudah kehilangan prasangka baiknya, mana mungkin mereka berjalan berdua tanpa sebab. Ia berpikir macam-macam sekarang, jangan-jangan ada hubungan spesial yang mereka tutupi darinya.
"Hari gini masih percaya sama sahabat? Gue sudah pernah ngalamin gimana rasanya ditikung!" kata Deandra yang berada di belakang bangku Kanaya.
"Maksud lo apa Ndra?"
"Gue sudah percaya banget sama sahabat gue, tapi nyatanya apa? Dia yang nusuk gue dari belakang!"
Jantung Kanaya berdetak kencang, ia merasa takut jika cerita Deandra itu menjadi kenyataan untuknya. Meski Bryan sampai saat ini belum mengutarakan isi hatinya. Namun, Kanaya sangat mencintainya dengan tulus. Ia belum mau untuk melepaskan Bryan Hadinata.
Sore datang menjelang, Bryan mengantarkan Kanaya untuk pulang ke rumah. Kanaya menerima ajakan itu, lalu berpamitan dengan Andini singkat. Gadis itu masih berpikir dengan ucapan Deandra tadi. Apa Andini tega untuk merebut Bryan? Kanaya belum siap untuk menerimanya.
"Lo kok diam aja sih?" tanya Bryan bingung.
"Nggak apa-apa kok."
Terlebih dulu mereka menyempatkan duduk-duduk di taman untuk bersantai. Sepeda motor Bryan diparkir di depan warung nasi. Bryan duduk berdua dengan gadis itu, lalu menggenggam erat kedua tangannya.
"Lo percaya sama gue kan?" tanya Bryan berharap.
"Iya, gue percaya."
"Saat di kantin lo ngelihatin gue dari jauh, sebenarnya gue sudah tau. Gue suka sama lo Nay, apa lo juga suka sama gue?"
"Gue suka sama lo, cinta malah." Bryan sangat senang sekali, rupanya cinta mereka berbalas.
"Apa lo mau terima gue jadi pacar lo?" tanya Bryan sambil memberikan sebungkus cokelat berbentuk hati dan juga sekuntum bunga mawar.
"Gue mau." Mereka berpelukan dengan sangat bahagia.
***
"Jadi gini kelakuan lo di belakang gue?" bentak Kanaya pada sahabatnya itu, setelah melihat kedekatan keduanya di kantin.
"Gue bisa jelasin Nay, tadi…" perkataan Andini terputus karena Kanaya menamparnya.
"Gue nggak butuh penjelasan lo pelakor!" kata Kanaya meninggalkan Andini yang masih terisak.
Bryan mencoba mengejar Kanaya, tapi juga tidak berhasil. "Lo nggak apa-apa Din?" tanya Bryan sambil menenangkan Andini.
***
Andini sudah tak masuk sekolah karena seminggu. Hal tersebut sangat mengusik pikiran Kanaya. Tapi karena hasutan dari Deandra, Kanaya tak mau untuk menjenguk sahabatnya itu. Andini masuk rumah sakit, banyak siswa lain yang mengatakan gadis itu sakit keras.
"Ini titipan surat dari temen lo!" kata Bryan menyodorkan sepucuk surat untuk Kanaya.
Kanaya memasukan surat itu ke dalam tasnya, lalu pergi begitu saja. Perasaannya masih begitu sakit saat melihat kedekatan Bryan dan Andini. Jujur, ia masih belum bisa memaafkan keduanya. Biarlah waktu yang akan menentukan kelanjutannya.
"Andini butuh lo sekarang!" kata Bryan sedih, ia mencoba membujuk kekasihnya itu.
"Gue nggak mau ketemu dia, lo paham nggak sih?"
"Lo belum tau yang sebenarnya, ayo sayang temui dia!" kata Bryan menangis sekarang.
Kanaya menemui sahabatnya itu di rumah sakit, semua orang terlihat berkumpul disana. "Nay, lo akhirnya datang juga!" kata Andini yang berwajah pucat, bahkan rambutnya mulai rontok sekarang.
Kanaya terkejut. "Lo sebenarnya kenapa Din?"
"Gue mengidap kanker otak Nay, umur gue sudah nggak panjang lagi!"
Kanaya menitikan air mata. "Lo ngomong apaan sih?"
"Gue minta maaf sama lo, gue sama Bryan nggak ada apa-apa. Ini buat lo!" kata Andini memberikan sebuah album untuknya.
"Andini…." teriak Kanaya saat sahabatnya itu sudah pergi untuk selamanya.
Kanaya membuka lembar demi lembar album itu. Isinya adalah momen dirinya bersama Andini, ada juga foto Kanaya dan Bryan yang sangat mesra. Bahkan kejadian saat minum es waktu SMP juga ada di album foto itu. Air mata Kanaya tak berhenti mengalir. Dia sudah kehilangan sahabatnya sekarang.
"Lo harus bangun Din!" teriak Kanaya histeris, batinnya belum mampu menerima itu semua.
Dikeluarkannya surat dari Andini yang berada di dalam tas. Surat itu dibungkus amplop, dengan pita berwarna merah muda sebagai aksesorisnya. Kanaya tersenyum melihatnya.
Nay, umur gue sudah nggak panjang lagi. Untuk itu maafin gue kalau banyak salah ke lo! Gue punya hadiah sebagai kado ulang tahun lo. Album foto itu akan mengingatkan bahwa gue akan selalu di samping lo, moga hubungan lo sama Bryan akan selalu harmonis. Gue sayang sama lo. Selamat ulang tahun.
Dari sahabat tersayang lo, Andini
Sebuah gambar hati merah muda.
Kanaya masih berduka, keegoisan membutakan mata hatinya. Tapi ia masih punya sejuta kenangan dengan Andini yang harus dijaga. Andini adalah seseorang yang kuat menurutnya, semoga diberikan tempat yang terbaik. Terakhir kalinya Bryan memberikan kado sebuah album lagu untuknya. Namun, itu bukan album sembarangan. Di dalamnya Andini bernyanyi didampingi petikan gitar dari Bryan. Kanaya menangis dalam pelukan kekasihnya saat mendengarkan lagu itu. Lagu tentang perpisahan.
25 Juli 2020