Mencintai dalam Diam
Aku melangkahkan kakiku ke lapangan basket. Sekarang waktunya istirahat murid-murid banyak yang pergi ke kantin, tapi aku malah pergi ke lapangan basket untuk melihat dia bermain basket dengan lincahnya. Dia yang aku maksud adalah kakak kelasku sekaligus tetanggaku. Aku mengenalnya sejak kecil. Aku jatuh cinta kepadanya sejak SMA. Yaa...mungkin baru dua tahun.
Namanya AKSA RASYID, lelaki yang kucintai dalam diam. Lelaki yang mampu membuat aku jatuh ke jurang percintaan. Lelaki yang menjadi cinta pertama sekaligus patah hati pertamaku.
‘’Zuraa...aku cariin loh dari tadi, ternyata kamu ada disini. owh lagi ngeliatin kak Aksa yaa’’, kata Raina yang baru datang langsung duduk disebelahku.
‘’kamu masih suka sama kak Aksa? kenapa gak kamu ungkapin aja sih, Ra?’’, lanjut Raina sambil melihat kearah kak Aksa yang sedang mendribbling bola.
‘’Yaa...gitu deh, Na. Nggak tau kenapa aku bisa suka sama kak Aksa. Aku mau ungkapin itu malu, Na. Secara kan aku perempuan loh, Na.’’, kataku.
‘’Yaelah, Raa. Kalau cinta itu diungkapin jangan dipendam aja. Nanti kak Aksanya dekat sama orang lain kamu yang sakit hati, Ra.’’, kata Raina sambil menatapku.
‘’Na, gini ya. Aku lebih baik mencintai kak Aksa dalam diam saja, Na.’’, kata ku sambil tersenyum ke arah Raina.
‘’yaudah deh kalau itu yang kamu mau. Tapi, aku gak mau sahabat ku satu ini sakit hati karena cowo yaa.’’, kata Raina sambil memegang tanganku.
‘’Iyaa siap Raina ku yang cantik.’’, kataku sambil tersenyum menatap Raina.
‘’oiya, ayo ke kantin nanti keburu bel. Nanti nggak jadi istirahat.’’, ajak Raina sambil berdiri dari tempat duduk.
‘’kamu saja, Na. Soalnya aku masih kenyang, hehe.’’, ujarku kepada Raina sambil cengengesan.
‘’yaudah deh. Tahu yang lagi kasmaran mah apa-apa kenyang.’’, kata Raina sembari pergi di hadapanku.
Aku hanya tersenyum mendengar Raina berkata seperti itu. Memang benar aku lagi kasmaran sama kak Aksa.
Saat aku sedang ngelamun ada yang mengagetkanku ternyata kak Aksa yang sedari tadi sudah selesai bermain basket.
‘’Hayo, ngelamunin apa?’’, tanya kak Aksa sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil.
‘’Eh, kakak udah selesai main basketnya.’’, kata ku kaget sekaligus jantungku yang tidak mau diam.
‘’sudah. Baru aja kamu nggak ke kantin?’’, tanya kak Aksa kepadaku.
‘’nggak, kak. Masih kenyang.’’, jawabku sambil tersenyum menantap kak Aksa.
‘’Owh begitu. Yaudah aku ke kamar ganti dulu. Mau ganti baju. Udah sana ke kelas jangan melamun terus.’’, ujar kak Aksa sambil berlalu meninggalkan lapangan basket.
TENG TENG TENG. Ternyata bel sudah berbunyi. Aku segera masuk ke kelas karena pelajaran matematika akan segera dimulai.
Hari terus berganti kesempatan untuk dekat dengan kak Aksa memihak kepadaku. Aku sering berjumpa dengan kak Aksa di awal pagi di sekolah kami. Semakin banyak tentang kak Aksa yang aku ketahui, semakin dalam cinta ini bersemi. Seolah hanya dia satu-satunya yang bisa membuatku terus bermimpi.
Satu hal yang belum bisa kujalani dan seharusnya ini kulakukan sejak lama. Sejak kulihat dia, keberanianku telah membeku bersama rasa yang membuatku merasa cangung untuk menyapanya. Walau ini sederhana, tapi bagiku ini adalah hal yang sangat sulit dan tidak mudah untuk aku lakukan. Aku sadar akan perasaan itu dan aku mengetahuinya jika aku telah jatuh cinta pada sosok kak Aksa Rasyid.
Hari ini aku berangkat ke sekolah dengan perasaan yang sangat senang. Karena, tadi malam kak Aksa menelponku walaupun tanya tentang besok pakai baju apa karena besok adalah hari ulang tahun sekolah dan aku yang menjadi salah satu panitianya. Tapi, biarpun tanya tentang sekolah hatiku tetap merasa sangat senang.
Saat aku baru saja sampai ke sekolah, ternyata di lapangan sudah ramai. Katanya sih ada kakak kelas yang sedang menyatakan perasaan kepada perempuan yang juga teman sekelasnya. Aku langsung ke lapangan melihatnya. Betapa terkejutnya aku saat melihat kakak kelas itu adalah kak Aksa yang aku cintai. Dia sedang menyatakan cinta kepada teman sekelasnya. Rasanya kakiku sudah tidak sanggup berdiri menopang tubuhku. Yaa aku memang terbilang lebay. Tapi, itulah yang saat ini kurasakan. Aku mau marah tapi pada siapa? Aku hanya bisa terdiam di tempat sambil melihat kak Aksa yang sedang berpelukan dengan sosok perempuan yang sekarang menjadi kekasihnya.
Kisah cinta ini berbeda untuk kurasakan. Setelah aku tau bahwa kak Aksa telah mempunyai seorang kekasih, wanita yang istimewa di matanya, wanita yang ia kagumi, yang pada kenyataannya wanita itu bukanlah aku. Hampa dan kosong saat ini saat ini. Aku telah salah, salah karena ternyata kak Aksa sama sekali tak menyadari keberadaanku di sekelilingnya.
Kecewa yang saat ini kurasakan. Aku merutuki diriku sendiri. Mengapa dia tak memberiku kesempatan untuk mendekatinya. Seolah aku hanya datang, terdiam, dan berlalu di hadapannya. Mungkin ini salah, karena aku lah yang tak berani memulainya sehingga ia tak pernah menyadarinya. Tapi, kenapa dia yang tak memulainya duluan? kenapa harus aku? Perasaan ini terus bergulir. Dan ternyata selama ini aku sudah tengelam dalam cinta palsu, ke dalam harapan palsu yang ia berikan. Rasa itu terus menguat, bahwa aku salah menilai perasaan dia pada ku akan sama.
Hancur, lemas yang sekarang kini kurasakan. Namun, aku harus bisa menerima kenyataan pahit ini. Harapan untuk bisa menggenggam tangannya dan bersamanya seperti wanita yang bersamanya itu, dan mimpi yang memudar karena mimpi meraih hatinya tidak bisa ku teruskan.
Putus cinta emang sakit, tapi mencintai dalam diam lebih menyakitkan. Karena kita gak bisa ungkapkan perasaan langsung, dan kita lebih merasa lebih baik dipendam, daripada kalau diungkapkan malah lebih menyakitkan.
‘’Zura, kamu yang sabar yaa. Mungkin kak Aksa bukan jodoh kamu.’’, ucap Raina yang menguatkan ku, dia sedang duduk disebelahku memegang tangan ku.
‘’Iyaa, Na. Mungkin sampai sini saja aku mencintai kak Aksa dalam diamku.’’, ucapku seraya tersenyum menyembunyikan rasa sakit ini.
‘’zuraa dengar aku. Kamu bisa mendapatkan laki-laki yang mencintai kamu dengan tulus. Dan aku yakin laki-laki itu jauh lebih baik dari kak Aksa.’’, ujar Raina dengan senyum yang menguatkanku.
‘’Iyaa, Na. Aku percaya itu. Makasih ya kamu selalu ada.’’, ujarku sambil tersenyum menatap Raina.
‘’Ra, kita kan Best friend forever jadi kita harus menguatkan satu sama lain. Okk. Jadi, kamu jangan sedih lagi ya, karena masih ada aku yang selalu ada disamping kamu.’’, ucap Raina.
‘’Aduh, Na. Aku mau nangis tau. Tarharu kamu baik banget.’’, kataku sambil mengelap air mataku yang sudah jatuh.
‘’ih, Zura. Jangan nangis dong. Aku juga mau nangis jadinya.’’, ujar Raina sambil memelukku.
Walaupun aku tak beruntung soal cinta, tapi setidaknya aku beruntung mempunyai sahabat seperti Raina yang baik dan yang selalu ada saat sahabatnya kesulitan maupun dalam keadaan yang menyedihkan. Selamanya akan aku jadikan RAINA sahabatku,sahabat terbaikku.
Setidaknya sekarang aku bisa bahagia karena kak Aksa menemui wanita yang dia cintai, walaupun wanita itu bukanlah aku. Bagiku mencintai kak Aksa dalam diam itu menyenangkan. Karena, dari sini aku belajar bahwa cerita cintaku tidak seperti di novel-novel yang selalu berakhir bahagia.
‘’Sampai detik ini, setidaknya aku tau bagaimana rasanya mencintai dalam diam dan memendam perasaan rindu sendirian.”, ucapku lirih yang pernah mencintai dalam diam.