Kisah seorang anak laki-laki yang datang dari masa depan, kisah seorang anak yang ingin menyelamatkan kisah cinta antara kedua orang tuanya dan cinta pertama ayahnya di masa lalu.
Ting... Tong... ( Suara bell rumah berbunyi) seorang anak laki-laki tampan, berumur 15 tahun yang datang dari masa depan sedang berdiri di depan pintu rumah ayahnya.
Ceklekk...
" Maaf mau cari siapa dek?" Tanya seorang pria
"Ayah... Ini aku, Sakti. Anakmu dari masa depan" ucapnya
Bima yang kaget dengan ucapan bocah laki-laki tersebut hanya mengernyitkan alisnya. Bagaimana bisa jaman sekarang ada orang mengaku datang dari masa depan, Ini sudah jaman modern pikirnya.
"Benarkah..???" Tanya Bima dengan wajah yang penasaran. Bima pun menyuruh Sakti untuk masuk kedalam rumahnya.
Bima yang masih bingung dan juga penasaran menyuruh Sakti untuk menceritakan kisahnya.
" Iyah ayah, aku adalah anakmu dari masa depan..." Ucap Sakti dengan wajah yang sendu
" Lantas... Siapa yang menjadi istriku di masa depan? Tanya Sakti
" Mami Dara, dia yang akan menjadi istrimu..." Mendengar ucapan Sakti membuat hati Bima menjadi berbunga bunga. Pasalnya, Dara adalah wanita yang sangat dia cintai. Ya, Dara adalah cinta pertama Bima.
" Benarkah begitu? " Tanya Bima
Sakti hanya mengangguk.
" Ayah, aku ingin bertemu dengan tante Jesi dan tinggal bersama dengannya"
" Kenapa kamu tidak tinggal disini saja? Kamu kan anak ayah, kenapa harus tinggal dengan tante Jesi?"
" Di masa depan tante Jesi terbaring koma cukup lama karena suaminya yang tidak peduli dan jahat dengan dia dan anaknya" Ucap sakti sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar pernyataan anaknya, Bima langsung meradang. Bagaimana bisa sahabat baiknya dari kecil harus bernasib buruk dan mempunyai suami yang begitu kejam.
" Kau tenang saja, tidak ada yang menyakiti tante Jesi, ayah yang akan menjaganya."
Sakti hanya tersenyum mendengar ucapan ayahnya. Sakti berharap ucapan ayahnya akan benar-benar ia pegang. Mereka berdua pun bergegas ke rumah Jesi dan sampai di sana, Bima dan Sakti menceritakan semuanya.
Awalnya Jesi tidak percaya dengan ucapan Bima tapi saat Sakti yang menjelaskannya ada rasa yang tidak biasa, dia seolah mempunyai ikatan batin dengan anak itu, Jesi melihat bahwa wajah Sakti mirip dirinya dan ada campur Bima. Mungkinkah anak ini adalah anaknya? Tapi itu tidak mungkin, sebab yang Sakti katakan bahwa dimasa depan Bima yang akan menikah dengan Dara bukan dirinya.
Hari berganti hari, sudah satu minggu Sakti menginap dirumah Jesi bahkan Sakti juga meminta untuk tidur dengan Jesi dan memangil Jesi dengan sebutan Mama. Tepat di akhir pekan, Jesi, Bima dan Sakti pergi ke pasar malam.
Meraka bertiga menghabiskan waktu bersama layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia dan harmonis. Saat Jesi pergi ke toilet, Bima bertanya pada Sakti kenapa dia memanggil Jesi dengan sebutan mama dan bukan tante. Sakti menjawab bahwa di masa depan dia juga memanggil Jesi dengan sebutan mama bukan tante. Bima pun hanya menganggukkan kepalanya dan paham. Singkat cerita setelahk puas bermain mereka memutuskan untuk pulang tak lupa Bima mengantar Jesi dan Sakti dulu.
Pagi harinya Sakti bangun terlebih dahulu. Ia mencoba membangunkan Jesi yang masih terlelap. Tak butuh waktu lama untuk membangunkan Jesi, Sakti pun berkata pada Jesi bahwa waktunya akan segera habis, dia harus pergi.
" Ma... Waktu aku sebentar lagi habis. Saat ayah dan mami Dara menikah aku harap mama ga dateng. Karna itu hanya akan membuat hati mama hancur. Maafkan aku yang tidak bisa menyatukan cinta mama dan ayah meskipun aku tau mama sangat mencintai ayah..." Mendengar ucapan Sakti, tubuh Jesi bergetar dan air matanya tiba-tiba mengalir deras di pipinya. Ya, Jesi mencintai Bima tapi Bima tidak sadar dan menganggap dirinya hanya sahabat tidak lebih dari itu.
" Ma.... Aku pamit yah... Aku ingin kerumah ayah dulu sebelum pergi. Ada hal yang ingin aku katakan padanya, semoga mama bahagia dan pilihlah lelaki yang menyayangi mama, yang peduli dengan mama... Sakti sayang mama, semoga mama bahagia di kehidupan selanjutnya..." Jesi memeluk Sakti dengan sangat erat, meskipun sampai saat ini Jesi belum tau Sakti anak Bima dengan siapa tapi mendengar ucapannya semakin membuat hati Jesi hancur.
Jesi ingin mengantar Sakti kerumah Bima tapi Sakti menolak dengan alasan dia tidak ingin melihat Mamanya menangis begitu terisak untuk terakhir kalinya. Sakti mengecup kening Jesi cukup lama. Dan akhirnya dia pamit. Sesampainya di rumah Bima, Sakti pun mengungkapkan tujuannya. Dia berpamitan dengan Bima karena memang waktunya tidak banyak lagi.
" Yah... Aku harap ayah bisa memegang ucapan ayah untuk selalu menjaga Mama Jesi. Aku tidak mau melihat Mama Jesi koma karena suaminya...dan semoga di masa depan kita bisa bertemu kembali.." ucap Sakti
" Aku akan memegang ucapan ku, aku akan menjaganya, aku berjanji. Lantas kenapa kamu bilang seolah-olah kita tidak bertemu di masa depan? Bukankah kamu adalah anakku? " Jawab Bima
" Meskipun aku anakmu di masa depan tapi belum tentu kita bertemu ayah... Maafkan aku harus segera pergi... Jaga diri ayah baik-baik. " Bima memeluk Sakti tak kalah erat dengan pelukan Jesi. Bima hanya mengikhlaskan Sakti untuk pergi.
" Aku harap di masa depan kita bertemu kembali, Nak. Ayah sayang sama kamu..."
Sakti melepas pelukannya dan segera pergi meninggalkan Bima. Bima hanya bisa menatap kepergian anaknya.
***
"Maafkan aku berkata begitu ayah, karena aku adalah anakmu dengan mama Jesi, aku adalah anak yang kamu buang dan kamu adalah penyebab mama Jesi koma karena kamu berselingkuh dengan mami Dara. Aku berkata begitu agar kamu segera menikah dengan Mami Dara bukan dengan Mama Jesi tak apa meskipun kelak aku tidak lahir di dunia, setidaknya aku sudah menyelamatkan Mamaku ~"
"Pada akhirnya kita berada dijalan masing-masing. Kamu dengan cintamu dan aku dengan rasa sakit ku." ~ Jesi
End....