Aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah ketika seorang wanita menarikku ke sebuah gang kecil di ujung jalan. Wanita itu menggunakan pakaian serba hitam dan sebuah topi yang menutupi hampir setengah wajahnya. Aku jadi berpikir bagaimana cara wanita di hadapanku ini melihat jalan di depannya. dilihat dari gerak-geriknya ia tidak tampak mengancam, jadi aku tidak berusaha mealrikan diri. Akan tetapi, aku masih bertanya-tanya mengapa ia menarikku ke dalam gang ini.
Wanita di hadapanku melepas topinya. Wajahnya tanpak tak asing di mataku. Di lihat dari wajah dan postur tubuhnya sepertinya ia berusia 30an tahun.
“Kamu mira bukan?” tanyanya membuka pembicaraan.
“Kamu siapa?”
“Itu tidak penting sekarang, yang terpenting sekarang adalah kamu tidak boleh pulang”
“Mengapa aku harus mendengarkanmu?”
“Karena hal buruk akan terjadi hari ini?”
“Apa yang akan terjadi? Dan bagiaman kamu bisa tau hal yang akan terjadi dalam hidupku?”
Wanita tersebut mengusap wajahnya frustasi.
“Dengar, kamu harus percaya kepadaku. Hari ini pukul 16:13 ibumu akan mati. Akan ada seseorang yang membunuhnya”
“Kau gila”
Wajahnya benar-benar serius. Dia terlihat tidak bercanda ataupun berbohong.
“Mengapa aku harus percaya kepadamu? Kamu hanya orang asing yang tiba-tiba menarikku ke sudut gang dan berkara bahwa sore ini ibuku akan mati. Kamu pikir ini masuk akal? Siapapun yang mendengarnya akan berpikir bahwa apa yang kamu katakan tidak masuk akal. Kecuali, kamu memang merencanakan untuk membunuh ibuku sore ini”
“Banyak hal yang tidak bisa ku jelaskan sekarang. Tapi kau harus mendengarkanku sekarang”
“Sudahlah” aku melambaikan tangan di depan wajah lalu beranjak pergi saat ia memegang pergelangan tanganku erat.
“Setidaknya jangan pulang sebelum jam 16:13”
Aku berusaha menepis pegangannya di pergelangan tanganku, tetapi cngkramannya lebih kuat daripada dugaanku.
“Lepaskan! Atau aku akan berteriak dan melaporkanmu karena berusaha menculikku”
“Kau harus mendengarkanku, kumohon” katanya memohon sambil melepaskan pergelangan tanganku perlahan.
“Maka jelaskan mengapa aku harus percaya kepadamu”
Wanita itu membuang nafas lalu kembali mengusap wajahnya seperti kebingungan bagaimna cara menjelaskan sesuatu.
“Kau tidak akan mempercayai apa yang akan aku katakan”
“Coba saja katakan, maka akan kuputuskan untuk percaya atau tidak”
Ia menghela nafas “Aku adalah kamu dari masa depan”
Kalimat itu membuatku tertawa terbahak-bahak. Apakah wanita ini bercanda? Tapi, sepertinya tidak, karena ia tidak tertawa dan ia menampilkan ekspresi datar di wajahnya. Akupun menghentikan tawaku.
“Kamu tidak berharap anak usia 18 tahun percaya omong kosong ini bukan”
“Aku tidak peduli kau percaya atau tidak atau kamu mengangapku sedang bercanda. Aku hanya berharap kau tidak pulang hingga pukul 16:13 atau kamu akan menyesal”
“Baiklah, kamu sediri yang bilang untuk tidak harus mempercayaimu. Aku tidak percaya dengan semua yang kamu katakan. Terima kasih atas peringatannya dan aku akan pergi”
Aku pun melangkah pergi meninggalkan wanita itu. Wanita itu tidak berusaha mencegahku pergi seperti sebelumnya. Aku menoleh sebelum benar-benar pergi dan berkata.
“Jika ibuku benar-benar akan mati sore ini, bukankah seharusnya aku menolongnya bukan, mencegah agar tidak ada orang yang berusaha membunuhnya”
“Itu bukan suatu hal yang dapat kamu cegah. Dan jika ini membantu, akan kubritahu kau satu hal. Ia akan berada di dapur sore ini, dan di sanalah ia akan meninggal”
Wanita itupun berbalik dan pergi menjauhiku stlah mngatakan hal tersebut. Sedangkan aku masih terpaku menatap punggung wanita yang mengaku sebagai diriku hingga punggungnya hilang di keramaian jalan.
***
15:50
Aku sedang berganti pakaian di kamar tidurku sambil memikirkan apa yang di katakan oleh wanita yang ku temui di jalan menuju rumah tadi. Wanita itu terlihat tidak bercanda sama sekali. Akan tetapi, aku akan terlihat konyol jika percaya padanya. Mana mungkin ada orang yang melakukan perjalanan waktu. Ini bukan cerita sci-fi yang biasa aku baca di novel-novel atau aku tonton di film-film.
Aku berjalan menuju meja belajar dan mengeluarkan buku-buku dari tasku dan menyusunnya di atas meja lalu duduk di kursi di hadapan meja belajar sambil terus melamun. Aku masih memikirkan perkataan wanita berbaju hitam yang kutemui tadi. Jika memang ibuku akan mati di bunuh sore ini tepat pada jam yang di sebutkan oleh waanita itu, siapa orang yang akan membunuhnya? Sejauh yang aku tau ibuku tidak mempunyai musuh. Tidak terlibat dengan suatu geng atau preman. Bukan anggota mafia. Bahkan hidup kita cukup baik dan sangat tidak mungkin jika ibu terlilit utang. Jika harus mencurigai seseorang seharusnya orang yang pertama aku curigai adalah wanita tadi. Karena dia bahkan mengetahui kapan waktu kematian ibuku. Apakah dia berencana membunuh ibuku? Apa hubungan yang dia miliki dengan ibuku dan apa motif yang ia miliki untuk membunuh ibuku. Wanita itu tidak terlihat mencurigakan sama sekali. Akan tetapi, banyak kasus pembuuhan yang di lakukan oleh orang-orang yang awalnya tidak di curigai bukan?
Aku berjalan mondar-mandir di sekitar kamar tidurku masih berfikir keras. Ponselku bergetar memecah lamunanku dari saku celanaku dan berisi pesan dari temanku yang isinya:
“Mir jadi kerja kelompok hari ini di rumah kamu?”
“iya” balasku singkat kepada pesan anneth karena aku sedang dalam mood untuk berbicara panjang lebar.
Kulihat jam di layar ponselku menunjukkan pukul 16:08. Apakah aku harus memeriksa sekitar rumah untuk memperhtikan orang-orang mencurigakan yang mungkin saja akan membunuh ibuku? Aku meletakkan ponselku di atas meja belajar dan berjalan menuju jendela kamarku lalu mengintip keluar rumah. Karena kamarku terletak di lantai atas dan langsung berhadapan dengan halaman depan rumah.
“Tidak ada apa-apa” aku bergumam kecil. aku lantas kembali menutup korden jendela kamarku kembali. Sebelum korden yang berada di tanganku sepenuhnya tertutup tangan berhenti sejenak. Pandanganku tertuju pada seseorang yang mencurigakan yang sedang berada di balik pohon di depan pagar rumahku. Dari gerak geriknya ia terlihat cemas dan menunggu sesuatu. Wajahnya tidak terlihat karena ia berdiri membelakangiku. Lalu dia menoleh kesamping.
“Sial, itu wanita tadi” aku bergumam keras. apakah dia benar-benar berencana membunuh ibuku? Aku segera melepaskan taganu dari korden yang ku genggam dan berlari menuju ke pintu kamar tidurku. Sebelum aku pergi menurunin tangga aku kembali masuk ke kamar tidurku dan mengambil ponselku yang berada di atas meja belajar lalu memasukkannya ke saku celanaku untuk berjaga-jaga apabila perlu menghubungi polisi.
“Buuu” aku berteriak sambil menurunin anak tangga memanggil ibuku.
“Iya kenapa nak?” ibu balas berteriak menjawab panggilanku.
“Ibu di mana?” tanyaku masih berteriak mencari ibu. Aku membuka pintu kamarnya dan ia tidak ada di sana.
“Di dapur, kenapa mir?”
“Sial orang itu benar” pikirku. Dia bahkan tau di mana ibuku akan berada sore hari ini. Dia sepertinya tau apa yang akan di lakukan ibuku sore ini. tapi, bagaimana cara ia bisa tau? Itu tidak penting sekarang aku harus segera pergi menghampiri ibu dan mengajaknya keluar dari rumah ini.
Aku berlari menuju dapur secepat mungkin. Ibu yang sedang berdiri di depan meja dapur dan sedang memotng sepotong daging menatapku heran karena berlarian.
“Kamu knapa lari-lari di rumah seperti di kejar setan?”
“Bu, ibu harus ikut aku sekarang” kataku sambil berjalan menghampiri ibu.
“Kamu kenapa sih? Kamu gak lihat ibu lagi masak?”
“Ibu itu gak penting sekarang” kataku sambil menarik lengan ibu.
“Kamu kenapa sih mira?” ibu melepaskan cengkramanku dan meletakkan pisau dagingnya di pinggir meja. Keningnya berkerut menatapku sambil berkacak pinggang.
“Ada orang di luar sana dia mau bunuh ibu. Katanya dia mau bunuh ibu di dapur ini”
Aku kembali mencengkaram tangan ibu dengan kedua tanganku berusaha menarik ibu keluar dari dapur. Ibu yang heran dengan tingkah lakuku berusaha melepasan diri dari cengkramanku. Terjadilah tarik menarik di dapuer saat ini. aku tidak bisa membiarkan ibuku meninggal di bunuh oleh orang itu.
“Kamu kenapa sih mira” kata ibu sambil berusaha menarik diri dariku.
“Bu, tolong dengarin aku sekali ini aja” kataku belum mengendurkan tarikkanku begitu pula dengan ibu. Tiba-tiba ponselku berdering. Sepertinya dari anneth. Tetapi ku abaikan karena itu tidak penting sekarang. Ponselku terus berdering, pikiranku pecah. Tarikan tanganku ku kendurkan sedangkan ibu masi menarik tangannya keras mealawan tarikkanku sehingga ia terjatuh kebelakang kepaalanya menghantam ujung meja lalu menghantam keras lantai hingga belakang kepalanya mengeluarkan darah. Belum cukup sampai di situ, pisau daging yang tadi ibu gunakan di letakkan terlalu di pinggir meja sehingga ketika belakang kepala ibu meghantam meja yang menyebabkan meja bergetar dan pisau itu jatuh menancap tepat ke leher ibu yang sedang terlentang tak sadarkan diri.
Kejadian di hadapanku benar-benar berjalan sangat cepat. Aku bahkan belum sempat berkedip. Aku berjalan menghampiri ibu yang sudah tidak berdaya di lantai dan berlutut di sampingnya. Ku pegang urat nadi di pergelagan tangannya sudah tidak berdetak. Pun nafasnya sudah berhenti. Kulihat jam di layar ponselku 16:13.
“AAAaaaaaaaa” aku berteriak histeris dan menjatuhkan ponselku lalu tauh terduduk di samping mayat ibuku.
Seseorang masuk kerumahku dan berdiri di ambang pintu dapur. Aku mendonggakkan wajahku. Kulihat wanita bersetelan hitam-hitam yang ku temui di jalan menuju rumah. Ia tersenyum kecut lalu berkata.
“Sudah kubilang untuk tidak pulang sebelum pukul 16:13 dan kau tidak mau mendengarkanku”