Lagi-lagi mereka mengatakannya.
"Lihatlah si pintar ini!"
"Haha! Kau luar biasa!"
"Hey, bagaimana kau bisa melampaui batas mu?"
"Dia tidak mungkin gagal."
Omongan yang menjijik kan. Selalu ada niat dibalik perkataan mereka. Tak pernah ada yang tulus memberi pujian. Setidaknya aku bersyukur karenanya,
Aku bebas dari tuduhan tak mengenakan beberapa minggu silam.
~~~
"Satu, dua dan... ya! Pas sekali!" Kataku.
Luka lama atau luka baru. Yang kupilih adalah tidak keduanya. Kenapa harus memilih sebuah luka sementara kita bisa memindahkan luka itu pada si lemah?
Kami tertawa setelah memotret seonggok manusia penuh lebam sana-sini. Buku robek dan baju yang basah di sekujur tubuh. Menginjak-injak tasnya yang kini rusak parah.
Itulah kesenangan kami.
Mengapa tidak?
Ini seperti kami menginjak-injak segala masalah dalam hidup kami. Kesenangan ini tidak boleh kami lepaskan. Jikalau tidak, mungkin kita akan menjadi si lemah ini.
"Sayang~ mari kita bersenang-senang besok!" Kataku menarik dagunya dengan keras dan melemparnya pun dengan keras.
Seperti sampah. Kami pergi meninggalkan keseruan kami disana. Tidak akan ada yang tahu. Tidak akan ada yang membela. Tidak akan ada yang mau ikut campur. Seperti kehidupan normal lainnya.
"Kau apakan buku murahan itu?" Tanya rekan ku.
"Tebak saja. Kau tahu apa yang kupikirkan bukan?" Aku menggoyang-goyangkan buku itu dekat wajahku. Seringai di wajah kami tak henti-hentinya menampakkan diri.
Perpisahan kami untuk pulang kerumah dimulai dari terminal bus, lalu stasiun kereta api dan terakhir pada gang yang berbeda. Kami berempat memiliki keluhan yang sama.
Keluarga yang paling dibenci.
Maka dari itu, target si lemah akan terus melayang padanya. Tidak tergantikan.
"Aku pulang." Kataku dan menutup pintu.
Barang yang berserakan, setiap celah penuh sampah, teriakan yang memekik telinga. Ya.
Aku pulang.
Tidak ada sambutan. Sudah pasti. Langkah ku menuju tangga terhenti ketika pecahan kaca mengenai tembok. Tepat di depan wajahku. Atau hampir mengenai wajahku.
"Hey! Kau!" Aku tidak berbalik dan memasang telinga baik-baik. "Katakan padanya, kau sekolah dengan bai-- Aahhk!!"
Diam, lalu sedikit melirik dengan datarnya kepedulianku.
"Hah... dia anak kebanggaan. Jadi jangan berteriak seperti itu padanya!!" Pria bersuara lebih keras itu lebih memekik telingaku saat ini.
Wanita itu meringis kesakitan. Rambutnya dijambak sekeras yang biasa pria itu lakukan. Jadi kenapa selalu terasa sakit? Otot yang terlihat atletis itu duduk di atas sofa butut.
Pria berusia kepala tiga atau tiga puluh tahunan itu adalah ayahku. Wanita yang ia jambak rambutnya adalah ibu tiriku.
Kehidupan yang manis dalam pandangan iblis.
"Aku masih memeliharanya bukan karena tiada untung. Sebentar lagi usianya delapan belas tahun. Hargai dia sedikit." Pria itu menghisap rokoknya sementara aku masih diam disana. Memasang telinga kuat-kuat.
"Aku masih belum mencicipinya."
Melangkah secepat mungkin dan membanting pintu dengan keras. Aku melempar tasku ke lantai dan tubuhku ambruk di ambang pintu.
Jantungku berdegub kencang. Hampir saja aku mengeluarkan air mata. Untuk apa aku menangisi bualan menjijikan itu? Sungguh aku tidak tahu. Apa keberadaanku sudah membuatnya terangsang? Semoga tidak.
Tidak!
"Ha... fuck!" Aku memukul pintu dengan keras.
Setelah tenang, aku menyalakan lampu kamar. Kini malam mendingin seketika. Hujan pun turun deras sekali. Ruangan lain boleh berantakan. Namun tidak dengan kamarku.
Cukup rapi sebenarnya. Piala berjejer diatas meja belajar. Mulai dari bahasa, ilmu pengetahuan hingga kesenian. Medali lainnya kugantung ditempat khusus.
Tapi, apa gunanya semua itu?
Tangan ku membuka lembaran buku. Mataku hanya menjelajah. Murahan sekali. Bahannya saja keras tak beraturan. Buku si lemah yang aku pegang tak se-level dengan notebook kecilku yang paling murah.
Kebiasaanku memang mengambil dan menyalin. Lalu membakarnya. Tulisan ini terlalu rapi untuk guru-guru murahan di sekolah. Sebenarnya dia jenius. Hanya saja lemah dan tidak berdaya.
"Tapi... aku suka aromanya." Aku memeluk erat buku itu.
Rahasia yang tidak mungkin aku bagikan pada siapapun, aku curahkan pada malam itu.
Ironis nya, dia seorang pria yang diganggu satu sekolah. Karena kuasaku, sekarang hanya aku yang bisa memilikinya. Hanya aku.
"Tapi, bisakah secara normal?" Kilat-kilat petir menyambar. Membuatku refleks melihat ke jendela.
Jantungku kembali kembang kempis. Dilihatnya bayangan sosok manusia mengintip dari jendela. Spontan aku berteriak dan jatuh dari kursi.
"Sayangku! Ada apa?!" Suara itu menyusul setelah derap kaki menaiki tangga.
"Diam kau bren****!!" Teriak ku.
Kuyakin ayahku berdiri disana. Bersandar di pintu. Aku hanya tak menduga bahwa dia, ibu tiriku ikut naik dan berkata untuk apa peduli padaku sementara aku akan dijual tahun depan.
"Diam! Atau kau akan membuatnya mimpi buruk." Ayahku berbisik meski masih terdengar. "Atau kau bisa tidur bersamaku. Jika kau ingin. Ays~ di ranjang yang sama!" Lalu suara tawa menggelegar dan menjauh dari pintu.
Benar. Ayahku se-bren**** itu. Kalian tak salah dengar.
Aku membuka jendela. Hujan masih menemani. Dan bagaimana sosok bayangan itu menghilang? Ini lantai dua. Aku menelusuri bagian-bagian yang mungkin bisa menjadi tumpuan.
Mudah di tebak.
Esoknya aku melakukan hal yang sama. Satu perubahan muncul dalam benak ku. Kemana Lita? Aku menanyakan nya pada Heni dan Niva. Mereka hanya tahu bahwa bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan.
Mereka bercerita seakan hanya basa-basi. Mereka memang bukan teman. Hanya rekan senasib. Bisa dingin satu sama lain.
Esoknya Niva menghilang. Tidak ada yang tahu kabarnya lagi. Tapi, Heni dan aku berasumsi kalau dia kabur dari rumah.
"Bukankah aneh?" Kata Heni.
"Apa?" Aku bertanya-tanya.
"Dia waktu itu... tersenyum."
"Apa maksudmu?" Tanyaku tak mengerti.
"Lupakan. Bisa jadi diantara kita berdua, salah satunya hilang. Atau lebih buruk lagi," dia menelan ludah. "Terbunuh." Sambungnya.
Aku hanya mengelengkan kepalaku dan pergi meninggalkan dia sendiri di tengah koridor yang suram. Lalu dia menyusul lagi dengan tubuh gemetar hebat. Mengigit bibirnya sendiri dan melihat sekeliling.
Saat Heni pergi. Hanya aku seorang yang tinggal di stasiun. Aku hanya duduk dan memainkan ponselku. Aku memilih jadwal terakhir agar tidak pulang cepat. Saat kereta api berhenti aku melihat sosok aneh.
Tak hanya aneh, tapi tak membuatku tertarik. Suara pemberitahuan pun menyala dan kereta berjalan.
Duduk di bangku kereta api sebenarnya kurang mengenakan. Kalau saja aku punya earphone atau backphone. Mungkin aku tak mengeluh seperti sekarang.
Sosok itu mendekat. Hanya aku yang tak peduli. Begitu seterusnya dari menit ke menit.
Sampai,
"Tidak bisa ya, kalau mengembalikan apa yang bukan milikmu?" Sosok itu berbicara.
Aku menoleh dan memperhatikanya yang masih berdiri.
Dia mendekat. Dan mendekat tepat di depanku. Saat hendak berdiri dia malah menahan bahuku dan mengeluarkan senjata tajam.
Pisau yang mengarah ke leherku.
"Kembalikan buku itu sebelum tengah malam." Katanya. Dia membuka penutup kepala-hoodie-nya dan aku melihat mata yang dingin.
Sial, bibir itu sungguh menggoda.
Tanpa aku sadari, aku memberontak dan memeluknya. Sangat erat sampai mencium nafasnya melalui bibir lembut itu.
Kupikir aku sudah gila. Hanya karena aromanya.
"Kuharap kau tidak menanyai lagi buku itu. Ciuman juga ada harganya." Kataku dengan nada bangga.
Gila! Dasar kau gila!
Saat kereta berhenti aku berjalan santai meninggalkan si lem-- maksudku, si penagih hutang yang masih diam termangu.
~~~
"Aku... pulang..." tanganku menutup mulut agar tidak berteriak setelah memegang kenop pintu.
Tubuh kaku, bersimbah darah dan kulit pucat. Mayat, apakah seseram ini? Ibu tiriku meninggal seperti jatuh dari tangga.
Lari. Aku merasa ingin muntah. Tidak mungkin dia mati jatuh dari tangga. Dan lagi, ini tengah malam. Pasti ulah pria itu.
Pasti!
Aku menghampiri meja belajar. Gemetar dan jantung serasa ingin keluar dari tempatnya. Tapi yang kudapat bukan ketenangan, jari manis milik mayat tadi disimpan di atas buku. Darahnya masih segar.
"Hey... hik... kau yang membunuhnya, kan...?" Tanya suara dari seberang pintu.
"Jawab...!" Pria itu masih cegukan berkali-kali. "Cepat jawab!" Dan menggedor pintu.
Aku mundur ke arah jendela. Petir menyambar kembali. Menutup telinga dan meringsut tak bergerak. Itulah diriku dikala panik. Lalu pintu terbuka.
Cih, sial! Aku lupa mengunci pintu.
"Sekarang kau... hik... seorang pembunuh... hik... kemarilah... hik... maka aku tidak akan melapor~ hik..." dia merentangkan tangannya dan yang satu memegang botol alkohol.
Diam. Diam!
Aku menutup mataku. Berharap dia menghilang saja! Berapa kali dia kerap melecehkan ku? Berkali-kali.
Berkali-kali!
Praang...!
Aku mendengar jendela pecah. Saat aku melihat, sosoknya membelakangiku. Sang penyelamat? Terlalu dini untuk memutuskannya.
Tapi, dia memang menyelamatkan ku. Kukira dia lemah. Hasilnya, dia mendapat pukulan botol kaca dikepalanya.
"Kenapa...?" Tanyaku sementara dia mengulurkan tangannya.
Ayahku mati saat mabuk. Sungguh mengaharukan.
"Hah... membosankan kalau tradisi disekolah yang dibully harus pria dengan pria dan wanita dengan wanita, kan?" Aku menerima uluran tangan itu.
"Karenamu, hari-hariku penuh warna. Tidak bisa ya, kalau memiliki ku secara normal?"
Aku hanya menjawab,
"Aku menolak," Aku melempar buku miliknya ke wajahnya. "Ini. Karena buku ini aku harus merepotkan si lemah ini." Sambungku.
Dia tersenyum. "Ambil saja. Aku hanya perlu dirimu." Katanya. Dan dia jatuh tak sadarkan diri.
Tidak. Kaulah yang seutuhnya milikku.
Memang tidak sia-sia aku membawa tugas rumahnya.