Seorang pria bernama Dio menaiki motor sportnya menuju warung dimana teman-teman nya biasa bermain game dengannya. Pagi itu, pagi yang cerah dan penuh energi untuknya. Dia melajukan motor hondanya ke pekarangan rumah Bu Watik. Rumah itu hanya berisikan beberapa jenis es saset, gorengan dan juga sambungan Wi-Fi di rumahnya.
Bu Watik punya anak bernama Amelia. Dia sering membantu ibunya saat menjual es dan gorengan itu. Terkadang Amelia meminta temannya membantunya. Tentu saja akan ada upahan saat melakukan itu. Ami adalah nama temannya. Walaupun ia tak meminta upah sedikitpun, tetap saja Bu Watik dan Ami tak enak hati padanya karena saking tulusnya dia kepada mereka.
Saat sedang mengerjakan tugas kampus bersama, dia mampir untuk mengerjakannya bersama Amelia. Namun, hal ini sangatlah jarang terjadi sehingga Dio tak pernah tahu kalau Amelia punya teman seperti Ami. Ami pun hanya membantu di warung Bu Watik jika selesai mengerjakan tugas bersama.
"Ami! Masuk ke dalam yuk! Ngabarin ibunya nanti aja kalau udah didalam!." Unar Bu Watik yang keluar menyambut Ami.
"Iya Bu Watik! Ini Ami beresin motornya dulu!." Ucapnya sembari tersenyum dilanjutkannya dengan memarkirkan motornya di tempat.
Bu Watik serta Ami masuk ke dalam warung yang luas itu. Namun, tak didapatinya seorang Amelia disana. "Buk? Amelnya kemana?." Tanyanya pada Ibu Watik yang sedang membuat mendoan.
"Oh! Palingan juga lagi mandi, Ami! Kamu sering-sering kesini dong, Ami! Temenin si Lia gitu! Itu anak sering ngebantah kalo dibilangin! Kalo ada neng Ami kan nggak akan berani!." Jawab Bu Watik yang masih disibukkan dengan tempe mendoan yang dipesan beberapa pelanggannya. Sementara yang diveri jawaban hanya ber oh ria.
"Ohiya, Ami! Bisa tolong bantu ibuk nggak ya? Soalnya ini banyak yang mesen mendoan anget! Tolong buatin es marimas jeruk ya, nanti anter ke meja yang sana! Tanya aja siapa yang pesen!." Bu Watik yang super sibuk itu menjelaskannya dengan tergesa-gesa. Namun, Ami yang orangnya pengertian segera melakukannya tanpa ba-bi-bu.
Dia sudah membuat marimas jeruk itu di gelas, lalu berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh Bu Watik. Dia melihat pria yang tak lain adalah Dio yang sibuk bermain game. Ia terpana melihatnya. Namun, segera ia mengalihkan pandangannya.
"Maaf! Disini siapa ya yang pesen marimas jeruk?." Tanyanya kepada mereka-mereka yang duduk di satu sofa itu.
Pria yang ada di tengah menoleh dan mengatakannya, "Oh? Es jeruk ya? Itu tuh! Yang di sofa tunggal!." Ucapnya.
"Woy! Kalo ditanya orang tu jawab! Tu pesenan lo dan nyampek!." Ucap pria itu lagi.
Ami beralih ke manusia yang duduk di sofa tunggal itu. Ia segera mendekat tanpa melihat kearah orang itu. Namun, saat itu ternyata Dio hendak berdiri namun masih fokus pada gamenyadan membuat keduanya tertabrak. Gelas yang dibawa Ami pun tumpah ke tanah.
Ami membelalak melihatnya. "Aduh! Maaf, maaf!." Ucapnya sembari menyatukan tangannya pertanda maaf.
Dio yang awalnya sangat fokus mengalihkan pandangannya pada orang yang ia tabrak. "Manis!." Gumamnya dalam hati.
"Ini? Itu es jeruk?." Tanyanya kepada Ami yang hanya dibalas anggukan.
"Aduh!! Yaudahlah! Nggak papa! Nanti beli lagi!." Ucapnya sembari duduk kembali dan tersenyum kepada Ami.
Ami yang tak enak hati berinisiatif untuk menggantinya. "Ehh, aku buatin lagi ya? Nanti aku yang bayar!." Ucapnya pada Dio.
Dio kembali mengalihkan pandangannya dari ponsel genggam miliknya. Dia tersenyum. "Enggak! Nggak usah! Nanti aku beli sendiri!." Ucapnya.
"Beneran? Atau gimana kalo aku tambahin gorengan?." Tanya Ami yang ternyata kokoh pada pendiriannya.
Dio yang mendengarnya pun langsung mengizinkannya karena tak ingin membuat masalah lebih lanjut. Ami tersenyum senang mendengarnya. Ia segera kembali dan membawakan apa yang ia janjikan tadi.
"Ini es jeruk sama gorengannya!." Tukasnya saat meletakkan dua barang itu. Ami menoleh sekilas ke arah Dio, dan saat itu ternyata Dio sedang meliriknya dan tersenyum. Rona merah yang tak tahu kapan datangnya itu ada di pipi Ami saat ini. Amu segera pergi dari sana dan menuju ke kamar Amelia.
Dio yang ditinggalkannya sendiri tersenyum tipis di sofa. "Kayak Siti Aisyah ya? Pipinya merah! Berarti, Humairah!." Gumamnya dalam hati.
Kejadian ini tak mungkin dilupakan Dio begitu saja. Sepanjang jalan Dio selalu mengingat momen ini sembari tersenyum. Tak terasa, sudah sekitar setengah bulan ia tak melihat gadis yang mengisi hatinya lagi di warung itu. Dio memarkirkan motor sport miliknya di depan warung. Dilihatnya motor Ami yang hanya ia lihat sekali saja namun sangat melekat diingatannya itu ada di depan warung Bu Watik.
Dio lebih sering pergi ke warung Bu Watik setelahnya. Bermain game adalah tujuan utamanya, sedangkan Ami adalah tujuan keduanya. Setidaknya jika tidak bertemu dengannya bisa berkumpul dengan temanku kan? Mungkin itu yang dipikirkannya.
Sama halnya dengan kali ini, Ami berada di rumah Amelia. Dia masuk ke dalam kamar Amelia dan berbicara kepadanya di dalam sana.
Dio tersenyum sumringah melihatnya. "Akhirnya aku bisa melihatmu lagi, My Humairah!." Gumannya dalam hati.
Dio memesan satu gelas es marimas, lalu segera mengambil Voucher Wi-Fi nya. Tak lupa juga membayar apa yang ia beli itu. Dio segera login dan memainkan game yang sedang famous itu bersama teman-temannya. Sebenarnya ada tujuan lain dia kemari. Dia ingin melihat si gadis berhijab, Ami. Gadis berparas manis dan berlaku sopan pada semua orang.
"Udah selesai tugasnya, Mel?." Tanya Ami di dalam kamar Amelia.
Kamar Amelia dipenuhi dengan yang namanya poster dari negeri ginseng yang sedang ia sukai akhir-akhir ini. Walaupun penuh dengan poster kamarnya tetap terawat dan rapi. Ada lampu kelap-kelip yang dipasangkan disana membuat poster itu semakin indah.
"Udah! Ini lagi diberesin!." Jawab Amelia sembari mengemasi buku-buku yang berserakan di meja.
"Sini kubantu!." Pintanya dengan lembut dibarengi dengan tangannya yang sama-sama sibuk mengemasi buku.
Tak lama setelah itu mereka keluar dari dalam kamar. Mereka melihat ada Dio disana. "Tuh Mi! Ada yang udah kangen tuh!." Amelia menggodanya hingga pipinya memerah.
"Ihh! Amel! Jangan gitu ah!." Ucapnya sembari menutupi wajahnya dengan tangan.
Amelia cekikikan melihat tingkah Ami yang satu ini. Dia sangat senang ketika menggoda Ami, apalagi saat ada Dio disana. Akan dipastikan wajahnya seperti udang rebus.
Amelia berinisiatif mengajak Ami untuk membantunya. Ditariknya tangan Ami, lalu segera meminta Ami melakukan ini itu. Tak lupa juga ia memjnta Ami mengantarkan gorengan pada Dio.
"Tuh! Anterin ke sana! Tanya aja yang pesen siapa!." Ucapnya sembari menyodorkan semangkuk gorengan yang sudah diberi bumbu serta saus. Ami menganggukkan kepalanya dan segera menarik lembut mangkuk itu dari tangan Amelia.
Dia segera bergegas kesana dan menghentikan langkahnya tepat di depan sofa yang digunakan Dio. "Maaf, yang pesan gorengan siapa ya!?". Tanya Ami dengan lembut.
Dio menoleh kearahnya dan tersenyum senang. Dia segera mengalihkan pandangannya pada game itu kembali, "Aku yang pesan! Taruh saja di mejanya!." Ami menaruh mangkuk itu di meja sesuai permintaan Dio. Dia segera berbalik dan hendak pergi. Namun,
"Terimakasih My Humairah!." Pekiknya dengan tersenyum senang namun tetap tak mengalihkan pandangannya dari handphone nya.
Ami membelalakkan matanya saat itu juga. Dia mempercepat langkahnya dengan dadanya yang berdetak tak beraturan. "Aaa! Bisa pingsan aku lama-lama disini!." Ucapnya sembari melangkahkan kakinya lebih cepat.
Teman main Dio yang mendengarnya pun membelalak tak kalah terkejutnya dengan Ami. Mereka bahkan menghentikan kegiatannya hanya untuk menanyakan apa maksud dari ucapan Dio itu. "Ha? Di, Lo jadian sama Ami? Kok kita ngga tau!." Ucap salah seorang temannya.
Dio hanya santai saja menanggapinya. Dia meletakkan ponselnya di meja dan mengambil semangkuk gorengan yang dibelinya itu. "Enggak tuh!." Ucapnya sembari menyantap gorengan lezat yang ada di genggamannnya.
Temannya yang bingung lantas saling melirik dan bergidik bahu. Mereka kembali menatap Dio dengan tatapan menyidiknya ditampah juga tatapan pongah ketidak tahuannya.
"Terus? Kenapa Lo manggil dia kayak gitu? Lo suka sama dia?." Tanya salah satu temannya kembali.
Dio memakan habis gorengan itu, tak lupa pula menjilat saus yang ada di ujung bibirnya. "Kalo iya kenapa?." Tanyanya dengan santai. Semua temannya yang ada disana membelalak tak percaya saat Dio mengatakan itu dengan entengnya. Mereka kembali dengan aktivitas yang tertunda itu. Kembali bermain game online.
*****
Setelah kembali, Ami duduk di sofa panjang yang dijadikan alas bokongnya Amelia. Ia pun ikut duduk di sebelah Amelia. Wajahnya yang merah seperti udang rebus itu kembali terlihat saat Amelia menggodanya kembali.
"Cie ciee! Udah berapa bulan tuh! Kok udah dipanggil Humairah aja! Itu kan panggilan sayang!." Godanya pada Ami. Ami lantas memukul bahu Amelia dengan lembut.
Dia terlihat kesal dengan ucapan Amelia. "Jangan ngomong gitu kenapa sih? Mungkin dia ngga sengaja!." Elaknya dengan gugup.
"Eleh! Ngga sengaja darimana? Orang jelas-jelas tadi dia teriak kok!." Amelia.
Tak lam kemudian, Dio berteriak meminta dibuatkan es marimas agar tenggorokannya tidak kering. "Amel! Buatin es ya? Kayak biasanya!." Teriaknya dari sofa yang terletak agak jauh dengan sofa Ami saat ini.
"Iya!." Teriak Amelia tak kalah kencang dengan Dio. Amelia beranjak dari duduknya dan segera membuatkan Dio segelas es marimas.
Ia hendak memberikannya kepada sang customer, namun tak jadi karena, "Mel! Buatin extra jozz dua gelas ya! Cepetan!." Ucap salah satu orang yang duduk di sofa lainnya pula. Amelia melimpahkan tugas pertamanya itu pada Ami. Dia segera menarik tangan Ami dan memberikan segelas es itu padanya.
Ami mengeriyit kan dahinya,"Aku?." Tanyanya.
"Iyalah kamu! Siapa lagi?." Tanya Amelia disambungnya dengan membuat extra jozz untuk pelanggan lainnya.
Dengan kaki yang bergetar dan hati yang pasrah ia menghampiri Dio dan meletakkan gelas itu di depan Dio. "Mel! Pulang dulu ya?." Ucapnya sembari melangkahkan kakinya untuk keluar namun segera dicegat oleh Dio.
"Tunggu!." Dio.
Ami menoleh ke asal suara dan segera memalingkan wajahnya. Dia mebghentikan langkahnya dan berbalik menghadap pria itu. "Ada apa!." Ucapnya sembari memperhatikan dinding.
"Boleh kenalan?." Dio.
"Aku Dio!." Dio.
"Siapa namamu? Humairah?." Dio.
Ami sangat malu dengan tuturan dari Dio itu. Terlihat pipinya yang sudah memerah lagi setelah itu. Ami enggan menjawab pertanyaan Dio karena takut akan membuat hatinya semakin berdebar. Namun, bukan Dio namanya kalau tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau.
Dia tersenyum miring melihat tingkah Ami itu. Dia segera membuka suaranya lagi. "Wah! Ternyata julukan Humairah sangat cocok denganmu ya?." Ucapnya sembari tersenyum.
"Lihatlah! Pipinya selalu memerah walaupun tidak diberi make up!." Mendengar ucapan Dio itu, membuat Ami menutup matanya kuat-kuat dan segera membukanya kembali.
"Ami, namaku Ami!." Ucapnya sembari berlalu pulang ke rumahnya. Saat sudah berada diluar, ia tersenyum senang dan segera berlari menuju motornya. Dia segera memakai helm yang sebelumnya ia gantungkan di kaca spion. Memundurkan motornya dan segera menyalakan mesin motor.
Dia segera berlari ke kamar saat ibunya hendak meraih tabgannya untuk bersalaman. Ibunya yang melihatnya pun segera menyusul anaknya ke dalam kamar yang tidak dikunci itu. Terlihat Ami sedang berbaring sembari memeluk bantal guling disana. Wajah sumringah yang tiada hentinya membuat sang ibu mendekat dan duduk di tepi ranjang. Dia mengelus puncuk kepala Ami dengan lembut.
"Ada apa?." Ami membalikkan badannya dan menghadap ibunya.
"Ehh ibu! Hehehe." Ami.
"Kenapa kamu bahagia banget tadi? Sampai nggak lihat waktu kamu lewat depan ibu!." Ucap ibunya sembari mengelus kepala anaknya itu. Ami segera menghamburkan pelukan kepada ibunya. Dia berada di dalam dekapan sang ibu dengan sangat bahagia.
Ibu pun memeluk Ami kembali sembari mengelus elus punggung Ami. Hati Ami tak henti-hentinya berdebar kencang setelah itu. Dia kembali mengingat panggilan yang ditunjukkan kepada dirinya itu.
"Terimakasih My Humairah!."
"Siapa namamu? Humairah?."
Kedua kalimat itu terus saja memenuhi likirannya membuatnya menangis sendiri dalam dekaoan sang ibu. Ibu yang menyadarinya pun melepaskan pelukan itu.
"Ehh? Kenapa? Kok nangis sih?." Tanya ibunya mengeriyit kan dahinya. Ibu menghapus air mata bahagia itu.
"Hehe! Biarin Buk! Air mata bahagia ini tuh!." Ucapnya dengan senyum berserinya yang tak luntur.
"Ayolah Mi! Ceritalah sama Ibu! Ibu juga pengen denger curhatan kamu!." Kata Ibu.
Ami semakin menampakkan giginya yang putih dan berseri itu. Dia meletakkan kepalanya di pundak ibunya. "Bu! Aku lagi suka sama orang!." Ucapnya sembari tersenyum senang.
Ibu ya tersenyum dan memeluk Ami kembali. Ami pun memeluk ibunya dengan suka cita yang sedang ia rasakan ini.
"Jangan aneh-aneh lo ya? Jangan sampai terjebak dalam bisikan jahatnya setan!." Ucap ibunya memperingati Ami. Ami mengangguk mendengarnya. Ia segera melepaskan pelukan itu dan mencium pipi ibunya dengan lembut.
"Makasih ya buk! Udah selalu ngingetin Ami!." Ucapnya. Ibu tersenyum haru mendengarnya.
"Ayah pasti seneng ngeliat anak gadisnya udah besar!." Kata Ibu dengan senyum tulus yang tak terbendung ketulusannya itu. Ami kembali memeluk sang ibu tercinta dengan tenang.
"Mas! Anakmu sudah dewasa! Lihatlah! Dia bahkan sudah bisa mencintai seorang pria sekarang! Aku hanya berharap aku sudah mendidiknya dengan benar!." Gumamnya dalam hati sembati menatap langit-langit. Perlahan tapi pasti, airmata bahagia berhasil lolos di pipi keduanya. Ami yang sangat bersyukur memiliki ibu seperti ini walaupun ayahnya sudah dewasa, dan Ibunya yang bahagia akan apa yang dirasakan anaknya.
Ami adalah seorang anak yatim yang ditinggal ayahnya saat masih kecil. Usianya saat itu adalah lima tahun. Dimana Ayahnya adalah seorang perwira tentara yang gugur dalam pertemuan. Ami yang memang hidup di desa tentunya mengerti dengan apa yang terjadi pada Ayah tercintanya. Dia menangis sejadi-jadinya di pangkuan sang ibu.
Namun, ibunya menenangkannya dan menjelaskan sesuatu yang dapat membuat Ami tenang. Dengan itu pula, Ami dan ibunya tinggal hanya berdua saja selama bertahun-tahun. Tak ada kata menikah lagi untuk ibunya Ami. Dia hanya ingin mendidik Ami dengan benar tanpa memikirkan untuk mencari suami baru.
*****
"Weh! Keren banget Lu Di! Belum tau namanya aja udah ada panggilan sayang!." Ucap salah satu temannya yang melihat Dio terus saja tersenyum menatap ambang pintu.
Dio melihat temannya itu dengan senyum simpul yang tak dapat diartikan. Dia beralih kepada saku celananya dan segera menghampiri Amelia.
"Mel! Nih uangnya! Gua mau balik!." Ucapnya sembari menyodorkan uang yang lebih untuk Amelia.
"Lah, kok lebih sih? Ngga ada uang pas gitu Di?." Tanya Amelia melihat selembar uang berwarna biru itu.
Dio tersenyum melihat Amelia. "Ngga ada! Anggep aja sebagai tanda terimakasih gua karena udah kenal sama Ami!." Ucapnya menjelaskan.
"Lah! Kan yang kenalan Elo bah! Kok jadi gua yang dikasih bonus?." Tanyanya sembari mengambil dan melihat uang itu dengan seksama.
Dio tersenyum lagi mendengarnya. "Gua kenal Ami disini! Jadi gua kasih bonus pemilik ni warung!." Ucapnya sembari mengambil ponsel yang ada di saku belakangnya.
"Adeh! Ada udang dibalik uang ini!." Gumamnya yang tak bisa didengar oleh Dio.
Dio membuka aplikasi WhatsApp dan menyodorkannya kepada Amelia. "Nih! Isi nomor nya Ami disitu!." Ucapnya.
Amelia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Dia ingin berpikir sejenak. "Nanti kalo gua diamuk sama Ami gimana Di?." Tanya Amelia menatap pening kearah Dio.
"Udah jangan dipikirin! Nanti gua yang urus!." Ucapnya dengan enteng. Akhirnya Amelia memberikan nomor ponsel Ami kepada Dio. Dio terlihat senang mendapatkannya. Ia segera berterimakasih kepada Amelia dan berlari keluar.
Dia melajukan motornya dengan gagah bak pangeran yang ada di istana. Siang yang panas tak membuatnya gerah ataupun letih. Dia memarkirkan motornya di rumah sederhananya. Dia mengetuk pintu rumah dan memanggil ayah serta ibunya.
"Assalamualaikum! Abi! Umi! Dio pulang!." Ucapnya dengan semangat. Abi dan Uminya yang sedang berada di ruang tamu pun terlihat heran dengan tingkah anaknya itu.
"Wa'alaikum salam! Kamu kenapa Di? Nggak biasanya kamu senyum-senyum sendiri!." Tutur Uminya dengan lembut.
Dio segera mendekat dan menyalami kedua orang tuanya. "Hehehe! Lagi seneng, Umi!." Ucapnya dengan senyum yang tak bisa luntur diwajahnya.
"Kenapa memangnya? Udah ada yang mau nikah sama kamu?" Tanya Abi yang juga penasaran serta mengharapkan anaknya membawa menantu ke rumahnya.
Dio kembali tersenyum dan kali ini senyumnya semakin lebar saja di wajahnya. "Bukan mau nikah sih Bi! Tapi Dio lagi suka sama cewek!." Ucapnya.
Abi dan Umi membelalakkan matanya mendengar hal itu. "Siapa? Siapa?." Abi dan Umi mengatakannya secara serentak. Mereka bahkan berdiri dan menggebrak meja bersamaan. Hal itu membuat Dio tersentak sendiri.
"Ahh! Abi, Umi! Santai aja kenapa sih?." Tanyanya kepada orang tuanya. Abi dan Umi saling melirik dan cengengesan sendiri. Mereka kembali duduk ke tempatnya duduk.
"Ya, kan mumpung kamu suka sama orang! Inget bang! Umur abang tu udah dua lima! Udah siap nikah itu harusnya!." Tutur Abi sambil sesekali menyeruput kopi yang dibuatkan sang istri.
Dio menyipitkan matanya lalu menatap jengah kepada Abi. "Iya iya, bi! Tahu kok! Ini kan juga lagi usaha!." Tutrnya dengan kesal.
"Yaudahlah Bi, Mi, Dio ke kamar ya!." Pamitnya pada kedua orang tuanya.
Dio segera berlari kearah kamarnya dan menutup pintunya. Namun, tak menguncinya. Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya itu dan mulai memikirkan Ami kembali.
Dia tersenyum senang melihat bayangan Ami dibenaknya. "Ami, Ami! Kalo aja aku tau kamu tinggal dimana! Mungkin aku bakalan kesana setiap hari!." Gumamnya menatap langit-langit kamar.
Dia masih membayangkan rina merah yang ada di wajah Ami. Entah kenapa hanya dirinya saja yang bisa merasakannya. Sepertinya orang yang ada di sekitarnya tak ada yang sepertinya. "Kenapa ya? Kayaknya temen-temen gue pada buasa aja pas liat Ami! Kenapa cuman gua aja yang ngerasain hal kayak gini?." Gumamnya kembali.
*****
"Aghh!! Ami!! Kenapa lo manis banget sih? Tapi kenapa lo cuman ngelirik Dio? Ya, gua tahu gua kalah sama Dio! Tapi setidaknya kan lo juga punya perasaan sebagai temen lah ke gua! Lu harusnya senyum walaupun cuman senyum tipis! Kenapa lo kayak batu kalo sama gua!." Ya, mungkin itulah yang sedang dikatakan beberapa pria pelanggan setia warung Bu Watik di kediamannya masing-masing.
*****
"Ahh! Bodo amat lah ya, semakin sedikit yang ngelirik semakin mudah buat gua dapetin Ami!." Ujarnya dengan penuh percaya diri.
Dia menyungging senyuman saat mengingat bagaimana Ami merasa sangat bersalah hanya karena menumpahkan minumannya. Namun, lamunanya itu Buyar karena ada yang mengetuk pintu kamarnya."Bang! Bisa temenin Abi sebentar ngga?." Tanya Abi yang berada di ambang pintu namun tak berniat membukanya.
Dio segera mengambil jaketnya dan merapikan pakaiannya. Dia berjalan kearah pintu dan membuka gagangnya secara perlahan.
"Emangnya mau kemana Bi?." Tanyanya pada sang Ayah yang tepat berdiri di tengah pintu. Sebenarnya Dio sedikit terkejut saat mengetahui Abi nya berada di ambang pintu. Namun, mengingat Abi nya ini memang suka membuat orang jantungan, tak mengherankan lagi jika Abi melakukannya.
Abi tersenyum dan segera berjalan keluar diikuti oleh Dio. "Abi mau ke rumah murid Abi buat ngajar. Biasanya kan Abi perginya sama Umi tuh, tapi tadi Umi ada urusan!." Jelasnya panjang lebar.
Dio hanya menganggukkan kepalanya dan segera menyiapkan motor sport miliknya. "Ayo Bi! Naik! Nanti tunjukkin jalannya!." Selorohnya kepada sang Ayah. Abi segera naik ke atas motor itu dan tak lupa memakai helm sebelum Dio melajukan motornya.
Dio terus saja mengikuti kemana jalan yang ditunjukkan oleh Abi nya itu. Namun ia baru menyadari bahwa arah rumah itu persis seperti jalan warung Bu Watik. Saat hendak belok ke warung Bu Watik, Abi menegurnya dan meminta untuk lurus.
Abi menepuk bahu Dio berulangkali dengan keras."Eh, eh Di! Jangan belok dong! Rumahnya di dusun sebelah! Bukan di dusun yang ini!."
"Iya Bi! Jangan dipukul dong bahunya abang! Sakit tau!." Gerutunya sembari menekuk wajahnya.
Dio segera menuruti apa yang diminta oleh Ayahnya itu. Dia melajukan motornya ke dusun sebelah. Tak lama setelah itu, Abi menyuruhnya berhenti di pekarangan rumah yang tak terllau besar namun sangat indah. Dio tertegun melihatnya. Rumah tembok marmer yang kecil dengan nuansa klasik disertai bunga-bunga yang tersusun rapi di pekarangan itu membuatnya semakin indah.
"Wahh! Bi, ini rumah muridnya Abi? Buset dah cantik banget rumahnya! Adem pula!." Pujinya pada rumah itu.
"Iya! Muridnya Abi juga cantik lho!." Godanya pada sang anak. Dio menyipitkan matanya dan mengikuti Abi nya ke depan pintu rumah. Pintu yang tertutup itu diketuk Abi beberapa kali sembari mengucap "Assalamualaikum! Bu!."
"Wa'alaikum salam!." Akhirnya oenghuni rumahnya pun berlari menuju pintu utama rumah. Langkah kaki yang tergesa-gesa menyatu dengan lantai itu akhirnya berhenti. Seorang wanita paruh baya yang terlihat awet muda itupun tersenyum kepada keduanya.
"Ehh? Ini anaknya pak?." Tanya wanita itu saat menyadari keberadaan Dio. Dio pun membungkukkan badannya sekilat sembari tersenyum ramah kepada pemilik rumah.
"Hehe! Iya Bu! Namanya Dio! Lagi cari pasangan dia!." Ledeknya pada sang anak. Dio yang mendengarnya pun mendengus dan kembali memasang senyum bulan sabit khas miliknya.
"Ohh! Begitu? Mari masuk!." Wanita paruh baya itu mengajak kedua pria yang ada di hadapannya untuk masuk ke dalam. Di ruang tamu itu sudah ada beberapa camilan serta teh hangat yang sudah disiapkan Ibu itu sebelumnya.
Merekapun dipersilahkan untuk duduk di sofa panjang. Setelah itu, Ibu itu mengikuti apa yang mereka lakukan. "Eee, Bu! Anaknya mana ya? Kok nggak kelihatan!." Tanya Abi sembari meihat seluruh isi ruangan.
Ibu itu pun tersenyum, "Anak saya baru mandi pak! Tadi ada di rumah temennya, makanya pulangnya agak siang!." Jelasnya kepada Abinya Dio.
"Oh! Yaudah kalau gitu, kita tunggu aja!." Monolog Abi.
Mereka menunggu nak dari ibu itu selesai mandi. Abi dan ibu itu berbicara mengenai beberapa masalah umum yang seharusnya tidak diselesaikan dengan cara yang biasa dilakukan masyarakat.
"Kalau menurut saya ya Bu! Korbannya sih jangan diserahin sama pelaku ya Bu!." Ujar Abi kepada ibu itu.
"Lho, kok gitu pak ustadz? Bukannya biar si pelakunya itu ngerti tanggung jawab ya?." Tanya Ibu itu dengan wajahnya yang terlihat tak sependapat dengan Abi.
Abi tersenyum dan kembali menjelaskannya, "Orang diajarin tanggung jawab itu dari kecil bu! Bukan pas dia ngelakuin perbuatan yang tidak senonoh kayak gitu! Coba lihat tu TV! Kalau si pelaku ngerti tanggung jawab, dia ngga akan mungkin ngelakuin hal itu karena udah tau konsekuensinya!." Jelas Abi kepada ibu itu.
Abi melirik Dio yang sedang asyik menjawab pesan dari teman-temannya itu. Dia tersenyum licik, "Tapi kalau anak saya dikasihkan ke anak Ibu sih, ngga usah mikir konsekuensinya bu! Langsung digendong ke KUA itu mah!." Tawa dari kedua orang tua yang bersenda gurau itupun pecah melihat wajah Dio yang sangat kesal dengan ucapan Abinya.
"Nggak bakalah ya Bi! Dio udah suka sama cewek! Jangan aneh-aneh!." Tegasnya pada sang Ayah.
Tepat saat itu juga, Ami keluar dari kamarnya yang letaknya sangat dekat dengan ruang tamu. Dia terkejut dengan kehadiran Dio, begitupun Dio. Lebih terkejutnya lagi, Ami mendengar apa yang dikatakan oleh Dio barusn membuat hatinya patah. "Aduh! Ternyata salah ngomong!." Gumam Dio.
Ayah yang mendengar itupun langsung tertawa lebih kencang lagi. "Tuh kan, salah ngomong!." Abi. Dio mencubit tangan Ayahnya membuat sang empu meronta kesakitan.
"Salah ngomong? Maksudnya dia suka sama aku?." Guman Ami dalam hatinya. Seketika itu hati Ami bebunga menandakan kebahagiaan yang ada di hatinya.
Dio saat ini sedang mengutuki mulutnya yang berani berkata demikian. Dia menyebut istighfar berulang kali dalam hatinya saat Ami duduk di sebelah ibunya.
Dio tersenyum ke arah Ami. Senyum yang tak tahu kapan lunturnya itu, yang jelas Dio sangat bahagia karena ternyata Ami adalah murid dari Abi nya sendiri, dan sudah pasti keimanannya tak diragukan lagi.
"Gimana? Udah dihafal?." Tanya Abi menatap Ami dengan sumringah.
Ami menganggukkan kepalanya, "Sudah pak ustadz!." Ucapnya dengan lembut. Mata dingin yang Ami tunjukkan membuat Abi mengerti akan keseriusan Ami kali ini. Ami sedikit merinding mengetahui Dio juga sda disana. Hatinya terus berdetak kencang saat duduk di samping ibunya.
"Okey! Bisa dimulai sekarang!." Ucap Abi.
Ami yang tampaknyq ragu enggan untuk membuka mulutnya. Mulutnya keluh saat hendak melafalkan lantunan kitab suci itu. Dia menarik napasnya panjang-panjang dan menutup matanya.
Ami mulai melantunkan hafalan ayat Alquran dengan lancar. Walau begitu, suaranya terdengar sedikit bergetar karena dia sangat gugup didepan Dio. Abi pun ikut menutup matanya menikmati lantunan ayat suci yang akhirnya sudah baik itu. Abi tersenyum seperti sangat menikmatinya.
Begitupun dengan Dio dan Ibunya Ami. Ibunya Ami sama halnya dengan Abi. Menutup matanya sambil menikmati lantunan ayat suci dari Ami. Sedangkan Dio, dia lebih memilih mendengarkan lantunan itu dengan menatap wajah Ami. Ketenangan ada di rumah itu sampai saatnya Ami selesai.
Abi tersenyum. "Pelafalan kamu sudah bagus Ami! Akhirnya setelah sekian lama pak ustadz nggak ada sedikitpun mengoreksi bacaanmu!." Kata Abi.
Ami tersenyum bahagia sambil menundukkan kepalanya. Dia sangat bahagia akhirnya bisa menjadi murrotal. Begitupun Ibunya. Ibu memeluk Ami dengan sangat erat sembari mencium puncuk kepala putri satu-satunya itu dengan penuh cinta dan syukur.
"Ohiya, Ami! Kenalin ini anaknya ustadz! Namanya Dio! Gimana? Ganteng kan?." Abi memperkenalkan Dio pada Ami. Hal itu membuat pipi Ami kembali memerah menahan malu. Sementara Dio tersenyum senang karena melihat rona merah itu.
"Udah kenal, Bi!." Tutur Dio dengan santai.
"Ha? Udah kenal? Dimana?." Tanya Abi dengan wajah menyidik.
Dio mendekatkan mulutnya pada telinga Abi. "Iyalah kenal, orang itu calon mantu Abi kok!." Bisik ya kepada Abi nya. Abi menoleh kepada Dio dengan tatapan tak percaya. Lalu, mereka tersenyum bersama setelah itu.
"Oh, pantesan salah omong tadi?." Godanya pada Dio. Dio yang mendengarnya pun menundukkan kepala.
"Ohh udah kenal ya? Ami! Kok kamu nggak pernah kasih tau Ibu sih?." Tanya ibunya yang sedang berkeluh kesah itu.
"Kan nggak tau kalau dia anaknya pak ustadz!." Ujar Ami dengan malu-malu. Mereka yang mendengarnya pun tersenyum senang.