Tepat di sebelah mesin penjual otomatis aku di tinggalkan oleh nya dan tepatnya waktu itu malam hari, dia memang tidak punya hati meninggalkan diriku sendiri di sana, apalagi di sana tidak ada siapa-siapa, hanya suara angin malam dan bisikan daun yang sebagian menerpa jalanan.
Sungguh aku sangat sakit hati merasakan semua itu, aku tidak bisa membalasnya diriku hanya bisa terdiam dan menangis mengingat nya, aku merasa tidak punya harapan lagi, masa depanku sepertinya sudah sampai di sini.
Kakiku pun tidak bisa mengantarkan ku pulang karena memang sudah tidak ada harapan untuk maju, hati ini sangat susah untuk meninggalkannya rasa sakit itu, aku hanya bisa menangis diam di sisi mesin penjual otomatis sambil terduduk kaku.
Memang wajar aku di buang, aku anak cacat yang tidak bisa berjalan, kakiku tidak bisa berlari seperti gadis lainnya, aku juga tidak bisa berbicara, lebih tepatnya aku wanita bisu, namun aku bisa mendengar dan tidak merasakan kalau aku bisu, aku hanya malas saja berbicara, tapi mereka!! hmm, makanya kenapa aku di buang oleh orang tua ku sendiri, aku di biarkan begitu saja di jalanan tanpa bantuan alat jalan, aku benar-benar akan hidup di sebelah mesin penjual otomatis ini sampai aku mati kepanasan, kelaparan, kehausan dan juga penyakitan.
Mungkin sebentar lagi malaikat pencabut nyawa datang untuk membantuku, aku ingin sekali normal seperti orang lain, aku ingin merasa pelukan hangat seorang ibu dan ayah, aku ingin merasakan perhatian mereka, aku ingin mendengar mereka menganggap aku anaknya, namun semua itu hanya sebuah khayalan ku saja.
"Ya Allah!! apakah aku akan sanggup hidup dengan keadaan seperti ini! aku sudah putus asa untuk hidup, aku sudah menerawang nya dari sekarang, masa depanku kelam, masa depan ku tidak ada sedikitpun pencerahan cahaya, aku mau bersama mu saja, ambil saja nyawaku dan tempatkan aku di sisi mu, aku tidak mau merasakan kesendirian lagi" Teriaknya dalam hati, meski tidak terdengar oleh orang namun ada salah satu laki-laki menghampiri nya, dia tahu dengan apa yang sedang Ara rasakan, orang itu menghampiriku dan mengusap pundak ku lalu berkata.
"Sabar"
Seketika aku terhenti menangis dan segera melirik orang tersebut, aku menatap matanya yang penuh ketulusan dan kepedulian terhadap ku, aku mencoba mengungkapkan sesuatu dengan peragaan tangan, aku bertanya!!
"Kenapa kamu bisa tahu dengan apa yang aku rasakan, apakah kamu punya kelebihan yang tidak orang lain punya!!"
Lalu orang itu menjawab dengan gerakan tangan juga, Ara merasa senang melihatnya, ternyata masih ada orang yang mau membantunya, dan peduli terhadapnya, ia terus tersenyum menatap diriku, lalu aku bertanya kembali.
"Apakah kamu asli orang sini!!" Lalu orang itu mengangguk dan berkata dengan peragaan tangan.
"Aku asli orang sini, namun aku baru kesini lagi malam ini, aku tinggal di Jakarta untuk kuliah dan sekarang aku baru lulus, dan aku ingin memberikan kabar bahagia ini Padanya"
"Oh iya perkenalkan nama ku Bara, siapa namamu??"
Sambungnya lagi sambil terus tersenyum dan menjongkok, lalu Ara menjawab pertanyaan itu dengan senyuman juga dan memperagakan lagi dengan tangan.
"Namaku Rara, tapi kakak bisa panggil aku Ara, aku... tidak jadi kak, tidak penting"
"Oh iya, kakak pergi saja takut nanti orang tua kakak menunggu lama di rumah, aku nitip salam aja buat ibu sama bapak kakak" Sambung Ara lalu tersenyum, Bara ikut tersenyum lalu membangkitkan badannya dan tersenyum kembali Ara membalas senyuman itu juga.
"Hati-hati ya kak, makasih sudah mau berkenalan dan berbicara dengan ku" Tersenyum kembali, lalu
Bara segera memasukan buku kedalam tasnya dan membantu Ara bangkit.
Ara terkejut dan hanya bisa mengikuti geraknya, lalu bara menguntap berbicara pada Rara.
"Aku akan membawamu ke rumah ku, aku tahu kamu di buang oleh orang tuamu, karena tadi aku melihat saat kedua orang itu membuang mu di sini, dan kamu tidak usah takut aku akan membuat kursi roda untukmu, karena toko mesin otomatis ini adalah punyaku, jadi kau bisa tinggal di rumahku bukan di luarnya saja, untung saja orang tuamu membuang mu di sini, jadi aku tidak jauh-jauh membantu mu" Ara yang sangat mengerti dengan perkataan itu dia menangis dan tersenyum, lalu memeluknya dengan penuh kehangatan.
Sungguh ini menjadi sebuah pelukan pertama bagi Ara bangkit dari dunia kelam nya, kini dia yakin bahwa dirinya bisa menerjang semua cobaan nya dan bisa mengubah nasibnya.
"Terimakasih ya Allah kau memberi ku jalan untuk lebih kuat hidup, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, aku akan bangkit meski dengan keadaan seperti ini, aku mempunyai salah satu hamba mu yang bisa membantuku hidup, terima kasih sekali lagi, aku akan berbahagia selalu" Gumamnya dalam hati terus memeluk bara, dan menatap bara lalu mengucapkan terima kasih.
.
.
.
.
Tenang saja Allah tidak tidur, jangan pernah merasa sendiri dan tidak punya masa depan, ingat Allah akan memberi cobaan pada hambanya sepadan dengan kemampuan nya, ia yang memberi cobaan dan ia yang akan memberi jalannya lagi.
Seperti dalam cerita ini, Ara sudah merasa putus asa untuk hidup dan meminta pada Tuhannya untuk mencabut nyawa dirinya, namun Allah malah memberikan seseorang untuk menjadi penyemangat hidupnya, dan masih memberi kesempatan dirinya untuk merasakan bahagianya hidup di dunia.
Ingat!! Allah akan memberi cobaan pada hambanya sepadan dengan kemampuan nya, dan Dia tidak tidur untuk terus memantau dirimu di sini.
.
.
.
#TAMAT#